Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 130



Di tangan kirinya, Helian memainkan telunjuknya di atas bibir gelasnya yang berisi Malbec dan tangan kanannya menopang dagunya sambil ia memasang wajah cemberut menatap Alice.


Malbec adalah salah satu jenis minuman fermentasi dari anggur dan tentu saja minuman itu mengandung alkohol yang dapat membuat mabuk.


Alice sendiri hanya memesan sebuah jus anggur yang tidak akan membuatnya gila seperti wanita di hadapannya. Sekalipun ia minum, Alice yakin kalau minuman alkohol sesederhana itu tak akan bisa membuatnya mabuk.


Melihat dan menemani seorang wanita dengan mata sayup karena sedikit mabuk, siapa yang akan percaya kalau orang yang tampak setengah mabuk itu sebenarnya adalah seorang Ratu.


Alice memegangi keningnya dan memijatnya dengan pelan. Ia menghela nafas panjang. "Kau bahkan belum meminum sampai setengahnya, bagaimana bisa kau sudah mulai mabuk."


Helian menyipitkan matanya. "Hngg~ Aku tidak mabuk. Setidaknya aku masih sadar."


"Ya,ya, itulah yang pemabuk sering katakan." Balas Alice sambil mengibas-ngibaskan tangannya dengan malas pada Helian. "Jadi, apa yang akan kau lakukan? Kau sudah tahu akar masalahnya, lantas apakah kau akan terus membiarkan mereka seperti itu?"


Helian menghantam meja dengan gelasnya, sontak membuat para pelanggan lainnya seketika berbalik ke arah mereka. "Para B*a*ingan br***sek itu! Tentu saja kalau aku bisa, aku akan melenyapkan mereka sekaligus." Umpatnya ketus.


Alice tertawa canggung melihat sikap seorang Ratu yang benar-benar tidak terlihat berwibawa dan bermartabat itu. Kalimat barusan itu lebih cocok untuk seorang penyamun daripada bangsawan.


"Aku sedang mengumpulkan beberapa bukti untuk menjerat mereka sesuai hukum kerajaan ini. Kalaupun perlu, aku akan mengeluarkan dekrit Sang Ratu. Namun masih terlalu dini. Aku butuh sesuatu yang lebih konkrit agar mereka tidak bisa mengelak."


"Kenapa kau begitu bertele-tele? bukankah kau itu Ratu, kau memiliki kekuatan dan kekuasaan. Kenapa tidak menekan mereka dengan itu?"


"Kau...benar...Tapi!" Helian berhenti sejenak untuk meneguk minumannya. "Aku tidak seperti mereka. Aku bukan seorang tiran. Mungkin mereka akan menilai ku lemah tapi aku yakin kekuatan tak selamanya menjadi solusi dari segala hal."


Alice tersenyum tipis mendengar jawaban Helian. Untuk menemukan seorang penguasa sepertinya adalah hal yang langka. Sepertinya kebijaksanaan itu pula yang membuat Alice tidak memandang Helian sebelah mata. Sebagai sesama penguasa wanita, Alice tahu betapa sulitnya menangani masalah internal atau eksternal yang terjadi dalam negeri.


"Kau tahu. Ekspresi mu tidak mencerminkan perkataan mu yang barusan itu." Alice tertawa pelan.


"Ka-kau ini~" Helian mendengus kesal lalu mendekatkan gelasnya ke bibirnya tapi Alice segera menahannya.


"Berhentilah minum. Kau belum menceritakan semuanya. Aku tidak ingin kau kehilangan kesadaran sampai harus membuat ku repot mengantar mu kembali ke istana."


"..." Helian meletakkan gelasnya tanpa berkata-kata. Ia mengangguk sekali.


"Kau belum selesai menjawab pertanyaan ku tadi. Apa yang akan kau lakukan pada mereka?"


Sekedar bertanya, walaupun sebenarnya Alice tidak memiliki niat untuk membantu Helian menyelesaikan semua masalah kerajaannya namun Alice sedikit iba melihat keadaan teman barunya itu.


