Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 124



Asiya berdiri terpaku ketika melihat pertarungan Alice melawan monster berduri itu.


Matanya terbuka lebar menatap mereka. "A-Apakah monster ini sebenarnya sangatlah lemah. Semua serangannya ditepis dengan mudah oleh Alice." Gumamnya. Asiya menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku sudah memastikannya saat melawannya tadi. Monster ini tidaklah lemah tapi Alice lah yang terlampau kuat."


Asiya melirik melihat rekan-rekannya yang terluka. Berhubung monster itu sedang sibuk melawan Alice, dia segera memanggil para penyihir di belakangnya dan pemanah untuk mundur dan membawa rekan mereka yang terluka.


"Cih." Asiya berdecak lalu menggigit kuku jempolnya sambil melihat ke arah pertarungan itu.


Dengan Mana gelap yang menyelimuti tubuhnya, Alice mengira kalau monster itu akan sedikit sulit untuk dikalahkan. Baru sekali tebas saja dengan pedang Qi dan telinga besarnya sudah putus. Alice sedikit kecewa, padahal ia baru saja ingin mencoba sihir apinya walaupun ia tahu kalau monster itu sebenarnya tahan terhadap serangan elemen api.


"Apakah... kekuatanku yang meningkat ini karena Mana Heart itu?" Tanya Alice pada dirinya. Alice melompat mundur beberapa langkah, kemudian memejamkan matanya untuk melihat perubahan energi yang ada dalam tubuhnya. "Ternyata benar. Aku bahkan tidak merasakannya. Mana Heart yang Zhou Yun berikan sangat luar biasa. Tidak salah jika banyak orang yang mengincarnya, bahkan sampai dewa jahat pun menginginkannya." Sekali lagi Alice bersyukur dalam hatinya karena murid sekaligus cinta pertamanya itu.


Energi yang padat terus dipompa dari jantung ke seluruh tubuhnya. Mana Heart yang telah menyatu dalam dirinya membuat afinitas Mana nya menjadi lebih baik. Secara tidak langsung tubuhnya akan menggunakan Mana untuk memulihkan staminanya. Bukan seperti Mana Heart itu akan menyembuhkan luka, Alice tidak begitu gegabah itu untuk mencoba melukai dirinya dengan monster besar di hadapannya.


Walaupun penyerapan dan penggunaan Mana dan Qi hampir memiliki konsep yang sama, tapi dia tidak bisa mengaplikasikan keduanya dalam waktu bersamaan. Begitulah teori Alice sebelum ia mendapatkan Mana Heart, tapi sejak ia memiliki Mana Heart dari Sang Naga Agung dalam tubuhnya, Alice merasa kalau akan mudah baginya untuk menggabungkan keduanya dan menggunakannya secara bersamaan.


"Arrrgghh! Arrgggh...!" Monster berduri itu meraung dengan kesal karena semua serangannya bisa dipatahkan dengan mudah. Ia membuka lebar-lebar mulut besar yang ada di perutnya. Sebuah bola sihir hitam berupa [Dark Matter] terbentuk dari Mana gelap miliknya, lalu ia menembakkannya ke arah Alice.


Serangan melaju dengan mengikis tanah dan apapun yang ia lewati.


"Mari kita coba." Alice tersenyum kecil dengan ide gila yang muncul tiba-tiba dalam kepalanya. "Walaupun sudah lama, tapi aku pernah melihat para murid menggunakannya. Toh, tidak ada salahnya, mungkin caranya juga sama."


Alice merasakan Mana dalam tubuhnya, mengingat kembali sihir yang murid-murid itu pernah gunakan ketika mereka bertanding. Layaknya sebuah papan sirkuit yang dialiri listrik, seperti itulah Alice memvisualisasikan bentuk sihir yang ada dalam benaknya.


Ia merentangkan satu tangannya ke depan. Perlahan mengumpulkan medan energi sihir untuk mengelilingi tubuhnya. "[Magic Shield] [Aegis] [Protection]"


Tiga sihir dasar langsung digunakannya dengan instan. Dia tidak menyangka kalau akan semudah itu. Walaupun hanya sihir dasar tapi dengan jumlah Mana yang ia miliki saat ini, Alice tidak ragu untuk menahan bola Dark Matter itu.


Hembusan angin kencang dan sedikit dorongan ketika pelindungnya bertubrukan dengan bola itu. Tidak hanya tanah yang ada di samping ataupun di depannya, jejak kikisan tanah dari bola Dark Matter itu juga berbekas melewati kedua sisinya. Untung saja dia memiliki kaki yang kuat, kalau tidak, dia mungkin akan terhempas ke belakang.


Hebat! Lua biasa! Menyenangkan!


