
"Lumayan, sudah lama aku tidak merasakan jiwa seorang Dewa, meskipun hanya serpihan kecilnya saja." Ucapnya sambil mengusap ujung bibirnya dengan jempolnya.
Dia melihat tubuh Daeron yang tergeletak tak sadarkan diri. Fee menarik [Domain of Wolf Sovereign] miliknya. "Tubuhnya sudah cukup lama dirasuki oleh Erebos, bahkan aku melihat dia hampir kehilangan jiwa asli dari raganya sendiri." Gumamnya lalu ia menggelengkan kepalanya perlahan. "Sayang sekali aku hanya bisa memakan jiwa tidak dengan memulihkannya." Kemudian Fee berbalik menoleh ke arah pohon Yggdrasil. "Tapi kurasa... gadis itu bisa melakukan sesuatu." Benaknya.
Fee pun memutuskan untuk membawa Daeron masuk ke dalam bayangannya.
Setelah cukup lama bersama dengan Alice, Fee bahkan masih belum mengetahui pasti cara kerja kekuatan miliknya. Teknik yang Alice gunakan hampir sama seperti energi mentah yang tubuhnya sendiri miliki, namun dengan kekuatan yang jauh melebihi batas manusia normal. "Aku bahkan ragu untuk menentukan pemenangnya kalau kelak ia bertarung dengan raja ras hewan buas."
Menurutnya, Alice mengeluarkan sebuah energi yang tidak seperti Mana tapi sangatlah kuat. Fee Kerap kali pernah menjumpai Alice memulihkan orang-orang dalam perjalanannya hanya dengan menggunakan energi yang ia miliki.
Berdasarkan dari penjelasan Alice sendiri. Energi yang ia gunakan disebut Qi. Hampir sama seperti Mana, Qi mengalir dalam tubuhnya secara alami bahkan tanpa perlu Mana Heart. Qi mengalir dari satu titik ke seluruh tubuh dan terus bersirkulasi layaknya seperti aliran darah. Selain itu dia juga menjelaskan tentang titik meridian, Dao tahapan level dan berbagai hal lainnya. Alice cukup terbuka untuk menjelaskannya meskipun pada akhirnya dia tidak begitu mengerti.
"Penjelasan yang cukup merepotkan. Namun aku bisa mengerti betapa luar biasanya dia dari apa yang ia katakan."
Fee pun melangkah mendekati pohon Yggdrasil, untuk sesaat tubuhnya diselubungi bayangan hitam dan saat itu pula ia kembali menjadi seekor serigala. Fee melirik sekelilingnya. Ia bisa merasakan para peri dan spirit yang ada di sekitar pohon itu. "Untuk jaga-jaga aku akan memasang sebuah pelindung." Ucapnya. Kemudian ia menyebarkan Mana nya yang melindungi pohon Yggdrasil dan beberapa meter di sekitarnya.
Fee tersenyum lega dan puas, kemudian ia pun merebahkan tubuhnya dan perlahan menutup matanya.
"Menggunakan Clairvoyance pada seorang Dewa itu cukup melelahkan. Sekarang, waktunya bersantai..."
Sosoknya yang tertidur di bawah pohon itu benar-benar mirip layaknya seekor binatang penjaga.
~
Di waktu yang sama. Asiya dan prajuritnya sudah mulai terpojok. Bantuan yang Gephard bawah ternyata tidak sesuai dengan dugaannya. Tidak tahu apa yang terjadi, para prajurit hasil mutasi yang tadinya bertarung di garis depan dengan sengit tiba-tiba melemah.
Daya tempur mereka menurun begitu saja dan tempo mereka sedikit melambat bahkan mereka tampak tidak merespon beberapa perintah yang Gephard katakan.
Gephard berdecih, dia yakin sesuatu terjadi dengan Sang Raja. Pasalnya, sebagai seorang yang memberikan kristal hitam padanya dan turut andil dalam perencanaan pemberontakan itu, Gephard menduga kalau kristal hitam itu bukanlah kristal hitam biasa seperti yang tersebar di kerajaan elf saat ini.
Perbedaan jumlah, kekuatan dan persenjataan membuat mereka kesulitan melawan balik. Asiya mulai kehilangan harapannya. Pasukan gerilya yang mereka rancang untuk melakukan penyergapan juga berhasil dihentikan.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa semuanya bisa jadi berantakan seperti ini? Kakak?!" Gumam benaknya sambil ia melihat jauh ke langit.
