Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 49



Pertarungan sengit terjadi antara Andrew, Amy dan Leon melawan ratusan para monster. Mereka mengelilingi Alice sambil menahan kepungan monster yang menyerang dan ingin menerobos untuk mendapatkan Alice.


Kenapa mereka begitu tertarik padanya? Andrew sedikit kewalahan dengan posisinya saat ini.


Dengan tinjunya Amy menghantam musuh ke tanah atau menghempaskan mereka ke belakang atau ke langit. Leon pun tak kalah hebatnya, dengan gerakan pedangnya yang kian meningkat berkat latihan kerasnya, kekuatan dan kecepatan pedangnya sudah berada di level yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Tebasannya sudah jauh lebih cepat dan kuat. Tak ingin ketinggalan bagian, Andrew cukup sibuk saat melakukan serangan ringan sambil memberikan bantuan kepada keduanya dengan sihir anginnya. Yah, meski ia cukup pandai bela diri tapi posisi yang terbaik baginya saat ini adalah sebagai pendukung mereka.


Mereka terus bertarung, namun gelombang serangan monster itu tak menunjukkan adanya celah, serasa mereka tak ada habisnya.


Satu demi satu mayat monster kian menumpuk di sekitar mereka. Ketiganya juga sudah mulai kelelahan.


Amy mengelap keringat di dahinya. "Tadinya aku mau pamer kekuatan, ternyata mereka jauh lebih banyak dari yang ku kira."


"Tinggal sedikit lagi. Ku rasa Nona Alicia sudah hampir selesai." Balas Andrew.


Setelah para goblin dan celeng berkurang, para Hobgoblin pun mulai maju. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang membawa senjata tua atau balok kayu besar.


Mereka berteriak kencang dan berlari ke arah Amy. Sialnya, karena tak begitu siap, Amy tak sempat menghindari ayunan kayu dari Hobgoblin itu. Ia menahan dan terseret satu dua langkah ke belakang.


"Woaah.. Hampir saja tadi." Ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya yang cukup sakit karena serangan itu.


"Nona Amy! Dibelakang mu!" Teriak Leon saat melihat monster goblin kecil melompat ke arah Amy dengan sebuah tongkat kayu kecil yang tajam.


Andrew yang lihai segera merapal sihir [ Wind Slash ] membuat goblin itu terhempas dengan luka iris di tubuhnya.


"Makasih."


"Mereka semakin agresif. Perhatikan sekeliling kalian." Terang Andrew sambil menahan serangan musuh.


Sementara mereka bertarung, Alice akhirnya telah selesai menstabilkan kekuatannya. Dirinya kini berada dalam ranah Earth Refining, dan tentunya tubuh atau Qi nya semakin kuat. Kini ia telah bisa menggunakan kemampuan es nya. Sayangnya Mana Heart elemen api dalam tubuhnya tidak bisa di gunakan begitu pula akar Api yang Pernah ia miliki juga lenyap. Alice menduga kalau keduanya menyatu, Namun dia tidak memiliki obat untuk menghidupkan kembali Mana Heart yang telah mati.


Alice melihat kerumunan monster itu sedang memojokkan temannya. Ia segera bangun dan mengumpulkan Qi di seluruh tubuhnya.


[ Elemental Breath ]


Andrew, Amy dan Leon heran melihat para monster yang bergerak semakin lambat, kaki mereka seperti terikat.


Apa yang sedang terjadi?


Monster-monster itu kemudian terlihat ketakutan. Sorot mata mereka benar-benar mengisyaratkan kalau ada sesuatu yang lebih berbahaya di balik ketiga manusia yang ada di depan mereka. Para goblin yang berada di garis depan tersentak dan mundur satu dua langkah. Mereka yakin kalau mereka akan mati kalau mengahadapi manusia itu. Sayangnya, ketika Alice bangun, itu semua sudah terlambat.


Lembah rerumputan itu menjadi sunyi seketika. Langkah kaki Alice yang mendekati terdengar begitu nyaring. Leon, Andrew dan Amy merasa ada yang berbeda dari Alice ketika mereka melihatnya.


"Terima kasih karena telah melindungiku untuk yang kedua kalinya. Kali ini biarkan aku yang menyelesaikannya." Ucapnya sambil berjalan melewati mereka.


Kemudian Alice mengeluarkan pedangnya dari cincin penyimpanannya. Ia melihat kawanan monster di depannya sudah tak bisa lagi bergerak karena kaki mereka yang membeku.


Ia memegang pedangnya dengan kedua tangannya, lalu ia letakkan di hadapannya dengan bentuk horizontal dimana tangan kirinya memegang sarungnya dan tangan kanannya memegang gagang pedangnya.


Saat ia menarik gagang itu dengan lembut dari sarungnya [ Deep Freeze Abyss] Alice hanya memperlihatkan sedikit bilah pedangnya dan lonjakan Qi yang dingin menyebar menyelimuti hampir seluruh lembah.


Ketiga orang yang menyaksikan itu terkejut melihat kawanan monster yang ada di depan mereka membeku seketika.


Tidak sampai disitu, Alice kembali mendorong masuk pedangnya dengan lembut sama seperti saat ia membukanya dan para monster yang membeku terbelah menjadi beberapa bagian.


Amy terkesima sampai ia hampir lupa untuk menutup mulutnya.


Apa yang terjadi sebenarnya bukanlah apa yang mereka lihat. Kecepatan Alice ketika melakukan gerakannya lah yang membuatnya terlihat seolah-olah ia hanya menari pedang itu sedikit saja. Tapi sebenarnya ia melakukan tebasan beberapa kali sebelum akhirnya ia kembali menutup pedangnya.


"Kekuatannya...bisa dibilang sebanding dengan Master atau mungkin melebihinya." Benak Andrew Takjub.


"Sepertinya aku tertinggal lebih jauh lagi." Batin Leon muram. Bagaimana bisa ia menyusul Alice? Bagaimana jika Nona nya dalam bahaya kelak sampai ia sendiri tak bisa mengatasinya? Apa yang harus ia lakukan disaat itu?


Leon menatap pedangnya, tangannya semakin erat memegang gagang pedangnya. Ini bukan saatnya untuk putus asa atau menyerah. Ia lalu teringat dengan perkataan Alice yang sebelumnya. 'Aku ingin kau menemukan jalanmu sendiri.'


"Benar. Nona memiliki jalannya sendiri begitupun denganku. Aku hanya perlu membuat jalanku saja untuk menjadi lebih kuat dan melindungi Nona."