
Meski berdiri di bawah mata badai Leon, Andrew dan Amy tetap tak gentar. Mereka tetap bertahan dalam posisi siaga demi melindungi Alice dari bahaya yang akan datang.
Andrew mendecihkan lidahnya. "Mereka sudah datang." Matanya melihat tajam ke arah rerumputan yang bergerak-gerak tak karuan.
Leon mencengkeram pedangnya semakin kuat begitu pula dengan Amy sudah siap dengan tinjunya. Para monster kecil mulai berdatangan satu demi satu hingga akhirnya mereka berkerumun.
Goblin, monster kecil dengan tubuh kerdil yang berwarna hijau, Hobgoblin, evolusi dari goblin dengan tubuh layaknya orang dewasa namun lebih kuat dan tegap. Ada pula celeng liar yang berukuran dua kali lipat dari biasanya dan lainnya. Kerumunan monster itu berjalan mendekati mereka, namun ketika mereka berada di depan pelindung yang Andrew buat, mereka berhenti. Apakah mereka yakin kalau mereka tidak dapat menghancurkan pelindung itu?
"Kenapa mereka berhenti?" Tanya Leon heran.
"Aku ragu pelindung ku bisa menahan mereka jika mereka mencoba untuk menghancurkannya." Balas Andrew yang juga heran.
Awalnya hanya puluhan tapi seiring waktu berlalu, jumlah monster-monster itu menjadi ratusan. Tapi anehnya tak satupun yang berani melangkah dari posisi mereka dan melakukan penyerangan.
Tatapan haus darah, rasa ingin membunuh dan membantai terlihat jelas dari ekspresi mereka. Andrew dan Leon sudah siap untuk menghadapi mereka kalau-kalau mereka menghancurkan pelindung itu.
Tidak seperti Amy yang tiba-tiba diam dengan wajah sedikit pucat. Ia mendongak dengan mulut terbuka saat matanya melihat langit di atas kepalanya.
"K-k-kawan-kawan... Kurasa aku tahu apa yang membuat mereka tidak berani mendekat." Ucap gagap Amy.
Andrew dan Leon menoleh dan melihat Amy yang berdiri ketakutan menghadap langit.
"Amy? Apa yang....." Andrew yang ikut mengangkat pandangannya terdiam saat ia melihat langit hitam pekat dengan guntur yang menyambar tiada henti-hentinya.
"Langitnya...." Leon turut kehabisan kata menyaksikan pemandangan yang sama.
Kondensasi Mana di tempat itulah yang menarik para monster. Namun kaki mereka terhenti karena insting mereka tahu kalau sesuatu yang berbahaya akan terjadi di depan mereka. Meski tak begitu cerdas tapi setidaknya mereka tahu akan bahaya yang akan datang.
Setelah cukup lama, Alice sudah selesai menyerap begitu banyak energi dan menstabilkannya dalam tubuhnya. Ia membuka matanya "Sekarang tinggal tahap terakhir."
Tahap dimana ia akan menerima petir dengan energi yang dahsyat yang akan membantunya untuk menerobos.
Dari tingkat energi yang ia rasakan. Alice menelan ludahnya karena ia tahu kalau petir yang akan menyambarnya bukanlah petir yang pernah ia temui.
"Prinsip dunia ini berbeda. Petir ini mungkin lebih kuat karena Energi Mana yang terkandung di dalamnya. Meski tubuhku tak bisa memproses Mana itu menjadi sihir tapi aku bisa mengubahnya layaknya energi alam yang ku biasa padatkan menjadi Qi."
Di dunia sebelumnya, petir dalam penerobos merupakan hukuman atau cobaan langit karena berusaha menentang kodratnya sebagai manusia fana dan ingin hidup abadi laksana dewa. Tapi Alice sadar dengan pengetahuannya saat ia masihlah seorang masyarakat modern.
Petir itu merupakan fenomena alam biasa karena perpaduan dan perubahan tekanan suhu udara. Tapi ia tak bisa menyangkal kalau petir itu memang bahan baku yang bagus untuk melakukan penerobosan berdasarkan besarnya energi yang dimilikinya.
"Nona Alicia?!" Panggil Leon saat melihat Alice berdiri di tempatnya.
"Kalian menjauhlah. Selanjutnya bukanlah sesuatu yang bisa kalian hadapi, terima kasih karena telah melindungiku"
Ketiganya tertegun sesaat dan menelan ludah mereka. Mengikuti arahan Alice, mereka menjauh dari altar itu. Mereka lalu berbalik dan melihat gemuruh langit yang berkedap kedip.
