Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 190



Dengan tergesa-gesa Sarpathi membuka pintu dan membawa Alice masuk ke dalam. Ia kemudian lekas menutupnya. Gelagatnya yang terlihat panik tampak seperti ia sedang dikejar oleh sesuatu.


Sarpathi berbalik menatap Alice dengan serius.


"Ada apa dengannya?" Tanya Alice dalam batinnya.


Setelah ia mengeluarkan material dan mayat monster itu dari cincin penyimpanan dimensinya, Sarpathi tiba-tiba saja bertingkah aneh. Dia terlihat ketakutan seperti baru saja melihat monster yang ganas.


"Tadi itu...apakah itu penyimpanan dimensi? Atau itu memang kemampuan mu?" Tanya Sarpathi dengan nada tergesa-gesa.


Alice terdiam sejenak. Tentu saja dia tidak merasa ingin memberitahu Sarpathi tentang hal itu. Bagaimanapun juga, Alice tahu kalau hukum dimensi adalah sesuatu yang langka untuk dipelajari. Kemampuan dalam mengendalikan ruang dan waktu bisa dibilang setara dengan kemampuan para Dewa. Selama perjalanannya, Alice belum pernah sekalipun melihat seseorang menggunakan tas atau kantong dimensi atau artefak lainnya yang memiliki kemampuan yang sama seperti cincin penyimpanan dimensi miliknya. Walau sebenarnya benda-benda itu pernah tercatat dalam sejarah ilmu sihir, tapi saat ini mereka merupakan barang kuno yang langka dan tidak mudah untuk ditemukan.


Sarpathi menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya pelan-pelan. "Sudahlah, aku tahu kau tidak akan mengatakannya. Ya, lebih baik kau tidak perlu mengatakannya."


Sarpathi kembali melihat Alice yang sedang menunduk, sejak tadi ia melihat wanita itu diam dan menundukkan pandangannya. Sarpathi pun mengikuti arah pandangannya dan dia mendapati kalau tangannya masih menggenggam erat lengan Alice.


Sarpathi tersentak kaget. "...!? Ma-maaf." Ia buru-buru melepaskan tangan Alice.


Ia tersadar kalau dirinya baru saja menyeret wanita itu dari gedung sebelah ke dalam ruangan ini secara paksa. Kendati peringkatnya yang rendah karena dia baru saja mendaftar sebagai petualang, namun kemampuannya begitu kuat sampai ia bisa mengalahkan Palu yang merupakan petualang profesional di peringkat B.


Sarpathi jadi sedikit gugup karena ia takut kalau dia secara tidak sengaja sudah menyinggung Alice. Tapi Alice tidak menunjukkan rasa kesal di wajahnya. Justru ia tetap bersikap santai dan berkata. "Tidak apa-apa." Ucapnya dengan nada yang lembut. "Lebih penting lagi, apa yang kau maksud dengan perkataan mu tadi?"


"...Aku hanya berharap agar kau tidak mengungkapkan apapun tentang kemampuan dimensi itu."


"Kenapa?"


Tatapan Sarpathi terlihat makin serius. Ia menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa canggung barusan. Sambil mengingat-ingat dengan kejadian yang akhir-akhir ini marak di kota dan sekitarnya, Sarpathi pun menjelaskan maksud dari ucapannya barusan. "Akhir-akhir ini...pihak kuil mencari orang-orang dengan kemampuan langka seperti mu. Tidak peduli mereka tua atau muda. Saat mereka mendapatkan informasi tentang pengguna kemampuan langka itu, maka mereka akan mengirim orang untuk menjemputnya...."


Ekspresinya tiba-tiba saja berubah menjadi sedih. Sarpathi seperti ingin mengatakan sesuatu namun hal itu kandas di ujung lidahnya. Sarpathi memandangi Alice untuk beberapa saat tanpa ada suara. Ia lalu menunduk, memejamkan matanya untuk sesaat sambil menggigit bibirnya kemudian ia kembali mengangkat kepalanya.


"Adikku...Parvathi. Dia adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Saat ia baru saja menginjak usia remaja, tiba-tiba ia membangkitkan kemampuannya. Dia juga memiliki kemampuan untuk menggunakan hukum dimensi. Awalnya aku mengira kalau itu adalah sebuah berkah dari Dewa. Parvathi pun dengan antusias mendaftarkan dirinya ke serikat petualang, meskipun sebenarnya ia masih sangat muda. Dan kebetulan saat itu akulah yang menjadi pemandunya agar ia tidak salah dalam memilih Quest. Aku sungguh menyesal karena tidak bisa menahannya."


