Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 37



"Yang Mulia, Nona Alicia sudah tiba." Ucap pelayan memberitahukan kepada Sang Raja yang berada di balik pintu.


"Persilakan dia masuk."


Berdasarkan perintah Raja. Alice pun masuk ke dalam ruangan itu. Ia melihat Sang Raja sedang duduk didampingi oleh Panglima yang memimpin Ksatria Kerajaan.


Alice menatap Hendrick Sang Raja sejenak dan melirik ke arah Panglima itu.


Hendrick seketika tahu arti dari pandangan mata Alice. Tapi mengingat posisi dan keadaannya saat ini. Membiarkan dirinya sendiri bukanlah pilihan yang bijak apalagi Panglima ksatria itu merupakan teman seperjuangannya dulu dan orang yang sangat ia percayai. "Dia Reiner. Dia adalah Komandan yang memimpin para ksatria kerajaan. Tidak masalah bukan jika dia ada disini?"


Meski kalimat itu terdengar seperti sebuah pertanyaan tapi nada dan tatapan Hendrick mengatakan sebaliknya. Lagipula statusnya adalah seorang Raja, Sulit untuk mempertanyakan keputusan yang telah ia ambil secara langsung.


Alice tersenyum menjawab pertanyaan Hendrick "Tentu Yang Mulia." Lalu ia pun membungkuk untuk menyapa Reiner.


Hendrick mempersilahkan Alice untuk duduk di hadapannya. Di hadapkan dengan secangkir teh hangat hangat. Alice melirik ke seluruh ruangan sebelum perhatiannya kembali ke Hendrick.


"Bagaimana menurut mu tentang kerajaan ini Nona Alicia?"


Hendrick tidak langsung menanyakan maksud dari permintaan Alice kemarin tapi ia ingin basa-basi sekaligus meminta pendapat dari gadis muda yang duduk di depannya mengenai kerajaan yang ia pimpin. Entah mengapa Hendrick merasa kalau putri pertama Duke Strongfort ini bukanlah gadis remaja biasa pada umumnya.


"Apakah Yang Mulia meminta pandangan saya sebagai bangsawan atau sebagai rakyat biasa?"


Hendrick tersenyum tipis, ia berpikir apakah Alice memintanya untuk memberikan jawaban secara subjektif?


"Aku hanya meminta pendapatmu berdasarkan pengetahuan mu saja."


Alice melihat ke dalam segelas teh hangat itu lalu ia meneguknya sedikit dan meletakkannya kembali. Tanpa memandang Hendrick Alice menjawab." Maaf Yang Mulia mungkin ini terdengar sedikit kasar tapi, sesuai dengan permintaan Yang Mulia dan menurut pada apa yang saya ketahui. Jujur...saya merasa kalau negeri ini sudah makmur dan baik-baik saja. Saya melihat banyak rakyat yang tersenyum dan tertawa sepanjang perjalanan saya kemari."


Jawaban Alice memberikan sedikit kepuasan bagi Hendrick. Itu artinya apa yang ia usahakan selama ini tidak sia-sia tapi. Begitulah duganya, namun senyum kecil di wajahnya itu hanya terlihat sesaat saja setelah Alice melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, Saya Melihat Anda seperti petani tua yang sedang putus asa." Lanjut Alice tak bergeming saat menatap Hendrick dengan ekspresi ramahnya.


Dalam benaknya ia berpikir kalau Solus memanglah negeri yang makmur. Ia tak ingin menolak fakta itu. Dirinya yang pernah memerintah kekaisaran yang besar dan luas juga bisa melihat kemampuan dan kepemimpinan dari Raja saat ini. Tapi, sampai kapan? Sampai kapan negeri ini akan bertahan seperti itu?


Melihat Raja yang tua renta bahkan sebelum usianya. Dengan tubuh yang lemah dan tampak sakit-sakitan, bagaimana ia bisa mempertahankan kerajaan ini kedepannya?


