
Setelah kembali ke akademi. Alice mulai berlatih lebih giat dari biasanya. Dirinya saat ini mulai menaikkan tingkat kultivasinya lebih cepat demi menghadapi bahaya yang akan datang.
Alice sendiri masih kepikiran akan ramalan tentang gadis itu dan juga tentang yang iblis itu katakan saat di menara. Satu-satunya orang yang berambut pirang keemasan yang ia tahu selain dirinya adalah Ibunya sendiri.
Alice mengepalkan tinjunya dan memukul batang pohon di sampingnya. Meski marah, Namun dirinya tahu kalau lawan yang akan dia hadapi kelak, memiliki kekuatan yang jauh di atasnya. Bahkan Walton yang hanya ras buatan memiliki kemampuan setara dengan penyihir level 5. Bagaimana jika itu ras iblis murni?
"Aku beruntung berness waktu itu terlalu merendahkan lawannya sehingga dia lengah. Kalau tidak, mungkin pertarungan sengit akan terjadi diantara kami."
Malam gelap tanpa ada siapapun, Alice kembali ke danau yang ada di belakang sekolah. Satu-satunya tempat dengan jumlah energi yang banyak yang ia tahu.
Di bawah pohon yang tak jauh dari danau. Alice duduk bersila, telapak tangannya saling menindih dan kedua ibu jarinya saling bertemu membentuk segitiga di depan perutnya.
Alice tenggelam dalam konsentrasinya. Dengan merasakan seluruh energi yang mengalir di sekelilingnya, ia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan secara stabil seiring energi itu masuk ke dalam tubuhnya.
Waktu terus berlalu tanpa terasa. Kali ini ia tak berkeringat seperti dulu lagi. "Aku telah memasuki puncak tahap Qi and Body Transforming. Tinggal sedikit lagi untuk menerobos ke tahap Earth Refining." Gumamnya saat ia membuka matanya sambil menurunkan tangannya.
Dengan hembusan nafas terakhir Alice bangun dari posisinya. Sedikit lagi fajar menyingsing. "Energi di tempat ini sudah mulai menipis. Aku butuh tempat yang lebih baik untuk melakukan penerobosan." Pikirnya.
Saat memasuki tahap Earth Refining itu artinya dia sudah siap untuk berjalan di dunia kultivator sesungguhnya, yang berarti adalah langkah awal baginya untuk berjalan di dunia para Immortal.
"Earth Refining, Divine Refining, Immortal Realm." Alice mendengus tersenyum sinis mengingat para tetua yang dulu bersamanya. "Tak ada yang abadi di dunia ini. Selama raga ini masih hidup. Maka kematian tak bisa untuk dihindari." Gumamnya menatap lurus ke arah danau dengan pandangan kerinduan. Keabadian hanyalah sekedar nama, hidup dan mati adalah sesuatu yang tak bisa dipisahkan. Ia benar-benar ingin menertawakan dirinya dan mereka yang dulu mengejar impian itu. Yah, setidaknya dia hidup lebih lama dibandingkan orang awam.
Alice berjalan mendekati danau. "Keluarlah. Sampai berapa lama lagi kalian ingin terus bersembunyi?" Panggilnya pada sosok yang bersembunyi di sekitarnya sambil ia melangkah mendekati danau.
Dari balik pohon yang tak jauh darinya, muncullah seorang gadis remaja dan seorang pria yang pernah ia temui.
Alice melihat ke arah mereka. "Andrew dan...." Seorang gadis yang baru kali ini ia jumpai.
"Amy, namaku Amy." Jawab gadis itu dengan riang dengan meletakkan satu tangannya di dadanya.
Gadis itu berlari kecil dan memutari Alice. "Teknik apa itu? Kok seperti punya Master. Apa kau kenalannya Master ya?" Gadis itu dengan mata berbinar-binar menatap Alice penuh keinginan tahuan.
"Amy! Jaga sopan santun mu." Panggil tegas Andrew. Amy pun mundur dan berdiri di samping Andrew dengan wajah yang murung.
"Maaf atas kelakuannya. Meski dia terlihat seperti itu tapi dia memiliki usia yang sama denganku."
