Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 175



Masih terbayang jelas bagaimana monster-monster itu musnah dalam benaknya. Pemandangan itu begitu mengerikan ketika seekor naga membakar habis monster-monster yang datang menyerang kota. Kejadian itu bahkan tidak pantas disebut sebagai pertempuran tapi lebih cocok mengatakannya sebagai pembantaian.


Para monster itu sangatlah kecil jika dibandingkan dengan seekor naga yang tiba-tiba muncul dari langit di hadapan mereka. Kekuatannya membuat mental mereka kacau dan mereka kehilangan semangat tempur karena ketakutan. Perlawanan mereka menjadi goyah, pada akhirnya ketika pemimpin mereka tewas di tangan naga itu, mereka pun lari tunggang-langgang.


Sebisa mungkin mereka menjauh dari jangkauan naga itu, tapi dia tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Satu semburan penuh darinya dan dia menyapu bersih semua monster di hadapannya.


Kyrant berbalik, berjalan mendekati benteng. Ketika ia melihat sosok gadis manusia dengan bau yang samar-samar tercium akrab di hidungnya. Ia bertanya pada gadis itu. "Manusia. Sudah kuduga, kau memiliki bau yang sama dengan wanita itu. Siapa namamu dan apa hubunganmu dengannya?"


Marianne mengeratkan genggaman pedangnya. Kalau-kalau naga itu sebenarnya adalah musuhnya, setidaknya dia akan melawannya walaupun dia tahu kalau dia tidak memiliki kesempatan untuk mengalahkannya. Dia hanya perlu mengulur waktu agar yang lainnya bisa menyelamatkan diri mereka jika memang itu terjadi.


"Wanita itu? Wanita siapa yang kau maksud?"


"Tenanglah, kau tidak perlu waspada. Kedatanganku kemari bukan untuk menjadi lawanmu." Jelas Kyrant saat ia melihat sikap siaga gadis itu.


Kyrant memutuskan untuk berubah menjadi seorang manusia demi mengurangi kewaspadaan gadis itu.


Perubahannya membuat orang-orang di atas benteng itu tercengang. Wajah tampan dan maskulin dengan rambut merah membara sama seperti milik Tuan Putri mereka. Mata berwarna emas yang tajam layaknya seorang pemburu dan suaranya yang dalam terdengar cukup mendominasi. Di atas semua itu, perawakan dan penampilannya sangat gagah seperti pria bangsawan yang datang dari keluarga terhormat.


Kyrant berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapan Marianne. "Alice. Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Alicia Lein Strongfort."


Mendengar nama Alice keluar dari mulut Kyrant, Marianne kehilangan kendali dirinya, tanpa sadar ia meraih kerah baju Kyrant. "Alice? Dimana dia?! Apakah dia ada disini?!" Sambil ia mendekatkan wajahnya.


Kyrant melihat wajah Marianne tanpa satu komentar pun. Orang-orang di sekitarnya sedikit panik terutama Liliana yang berdiri di sampingnya. Nafas mereka terhenti seketika karena keberanian Marianne.


Bagaimana bisa Tuan Putri melakukan hal itu tiba-tiba? Bagaimana kalau naga itu marah dan membunuh kita semua?


Ras naga sudah dikenal dengan kepribadian mereka yang arogan karena kekuatan mereka yang jauh melampaui ras lainnya. Bahkan para elf pun tidak pernah berpikir untuk memasuki wilayah mereka.


Orang-orang tidak mengira kalau Putri Marianne begitu berani menarik baju miliknya.


Kyrant lalu melirik ke bawah dimana tangan Marianne menarik bajunya.


Mengikuti arah lirikan mata Kyrant, Marianne sadar, ia lekas melepaskan genggamannya dan menarik tangannya. "Ah! Maaf. Aku kehilangan ketenangan ku."


Dia sudah sangat merindukan Alice. Bahkan sebelum perang pecah melawan monster-monster itu, dia kerap kali keluar bersama prajurit istana untuk mencari informasi terkait keberadaan Alice.


Melihat sikap acuh tak acuh Kyrant, orang-orang bernafas lega karena sepertinya naga itu tidak begitu mempermasalahkannya. Jantung mereka hampir saja copot dibuatnya.


Marianne kemudian lanjut bertanya. "Bolehkah anda memberitahu saya dimana Alice sekarang ini?" Ucapnya dengan sopan.


"Setidaknya dia tidak ikut bersamaku." Balasnya singkat dengan ekspresi dan suara monoton.


"B-begitu ya." Marianne agak kecewa dengan jawaban itu. Padahal dia sangat berharap untuk bisa bertemu dengan kakaknya. Matanya yang tadinya penuh kerlap kerlip kegembiraan dan rasa antusias pun sirna. "Kalau begitu.... bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?"


"Aku tidak tahu. Kau boleh menanyakan hal itu pada Tuanku."


"Kalau begitu dimana aku bisa bertemu Tuan yang anda maksud?"


"Hmm.... Kalau tidak salah, dia berkata kalau dia harus pergi ke rumah besar yang berwarna biru."


"Rumah besar berwarna biru?" Marianne bergumam sambil menunduk.


Ia berpikir sejenak.


Satu-satunya rumah besar yang mencolok dengan warna birunya tentu tidak lain adalah kediaman milik Strongfort.


"Kediaman Duke Strongfort?!" Ucapnya spontan.