Helian menatap kosong sejenak lalu cegukan sekali. Ia memijat kedua sudut matanya untuk mengembalikan fokusnya. Kemudian Helian menarik nafasnya. "Saat ini kerajaan elf sedang dirundung banyak masalah. Kristal hitam yang telah muncul enam bulan lalu itu, sampai sekarang kami masih belum menemukan solusi untuk melenyapkannya. Belum lagi ditambah para bangsawan yang keras kepala dan sulit diajak untuk bekerja sama, juga berita tentang munculnya organisasi pemberontak." Helian menghela panjang dan berat. Ia meletakkan kedua tangannya ke sisi kepalanya. "Aaakkh!" Dia menggelengkan-gelengkan kepalanya.


Alice perlahan mengulurkan telunjuknya dan menyentuh pipi Helian. Ia menekan-nekannya dengan pelan sambil berkata. "Biarkan aku membantu mu."


Helian terdiam. Ia segera mengangkat kepalanya. Seperti sudah tersadar dari mabuknya, Helian menatap Alice dengan mata lebar yang berbinar-binar. "Kau? Membantu ku? Sungguh?"


Helian sedikit tidak percaya. Walaupun itu sedikit tabu untuk membiarkan orang luar mencampuri urusan kerajaan elf, tapi saat ini dia dan kerajaannya benar-benar berada di ujung tanduk.


Alice mengangguk sambil tersenyum. "Tentu. Tapi pertama-tama aku ingin kau fokus mengatasi masalah politik kerajaan ini terutama para high elf itu. Tentang kristal hitam itu, serahkan saja padaku."


Status bangsawan para high elf miliki bukanlah hal asing bagi Alice yang seorang putri Duke. Namun cara mereka menggunakan status itu seperti mereka menganggap semua orang selain kelompok mereka adalah serangga kecil yang tidak berharga. Alice tahu seberapa sulit untuk mengatasi ideologi mereka itu, oleh karena itu lebih baik baginya untuk membiarkan Helian mengatasi masalah yang berkaitan dengan rakyatnya sendiri.


Helian memajukan setengah tubuhnya hingga ke atas meja untuk meraih tangan Alice. Ia menggenggamnya dengan erat. "Terimakasih. Akhirnya aku bisa sedikit lega..."


Alice menyentil dahi Helian membuatnya berteriak sakit. "Tudungmu hampir lepas."


Helian terkekeh sambil mengelus dahinya.


"Tapi untuk melakukan itu, aku harus mendekati pohon Yggdrasil. Aku merasakan kalau kristal hitam itu memiliki keterkaitan dengan pohon Yggdrasil. Apakah itu tidak masalah?"


Tanpa pikir panjang, Helian mengangguk-anggukkan kepalanya.


Alice mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Helian meraih tangan Alice, keduanya telah setuju untuk saling bekerja sama.


"Bagaimanapun juga, aku memang harus menghancurkan kristal hitam itu untuk mencapai tujuan ku dan aku yakin kalau pohon Yggdrasil memiliki keterkaitan erat dengan kekuatan mereka." Benak Alice.


Setelah memeriksa lendir hitam dan kristal hitam yang tersebar di beberapa tempat dalam perjalanan pulangnya. Alice menyimpulkan kalau sumber energi mereka tertuju pada satu arah yang sama, yaitu pohon Yggdrasil.


Kedalaman masalah ini sudah bisa ia ukur. Bekerjasama dengan Helian akan membuat pergerakannya sedikit mulus untuk mendekati pohon Yggdrasil. Saat Sang Ratu memberikan izin, para penjaga yang berdiri di sekitar pohon pasti akan membiarkannya lewat dengan mudah.


Alice meneguk minumannya.


Ia kembali bertanya. "Lalu, bagaimana dengan adikmu itu? Apakah kau tidak keberatan untuk menceritakannya? Aku juga punya seorang adik loh, mungkin aku bisa memberimu beberapa saran." Ucapnya dengan senyum mengejek seolah ia membanggakan hubungannya dengan adiknya.


"Ughh!!!"


Pahit. Helian hanya bisa menatap Alice dengan kesal tanpa bisa mengelak.