Suara pedang yang bertaut dengan dentuman keras terus saja menghiasai fajar dan segera pertempuran saudara itu akan berakhir.
Asiya menancapkan pedangnya ke tanah. Niatnya mulai goyah membuat pedangnya serasa makin berat. "Apakah hanya sampai disini? Apakah aku memang tidak bisa membuktikan diriku? Pada akhirnya aku memang hanyalah sebuah pengganggu..." Ucapnya dengan suara pelan.
Keterampilan Helian dalam mengorganisir pasukannya sangatlah hebat bahkan tanpa Daeron. Wajar saja, selama ini dalam mengusir para ras deemon yang berada di seberang wilayah mereka, Helian selalu hadir di sisi Daeron. Tentu saja dia banyak belajar dari mengamati suaminya itu.
"Tuan Putri! Tuan Putri!" Gema suara seorang prajurit memanggilnya dari kejauhan. Asiya pun menoleh.
Prajurit itu berlari dengan sekuat tenaga menyerahkan sebuah botol ramuan padanya. "Ini dari Tuan Gephard. Sebuah potion yang mungkin bisa membalikkan keadaan kita."
Warna ungu pekat itu terlihat lebih seperti sebuah racun di matanya. Asiya dengan ragu mengulurkan tangannya, namun tatkala sebuah panah menancap di punggung prajurit itu, Asiya refleks menggenggam botol ramuan itu. Dia segera berlari dan bersembunyi di balik dinding bangunan terdekat.
Asiya mengintip melihat pertempuran yang sedang berlangsung. Banyak korban dari pasukannya yang berjatuhan.
Iba. Asiya pun menutup matanya dan memantapkan hatinya untuk meneguk ramuan itu.
~
Di sisi lain Alice telah berada di depan dinding ruangan yang berada di bagian puncak dalam Yggdrasil. Kekuatan besar bisa ia rasakan dari dalam, begitu juga hawa kehadiran Nyx.
Karena energi internalnya sudah bisa digunakan, Alice menghancurkan dinding itu dengan telapak tangannya.
Ketika ia masuk ke dalam, dia terkejut saat matanya melirik ke seluruh ruangan dan melihat seorang wanita elf berdiri dengan sebagian tubuhnya tampak tertanam ke dalam Yggdrasil.
Rambut perak yang langka, baru kali ini ia melihat elf berambut perak sepertinya. Pikir Alice.
Semakin mendekat semakin ia merasakan kalau kekuatan besar itu berasal dari wanita elf di hadapannya.
"Kekuatannya terus mengalir keluar... ada sesuatu yang menyerap energinya."
Alice berbalik, ia kaget saat melihat sesuatu yang menyerupai telur dari plastida yang bergerak-gerak di langit-langit.
"Semua energi yang berasal dari wanita ini mengalir ke sana" Ucapnya. "Tidak. Bahkan dia menyerap energi murni milik Yggdrasil juga."
Alice mengeluarkan pedangnya dari cincin dimensinya, ia mengumpulkan Qi dan menebas telur plastida itu dari jauh namun sosok orang tiba-tiba muncul bawah. Sosok itu melompat naik dan melindungi telur plastida itu.
"Monster ini..." Ya benar, Alice terkejut karena monster itu adalah cerminan dirinya. Meski tidak sempurna dengan warna kulit dan rambut yang sedikit berbeda, tapi monster itu benar-benar tiruan dirinya.
Sebuah kumpulan emosi negatif dan energi tercemar yang berkumpul menjadi satu. Itulah fakta yang tersembunyi dari penciptaan tiruan itu.
Erebos yang bersembunyi di suatu tempat dalam pohon itu menyaksikan mainan barunya melawan seorang gadis dari ras hyuman.
"Hahaha.... Sekarang, tunjukkan padaku seperti apa kekuatan gadis yang pantas menjadi kandidat untuk Dewa ini."
Kandidat? Kandidat apa?
Nyx yang terbelenggu menatapnya tajam dengan penuh tanya. Dia kesal karena tidak bisa melepaskan dirinya dan segera memberitahu Alice tentang keberadaan Erebos.
"Oh, tenanglah, aku tidak akan membunuhnya seperti itu. Lagipula gadis manusia itu..." Seringai menjijikkan penuh nafsu tergambar di wajah Erebos.
Nyx muak dan amarahnya meletup melihat ekspresi itu untuk kesekian kalinya.
Andai dia bisa, dia ingin mencungkil kedua bola mata itu dan menghancurkannya dalam genggamannya.