Mata Alice penuh rasa antusias. Menggunakan sihir membuat dadanya menggebu-gebu. "Sudah lama aku merindukan perasaan ini." Alice tersenyum lebar. Ia benar-benar senang saat ini. Tapi Alice segera menepis rasa antusiasnya itu. "Tidak, tidak. Sekarang bukan waktunya untuk momen seperti ini. Aku harus segera menyelesaikannya."


Alice mengeluarkan pedangnya dari cincin dimensinya. "Karena api tidak mempan. Bagaimana kalau aku sedikit mendinginkan tubuhmu." Kemudian, ia menarik pedangnya perlahan. Monster itu tidak membuang kesempatannya. Ia menembakkan duri-duri besar yang keluar dari tubuhnya kemudian menancapkan telinganya ke tanah.


"Teknik yang sama tidak akan berguna. Ku pikir kau memiliki kecerdasan tapi sepertinya seekor primata bahkan masih lebih cerdas darimu." Alice melompat saat kumpulan duri panjang dan tajam hampir menusuknya dari dalam tanah. Selanjutnya duri-duri besar lainnya menghujam ke depan matanya dan disusul dengan serangan Dark Matter.


Alice membuang nafasnya perlahan dari mulutnya. "[Elemental Breath]"


Waktu serasa melambat di matanya. Saat ujung pedangnya telah lepas dari gagangnya. Alice menebas secepat kilat "[Deep Freeze Abyss]"


Asiya melihat Alice mendarat kembali ke tanah, berbalik berjalan ke arahnya seolah tidak ada kejadian aneh di belakangnya. Saat ia ingin bertanya, Asiya melihat baik-baik Alice pedang Alice yang berbunyi saat kembali dimasukkan dalam gagangnya. Dia dan pasukannya terbelalak melihat tubuh monster juga duri yang melayang di udara terbelah menjadi potongan-potongan kecil. Monster yang ada di balik punggung WAI muda itu telah terpecah belah menjadi beberapa potong dalam sekejap mata.


Mata Asiya bergetar menatap akan betapa mengerikannya kekuatan manusia bernama Alice.


~


Tiga hari setelah penyerang para monster berlalu, keadaan kota telah menjadi lebih baik. Berkat para prajurit yang sigap, serangan monster itu hanya memberikan sedikit kerusakan.


"Alice rupanya. Bagaimana kabarmu hari ini? Serangan monster beberapa hari yang lalu benar-benar membuatku cukup takut." Tegur sapa seorang wanita bernama Lia.


Lia atau kerap disapa Bibi Lia. Dia adalah pemilik tunggal dari penginapan yang Alice beserta putrinya tempati. Seorang wanita elf yang menawan meski telah menikah dan menjadi janda karena kematian suaminya. Bibi Lia tinggal seorang diri mewarisi penginapan milik suaminya itu.


"Pagi bibi. Aku baik-baik saja. Untungnya para prajurit cepat menangani mereka."


Bibi Lia tertawa sambil meletakkan satu tangannya di depan bibirnya. "Kalaupun mereka menyerang tempat ini, aku yakin aku bisa mengandalkanmu." Ucapnya dengan nada bercanda. "Oh, Halo gadis kecil yang imut disana." Bibi Lia melambaikan tangannya saat melihat Echidna yang menggenggam tangan Alice. "Echidna benar-benar imut. Apakah kamu takut waktu monster-monster itu datang?"


Echidna menggelengkan kepalanya. "Selama ada mama, Echidna tidak takut apapun." Balasnya dengan bangga.


"Benar juga. Ibumu kan wanita yang hebat. Tapi... Aku tidak menyangka untuk seorang wanita berusia 16 tahun kau sudah memiliki seorang putri sebesar ini."


"Eh...ah~ Ahahah... Ceritanya panjang." Alice tersenyum malu sambil menggaruk pipinya.


Ia mengalihkan pandangannya sejenak.


Sudah kesekian kalinya ia mendengar orang-orang berkata seperti itu padanya. Yah, walaupun dia jelaskan pun kalau Echidna bukanlah putri kandungnya, mereka pasti akan ragu saat melihat penampilan dia dan Echidna sangatlah mirip. Tidak salah untuk melihat mereka seperti ibu dan anak atau adik kakak.


"Kalian mau kemana?"


"Kami ingin jalan-jalan sebentar."


"Oh, kalau begitu selamat menikmati waktu kalian dan jangan lupa untuk kembali siang nanti. Aku akan menyiapkan hidangan istimewa untuk merayakan keberhasilan kita saat melawan para monster itu."


"Baik bibi."


Alice bersama Echidna berlalu menuju keluar gerbang. Mereka lalu bergerak ke utara sesuai dengan apa yang tergambar di peta.


"Ikuti sungai ini dan kita akan segera sampai di perbatasan hutan itu." Gumamnya sembari melihat peta.


Setelah mengumpulkan sedikit informasi, Alice akhirnya memutuskan untuk pergi ke perbatasan dan melihat hutan tempat peristirahatan Zhou Yun.