
Ketika ia menyadari rasa dingin perlahan menyelimutinya dan membuat pergerakannya kian melambat, Minotaur melihat ke bawah. Ternyata kedua kakinya telah membeku menjadi bongkahan es. Ia mengeratkan giginya, menderam melototi Alice. Minotaur mendengus dan mengangkat kakinya dengan kuat untuk melepaskan diri dari es yang tiba-tiba muncul di atas tanah.
Begitu dingin. Lantai tempat mereka berpijak telah membeku menjadi es.
Alice mengarahkan ujung pedangnya ke hadapan Minotaur. "Tidak ada yang bisa lari dari wilayah ku. Sekalipun kau mencoba untuk terbang, es ku akan membelenggumu. Bagaimana rasanya dengan es yang perlahan membuat mu membeku?"
Minotaur itu berbalik ke belakang dan melihat lantai yang membeku sejauh matanya memandang.
Apakah makhluk kecil ini membekukan seluruh lantai ini? Begitulah pikirnya.
Tidak mudah untuk berlari di atas lantai yang cukup licin. Minotaur itu mengamuk dengan menghantamkan palunya ke tanah berkali-kali. Ia berharap bisa menghancurkan es itu tapi saat ia melihatnya baik-baik, es itu kembali menutup tempat yang baru saja ia hancurkan.
"Glacial Eternal Slumber, sama seperti nama teknik ini. Aku akan membuat mu tertidur dalam dinginnya es ini untuk selamanya." Alice kemudian menancapkan pedangnya ke tanah. "Nah, sekarang menari lah untukku."
Sebuah duri tajam tiba-tiba muncul dari lantai yang membeku dan menusuk lengan Minotaur. Berkat pertahanan tubuhnya yang kuat, duri es itu bahkan tidak bisa menembusnya. Tapi serangan Alice tidak berhenti sampai situ saja.
Duri es kedua dan ketiga kembali menyerang Minotaur. Tubuhnya semakin terluka dan membuatnya semakin marah. Minotaur itu bergerak dengan pelan. Sedikit demi sedikit tampaknya ia sudah mulai paham bagaimana caranya berlari di atas lantai es itu. Dia mencoba untuk menghindari duri es yang muncul untuk menusuknya tapi karena pergerakannya terlalu lambat, alhasil ia tetap teluka.
Masa bodoh, Minotaur pun berlari menerjang Alice dengan Palunya, tak peduli duri es yang menghalanginya, Minotaur itu menggunakan lengannya dan menepis bongkahan duri es yang muncul. Ia benar-benar nekat menerobos mereka begitu saja. Kemudian dia meraum lalu melompat cukup tinggi. Palunya yang besar tepat berada di atas kepala Alice.
BAMM!!!
Hantamannya begitu keras sampai membuat lantai retak hancur berantakan.
Minotaur mendengus.
Ia berdiri di tempatnya menunggu kepulan debu itu lenyap.
Aku yakin aku mengenainya. Tubuhnya pasti sudah hancur. Pikirnya puas.
Tapi apa yang ia temui hanyalah bekas retakan yang kosong. Makhluk kecil itu tidak ada di sana, bahkan jejak darahpun tidak ada. Es yang tadinya juga kembali menyatu.
Dimana dia?!
[Mirror Mirage]
"Apakah kau mencariku? Kerbau besar yang bodoh."
Salah satu teknik andalan Alice dengan memadatkan Qi es nya dan memvisualisasikannya sebagai dirinya selagi ia menghindar.
Minotaur itu berbalik bersama dengan ayunan palunya. Alice segera menggunakan teknik yang sama. Saat palu itu menyentuh bayangan dirinya, bayangan itu langsung meledak menimbulkan kabut es yang menutupi pandangannya.
Alice dengan cepat bergerak ke belakang Minotaur. Dari titik butanya, ia menebas tengkuk leher Minotaur. Tebasannya kali memberikan luka yang cukup serius. Tidak hanya luka, pedang berlapis es milik Alice membuat daerah sekitar hasil tebasannya membeku seketika. Rasa dingin dan nyeri menusuk hingga ke tulang punggung dan leher Minotaur.
Monster itu tidak bisa melawan. Ketika ia melihat Alice dan menyerangnya, apa yang ia pukul sebenarnya hanyalah sebuah bayangan es dan meledak begitu saja.
Berkali-kali Alice sengaja menampakkan dirinya di depan mata Minotaur. Seketika ketika ia muncul, Minotaur itu langsung menyerangnya. Entah dengan palunya, lengannya atau kakinya. Tapi percuma, setiap kali serangannya mengenai Alice, yang ada hanyalah ledakan kabut es yang menutupi pandangannya.
"Kau kuat bukan? Bukankah kau bisa meningkatkan kekuatanmu tergantung seberapa banyak luka yang kau terima? Kalau begitu tunjukkan padaku, aku ingin melihat sampai mana kau bisa bertahan."
Serangan Alice terus menghujani Minotaur. Walaupun kekuatannya bertambah tapi tidak ada gunanya ketika ia tidak bisa mengenai tubuh Alice yang sesungguhnya.
Es milik Alice benar-benar tidak terbatas. Ia bisa menciptakan bentuk apapun untuk menyerang dan bertahan selama ia masih berada dalam wilayah es nya.
Minotaur itu melingkupi kepalanya yang menjadi incaran Alice dengan lengan dan tangannya. Dia terjebak dan tidak ada jalan keluar dari sana. Semakin lama situasi itu berlangsung, Minotaur mulai merasakan keanehan pada tubuhnya. Luka-lukanya yang terasa dingin bak membeku membuat darah dan ototnya kaku dan mati rasa.
