
Para prajurit elf berjuang dengan sekuat mungkin menahan monster-monster itu. Kristal hitam yang menempel pada tubuh mereka tampak mengerikan. Bukan soal penampilan tapi kekuatan. Kristal hitam itu membuat mereka menjadi lebih kuat. Energi hitam yang menyelimuti tubuh mereka seakan memberikan tekanan dominasi yang besar sehingga membuat beberapa prajurit tidak mampu berkutik saat diserang dengan tiba-tiba oleh monster-monster itu.
"Terus maju. Aku bisa merasakannya, dia ada di depan sana." Kata Nyx.
Berdasarkan instruksi Nyx, Alice melompat dari rumah ke rumah dengan cepat untuk menemukan sosok pemilik energi hitam yang kekuatannya terasa familier bagi Nyx.
Saat rumah terakhir di hadapannya, Alice berhenti lalu melenyapkan kehadirannya. Ia mengintip sedikit untuk melihat sosok seperti apa yang memiliki energi itu.
Mereka telah tiba di distrik perdagangan, dimana proses jual beli kerajaan elf berlangsung. Di tengah alun-alun jalan terdapat sebuah patung elf yang merupakan pendiri kerajaan itu. Dan betapa mengejutkannya, monster yang Alice cari ternyata berdiri tepat di samping patung itu.
"Monster apa..itu...?" Tanya Alice. Nyx menggelengkan kepalanya.
Monster yang dipenuhi duri di setiap inci tubuhnya dengan telinga yang besar memanjang kesamping layaknya seperti sebuah tangan. Tubuhnya mungkin setinggi sebuah rumah dua lantai tapi sepasang telinga itu masihlah lebih panjang. Penampilannya cukup menyeramkan untuk membuat buku kuduk seseorang berdiri.
Mengerikan. Itulah pendapat Alice saat melihat wujud Mons itu. Ia menyipitkan matanya sambil menahan nafasnya melihat terus sosok itu. Baru kali ini ia menjumpai monster seperti itu.
Apakah mungkin kristal hitam itu juga yang membuatnya seperti itu? Pikir Alice.
Di tengah perut monster itu terdapat sebuah mulut yang besar dengan gigi yang runcing dan sangat tajam. Bibirnya bergerak mengunyah dengan liur menjijikan yang memenuhi rongga mulutnya.
"Dia bahkan tidak peduli kawan atau lawan. Monster itu memakan rekannya sendiri." Sahut Nyx yang melayang di samping Alice.
"Apakah kau ingin melawannya?" Tanya Nyx.
"Aku ingin melihat para elf melakukannya dulu. Masih banyak tanda tanya yang tersimpan dalam hatiku pada negeri ini."
Setelah beberapa hari tinggal di kerajaan elf. Alice tidak diam begitu saja di kamarnya. Dalam gelapnya malam, Alice sesekali berlari di atas rumah-rumah penduduk atau melewati gang-gang kecil. Bisa dibilang ia telah hampir mengunjungi seluruh sudut kerajaan itu. Begitu pun saat pagi hari, Alice mengumpulkan banyak informasi dari beberapa pedagang saat ia pergi ke pasar untuk membeli sesuatu.
"Negeri ini memiliki banyak rahasia dan yang lebih gelap dari kelihatannya."
Beberapa saat kemudian, sebuah pleton prajurit elf datang dengan senjata lengkap. Matanya melirik seorang gadis berambut biru dengan zirah baja ringan yang melindungi tubuhnya.
"Asiya? Ternyata dia adalah seorang prajurit, terlebih lagi dia adalah seorang komandan."
Asiya memberikan aba-aba pada pasukan yang di pimpinnya. Kehadiran mereka belum disadari oleh monster itu. Para elf dengan busur segera melompat ke atas rumah dengan diam-diam untuk mengelilingi monster itu. Puluhan elf telah siap menembakkan panah mereka. Selanjutnya, elf dengan kemampuan sihir mulai merapalkan mantra mereka untuk memberikan perlindungan dan kekuatan pada prajurit yang ada di depan mereka.
"Strategi yang bagus. Apakah mereka bisa mengalahkannya?" Gumam Nyx sedikit tercengang.
Saat persiapannya sudah siap. Asiya memerintahkan pasukan pemanah untuk melepaskan serangan mereka. Puluhan anak panah yang berlapis sihir api menerjang monster itu.
