
"Kakakku... tidak di benua ini? Maksud guru?" Iris mengernyitkan alisnya. Ia tidak mengerti apa yang gurunya maksud namun sesuatu seolah muncul dalam benaknya. Bak gelembung udara yang perlahan naik ke permukaan air, mimik wajah Iris berubah memucat saat ia tiba-tiba terpikirkan sesuatu yang sangat tidak mungkin terjadi.
Matanya bergetar menatap Gandalf. "Tidak. Jangan bilang kalau dia.." Kata Iris sambil menggelengkan kepalanya perlahan.
Gandalf tidak berkata apapun melainkan hanya mengangguk. Seketika Iris hampir kehilangan tenaganya untuk berdiri. Kakaknya berada di tempat yang sangat berbahaya. Matanya berkaca-kaca, ia membayangkan senyum di wajah Alice yang begitu hangat seolah ingatan itu baru terjadi kemarin. Iris berharap dengan sangat dalam untuk bisa melihat senyuman itu lagi.
"Iris, saat aku sampai di kerajaan ini, aku mendengar banyak hal tentang putri keluarga Strongfort yang hebat dengan kisah heroiknya dalam mengalahkan para iblis. Awalnya ku pikir itu adalah dirimu dan aku sangat bangga. Namun saat aku melihat surat kabar, sesuatu yang mustahil membuat terkejut. Aku hampir tidak percaya dengan berita itu. Alice yang ku kira tidak memiliki bakat dan akan kesulitan menempuh masa depannya sebagai seorang penyihir ternyata dialah yang menjadi pahlawan bagi kerajaan ini."
Gandalf mengambil tongkatnya yang panjang. Ia berjalan sembari mengetuk tongkat itu ke lantai. Gandalf berdiri di hadapan Iris. "Ras iblis begitu kuat, jika dia mampu mengalahkan tiga dari mereka sekaligus, aku percaya kakakmu pasti baik-baik saja."
Iris yang sejak tadi menunduk, mengangkat kepalanya dan melihat sorot mata serius gurunya.
"Alice telah melewati batas mustahil itu. Percaya pada kakakmu. Dia adalah orang yang telah menciptakan keajaiban pada dirinya." Ucap lembut Gandalf.
Iris mengangguk. Rasa takut dan cemas dalam hatinya sedikit terangkat. Setidaknya ia sudah tahu keberadaan kakaknya.
Iris meninggalkan ruangan Gandalf. Ia berjalan dengan pelan sembari berpikir tentang apa yang harus ia lakukan ke depannya. Setelah kakaknya menghilang dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kuil, kerajaan Solus kembali tenang. Dalam beberapa bulan terakhir itu, Iris juga sering menyempatkan waktunya untuk berlatih. Rasa takut dan tak berdaya ketika ia melawan Walton masih cukup jelas di kepalanya.
Melewati musim dingin, tak peduli salju yang terus-menerus menghantam kediaman Strongfort, Iris tetap gigih berlatih keras. Dia ingin menjadi lebih kuat sehingga ia bisa melindungi dirinya dan juga keluarganya. Namun, Waktu itu, setelah ia beristirahat dari latihannya. Iris kebetulan melihat Leon yang mengayunkan pedangnya di bawah salju di sudut lapangan latihan, tepatnya di bawah pohon belakang gudang penyimpanan peralatan latihan.
Saat itu, dia terpikir ingin melihat sejauh mana perkembangannya. Iris pun berinisiatif untuk berlatih tanding dengan Leon. Iris menghampiri pemuda itu lalu mengajaknya.
Iris tahu kalau lawannya adalah petarung jarak dekat, yakni seorang ahli pedang. Dia juga tahu kalau Leon adalah lawan yang buruk untuknya. Kecepatan, kekuatan dan keterampilannya dalam berpedang sudah begitu terkenal di kerajaan Solus. Orang-orang bahkan menyebutnya sebagai pewaris ilmu pedang Duke Strongfort.
Setidaknya aku bisa menahannya atau bahkan bisa jadi kami bertarung seimbang. Awalnya seperti itulah pemikiran Iris tapi ketika mereka telah berhadapan, Iris menelan buah pahit karena tak ada satupun serangannya yang mengenai Leon.
Iris kesal dan marah pada dirinya. Bukannya ia gagal dalam menggunakan sihirnya atau Leon tidak memberinya kesempatan merapal, melainkan semua gerakannya seperti sudah terbaca dan dengan mudah ditebak oleh Leon.
Lightning Bolt, Thunder Spear atau Dragon Straight dan beberapa serangan lainnya, semuanya meleset. Melihat Iris yang kelelahan, Leon menyarungkan pedangnya. Ia membungkuk sebagai penghormatan dan rasa terimakasih.
"Apa yang salah? Selama ini aku terus berlatih. Kenapa tidak ada yang berubah? Kenapa aku tidak bisa seperti kakak." Benaknya kecewa pada dirinya.
Saat kecil dia menjadi gadis manja yang selalu mengikuti Alice. Apa yang disukai Alice, maka itu juga akan menjadi kesukaannya. Apa yang dilakukan Alice maka dia pun akan melakukannya. Iris terus berada di samping kakaknya, karena dia menyukainya. Namun, saat Alice berubah menjadi seseorang yang tidak ia kenali. Iris menjauh, lebih tepatnya ia dipaksa menjauh. Ia begitu sedih, namun seiring berjalannya waktu, kesedihan itu pula lah yang membuatnya belajar dan membuat hatinya menjadi lebih tegar.
Lalu, bagaimana dengan saat ini?
Di bawah langit gerimis. Setelah ia tahu kalau dirinya masih jauh dari kata kuat, Iris termenung memandang langit. Dia tak bisa mengalahkan Leon waktu itu dan saat ini dia telah mengetahui dimana kakaknya berada.
Apa yang harus kulakukan selanjutnya?
Setelah Alice berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Iris kembali melihat sosok kakak yang pernah terukir di memorinya, ia sangat mengidam-idamkan kehadirannya. Namun ia sadar akan satu hal, dirinya yang saat ini dengan yang dulu tidaklah sama dan begitupun dengan Alice. Dengan kemampuannya, ia tidak bisa dikatakan berdiri disamping kakaknya lagi. Saat ini dia hanyalah seorang gadis kecil yang mengikuti bayangan kakaknya.
Iris memejamkan matanya, merasakan terpaan dari dinginnya air hujan. Dia membenamkan dirinya di bawah langit yang membasahi Aria seolah dia sedang mencuci dan menyegarkan pikirannya.
"Kakak...Aku pasti akan menjemputmu."
Kalimat singkat itu bagaikan sebuah ikrar yang ia tanamkan dalam hatinya.
Iris kembali ke kediaman Strongfort. Dia sudah tahu apa yang dia butuhkan. Dia tahu apa yang kurang darinya dan apa yang harus dia latih.
Saat ia tiba di kediamannya. Iris melihat kehadiran yang membuatnya jengkel tiba-tiba.
"Dia! Kenapa dia ada disini? Jika bukan karenanya, seharusnya kakakku tidak akan hilang dan terjebak di Benua para iblis."
Pandangannya yang sinis jelas mengisyaratkan bahwa ia tidak menyukai wanita yang sedang duduk di hadapan kedua orang tuanya.