Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 28



Laki-laki itu bersiul ketika melihat lawannya. "Jadi lawanku adalah gadis kecil seperti mu ya?" Katanya dengan sikap merendahkan Iris. "Kurasa aku bisa memberimu dua pilihan sekarang, bagaimana? Pertama, Bertarung habis-habisan denganku." Laki-laki itu terkekeh sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kedua, menyerahlah sekarang dan ikut denganku." Ucapnya dengan wajah menyeringai sambil melirik ke beberapa bagian tubuh Iris. "Kurasa memelihara kucing betina lumayan juga." Lanjutnya.


Iris dengan urat yang jelas tegang di pelipisnya benar-benar ingin melayangkan ratusan, tidak, tapi ribuan panah listrik dengan tegangan tinggi tepat di wajahnya itu.


Sementara itu, Alice yang mendengarnya dengan jelas dari tempat duduk penonton langsung naik pitam. Ia meremas sisi tempat duduknya yang terbuat dari batu hingga retak.


"No-nona Alice?" Karena bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri dan perasaan tidak enak yang mengelilinginya, Leon panik ketika ia melihat mimik wajah Alice. Mata yang tajam itu seolah ingin menghabisi seseorang.


"Leon..." Ucapnya dengan nada datar dan dingin. "Siapa laki-laki itu?" Alice mengarahkan telunjuknya pada orang yang berdiri di hadapan Iris.


"Dia...Dia adalah Walton Greck. Salah satu murid kebanggaan dari akademi Sky Empire. Orang-orang juga mengenalnya sebagai jenius si ahli sihir. Sayangnya sifatnya yang arogan, tempramental dan senang bermain wanita adalah sisi buruk yang membuat para gadis tidak ingin mendekatinya. Dia adalah orang yang kompetitif dan serakah dalam kemenangan."


"Bagus....Bagus. Mencoba merayu adikku bahkan dengan tampang pas-pasan dan perilaku seperti seekor anjing. Jika Iris tak memberinya pelajaran maka aku akan menggantikannya." Tandasnya.


Leon hanya bisa menelan ludah dan menatap Alice dengan wajah ketakutan. "Untung saja nona waktu itu masih mengenalku. Tapi di balik sikapnya yang ramah ternyata nona begitu kejam pada orang lain jika itu menyangkut orang yang ia sayangi."


Kembali ke arena dimana wasit telah memberikan aba-aba untuk mulai.


"Karena kau memilih yang pertama. Maka persiapkan dirimu. [ Air Bullet ] [ Wind Cutter ]"


Sama seperti Iris. Walton juga merupakan penyihir tingkat 4 yang tak membutuhkan waktu untuk merapal.


"[Lighting blast] [Aegis]" Iris menghancurkan salah satu serangan Walton lalu membuat pelindung sihir di sekelilingnya. Dengan jumlah mana yang begitu besar dan tingkat pengendalian mana yang tepat, serangan Walton tak mampu menembus pertahanan Iris.


Walton mendecihkan lidahnya. Ia tak mau kalah dan kembali menyerang iris dengan sihir angin secara beruntun.


Keduanya saling menghalau serangan. Tapi dengan ketenangan dan pengendalian emosi. Iris mampu memulihkan mananya sedikit demi sedikit selagi ia bertahan menggunakan [Aegis].


"[Wind Storm]" Sebuah pusaran angin yang di tembakkan secara horizontal ke arah Iris. "Padahal hanya sebuah sihir dasar tapi bisa menahan begitu banyak serangan ku. Kita lihat dengan yang satu ini."


Iris tersenyum tipis. Di dalam hatinya ia sedikit berterima kasih pada Alice. Karena pertarungan kali itu membuat ia belajar untuk lebih mengontrol emosinya dalam keadaan apapun saat bertarung.


"[Thunder Orb] tiga bola petir muncul saling terhubung membentuk segitiga di depan Iris. [Dragon Straight] Dengan mantra selanjutnya, naga petir yang tampak ganas menjelma dari tengah-tengah segitiga bola petir itu. Seolah naga itu siap memangsa Walton dengan mulut yang terbuka lebar dan taring yang tajam.


Walton panik ketika naga petir itu menerjangnya. Dengan cepat ia membuat pelindung sihir dan menghindar.


[Aegis] [Wind step]


Walton tersengal-sengal dan merintih kesakitan saat ia melihat hampir setengah tubuhnya terkena luka bakar akibat serangan Iris.


"Sial! Kalau begini terus sepertinya tak ada cara lain lagi selain menggunakan itu." Walton menggertakkan giginya kesal.


"Baru kali ini aku menikmati pertarungan sihir."


Dengan pertandingan sebelumnya yang tampak biasa-biasa saja dimatanya, dimana mereka hanya saling menyerang dan adu ketahanan, pertarungan Iris lebih menarik di matanya.


Melihat senyum dan tatapan merendahkan dari Iris, Walton makin geram dan memukul tanah dengan tinjunya lalu ia bangkit kembali.


"Giliran ku belum selesai. Hmph! Rasakan ini [Lighting Orb]" Kali ini bola listrik dengan daya yang lebih rendah memutar-mutar di atas kepala Iris.


"Menarilah untukku [Lighting Bolt]" Sejumlah bola listrik ditembakan dengan cepat ke arah Walton secara bertubi-tubi.


Walton menghindar dengan [Wind Step] miliknya dan terus melakukannya sampai akhirnya serangan Iris berhenti.


"Heh! Kena kau!"


Melihat senyuman lebar di wajah Iris, Walton berfirasat buruk akan situasinya saat ini.


[Raging Thunder]


Benar saja, petir yang besar dengan keras menghantam Arena tepat dimana Walton berdiri.


Ternyata selagi Walton sibuk menghindari serangannya. Iris telah melepas [Lighting Orb] lainnya jauh ke atas langit sehingga Walton tak menyadarinya.


Tubuh Walton berasap, untungnya dengan [Aegis] yang dia rapalkan berkali-kali membuat ia tak menderita luka bakar yang lebih parah lagi. Tapi dengan sisa Mananya saat ini, Iris dan penonton yakin kalau Walton sudah tak bisa bertarung lagi dengan kondisinya yang sekarang.


Karena Walton tak merespon panggilan dari wasit, ia hampir saja mengumumkan pemenangnya sebelum gelak tawa Walton memenuhi Arena dan telinga penonton.


"KAU! JA**NG! KAU YANG MEMAKSAKU! KU BUNUH KAU!!!"


Perasaan yang mencekam tiba-tiba memenuhi Arena. Iris merasa bulu kuduknya berdiri karena sesuatu yang aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. "Apa ini? Apa yang terjadi?!" Gumamnya bingung dengan guncangan Mana yang tiba-tiba tak beraturan dan tidak stabil.


Indra milik Alice begitu tajam. Sekalipun orang lain tak menyadarinya tapi ia tahu kalau kekuatan yang mencekam dan terasa busuk itu berasal dari laki-laki yang bertarung melawan adiknya.


Alice sudah siap untuk menerjang ke arena tapi tindakannya terhenti setelah melihat tekad dan usaha Iris tadi.


"Aku akan menunggu sedikit lagi." Gumamnya berusaha menahan kegelisahannya.


Tingkah gusar Alice membuat Leon curiga kalau ada yang tidak beres dengan lawan tanding Iris. Leon mengarahkan pandangannya kembali pada Walton dan melihat sebenarnya apa yang membuat Alice menjadi begitu gelisah.