
Lilia menunjukkan pedang yang ia dekap kepada Marianne. "Ini... bukannya ini milik Alice?"
Lilia menjawabnya dengan anggukan. Wajah murung itu masih belum bisa lepas dari wajahnya. Hati Lilia begitu pilu ketika melihat sahabatnya yang terhisap ke dalam lubang hitam yang sekarang ini entah dimana. Matanya kembali berkaca-kaca, ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak.
Marianne melihat Lilia begitu prihatin. Sesuatu yang buruk pasti terjadi pada kakaknya. Melihat kondisi Lilia, Marianne mengambil pedang itu dan mengesampingkannya. Ia memeluk Lilia dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan. Kedua orang yang dekat dengan Alice seakan berbagi lara.
Setelah Lilia mulai tenang, ia mengusap pipi dan matanya. Tampak kedua mata yang masih sedikit bengkak karena telah menangis begitu lama. Lilia kemudian menjelaskan semuanya pada Marianne.
Selama perjalanan mereka menuju kediaman Strongfort, Marianne mendengar cerita Lilia. Berat hatinya ketika ia tahu kalau untuk kedua kalinya ia kehilangan kakaknya lagi. Nafasnya semakin berat dan dadanya begitu sakit. Meski begitu, harapan kecil tentang Alice yang masih hidup masih tersimpan dalam hatinya.
Perjalanan mereka menempuh waktu sehari lebih dan akhirnya kereta kuda mereka sampai di depan gerbang kediaman Strongfort. Mereka pun turun dari kereta. Lilia pelan-pelan melangkah sambil memikirkan tentang bagaimana ia akan menyampaikan hal itu pada Duke Strongfort. Didampingi dengan Marianne yang meyakinkannya, Lilia berjalan hingga ke depan pintu.
Kedatangan Saintess dan Tuan Putri disambut hangat oleh pasangan suami istri itu. Liana dan Ernard berdiri dengan wajah teduh menyambut mereka penuh sopan santun. Mereka mempersilahkan keduanya masuk dan menjamunya.
Setelah duduk berhadapan, Ernard melihat ekspresi keduanya dengan heran, terlebih lagi saat ia melihat pedang yang tak asing di pelukan Lilia. Ernard juga sudah mempersilahkan mereka untuk tak sungkan dan menerima jamuan nya tapi Sang putri hanya mengangguk dan Lilia bahkan tak berani mengangkat kepalanya untuk melihat wajah kedua orang tua Alice.
Kecurigaan Ernard semakin jelas di benaknya, sikap diam dan canggung serta kesedihan yang terpancar dari diri mereka membuat tanda tanya besar dalam hatinya. Ernard memijat titik di antara kedua alisnya, ia menghela nafas dan melenyapkan kesunyian diantara kedua tamunya.
"Bagaimana keadaan Alice?" Tanya Ernard melihat Liliana.
Liliana terdiam, rasa bersalah dan mata Ernard yang menjurus padanya seakan menekan kepalanya untuk tetap menunduk. Tanpa kata, Lilia berdiri dari kursinya dan memberikan pedang yang ada di tangannya pada Ernard.
Ernard mengulurkan tangannya perlahan dan mengambil pedang itu, ia melihatnya dari atas hingga bawah dengan teliti. "Tidak salah lagi, pedang ini milik Alice." pikirnya.
Ernard melirik Lilia dan kembali memandangi pedang itu.
Di samping Ernard ada Liana yang terus mengamati mereka. Sejak ia pingsan, ia tak tahu dengan apa yang telah terjadi hingga Ernard menceritakan semuanya. Liana syok dan tak henti-hentinya khawatir tentang Alice yang berani menukar dirinya demi dia.
Kepalanya baru mulai menerka arah pembicaraan mereka saat ia melihat ekspresi suaminya. "Tidak, Jangan bilang kalau Alice..." Liana memeluk lengan Ernard karena tubuhnya mulai bergetar ketakutan.