Kyrant berbalik dan melebarkan sayapnya. Baru saja dia ingin mengepakkan sayapnya. Marianne berteriak memanggilnya. "Tunggu! Bagaimana kalau anda ikut dengan saya. Kebetulan, saya ingin pergi ke kediaman Strongfort juga. Bagaimana menurut anda?"


Sebenarnya Marianne harus kembali ke istana untuk melaporkan situasi mereka. Tapi baginya, urusan tentang Alice lebih penting ketimbang sebuah laporan. Dia memilih untuk melemparkan tugas itu pada salah satu prajuritnya.


"Tidak perlu. Akan lebih cepat kalau aku terbang."


Kyrant hanya merasa tidak terbiasa untuk duduk dengan para manusia. Bukannya dia memandang rendah mereka. Yah, mengingat kalau dia sendiri kalah melawan seorang gadis manusia waktu itu. Hanya saja, Kyarnt tidak memiliki pengetahuan sosial yang cukup untuk membuatnya berkomunikasi dengan santai. Itu sebabnya setiap kalimat yang ia lontarkan terdengar kaku dan dingin. Singkatnya, dia tidak pandai dalam bersosialisasi. Dan hampir semua ras naga yang arogan dan selalu mengurung diri mereka di puncak gunung yang dingin memiliki kekurangan yang sama dengannya.


"Ta-tapi, apakah anda tahu jalannya? Bagaimana kalau saya mengantar anda kesana?"


Kyrant tersentak, ia terdiam seketika.


Apa yang Marianne katakan memang benar. Sekalipun dia terbang pasti dia akan berputar-putar di langit lagi dan akan membuang-buang waktunya untuk mencari Echidna. Kemungkinan besar kalau Echidna bahkan telah sampai di tempat tujuannya. "Baiklah manusia. Aku terima tawaran mu."


"Kalau begitu, silakan ikuti saya. Maaf saya terlambat memperkenalkan diri. Namaku Marianne. Marianne Ries Solus."


"Kyrant." Balasnya singkat. Sikapnya tidak menunjukkan ketulusan samasekali.


Marianne diam-diam mengeratkan giginya. Kalau bukan karena dia butuh sesuatu darinya, dia juga tidak ingin bersikap formal. Marianne benar-benar naik pitam dibuatnya.


Liliana hanya bisa tersenyum canggung. Ia berusaha menenangkan amarah Marianne. "Sudah..sudah..." Sambil ia mengelus-elus punggungnya.


"Cih, kadal sialan! Lihat saja nanti kalau kakak ku pulang!"


Ternyata baik sebagai Xiao Mei maupun Marianne. Dia tetaplah gadis kecil manja. Dia berharap bisa membalas Kyrant dengan mengadukannya pada Alice. Dia yakin kalau kultivasi kakaknya pasar sudah jauh dan bisa mengalahkan naga itu dengan mudah.


~


Iris tidak sanggup lagi mengangkat tangannya. Ia tidak lagi memilik tenaga untuk berdiri tegak. Nafasnya sudah terengah-engah karena kehabisan Mana.


"Aku...Hah... sudah tidak... sanggup lagi...hah..." Iris pun membiarkan dirinya terjatuh lalu duduk di atas tanah. "Aahh! Sungguh melelahkan." Keluhnya.


"Walaupun baru beberapa hari tapi Bibi sudah hebat bisa bertahan dua kali lipat lebih lama dari waktu Bibi memulainya." Ujar Echidna.


"Yah....Itu karena latihanmu. Tidak pernah terpikir bagiku untuk melakukan latihan seperti ini."


"Benarkah? Latihan ini sebenarnya juga karena mama yang membuatnya. Katanya untuk melewati batas dan meningkatkan kapasitas Mana dalam tubuh, kau harus benar-benar menghabiskan Mana dalam tubuh mu lalu beristirahat, lalu lakukan lagi setelah energi mu kembali penuh." Jelasnya.


Iris terpaku dengan mulut menganga. Kakaknya benar-benar gila. Apakah dia juga melakukan latihan seperti ini? Pikiran.


Awalnya Iris meminta Echidna untuk mengajarinya berlatih sihir. Berdasarkan apa yang Alice katakan kalau Echidna sangat handal dalam menggunakan sihir bahkan dia hampir menguasai setiap elemen.


Sayangnya, saat pertama kali memulainya. Echidna langsung menyuruh Iris untuk menggunakan sihir yang sama berulang-ulang hingga energi Mana nya habis.


Hari kedua dan seterusnya, Iris masih tetap melakukan hal yang sama.


Echidna mengatakan padanya kalau sebenarnya Mana dalam tubuh Iris masih terlalu sedikit. Karena itu dia harus meningkatkannya paling tidak sampai tiga kali lipat demi bisa menggunakan sihir yang akan Echidna ajarkan padanya dengan baik.


"Uhh...,Hei Echidna. Bisakah kau mengganti panggilan 'Bibi' itu? Aku masih terlalu muda untuk dipanggil bibi tahu. Bagaimana kalau kau memanggilku dengan kakak saja?"


Echidna memiringkan kepalanya, ia bingung dan berkata dengan wajah polosnya. "Kakak? mama kan kakaknya bibi..., kalau aku memanggilmu kakak...lalu aku harus bagaimana memanggil mama...?"


"Geh! Ka-kalau begitu untuk sementara saja. Panggil aku kakak untuk sementara saja. Setidaknya sampai aku melakukan debut sosial ku! Titik!"