Membangkitkan kemampuan? Apakah dia orang terpilih? Kalau begitu...apa yang terjadi dengannya?


Alice pernah mendengar tentang orang-orang pilihan yang tiba-tiba memiliki kemampuan yang luar biasa. Salah satu contohnya adalah sahabatnya Lilia. Dia menjadi seorang Saintess yang hebat karena berkah dari Dewi Gaia. Kemampuannya telah bangkit saat ia menginjak usia 10 tahun. Contoh lainnya juga adalah Elysia, putrinya. Ia mendapatkan kemampuannya dalam menggunakan hukum dimensi karena pemberian dari Erebos yang ingin menjadikannya sebagai seorang utusan.


Sarpathi kembali melanjutkan ceritanya. "Petualangan adikku berjalan dengan baik dan lancar. Dia sangat menikmatinya. Dia selalu pulang dengan gembira saat menyelesaikan satu atau dua Quest yang ada di papan. Aku juga ikut senang saat ia melompat dan memelukku." Sarpathi tertawa kecil. Namun begitu jelas raut wajah itu terpampang, suara tawanya tidak bisa mencairkan perasaan sedih yang terukir di wajahnya.


"Walaupun peringkatnya masih rendah, tapi karena kemampuannya yang unik, sebuah kelompok pun meliriknya dan mengajaknya bergabung. Kelompok mereka tidak buruk kok, mereka terkenal ramah dan setia kawan, mereka memiliki reputasi yang baik di kota. Mereka pun memulai petualangan mereka bersama dan berhasil menyelesaikan banyak Quest. Adikku melompat kegirangan ketika ia selesai menaikkan peringkatnya ke peringkat D."


Tatapan melankolis yang memendam perasaan rindu itu... Alice melihat senyum pahit milik Sarpathi yang seolah berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir keluar.


Alice berusaha menghentikan Sarpathi agar ia tidak melanjutkan ceritanya. Sungguh, kehilangan satu-satunya orang yang berarti bagimu itu membuatnya iba. Tapi Sarpathi mengangkat tangannya, ia berkata kalau dirinya baik-baik saja.


Mungkin dia butuh seseorang untuk mendengarkannya. Pikir Alice.


"Mereka terus berpetualang hingga akhirnya nasib buruk jatuh menimpa kelompok mereka." Kedua pundak Sarpathi gemetar. Kepalanya menggantung menatap kedua kakinya. Sarpathi lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Aku...aku tidak tahu dimananya yang salah. Akulah yang menyarankan Quest itu pada mereka. Quest peringkat E itu...aku tidak menyangka kalau mereka semua... Ini Semua salah ku. Hiks..."


******* nafasnya terdengar semakin berat. Keseriusan di wajahnya berubah total menjadi kesedihan saat ia membuka tangannya.


Alice meraih pundaknya lalu menepuk punggungnya dengan pelan. Ia pun mengarahkannya ke salah satu kursi yang ada di dalam ruangan itu.


"Apakah kau baik-baik saja? Sebaiknya kau tidak perlu melanjutkannya."


Sarpathi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Saat aku melihat kemampuan dimensimu tadi, seketika aku teringat adikku. Usia kalian mungkin sama. Aku merasa ingin memberitahumu karena aku tidak ingin sesuatu yang sama terjadi padamu juga."


Sarpathi menarik nafasnya beberapa kali sampai ia benar-benar tenang. Berat, Sarpathi mencengkram sisi bajunya dan kemudian ia kembali bercerita. "Dia dan kelompoknya mengalami kecelakaan. Saat itu, kelompok petualang lain menemukannya penuh luka terbaring di dalam dungeon sementara ketiga temannya telah tewas. Ketika adikku sadar dan keadaannya mulai mendingan, aku mulai menanyainya tentang apa yang terjadi saat itu. Namun dia tidak bisa menjawab ku. Lebih seperti...dia mendapatkan teror yang mengerikan yang membuatnya takut setengah mati. Setiap kali aku mengajukan pertanyaan tentang apa yang terjadi dalam dungeon itu, dia akan berteriak dan meringkuk ketakutan. Kejadian hari itu menjadi trauma mendalam baginya. Maka dari itu, aku pun memutuskan untuk tidak mengungkitnya lagi. Seiring waktu berlalu, kondisi Parvathi sudah mulai pulih dan ia sudah bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal. Tapi tanpa ada angin atau hujan, kedatangan pihak kuil bagaikan guntur yang mengejutkan ku."