Polemik dalam keluarga kerajaan yang tidak ada habis-habisnya hanya akan merugikan rakyat mereka kelak. "Aku ingat para perdana menteri ku yang selalu berdebat setiap pagi. Mereka selalu saja memperdebatkan satu atau dua hal yang sama, berkata untuk kepentingan rakyat tapi bodohnya perdebatan mereka itu sendiri membuat mereka lupa untuk siapa mereka berdebat. Toh ujung-ujungnya mereka hanya berusaha saling menjatuhkan." Alice tertawa suram dalam benaknya.


Sontak Hendrick dan Reiner tersentak mendengar jawaban Alice. Reiner merasa heran akan perkataan lancang Alice tapi melihat Hendrick yang tiba-tiba tertawa membuatnya tenang namun sedikit bingung.


"Begitu ya.. Begitu rupanya. Bisa Nona Alicia menjelaskan apa maksud dari perkataan yang tadi?"


"Saya melihat Anda dengan keadaan seperti ini seperti dalam keadaan terdesak untuk menjaga ladang Anda tetap subur dan memikirkan tentang bagaimana menjual hasil panen Anda dengan harga yang memuaskan tapi orang-orang yang ada bersama Anda tak tahu tentang seberapa kerasnya usaha Anda malahan mungkin mereka yang mendesak Anda atau ada juga yang hanya duduk diam menunggu hasilnya saja."


Mendengar pendapat Alice, Hendrick mengangguk-anggukkan kepalanya setuju dengan apa yang Alice maksudkan. Ia menutup matanya dan berpikir sejenak.


"Tapi Nona Alicia, mudah untuk mengatakannya tapi sulit untuk dilakukan."


Alice mengalihkan pandangannya ke arah Reiner lalu tersenyum. Reiner sendiri bingung dengan ekspresi wajahnya itu. Kenapa ia tersenyum ke arahku? Pikirnya.


"Untuk itulah Yang Mulia membutuhkan orang-orang seperti Tuan Reiner di samping Anda dan kedatangan saya kemari juga ingin membantu Anda."


Membantu?Apa yang bisa di lakukan gadis muda seperti mu? Awalnya Hendrick ragu dengan pernyataan itu tapi Alice sama sekali tidak bercanda. Wajahnya yang serius mengisyaratkan kalau ia memang bisa melakukan sesuatu untuknya.


"Apakah ini ada hubungannya dengan permintaanmu?"


"Ya, Yang Mulia."


"Kalau begitu katakan. Aku akan memenuhinya selama itu dibatas kesanggupanku."


Alice menundukkan kepalanya sambil berterimakasih.


"Saya bisa membantu Yang Mulia untuk menyembuhkan penyakit Anda."


Keduanya seketika tertegun. Reiner segera meletakkan salah satu tangannya di atas gagang pedangnya.


Selain Reiner, Ratu dan pelayan yang secara pribadi melayani Raja tak mungkin ada orang lain yang mengetahuinya.


"Katakan! Darimana kau mengetahuinya?"


Meski begitu Alice tetap tegap dan santai. Ia memutar-mutar jemarinya di bibir cangkir itu sebelum akhirnya meminum tehnya perlahan. "Apakah Yang Mulia percaya kalau saya mengatakan bahwa tidak ada yang memberi tahu saya?"


Hendrick dan Reiner terkejut. Alicia Lein Strongfort bahkan tak menunjukkan reaksi apapun saat berhadapan dengan tekanan Aura mereka berdua. Mereka mulai yakin bahwa gadis muda ini memang sangatlah berbeda dari remaja lainnya.


Hendrick menarik nafas panjang dan melepaskannya begitu juga dengan Aura membunuhnya. Disusul pula oleh Reiner.


"Untuk saat ini, aku mempercayai mu."


"Terima kasih Yang Mulia."


"Jadi, bagaimana kau akan menyembuhkan ku?"


"Mudah saja. Anda hanya perlu membuka pakaian Anda."


Jawaban gamblang itu membuat keduanya kaget. Reiner hampir saja tak bisa menahan rahangnya untuk terjatuh.


Alice tertawa kecil, ia baru sadar akan ucapannya tadi. "Maafkan atau perkataan saya tapi sepertinya Anda salah paham. Maksud saya, anda hanya perlu berbalik dan membuka baju saja."


