Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 83



Deemon pria itu berjalan perlahan, menatap kosong ke arah Rose, lalu ia berdiri di hadapannya. Dia lalu melirik ke arah Echidna dan Alice. Dirinya sedikit terkejut sampai ia mengangkat sedikit alisnya saat melihat Alice yang masih baik-baik saja. Dari awal rencananya, dia sudah memperhitungkan kalau Ras naga memang tidak semudah itu untuk dilumpuhkan apalagi untuk seseorang seperti Echidna. Pria itu mengira kalau dia dan anak buahnya hanya perlu melawan Echidna saja. Kondisi Alice yang masih baik-baik saja sedikit melenceng dari rencananya.


Deemon pria itu menyipitkan matanya kemudian memandang Alice dengan bosan dan sinis. Ia bahkan tidak menghiraukan Rose yang berdiri di samping Alice.


"Kakak! Kamu...Cecilion Nemea, kakakku bukan?" Tanya Rose tegas dengan harap cemas dalam batinnya.


Pria itu melirik Rose sekilas namun ia tidak peduli. Bagaimanapun matanya hanya melihat Echidna. Dia meluruskan tangannya ke depan dan segera para pasukan deemon yang mengepung mereka bergerak menyerang.


Alice merasa kalau Rose sudah tidak berdaya untuk bertarung akibat asap itu. Ia tidak bisa bersikap rendah diri dan menyembunyikan kekuatannya. Alice menduga berat kalau tujuan para deemon di hadapannya adalah putrinya.


[ Elemental Breath ]


Alice mengeluarkan pedangnya dan dalam sekejap membuat udara di sekitarnya menjadi dingin. Pria itu mendengus lalu tersenyum sinis melihat teknik yang di lepaskan oleh Alice.


"Habisi mereka." perintahnya membuat anak buahnya semakin gesit bergerak dan hawa membunuh mereka makin kuat.


Echidna yang sejak tadi duduk dan mengamati suasana langsung bangkit dan melompat berdiri di depan Alice. "Jangan kira aku akan membiarkan kalian melukai mama ku. Kalian para hama yang tidak tahu posisi kalian."


"Aku sudah menduga ini. Lakukan!" Sekali lagi perintah Cecilion dengan tegas dan memunculkan tiga orang dengan kekuatan yang setara penyihir level 7.


Ketiganya muncul tiba-tiba dari atas dan seperti sebuah bencana bagi Echidna. Ketiga deemon kuat itu seolah membawa susunan sihir yang mengekang kekuatannya.


Echidna melihat ketiga deemon yang mengelilinginya dengan kesal. "Ugh..!" Tubuhnya semakin berat dan perlahan menjadi tidak bertenaga. "Ma..ma.." Matanya sayup-sayup memandang wajah Alice. Perlahan pandangannya mulai gelap dan Echidna pun pingsan.


Alice tidak tinggal diam dan segera ingin memenggal kepala salah satu deemon itu untuk merusak susunan sihir mereka. Namun para deemon lainnya tidak membiarkannya. Pedang Alice tertahan, ia melompat mundur dan di paksa menjauh saat deemon yang menahannya meledakkan diri.


Alice mendecihkan lidahnya. Sementara itu, Rose berusaha melindungi para warga deemon yang tidak sadarkan diri dari ledakan bunuh diri itu dengan kekuatannya. Dari ekspresinya, Rose terlihat semakin kelelahan. Dia perlahan bangkit dan melihat Cecilion dengan marah bercampur bingung.


"Kakak! Apa maksudnya semua ini? Kenapa kamu melakukan hal ini? Jawab kak!"


Cecilion menutup matanya cukup lama kemudian memandangi Rose.


" Roselyn Nemea, Adikku. Kau begitu naif. Selama bertahun-tahun ini aku telah melihat begitu banyak hal di dunia ini." Dia berjalan mendekati Echidna yang pingsan setelah kehilangan semua energi dalam tubuhnya. "Aku melihat apa yang tidak pernah kau lihat. Perdamaian untuk semua ras yang kau perjuangkan hanyalah omong kosong belaka."


