Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 89



Tak hanya naaga yang merubah wujudnya saat ia mengamuk, Fee juga ikut berubah menjadi sesuatu yang mampu membuat orang menelan ludah mereka dan tak bisa berkutik.


"Aku adalah serigala yang pernah membunuh para Dewa. Jangan harap monster seperti mu bisa hidup setelah menantang ku." Kata Fee sambil tubuhnya berubah perlahan menjadi lebih besar lagi.


Bulu berwarna abu-abu yang melekat padanya berganti menjadi warna hitam pekat. Ujung bulu pada bagian leher hingga punggungnya memadat sekeras kristal dan terlihat tajam bagai ujung belati. Fee menjadi sosok yang menggentarkan tekad siapapun yang melihatnya, bahkan Alice merasakan kengerian dari aura jahat yang dikeluarkan Fee.


Setiap hembusan nafasnya begitu berat dan menghasilkan uap. Pandangannya yang tajam sudah cukup untuk membuat orang lari terbirit-birit. Fee kemudian melolong. Suaranya menggelegar membuat bulu kuduk merinding. Kaki tikus kecil dari ras hewan buas itu yang melihat mereka dari jauh sampai-sampai gemetar karena ketakutan. Dia hampir saja terjatuh jika seandainya tak bertopang pada dinding.


"Pergilah Alice. Aku akan menyusul mu. Ini adalah pertarungan ku. Aku akan membuat monster dunia ini merasakan kekuatan dari serigala Fenrir Sang Pembunuh Dewa." Ujar Fee melalui telepati. "Pergilah, aku akan segera menyelesaikannya secepat mungkin."


".... Baiklah. Ku serahkan yang disini padamu, tolong ya Fee."


Fee menoleh lalu mengangguk pada Alice kemudian dia berbalik kembali menatap naaga itu. "Biarkan diri ini menunjukkan setengah dari kekuatannya padamu. Wahai monster bernama naaga. Takutlah di hadapan Sang Pembunuh Dewa ini." Katanya dengan begitu angkuh, lalu ia melolong sekali lagi.


Namun naaga yang sedang dalam mode mengamuk itu tidak menghiraukannya, lebih seperti dia sudah kehilangan kendali akan dirinya. Monster naaga itu telah ditelan oleh amarah dan kekuatannya.


Sementara itu, Alice sudah bergerak menjauh menuju terowongan selanjutnya diikuti oleh si tikus kecil.


"Kenapa kamu ikut? Bukannya tadi kamu hanya melihat-lihat ya?" Kata Alice yang tiba-tiba berbalik.


Tikus kecil itu tersentak karena terkejut. Ia tidak menyangka kalau kehadirannya sebenarnya telah diketahui oleh Alice sejak tadi. Ia pun dengan malu menjawab. "A-A...aku hanya penasaran saja dengan apa yang ingin kau lakukan selanjutnya."


Alice membalas. "Apakah kamu yakin ingin mengikuti ku? Mungkin...di depan sana akan jauh lebih berbahaya daripada disini. Kamu tidak takut kan?"


"Eh?! Lebih berbahaya? S-s-siapa takut. Tentu aku tidak takut! Sudahlah, jalan saja!" Tikus kecil itu memasang wajah kesal sambil berpaling muka menutupi pipinya yang merah karena rasa malu.


Dalam hatinya, sebenarnya ia tidak ingin mengikuti gadis deemon itu. Namun setelah melihat perubahan Fee dengan mata kepalanya dan merasakan betapa menakutkannya serigala kecil yang tadi dia kira tidaklah berbahaya itu.


Tikus kecil itu berpikir kalau gadis deemon itulah yang mengontrolnya. Dia takut jika seandainya gadis deemon itu pergi, dia yang akan jadi mangsa selanjutnya dari serigala mengerikan itu.


Dia terus berjalan mengikuti Alice tanpa suara. Yang dia tahu, setidaknya gadis deemon yang di depannya itu terlihat lebih baik dan memberikan perasaan hangat saat berbicara dengannya.


"Jejak terakhir dari kehadiran Echidna menghilang di sekitar sini. Apa yang terjadi? Aku juga merasakan adanya sesuatu yang aneh di depan sana." Gumamnya heran.