Palu besar itu akhirnya terjatuh dari genggamannya. Seluruh tubuhnya menjadi kaku. Ia menunduk dan melihat setengah dari bagian dirinya sudah membeku menjadi bongkahan es.
Derap langkah kaki Alice terdengar di telinganya. Minotaur mengangkat kepalanya dan melihat makhluk kecil itu berjalan dengan santai di depan matanya.
Ia mendengus kesal, mengeratkan rahangnya dan memberontak mencoba untuk melepaskan diri. Tapi tatkala semuanya sudah terlambat. Alice merentangkan satu tangannya kesamping. Sebuah pedang es perlahan muncul dari udara yang dingin.
"Kau sudah kalah. Aku cukup menikmati pertarungan ini. Kalau begitu, matilah." Kata Alice.
Alice menerjang Minotaur, ia mengayunkan pedangnya berkali-kali menebas tubuh monster itu dengan cepat. Sangking cepatnya ia bergerak, Alice terlihat seolah ia hanya berlari melewatinya begitu saja.
Minotaur itu mengerang kesakitan. Tebasan itu memang tidak menimbulkan luka luar tapi seluruh tubuh monster itu telah membeku dari dalam.
Saat Alice melepaskan tekniknya, Minotaur itu pun mati tanpa memiliki kesempatan untuk terjatuh atau menutup matanya.
Alice berbalik melihat tubuh Minotaur, ia kemudian menoleh pada pintu bercahaya dimana Elysia dan yang lainnya bersembunyi.
"Semuanya sudah selesai, sekarang waktunya pulang untuk makan malam. Aku harap Elysia dan kawan-kawannya sudah lebih baik." Kata Alice lalu ia berjalan menuju pintu itu.
Gelak tawa seorang pria tiba-tiba bergema di seluruh lorong. Alice berhenti dan mengangkat kepalanya.
"Heh! Akhirnya kau muncul juga. Apakah kau akan menunjukkan dirimu? Bagaimana kalau kita akhiri ini segera?" Alice berbicara dengan nada merendahkan lawannya sambil tersenyum tipis. Ia dengan sengaja memprovokasi Erebos.
"Tentu. Tapi... sebelum itu kurasa aku ingin memberikanmu sebuah hadiah."
"Hadiah? Trik apa lagi yang bisa dilakukan Dewa pengecut seperti mu?"
"Manusia, pelan-pelan. Aku yakin kau pasti akan terkejut. Kukuku...kuhahaha...." Erebos tertawa lepas. Ia kemudian berhenti lalu menghela nafasnya.
Alice menyipitkan matanya. Dewa Jahat yang selalu berada di belakang layar dan mempermainkan orang lain seolah mereka adalah bonekanya.
Alice curiga.
"Sungguh menyenangkan. Manusia... tahukah kau, aku menikmati pertarungamu tadi. Tidak ku sangka seorang manusia lemah seperti mu bisa mengalahkan bos monster dari dungeon ini dengan mudah. Ya ya ya...Bagaimanapun juga dia itu tidak jauh berbeda dengan seekor kerbau besar. Soal hadiah itu...kau akan tahu saat membuka pintu di depanmu. Aku jamin kau pasti akan menyukainya. Hahaha."
Suara Erebos pun lenyap diiringi dengan gelak tawanya yang.
Alice terbelalak. Perasannya tiba-tiba tidak enak. Tidak ada sesuatu yang baik dari Dewa itu. Degup jantung Alice semakin kencang saat ia berjalan mendekati pintu itu.
Tangan dan kakinya gemetar.
Entah apalagi yang akan terjadi kali ini. Tapi ku harap Elysia baik-baik saja. Batinnya cemas.
Dengan pelan ia mendorong pintu besar itu.
Betapa mengejutkan.
Untuk pertama kalinya Alice sangat terkejut saat melihat adegan berdarah telah terjadi yang ada di dalam ruangan itu. Ia bahkan harus menahan nafasnya. "Ely...sia?"
"Bibi...." Suara serak kering Helian memanggil Alice dengan pelan dari sudut ruangan.
Helian terluka parah dengan memar dan bekas tebasan yang merobek pakaian hingga kulitnya. "E-Elysia...dia..." Helian tidak sempat menyelesaikan kalimatnya sebelum akhirnya ia pingsan.
Gejolak amarah membara dalam dadanya. Alice mengeratkan giginya. Ia menggengam pedangnya dengan sangat kuat. Nafasnya sesak menjadi berat dan tak karuan.
Elysia yang sejak tadi menunduk mengangkat kepalanya. Ia menyeringai dengan lebar sembari menatap Alice.
Alice berdiri, ia berjalan dengan pelan menghampiri Elysia sambil menjaga ketenangannya. Ia bisa merasakan kalau kakinya seperti kehilangan tenaganya untuk tetap berdiri.
"Erebos! Erebos!Erebos...!!!" Batinnya penuh amarah.
Tetes air matanya terjatuh ke tanah seiring kakinya melangkah.
Sedih? Ya! ! Marah? Ya!
Alice sangat marah sampai ia berharap dalam hatinya untuk bisa segera memenggal kepala Erebos.
Senyuman lebar di wajah Elysia tiba-tiba saja berganti. Tatapannya menjadi dingin dan matanya seolah kehilangan cahayanya.
Sebuah sabit panjang dan besar muncul entah darimana di genggamannya. Elysia menghilang dan tiba-tiba saja muncul di hadapan Alice.
Bilah sabit itu begitu tajam bukan main hampir saja memisahkan kepala Alice dari tubuhnya.
Gadis itu. Elysia, menyerang Alice dengan niat membunuh. Ekspresinya yang datar bahkan tak bergeming ketika ia mengayunkan sabitnya pada Alice.