JGERRR!!! Petir mulai menyambar di sekitar Alice. Satu persatu tanah mulai terbakar dan pilar-pilar batu altar hancur terkikis akibat sambaran petir.
Tak lama langit tiba-tiba menjadi bisu. Ketiga orang yang menemani Alice bertanya-tanya dalam benak mereka. Apa yang terjadi? Berhenti? Apakah sudah selesai?
Sayangnya harapan mereka pupus ketika kilat kuning di langit saling menyambar dan menyatu membentuk petir dengan ukuran yang lebih besar dan lebih kuat yang kemudian menerjang Alice dengan cepat. Sekali, dua kali, kilat kuning itu menyambar tubuh Alice.
Namun, Alice tak bergeming sama sekali dari tempatnya. Leon menghela nafas lega tapi jantungnya tetap tak kuat jika seandainya Alice terluka di depan matanya.
Untuk kedua kalinya, langit kembali bisu. Alice menatap awan hitam di atas kepalanya dengan senyum sinis. Seakan langit tahu kalau ia sedang dipandang rendah, langit yang tadinya tenang kembali bergemuruh. Kali ini seperti sebuah kepala naga raksasa yang menelan mangsanya, petir itu jatuh menelan tubuh Alice dengan dahsyatnya. Ledakannya memberikan tekanan udara hingga Leon, Andrew dan Amy hampir terhempas.
Debu dan angin kencang memaksa kaki mereka untuk terbenam ke dalam tanah. Ketika Leon kembali melihat Alice dengan seksama, ia takjub karena gadis kecil itu tetap berdiri di sana.
Tetapi karena sambaran dahsyat petir itu, Alice berteriak dengan lantang. "Berbalik! Jangan menatap kemari!" Ketiganya pun segera berbalik tanpa bertanya.
Hampir saja ia kehilangan muka karena pakaiannya yang compang-camping. Ia bersyukur uap asap tipis itu melindungi pandangan mereka.
Wajahnya sedikit memerah dan ia menggigit bibir bawahnya. "Untung saja aku membawa pakaian ganti." Gumamnya sambil mengenakan baju dan celana panjang yang ia ambil dari cincin penyimpanannya.
Meski aku sudah hidup ratusan tahun, t-tapi tetap saja memalukan jika harus telanjang di depan orang-orang. Benaknya meredam hatinya yang kacau.
"Ba-baiklah, kalian sudah boleh menghadapi kemari." Ucap Alice masih canggung.
Leon, Andrew dan Amy berjalan mendekati mereka.
"Waaah..." Takjub Amy melihat altar itu berubah menjadi puing-puing.
"Nona apa Anda baik-baik saja?" Tanya Leon.
"Y-ya.."
Spontan ketika Amy yang melihat wajah Alice, ia bertanya "Tapi Alice, kok mukamu merah? Apa kau yakin baik-baik saja?"
Alice memalingkan pandangannya. "Ini...ini adalah bagian dari hasil penerobosan ku. Ya. Ini merupakan hal yang biasa terjadi." Balas sedikit monoton.
Amy menggaruk kepalanya karena bingung. "Tapi Master tidak pernah mengalami hal seperti itu." Pikirnya.
"Sudah sudah. Lihat mereka, sepertinya kita belum bisa bersantai." Ucap Alice segera menepis Amy yang terlihat masih ingin bertanya.
Setelah melakukan penerobosannya, awan hitam di langit perlahan memudar dan lenyap begitu saja. Hujan deras dan Angin kencang juga mulai mereda. Tapi apa yang menunggu mereka selanjutnya adalah kerumunan monster yang sedari tadi sudah siap untuk memangsa mereka.
"Lihat air liur yang menetes itu. Sepertinya kita telah membuat mereka terlalu lama menunggu." Kata Amy bercanda.
"Aku ingin meminta tolong sekali lagi pada kalian. Bisakah kalian menahan mereka untuk sementara. Aku butuh waktu untuk menstabilkan kembali kekuatan ku." Pinta Alice sopan.
"Baiklah nona Alicia." Ucap Andrew sambil mengangguk
"Tentu. Hmph! Akan ku sisakan bagian mu nanti." Tambah Amy yang terlihat begitu bersemangat.
"Tentu Nona. Anda tak perlu khawatir." Kata Leon.
Alicia sekali lagi tersenyum mendengar jawaban mereka. Mereka sudah banyak melindunginya hari ini.
"Kami harus segera pergi dari sini. Bukan hanya para monster, aku yakin para ahli juga tertarik untuk kemari." Batin Alice.