Alice tidak tahu apa yang membuat kehadiran Echidna tiba-tiba menjauh dan lenyap dari tempat yang seharusnya ia perkirakan. Bahkan ada aliran energi yang tidak terasa asing namun dirinya tak bisa menjelaskannya.


"Orang itu? Erebos?"


"Ya. Meski aku tidak merasakan kehadirannya tapi aku yakin apa yang terjadi di depan sana pasti ada hubungannya dengan dia."


"Jadi begitu. Pantas saja aku merasakan adanya kekuatan aneh di depan sana. Ternyata itu adalah energi milik Dewa jahat Erebos." Batin Alice.


Mereka berdua terus menelusuri terowongan panjang itu hingga pada akhirnya mereka melihat ujungnya dan menemukan sesuatu yang jauh di luar nalar.


Sebuah tempat dengan pemandangan seperti langit malam yang penuh bintang. Hanya saja, bintang yang mereka lihat tampak jauh lebih jelas. "Ini.... Seperti berada di luar angkasa. Bintang-bintang kecil itu nyatanya merupakan sebuah planet dan ada beberapa galaxy besar yang juga terlihat jelas." Gumam Alice kagum dengan pemandangan yang ia temui.


Sebagai orang yang pernah hidup di zaman modern. Tentu Alice tahu akan pemandangan ajaib itu. Langit gelap berhiaskan kerlap kerlip bintang di tambah puluhan atau bahkan ratusan galaxy membuatnya takjub sekaligus bingung. Bahkan jalur dimana ia menapak saat ini terbuat dari debu-debu angkasa yang memadat.


"Kita baru saja melewati retakan dimensi dan ini adalah ruang kosong dari lorong dimensi itu. Hanya saja tempat ini begitu stabil sehingga terlindung dari kerusakan ruang dan waktu." Jelas Nyx dari dalam kepala Alice.


Nyx yakin kalau tempat ini tidak lain adalah perbuatan seorang Dewa yang berkekuatan tinggi. Dan satu-satunya Dewa yang ia tahu dengan kekuatan yang terasa familiar itu hanya Erebos. Nyx sendiri masih tidak bisa menduga mengenai tujuan sebenarnya dari Erebos. Faktanya, menurut aturan para dewa. Dewa seharusnya tidak begitu ikut campur dalam urusan makhluk fana. Tapi, Kenapa? Kenapa Erebos melanggar peraturan itu? Jangan-jangan...apakah gelombang energi yang waktu itu ku rasakan dari deemon bernama Cecilion ada hubungannya dengan rencana Erebos?


"K-kita dimana?" Tanya tikus kecil itu ketakutan sambil memegangi ujung baju Alice. Keduanya terus berjalan di atas jalur debu kabut itu.


Alice berhenti sejenak, ia meletakkan tangannya di atas kepala tikus kecil itu dan mengusapnya perlahan. "Jangan takut. Ini, pegang tangan ku." Balasnya sembari mengulurkan tangannya pada tikus kecil itu.


Melihat senyuman indah dari gadis deemon yang ia ikuti sejak tadi, tikus kecil itu merasa nyaman dan yakin kalau memang tidak akan ada sesuatu yang buruk yang bisa terjadi padanya selama dirinya bersama gadis deemon itu.


Tak lama kemudian, Alice melihat sebuah gerbang besar. Gerbang itu memutus jalannya. Jalur debu kabut itu berlanjut di balik gerbang besar di hadapannya.


Tanpa pikir panjang, Alice mengumpulkan Qi di tangannya dan membuat lubang di gerbang besar itu untuk dia lewati. Setelah melewati gerbang besar itu, selanjutnya adalah tangga panjang melayang dengan ratusan anak tangga ke atas. Alice berpikir tentang betapa melelahkannya menaiki anak tangga itu hingga ke atas bagi so tikus kecil.


Alice lalu jongkok di depan tikus kecil itu dan memberikan punggungnya. "Ayo naik."


Ragu, tikus kecil itu menoleh ke kiri dan ke kanan sebelum akhirnya ia menaiki punggung Alice. "U-um."


"Pegangan yang kuat ya." Alice pun berlari dengan cepat menaiki ratusan anak tangga itu setelah mengambil ancang-ancang.