"Apakah mereka...membawa Parvathi?"


Sarpathi mengangguk.


"Apa mereka membawanya dengan paksa?" Tanya Alice.


Mengingat kalau Parvathi sangat menyayangi kakaknya dan dia merupakan keluarganya satu-satunya. Parvathi pasti tidak akan mengiyakan ajakan mereka.


Tapi sayangnya kejadiannya tidak seperti itu. Alice terbelalak saat Sarpathi menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu apa yang membuat Parvathi menyetujui mereka. Dia memutuskan untuk ikut bersama mereka. Senyuman di wajahnya menunjukkan kalau dia senang dan ingin ikut bersama mereka. Aku...tidak terima. Aku menolaknya tapi Parvathi begitu keras kepala. Ia terus memohon untuk membiarkannya pergi. Karena kesungguhannya itulah aku pun mau tidak mau harus melepaskannya tapi dengan syarat aku ingin diberikan izin untuk mengunjunginya seminggu sekali di kuil."


"Itu bagus? Dengan begitu setidaknya kalian masih bisa bertemu. Jadi, apakah mereka menyetujui permintaan mu?."


"Mereka tidak menyetujuinya. Mereka hanya bisa mengizinkan ku untuk menjenguk Parvathi sebulan sekali. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Mata memelas adikku membuat ku tidak sanggup menolaknya sampai aku sadar... kalau aku telah melakukan kesalahan yang sama dua kali. Bodoh bukan?" Lagi-lagi Parvathi tertawa pahit.


Sarpathi menutup matanya dengan salah satu tangannya yang bertumpu di atas meja. "Aku tidak bisa melupakan ekspresi adikku saat itu. Rasa rindu yang menumpuk ini pupus dan lenyap menjadi luka saat aku bertemu dengannya di kuil."


Alice mulai menemukan keanehan dari cerita Sarpathi. Sedikit banyaknya, Alice seperti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya. Kepalanya memiliki beberapa jawaban tapi ia tidak ingin terlalu cepat mengambil keputusan.


Setidaknya, Alice berharap kalau Parvathi masih hidup. Ya. Jika memang demikian, mungkin saja dia bisa melakukan sesuatu.


"Ketika pertama kali aku datang ke kuil untuk menjenguknya. Aku tidak tahu kemana aku harus mencarinya. Aku kesana kemari bertanya pada para pendeta kuil. Hingga saat mereka semua tidak bisa memberi ku jawaban yang ku mau. Aku pun memutuskan untuk menunggu di sekitar kuil. Benar saja. Saat aku hampir menunggu seharian, aku sangat senang ketika melihat adikku muncul. Betapa bahagianya hatiku ketika melihat dirinya. Dia tidak terlihat kurus malah tubuhnya tampak lebih baik. Wajahnya cerah, suaranya terdengar lembut dan merdu juga gerak anggun langkahnya itu...dia membuat ku terharu. 'adikku sudah dewasa dan menjadi seorang pendeta kuil', pikirku saat itu. Aku pun datang menghampirinya, tapi betapa terkejutnya diriku saat aku menyapanya dan ia menatapku seolah kami adalah orang asing. Aku kehilangan kata-kata. Aku tidak bisa menyangka kalau akan seperti itu jadinya. Aku yang terpaku hanya bisa menatap punggung kecil adikku yang berjalan menjauh."


Kejadian yang tidak asing bagi Alice. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa ia pikirkan saat mendengar kalimat terakhir dari Sarpathi. Entah pihak kuil telah mencuci otak Parvathi atau mereka mengendalikannya dengan sebuah sihir. Tapi, apakah itu mungkin?


Apakah kejadian itu ada hubungannya dengan Erebos. Bagaimana bisa? Tidak mungkin Dewa Jahat sepertinya bisa memiliki pengaruh sampai sejauh itu hingga ke dalam kuil pemuja Dewi Ishtar.


Suasana di ruangan itu menjadi tenang. Tampaknya Sarpathi sudah tidak bisa melanjutkan ceritanya. Dirinya benar-benar terpukul.


Berselang beberapa saat kemudian. Suara ketukan pintu dan panggilan dari seorang wanita memecahkan keheningan mereka.


"Ibu... apakah ibu di dalam? Apa yang terjadi? Apakah Sarpathi baik-baik saja? Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Elysia cemas.