
Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Mata Echidna tidak menunjukkan keraguan ketika dia mengatakan akan membakarnya menjadi abu.
"Enyah dari sana!" Ucap Echidna dengan nada dingin.
Gadis kecil itu yang seharusnya tampak imut dan menggemaskan malah terlihat sangat menakutkan. Sorot matanya yang tajam membuat tubuh Seypherd merinding.
Echidna menatap Seypherd cukup lama, pupilnya lalu bergerak melirik Oswald yang ada di belakangnya. "Heh! Baiklah. Lagipula dia juga sudah tidak akan hidup lama." Ucapnya lalu ia berbalik pergi.
Seypherd mengepalkan tangannya dengan kuat hingga bergetar. Dia juga tahu itu, namun melihat sahabatnya harus dibakar hingga tak tersisa, membuat hatinya lirih.
"Setidaknya aku ingin menguburkan mayatnya." Gumam hatinya.
Helian melihat pundak Seypherd yang tampak lemah, ia mengulurkan tangannya dan ingin menghampirinya, tapi dia segera mengurungkan niatnya itu.
Helian berbalik menyusul Echidna yang sudah menunggunya di depan pintu.
"Apa kau tak ingin menemaninya?" Tanya Echidna.
Helian menggelengkan kepalanya lalu berkata "Dia butuh waktu sendiri. Ayo pergi." Helian menoleh sejenak dengan wajah prihatin untuk melihat Seypherd.
Keduanya pun meninggalkan Seypherd sendirian bersama Oswald yang sudah di ambang batas.
Akibat dari kristal hitam yang menyatu dengannya, tubuh Oswald perlahan kehilangan warnanya. Perlahan dia tampak seperti kristal tua rusak yang tidak memiliki atau memantulkan cahaya lagi.
Sedikit demi sedikit mulai nampak retakan pada beberapa bagian tubuhnya. Melihat itu, Seypherd bergegas menarik tubuh Oswald dan membaringkannya di lantai.
Seypherd menunduk terdiam melihat rekan perjuangannya yang sekarat. Satu-satunya yang menemani dirinya dalam ruangan itu hanyalah suasana hening yang melilit batinnya yang berat.
~
Daeron tertawa lepas saat ia tiba di depan Yggdrasil. Ia memegang satu sisi wajahnya. "Akhirnya, akhirnya aku akan segera bangkit kembali...!" Ucapnya lantang diiringi dengan suara tawa.
Daeron memanggil para prajurit pemberontak yang sebelumnya telah di teleportasi ke wilayah hutan Yggdrasil. Mereka dengan sigap berjejer di hadapan Daeron.
Para prajurit itu tampak aneh. Penampilan mereka hampir sama seperti Oswald, namun sedikit lebih kasar, seolah kristal hitam yang ada pada tubuh mereka tidak sepenuhnya menyatu.
Hal itu bisa dilihat dari beberapa bagian di tubuh mereka yang mana terdapat kristal hitam yang menonjol. Wajah, pundak atau punggung mereka.
Apakah para prajurit itu adalah hasil mutasi dari percobaan yang pernah Gephard sebutkan?
Daeron Mablung berjalan sambil menyeringai mendekati pohon Yggdrasil. Dia lalu mengibaskan lengannya seraya memberi perintah kepada para prajurit.
Prajurit mutasi itu dengan patuh segera mengelilingi pohon Yggdrasil. Mereka lalu mengangkat salah satu tangan mereka ke langit dan menancapkannya ke tanah.
"Bagus, Bagus" Tawa Daeron kembali mengisi tempat itu. "Dengan ini aku akan segera kembali untuk menghancurkan dunia ini. Teror ku akan menelan semuanya dalam ketakutan dan keputusasaan."
Para prajurit itu seperti sedang mengisap energi yang ada dalam pohon Yggdrasil melalui akarnya dan sebagai umpan balik, mereka melepaskan energi Mana yang tidak murni untuk mencemari pohon besar itu.
Sebagai raja dan suami dari Helian, apa yang sebenarnya Daeron rencanakan?
Tak lama ia memandangi para prajurit itu dengan penuh kepuasan. Sebuah bayangan hitam melintas dan menghempaskan mereka seketika.
Daeron mengkerutkan alisnya. "Siapa disana? Beraninya kau mengganggu kesenangan Tuan ini."
"Tuan ini? Konyol sekali. Apakah kau masih bisa bertindak sombong seperti itu setelah aku menelan mu?!" Jawab si pemilik bayangan itu.
Para prajurit itu terjerat oleh tali dari sebuah bayangan hitam. Mereka tidak bisa bergerak, tubuh mereka membungkuk di atas tanah. Lalu bayangan hitam itu dengan cepat berpindah tempat dan muncul di belakang Daeron.
"Kurang ajar! Sepertinya kau memang cari mati."
Daeron melindungi tubuhnya dengan sihir sebelum bayangan hitam yang berbentuk mulut dengan taring yang besar itu melahapnya.
"Hampir saja aku mendapatkan sarapan yang lezat." Fee menunjukkan wujudnya di hadapan Daeron. Ia mengelap bibirnya dengan lidahnya.
"Kau...." Daeron heran melihat sosok seekor serigala hitam di depannya. Kehadiran yang begitu kuat. Jelas kalau serigala itu bukanlah binatang sembarangan. "Apakah kau tidak tahu siapa Tuan ini?" Tanya Daeron.
