
Alice mengangkat pedangnya yang telah di lapisi Qi. Ia lalu menebas jeruji besi yang mengurung Lilia. Sebelum besi itu berjatuhan, ia menangkapnya dan meletakkannya di tanah. Lilia yang menunduk, heran karena sebuah bayangan hitam mendekatinya dan menghalangi cahaya lampu.
Ia mengangkat kepalanya, melihat sosok paladin itu membungkuk dan berada tepat di depan wajahnya. Lilia tersentak mundur seketika karena kaget, tapi kakinya terhalang oleh rantai yang mengikat tangannya. "Kyaa!" Sebelum ia terjatuh ke tanah, paladin itu segera menangkapnya.
Paladin itu menatapnya lalu berkata. "Lilia, ini aku."
Suara ini? Lilia terbelalak mendengar suara akrab itu di telinganya. Paladin yang menangkap dan memeluknya ternyata adalah sahabatnya.
"Alice?!"
Alice mengangkat pelindung wajahnya dan tersenyum manis. "Iya, ini aku. Alice."
Lilia merasa bahagia, ia meletakkan kedua tangannya di depan bibirnya karena sangking senangnya dan tidak percaya kalau ia bisa melihat Alice.
Tidak! Bukan begitu!
Lilia menggelengkan kepalanya dan menepis perasaan bahagia itu. Kenapa Alice bisa ada di sini? Bagaimana dia melakukannya? Bukankah tempat ini sangat berbahaya?
"Alice! Ka-kamu kenapa ada disini?"
"Hmm..." Alice meletakkan telunjuknya di depan bibirnya. Ia melepaskan Lilia dari tangannya dan kembali mengangkat pedangnya. Alice mengambil ancang-ancang, dengan tebasan yang cepat, rantai yang mengikat tangan Lilia terjatuh di tanah.
"Lilia, Ayo. Kita keluar dari sini." Ajak lembut Alice mengulurkan tangannya.
"Sejak kapan gadis manja ini jadi begitu keren?" Benak Lilia seketika kagum. Alice tampak begitu menyilaukan di matanya.
Lilia meraih tangan Alice, keduanya lalu segera meninggalkan ruangan bawah tanah itu. Sesuai rencananya, Alice memberikan jubah yang sebelumnya ia pakai pada Lilia. Mereka berjalan melewati para penjaga dengan begitu mudah. Meski beberapa pasang mata mungkin sempat melihat Lilia yang mengenakan jubah priest dengan tatapan penuh tanya, tapi mereka jadi yakin karena sosok paladin yang berada di depannya. Kehadirannya lebih seperti paladin itu sedang menuntunnya.
Keduanya bersyukur karena mereka bisa keluar dengan begitu mudah. Malam masih cukup panjang, Alice berniat untuk segera membawa Lilia pergi dan kembali untuk membayar Cliff atas tindakannya yang sebelumnya. Tapi, Lilia menolaknya. "Aku ingin menemui Kepala Kuil. Aku merasa ada sesuatu yang buruk terjadi padanya."
Alice sedikit ternganga karena itu. Kepala kuil? Bukannya dia yang merancang semua ini? Alice melihat wajah Lilia baik-baik. "Dia benar-benar ingin kembali ya." Alice menghela nafas panjang. "Baiklah." Jawabnya. Hatinya tidak pernah meragukan Lilia, selain karena mereka bersahabat, Lilia juga merupakan orang paling tahu tentang dirinya.
Mereka berdua kembali menyelinap. Pencarian mereka di permudah dengan penyamaran yang masih mereka kenakan.
Lilia yang berjalan di depan terus menuntun Alice menuju ruangan terdalam Kuil. Ruangan paling belakang di lantai satu dimana Kepala Kuil biasanya berdoa atau bersemedi.
"Di depan sana." Ucapnya menunjuk satu-satunya pintu yang ada di depannya. Ia mempercepat larinya dan diikuti Alice.
Sayangnya ketika Lilia ingin memasuki ruangan itu, pintunya malah terkunci dan lebih parahnya, pintu itu telah dipasangi lingkaran sihir penyegel yang mana bisa menetralisir segala jenis sihir dan memantulkan serangan fisik.
Lilia kehabisan ide. Lingkaran sihir itu melingkupi seluruh ruangan itu, bahkan temboknya pun telah di blokir.
Alice menggelengkan kepalanya melihat sikap Lilia yang begitu cemas. Wajahnya tampak kusut. "Dia bahkan masih sempat mengkhawatirkan orang lain di kondisinya yang berantakan seperti ini." Batinnya.
Alice menarik mundur Lilia, "Biar aku coba."
"Tapi Alice, sihir tidak akan bekerja bahkan serangan fisik tidak akan mempan." Jelas Lilia mencoba mengehentikan Alice membuang-buang tenaganya.
"Lilia, apakah kau bisa merasakan Mana orang lain?"
"Tentu, itu adalah hal yang mendasar. Bahkan, sebagai Saintess, aku bisa menilai tingkat kekuatan mereka dan kecocokan Elemen yang mereka miliki."