"Tidak masalah." Jawab Alice sedikit acuh. Tapi, mendengar kata Master itu Alice penasaran. Apakah ada seseorang di dunia ini yang melakukan teknik kultivasi yang sama seperti dirinya? Atau jangan-jangan ada kultivator lainnya?
"Lalu... master yang kalian bicarakan itu, dia ada dimana?"
"Kami belum bisa mengatakan itu. Tapi, Master kami memberikan kami tugas untuk melindungi anda."
"Kami juga tidak tahu. Tapi... sepertinya Master memiliki hubungan dengan anda."
"Um, um, Tau tidak? Master itu orang yang galak, dia selalu melatih kami dengan kejam dan tanpa ampun tapi ya.., kalau mendengar namamu, dia tiba-tiba jadi sangat tertarik." Tambah Amy dengan antusias.
"Benarkah? Apa aku bisa bertemu dengan mastermu itu?"
Andrew memperbaiki posisi kacamatanya lalu berkata "Kami juga menginginkan hal itu. Tapi, setiap kali aku menyarankan hal ini pada Master, dia selalu memasang wajah sedih dan menolaknya."
Alice semakin penasaran dengan sosok orang itu. Siapakah dia yang memiliki hubungan dengannya?
"Oh iya Nona Alicia, Dilihat dari ekspresi anda, sepertinya tempat ini sudah tidak begitu baik untuk latihan anda."
"Ya. Aku butuh tempat dengan jumlah energi yang lebih banyak. Apa kalian tahu dimana tempatnya?"
"Tentu. Karena tugas kami untuk terus melindungi anda. Maka kami bisa mengantar anda ke tempat itu. Letaknya cukup jauh dari sini. Tempat itu ada di luar tembok benteng di arah barat daya."
"Bagus. Tapi, apakah tempat itu ramai? Akan sulit bagiku untuk melakukan penerobosan jika sampai menarik banyak mata."
"Anda bisa yakin kalau tempat sangatlah sunyi. Tempat itu adalah bekas reruntuhan kuno. Sama seperti danau ini, reruntuhan itu juga merupakan persimpangan dari banyaknya garis Ley.
Andrew seketika terdiam. Tujuan sebenarnya untuk menemui Alice hanya ingin mengatakan sesuatu yang begitu penting. Namun, Ia ragu dan mulut terasa kaku untuk mengatakan hal itu.
Melihat keraguan Andrew. Amy menarik-narik lengan bajunya. Andrew menoleh dan keduanya saling menatap. Amy mengangguk dengan maksud agar Andrew tidak perlu ragu untuk mengatakannya.
Andrew membalas anggukan Amy. Ia memegang belakang lehernya, dengan sikap sedikit canggung ia lalu berkata "Nona Alicia, saya memiliki permintaan pada anda?"
"Apa itu? Katakanlah."
"Kelak, jika anda dan Master kami bertemu. Tolong jangan membencinya. Aku tidak tahu apa pernah terjadi diantara kalian. Tapi, saat Master mendengar namamu, dia selalu tampak begitu sedih. Sebagai muridnya, kami bahkan tidak tahu masalah seperti apa yang ia hadapi. Master selalu merahasiakan banyak hal tentang dirinya dari kami."
"Master orangnya baik kok. Meski pun dia menakutkan tapi dia selalu memperhatikan murid-muridnya. Jadi, aku ingin kau juga akrab dengan master."
Keduanya dengan tulus meminta pada Alice. Murid dan guru yang saling menyayangi. Perasaan nostalgia memenuhi hatinya. Alice tersenyum dengan senang hati dan lembut ia menyetujui permintaan keduanya. "Baiklah. Akan kulakukan."
Andrew dan Amy lalu berterima kasih dan meninggalkan danau.
Alice mengambil sebuah batu kecil yang ada di samping kakinya. Ia melempar batu itu ke danau dengan pelan. "Kalau memang berjodoh. Cepat atau lambat kita pasti bertemu." Gumamnya sembari melihat riak air yang terus menyebar hingga akhirnya menghilang.