"Kau tak perlu menyebutkannya. Aku juga tidak ada niat untuk mengenalmu. Yang ku inginkan saat ini hanyalah menelanmu, itu saja." Jelas Fee.
Daeron tertawa lepas. "Berpura-pura pun itu ada batasnya. Aku tidak tahu apakah kau ini benar-benar kuat atau hanya seekor hewan yang bodoh?"
Fee tersenyum sinis. "Oh, apakah kau penasaran? Bagaimana kalau aku memberikan mu jawabannya dengan ini!"
Fee menggerakkan sedikit kakinya dan sebuah duri hampir saja menusuk tubuh Daeron. Beruntunglah ia menyadari serangan itu dan segera mengelak. "Lumayan. Bagaimana dengan yang ini?!"
Fee kemudian menciptakan tiga buah bayangan dirinya yang menerjang menyerang Daeron. Lalu ia meraung dengan sangat keras membuat tubuh Daeron terdiam seketika.
Daeron berdecak kesal. Dia menganggap remeh lawannya. "Padahal kau hanya seekor binatang, jangan seenaknya bertingkah di hadapan ku!" Daeron menghentakkan kakinya dengan kuat ke tanah dan melepaskan perisai sihir dalam jangkauan cukup luas.
Bayangan Fee lenyap seketika saat mereka menyentuh perisai sihir milik Daeron.
Keduanya bisa dibilang memiliki keahlian yang sama dalam menggunakan sihir hitam. Kumpulan sihir debuff yang memberikan efek negatif pada musuh mereka dan kebanyakan sihir dengan elemen itu bersifat beracun atau korosif.
Fee tidak begitu ceroboh untuk menghadapi Daeron tanpa memikirkan dampak pertarungan mereka. Dia menggunakan sedikit Mana miliknya untuk melindungi pohon Yggdrasil yang ada di belakangnya.
Keduanya kemudian bertarung dengan saling melempar sihir. Begitu sengit hingga tanah dan pepohonan yang ada di sekitar mereka luluh lantah.
Berbeda dari pertarungan fisik, pertarungan dengan sihir hanya akan berhenti ketika salah satu dari mereka kehabisan mana.
"Sial! Aku sudah kehilangan banyak Mana karenanya. Serigala bi*d*p."
Momentum serangan Daeron mulai melambat dan melemah. Melihat hal itu, Fee melemparkan kalimat provokatif untuk membuat Daeron kehilangan kesabaran dan sekaligus untuk memuaskan dirinya.
"Hanya segitu... Apakah 'Tuan ini' hanya bisa berkata omong kosong belaka. Hehe, si 'Tuan ini' sepertinya mulai kehabisan Mana. Bahkan aku pun belum mengeluarkan setengah kekuatan ku."
Daeron menekuk alisnya dengan kuat, dia mengeratkan rahangnya dan menatap Fee penuh amarah. Selama ini dia tidak pernah dipermalukan seperti ini, apalagi hanya melawan seekor binatang.
Daeron melepaskan sikap siaganya. Tiba-tiba dia mendapatkan ide yang bagus.
"Hmm? Apakah kau sudah menyerah? Bukankah seharusnya kau melakukan itu sedari tadi, jadi aku tidak perlu capek-capek membuang waktuku."
"Kalau aku tidak bisa menghadapimu, mengapa aku tidak menarikmu untuk bergabung bersama ku." Gumam benak Daeron.
Setelah ia melihat Fee dengan baik. Daeron bisa merasakan kalau asal kekuatan mereka tidaklah jauh berbeda. Perasaan negatif dari energi Mana yang kotor, Daeron berpikir kalau mereka berdua tidaklah jauh berbeda.
"Baiklah, aku menyerah, kau menang."
Fee terkekeh. "Nah, seperti itulah yang ku mau. Sekarang bersiaplah untuk-"
"Tapi tunggu, aku ingin menawarkan sesuatu padamu."
Saat Fee hendak berjalan untuk memulai sarapannya, Daeron menghentikannya dengan sebuah penawaran. "Bagaimana kalau kau bergabung denganku? Kau dan aku tidak jauh berbeda. Aku bisa merasakan itu."
"Hoo..hoo....Bergabung denganmu? Lantas apa yang bisa ku dapatkan setelah aku mengikuti mu?"
"Kau tidak perlu khawatir. Bukankah kau lapar? Aku bisa memberimu makanan terlezat di dunia ini. Bersamaku kita akan menaklukkan dunia ini. Memberikan mereka rasa takut sehingga para mahluk rendahan itu tau, siapa kita sebenarnya. Biarkan mereka merasakan kekuatan dari seorang Dewa dan tenggelam dalam kehancuran." Jelas Daeron.
Fee terdiam sejenak. "Hmmm....." Ia menutup kedua matanya.
Daeron menyeringai.
Serigala itu benar-benar mempertimbangkan tawarannya. Tidak tahu atas alasan apa dia menghentikannya untuk menyerap energi Yggdrasil, tapi setelah dia meyakinkan serigala itu untuk mengikutinya, maka dia akan memiliki satu bidak yang hebat.
"Bagaimana? Bukankah tawaran ku menarik?" Tanya Daeron sekali lagi untuk meyakinkan Fee.
Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk memiliki serigala itu.
"Menarik...Hahahah...menarik. Aku suka tawaran mu." Fee tersenyum.