Entah harus berapa kali jantung mereka di permainkan seperti ini.


Tak lama setelah itu, Hendrick telah duduk di atas ranjangnya dengan telanjang dada.


"Kau boleh berbalik." Ucap Hendrick.


Alice berjalan mendekati Sang Raja yang saat ini menunjukkan punggungnya padanya.


"Yang Mulia tak perlu tegang. Saya ingin Anda tetap rileks dan bernafas seperti biasa. Meski kedepannya akan sedikit sakit tapi disitulah saya sedang mengobati Anda. Saya mohon maaf tapi saya harap Anda bisa menahannya."


Alice berdiri menatap punggung Hendrick. Penuh luka dan tampak sedikit kekar, tak salah lagi kalau dia memang seorang veteran perang, pikirnya.


Alice lalu mengumpulkan energi Qi di tangannya. Perlahan ia memusatkan Qi itu kedua telunjuknya hingga mereka membentuk sebuah jarum. Halus dan setipis mungkin. Alice membuatnya seperti sebuah jarum akupuntur.


Reiner takjub melihat perubahan tekanan udara di sekitar Alice.


"Yang Mulia saya mulai."


Satu demi satu Alice mulai menusukkan jarum di beberapa bagian punggung Hendrick. Rasa sakit yang perlahan kian menyelimuti tiap sendinya. Setelahnya, Alice kembali mengalirkan Qi-nya di jarum-jarum yang telah ia tusukkan tadi. Energi murni mulai mengalir seolah membersihkan tubuh Hendrick. Rasa sakit dari kakinya menjalar naik hingga ke punggungnya begitu pula dari lengannya.


Reiner tampak gelisah melihat Hendrick bercucuran keringat. Apa yang sedang terjadi? Gadis ini bahkan tak menyentuhnya, bagaimana bisa Yang Mulia terlihat begitu kesakitan? Benaknya resah.


Setelah mengumpulkan racun dalam tubuh Hendrick pada satu titik. Alice segera menguncinya dan mengarahkannya ke punggung atas. Dengan satu tepukan telapak tangan Alice yang penuh Qi pada tengah punggungnya. Hendrick memuntahkan darah yang berwarna merah gelap.


"Yang Mulia saya sudah selesai."


Keduanya tampak kelelahan. Dimata Reiner Alice hanya berdiri dan menepuk Hendrick saja meski begitu tak bisa ia pungkiri kalau ia merasakan sebuah energi asing yang sempat menyelimuti seluruh ruangan.


"Ini pertama kalinya aku mengobati seseorang setelah begitu lama terlebih lagi pasien pertama ku adalah seorang Raja tapi syukurlah semuanya berjalan lancar." Benaknya lega.


Reiner yang panik saat melihat Hendrick muntah darah lalu memberikan selembar kain padanya untuk mengelap mulutnya dan memapahnya untuk berganti pakaian.


Dari balik partisi kayu. Hendrick merasa kalau tubuhnya jauh lebih baik dan ia merasa segar dari sebelumnya. Bahkan tidak butuh satu jam tapi efek dari pengobatan Alice begitu luar biasa.


Setelah berganti pakaian. Hendrick dengan perasaan bahagia dan senyum diwajahnya berjalan menghampiri Alice. "Aku tidak tahu apa yang telah Nona Alicia lakukan tapi aku sangat berterima kasih. Setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya aku merasa segar bugar kembali."


"Anda tak perlu sungkan. Lagi pula saya hanya memberikan sedikit pengobatan saja."


Hendrick tertawa sebentar lalu berkata "Nona Alicia terlalu merendah. Jadi, bagaimana dengan permintaan mu?"


Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat percakapan mereka terhenti.


"Yang Mulia. Sudah waktunya untuk minum obat anda." Suara Wanita yang lembut nan merdu terdengar dari balik pintu.


Alice terbelalak. Perasaan tidak enak di hatinya, Mana yang mencekam dan tidak mengenakkan itu jelas terasa dekat, sangat dekat hingga ia sendiri tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok wanita yang berdiri di balik pintu itu.


Wanita berambut merah itu berdiri sedang menunggu untuk dirinya dipersilakan masuk.