Bagi seorang ksatria yang gugur dalam perang, selain jasadnya yang di bawa pulang untuk dimakamkan. Maka hal terakhir yang keluarga korban terima juga adalah barang berharga atau apapun milik kstaria tersebut. Dan begitulah, pedang satu-satunya yang selalu Alice bawa merupakan sebuah simbol yang dengan kata lain bahwa ia telah gugur dalam pertarungannya.
"Alice...." ucap pelan Ernard.
Ernard menggenggam erat gagang pedang itu. Dadanya terasa berat saat Ia mengingat hal terakhir yang putrinya lakukan. Ernard tak menyangka kalau itu adalah pelukan terakhir dari Alice. Jika tahu begini akhirnya, Ernard seharusnya menahan Alice dan bertarung mati-matian waktu itu. Perasaannya kacau dan bercampur aduk. Apakah ia harus marah, tapi kepada siapa? Bersedih pun tak ada gunanya. Ia hanya bisa memendam rasa penyesalan itu dalam hatinya.
Iris yang mendengar pembicaraan mereka dari sudut ruangan, terjatuh di atas lututnya. Ia menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya.
"Kakak .. tidak mungkin! Tidak mungkin kakak mati!" Teriaknya.
Iris menyangkal berita itu. Semenjak kakaknya bangun dari koma nya, Iris merasa kalau dia adalah sosok yang berbeda. Alice telah menjadi kuat bahkan lebih dari siapapun yang pernah ia temui, Alice jauh lebih hebat, lebih keren, selain itu Alice sudah menunjukkan sikap seorang kakak yang sebagaimana ia dambakan selama ini. Rasa hangat itu, senyuman penuh kasih itu, Iris tak terima jika ia harus kehilangan Alice disaat ia sudah mulai menerimanya kembali sebagai seorang kakak. Iris tertunduk, ia berharap seandainya ia bisa lebih cepat menyadarinya.
Ernard sendiri tenggelam dalam lamunannya. Ia baru ingat kalau Alice pernah memberikan sesuatu padanya. Ernard mengambil sebuah plakat kayu dari balik saku bajunya. Spontan Marianne yang melihat benda itu memukul meja dengan kedua tangannya. "Itu...itu.." Ucapnya berdiri sambil menunjuk plakat kayu yang ada di tangan Ernard.
Sebuah tulisan jimat aneh menempel di atas plakat kayu itu merupakan pemberian terakhir Alice.
"Darimana Anda mendapatkannya?" Tanya Marianne.
"Ini adalah pemberian Alice sebelum ia pergi ke kuil."
Marianne dengan tergesa-gesa berkata. "Bolehkah aku melihatnya?" Sambil ia mengulurkan tangannya.
"Tentu." Ernard tidak tahu apa arti dari ukiran itu tapi sepertinya Marianne tahu sesuatu.
Setelah menerima plakat kayu itu. Kedua tangan Marianne bergetar memeganginya. "Kakak..." Bisiknya. Air mata bahagia lalu menetes dari matanya membasahi plakat kayu itu.
"Umm... Maria?" Panggil akrab Lilia sambil ia menarik ujung baju Marianne.
Marianne mengangkat kepalanya dan melihat kedua orang tua Alice. "Kalian tenang saja, Alice masih hidup." Ia lalu mengusap pipi dan matanya. "Jimat ini, maksudku tulisan ini merupakan pertanda kalau Alice masih hidup. Di dalam selembar kertas ini terdapat kekuatan Alice, ketika kertas rusak maka itu pertanda kalau orang yang berkaitan dengan tulisan ini telah tiada, tapi lihat! Tulisan ini beserta kertas dan kayunya masih baik-baik saja. Itu tandanya kalau Alice masih hidup. Teknik ini, hampir sama dengan sihir pelacakan dimana seseorang akan menandai suatu objek agar dapat melacak keberadaan objek tersebut. Hanya saja, teknik milik Alice lebih kompleks. Aku percaya kalau dia masih hidup."
Cahaya terang bak kembali menyinari ruangan itu, rasa bahagia yang datang tiba-tiba membalikan emosi negatif mereka. Ernard Liana dan Iris serta Lilia merasa lega setelah mendengar pernyataan Marianne, namun mereka tetap prihatin karena keberadaan Alice yang masih belum diketahui.