"UAarrgg!!" Monster itu menjerit dan meronta kesakitan.
Mata Asiya bercahaya karena serangan mereka berhasil. Ia bersama sisa prajurit yang mengenakan pedang dan tombak bergerak maju untuk menyerang monster itu.
Para prajurit menebas dan menusuk monster itu dengan senjata mereka yang dilapisi Mana.
Kemenangan gemilang tanpa korban. Mereka percaya kalau sedikit lagi monster itu akan tumbang, namun Alice yang menyaksikan keanehan itu merasa heran.
Apakah monster dengan kekuatan besar yang memberikan perasaan mengerikan itu, semudah ini untuk dikalahkan?
"Ada yang aneh..." Nyx berkemam di samping telinga Alice sambil mengerutkan keningnya. Ia merasakan asa sesuatu yang janggal dari monster itu. "Kau merasakannya juga kan? Walaupun dia diserang habis-habisan seperti itu tapi energinya tidak berkurang, malahan bertambah. Monster itu bahkan terlihat seperti sengaja membiarkan dirinya diserang." Lanjutnya.
"Ya, kau benar. Bahkan aku bisa merasakannya dari sini." Sahut Alice setuju.
Sesaat kemudian, kedua mata Alice terbelalak saat ia melihat kedua bibir kecil monster itu tersenyum sinis. "Gawat! Mereka dalam bahaya!"
Asiya dan para prajuritnya tidak menyadari tindak-tanduk aneh monster itu. Ia lalu hendak menggunakan jurus pamungkasnya. Asiya merapalkan beberapa mantra, membuat pedangnya berselimut angin dan api yang berkobar. Asiya lalu menebas lurus ke arah monster itu namun ia terdiam melongo saat serangannya tidak berefek. Seolah api besar itu menguap begitu saja dan hilang.
Asiya berdecak kesal. Ia berpikir untuk melayangkan serangan selanjutnya. Tapi sayangnya, pergerakannya dan prajuritnya telah di kunci oleh cairan aneh yang keluar dari monster itu.
Saat mereka menyerangnya dan mengira kalau itu adalah darah hitam dari monster menjijikan itu, mereka tidak menghiraukannya. Perlahan kaki mereka pun basah dan penuh dengan cairan itu.
Kenyal dan lengket. Kaki mereka terjebak bahkan pedang pun tidak bisa memotongnya karena kekenyalannya itu.
Asiya menarik nafasnya dengan cepat saat melihat monster itu mengangkat kedua telinga besarnya ke langit. Perasaannya tidak enak.
"Perisai!!!" Asiya berteriak lantang pada para penyihir di belakangnya.
Monster itu menghantamkan kedua telinganya ke tanah. Kumpulan duri dari dalam tanah muncul begitu saja dan menusuk prajurit yang terjebak. Bahkan perisai mereka tak mampu menahan serangannya.
Asiya tidak bisa menyelamatkan rekannya. Ia menelan pahit ludahnya sambil menatap pilu rekan-rekannya yang tumbang.
Asiya dan monster itu saling bertemu pandang. Seringai kecil dari wajah monster itu benar-benar membuatnya marah, Asiya menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Monster itu memiliki kesadaran untuk berpikir dan mereka telah masuk dalam perangkapnya.
Kini gilirannya. Monster itu berjalan mendekat dengan pelan. Asiya mendongak, melihat sakah satu telinga monster itu telah melayang di atas kepalanya. Dia pasrah, menutup matanya dan mengira kalau saat ini adalah hari kematiannya.
Kepala Asiya masih menunduk menunggu hantam telinga berduri dari monster itu. Tapi ia membuka matanya dengan terkejut saat suara lembut seorang wanita menghampiri telinganya.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"A-Alice?"
Sembari menahan telinga monster itu dengan tangan kirinya, Alice kemudian mengayunkan tangan kanan yang padat akan Qi. Monster itu berteriak sangat kencang saat ia melihat salah satu telinganya telah putus. Asiya menelan ludahnya takjub. Dia tahu kalau gadis manusia bernama Alice itu kuat, namun ia tak pernah mengira kalau monster yang mereka lawan dengan susah payah bahkan tak ada artinya di matanya.