"Aku ingin kau merasakan Mana yang ada dalam tubuhku."
"Ah, um, baiklah." Lilia lalu memejamkan matanya dan melihat ke dalam diri Alice. Tepat di jantungnya, Lilia terkejut ketika ia tidak merasakan energi Mana yang seharusnya melingkari jantung Alice. Ketika jantung seseorang dilindungi oleh lingkaran Mana, maka hal itulah disebut sebagai Mana Heart dengan begitu orang-orang yang memiliki Mana Heart memiliki kemampuan untuk menggunakan Mana di sekitar mereka atau yang ada dalam tubuh mereka menjadi sebuah sihir.
"Alice..." Bibir Lilia bergetar, Ia melihat Alice begitu tidak percaya. Bagaimana bisa?
Alice mengangguk pelan. "Aku kehilangan Mana Heart ku pada saat aku tak sadarkan diri dan lolos dari upaya pembunuhan. Mungkin, demi menyelamatkan hidupku seluruh Mana dalam tubuhku otomatis terpakai habis bahkan sampai Mana Heart ku pun ikut lenyap."
Lilia menarik kepala Alice dan mendekapnya. "Kamu, ternyata kamu sudah berjuang begitu keras." Ia tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Alice saat ia kehilangan Mana Heart miliknya yang juga merupakan kebanggaannya sebagai seorang bangsawan.
Kedua mata Alice terangkat ketika Lilia memeluknya. Untuk sesaat Alice terdiam dan merasakan kehangatan di hatinya.
"Sudah cukup pelukannya. Bisa-bisa nanti aku tertidur karena terlalu nyaman." Canda Alice melepaskan dirinya dari pelukan Lilia.
Lilia menggembungkan pipinya cemberut. Ia tak bisa menahan tawa kecilnya lagi. Alice benar-benar menjadi pribadi yang jauh berbeda.
"Kalau begitu, biarkan aku mencobanya, kau akan takjub saat melihat betapa kuatnya diriku saat ini."
"Umm. Lakukanlah, aku juga ingin melihatnya." Balas Lilia, ia lalu mundur selangkah ke belakang Alice. Keraguan dalam hatinya sudah hilang saat ia tahu besar usaha Alice hingga bisa seperti ini dan menyelematkannya.
Alice mengambil posisi kuda-kuda. Ia menekuk sedikit tubuh bagian atasnya. Mengumpulkan Qi pada salah satu telapak tangannya, Alice lalu menghantam pintu itu.
[ Freezing Palm ]
Energi dingin menembus segel lingkaran sihir yang dipasang pada pintu itu. Hawa dingin membekukan pintu itu dengan cepat dan hancur karena daya serang Alice.
Alice menoleh pada Lilia. Ia menunjukkan ekspresi puas dan bangga. "Bagaimana, hebat bukan?"
Lilia bertepuk tangan, ia mengangguk "Um, hebat hebat."
Menyudahi bercanda rianya, kedua masuk ke dalam ruangan itu. Mereka di sambut oleh Cliff dan sebuah batu kristal besar. Ada juga sebuah patung Dewi yang ada balik batu kristal itu.
"Kepala Kuil!" Teriak Lilia melihat seorang wanita yang ada di dalam kristal itu. Lilia berlari tergesa-gesa tanpa memperhatikan sekelilingnya. Tentunya Cliff yang berdiri tak jauh dari kristal itu tak tinggal diam dan langsung menyerang Lilia.
[ Purgatory ]
Untungnya reaksi Alice begitu cepat dan segera menarik Lilia. Warna api yang berbeda membakar lantai batu.
"Putih dan sangat panas." Gumam Alice yang juga terkejut dengan serangan itu.
"Cliff, Apa yang kau lakukan?!" Lilia berteriak tidak menduga kalau Cliff akan menyerangnya begitu saja. Dia benar-benar ingin membununya.
"Aku hanya menjalani perintah Sang Dewi. Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu jalannya upacara ini."
"Upacara? Jangan terkecoh, kau di kelabui oleh sosok Dewi itu. Dia bukanlah Gaia."
"Diam!" Cliff mengayunkan tangannya kesamping. Ia berjalan mendekati kristal besar itu. "Sang Dewi telah memberikan wahyu nya padaku. Dengan kekuatan suci yang dimiliki oleh Kepala Kuil, maka ia akan turun ke bumi dan mensucikan kembali dunia yang ternoda ini." Jelasnya sambil melebarkan kedua tangannya ke samping. Cliff tertawa "Alicia Lein Strongfort, kau seorang pendosa dan Liliana Matilda, Saintess pengkhianat umat manusia." Lanjutnya menunjuk Alice dan Lilia.
Cliff berjalan lalu berdiri di hadapan mereka, dengan angkuh ia menatap Alice dan Lilia. "Aku sendiri yang akan menghukum kalian." Ucapnya lalu sebuah sayap putih muncul dari salah satu punggungnya.