Wajah Rose menjadi sedih, mulutnya terbuka namun tidak ada satupun kata yang bisa ia lontarkan. Perasaannya masih bercampur aduk. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Aku.. tidak mengerti apa yang kamu katakan. Kakak, bukankah kamu pernah ingin membuat dunia ini lebih indah. Bagaimana dengan janji kita waktu itu?"


"Rose. Semua ras telah lupa akan seberapa kuat ras deemon yang sesungguhnya. Ribuan tahun atau ratusan tahun yang lalu. Raja iblis dari ras deemon lah yang menundukkan mereka dengan teror nya."


"Bukannya kakak membencinya. Kamu yang bilang waktu itu kalau dunia ini akan lebih baik jika diisi dengan senyum ceria bukan dengan ketakutan." Tepis Rose segera.


Cecilion menghela nafasnya. Ia meraih Echidna dan mengangkat kerah bajunya lalu menyerahkannya pada Kyrant.


"Echidna!" Teriak Alice. Namun saat ia mengalihkan pandangannya. Lagi-lagi seorang deemon menghalangi nya. Dengan tujuh deemon berkekuatan seperti penyihir level 6. Alice tidak bisa bergerak bebas, ditambah ia berada di dalam sebuah toko. Jika dia melepaskan kekuatannya dalam skala besar, maka akan banyak korban yang berjatuhan sedangkan Alice melihat Rose sedang melindungi mereka.


Alice telah menebas para deemon itu satu persatu tapi dengan struktur tubuh dan energi mana yang jauh lebih kuat dari manusia. Serangannya tidak mengahasilkan luka berat untuk melumpuhkan mereka. Alice mencoba metode lain yaitu dengan membuat mereka berhenti bergerak dan ternyata itu berhasil. Setelah membekukan para deemon itu, Alice segera menghampiri Cecilion. Namun, seorang deemon terakhir yang menghalanginya lepas dari tekniknya dan tiba-tiba meledakkan diri. "Demi Dia Yang Agung!"


Alice semakin kesal. Dia kembali mundur. "Dia bahkan tidak peduli pada bawahannya." Gumam Alice.


Bagi Cecilion, demi tujuannya agar bisa tercapai. Pengorbanan adalah suatu hal yang pantas di matanya.


"Hanya kekuatan yang bisa menaklukkan mereka dan menyatukan dunia ini. Sejak hari itu. Aku sadar betapa lemahnya diriku. Rose, kelak kau akan mengetahui apa maksud ku. Ini semua berkat orang itu yang membuka mataku dan membuat menjadi jauh lebih kuat.


Rose menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak. Kamu yang tidak mengerti kak. Dan siapa orang yang kamu maksud itu?!"


Kyrant merobek secarik kertas dengan pola lingkaran ditengahnya yang ternyata merupakan sebuah susunan sihir teleportasi. Didampingi oleh Kyrant, Cecilion juga berdiri di tengah lingkaran sihir itu sambil melihat Echidna yang ada di rangkulan tangan Kyrant.


Cecilion mengangkat tangannya ke depan. Alice menjadi panik saat melihat para deemon yang melawannya tiba-tiba berhenti bergerak. Alice merasakan lonjakan energi yang tidak beraturan muncul dari dalam tubuh mereka.


"Mereka mau meledakkan diri. Rose!" Alice segera memanggil Rose.


Rose mengerti maksud panggilan Alice. Dia juga merasakan hal yang sama dan segera membuat pelindung untuk dirinya dan orang-orang yang ada di dalam toko itu.


Saat bawahan Cecilion meledak. Rose sekuat mungkin bertahan untuk bisa melindungi para deemon yang lain.


Alice menancapkan pedangnya dengan marah ke lantai. Ia melihat sisa terakhir dimana Cecilion berdiri sebelum mereka menghilang.