Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 107



Para semut api tampak semakin agresif mendekati gerbang kota Blackrock. Tumpukan mayat dari rekan mereka membuat para pemanah sedikit sulit mengincar semut-semut api lainnya. Mereka cerdas dengan menggunakan mayat dari semut api yang telah mati sebagai perisai.


"Selama ratu semut yang memberikan mereka perintah masih hidup, kita tidak akan bisa menghabisi para semut itu dengan mudah." Kata Lilia.


"Kau benar. Tapi tidak ada yang bisa kita perbuat selain bertahan." Balas Marianne.


Melihat wajah lelah para prajuritnya, Marianne tidak bisa mengharapkan seorangpun untuk mencari keberadaan ratu semut. Mereka bahkan lebih lemah darinya, jika dia mengirim seseorang untuk mencari lokasi ratu semut, itu sama saja dengan misi bunuh diri.


"Aku telah berlatih sihir hingga berada di tahap akhir level 5. Juga aku melakukan kultivasi sebagaimana aku mempelajarinya di kehidupanku yang sebelumnya hingga aku menerobos ke tahap Earth Refining, walau begitu, apakah kekuatan ku masih belum cukup untuk mengalahkan para monster kecil ini?"


Marianne mengeluhkan dirinya yang tidak berdaya. Ia memukul dinding benteng dan memandangi koloni semut yang mendekat dengan wajah pahit.


Meskipun dia telah hidup belasan tahun berlatih sihir dan berkultivasi. Marianne tetap tidak bisa menyamai pencapaian Alice.


Baik di kehidupan yang dulu maupun saat ini, dirinya tetap saja berdiri di belakang wanita itu. Dia iri dan kesal pada dirinya. Dia tidak ingin menjadi seorang adik yang selalu berdiri di belakangnya, tapi dia ingin berdiri di sampingnya dan memikul beban yang sama dengannya.


Mana dalam tubuh Marianne telah menipis begitu juga jumlah Qi nya. Sedikit rasa sesal karena dia hanya tahu teknik [ Blazing Dragon Sword ] dan [ Eternal Phoenix Cleansing Flame ] yang ia pernah pelajar di kehidupan sebelumnya. Dalam hatinya ia berharap, kalau seandainya ia tidak menjadi manja dan mendengarkan kakaknya untuk rajin berlatih pasti dia bisa menguasai banyak teknik beladiri.


Teknik Blazing Dragon Sword sendiri adalah seni beladiri yang menggunakan energi Qi api untuk dilapisi pada sebuah pedang. Dengan niat pedang yang teguh dan tekad yang membara. Teknik Blazing Dragon Sword mampu menebas sebuah objek hingga mereka menjadi abu. Sayangnya teknik ini memerlukan fokus yang tinggi untuk tetap bisa mempertahankan energi Qi api yang menyelimuti pedang yang dipakai.


Sedangkan Eternal Phoenix Cleansing Flame adalah teknik yang menggunakan energi Qi dalam tubuh untuk membakar lawan secara langsung. Keistimewaan teknik ini adalah jarak serangannya yang luas dan kekuatan dari apinya yang tidak bisa dipadamkan dengan mudah. Sesuai namanya, Eternal Phoenix Cleansing Flame akan membakar apapun baik raga maupun hingga ke dalam jiwa mereka. Dan seperti teknik Blazing Dragon Sword, teknik Eternal Phoenix Cleansing Flame juga membutuhkan penggunaan energi Qi yang tidak sedikit.


Marianne melirik wajah-wajah prajurit yang sudah menghitam karena putus asa. Sedikit lagi semut itu akan menyentuh dinding benteng dan meledakkan diri mereka.


"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi." Marianne kembali memegang erat pedangnya, ia berniat membakar kultivasinya untuk meningkatkan kemampuannya demi menghabisi para semut api itu.


"M-Maria?! Apa yang akan kau lakukan?!" Lilia sadar akan aliran energi aneh yang memancar dari tubuh Marianne. Terasa panas dan membakar. Lilia yakin kalau rasa panas itu tidak hanya membakar siapapun yang ada di sekitarnya tapi juga Marianne.


Marianne menggelengkan kepalanya, tekadnya sudah bulat. Dia tidak bisa membiarkan semut itu memasuki kota dan menghancurkannya. "Lilia, aku ingin kau membantuku dengan semua kekuatanmu."


Lilia segera menahan tangan Marianne yang sudah siap untuk melompat ke bawah. "Ah!" Rasa panas mengalir dari kulit hingga ke kepalanya. Dia merintih kesakitan namun Lilia tetap keras kepala dan tidak melepaskan tangan Marianne.


"Apa yang kau lakukan! Jangan menyentuh ku."


"Tidak. Maria, kau tidak boleh pergi. Pasti ada cara lain untuk menyelamatkan kota ini."


"Kau? Apakah kau tidak melihat---"


Ledakan hebat tiba-tiba menghentikan perdebatan kecil mereka.


Semua orang lekas melihat ke arah asap yang mengepul di tengah-tengah koloni semut api itu.


Kemudian, beberapa saat setelahnya, raungan hebat terdengar begitu nyaring yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Gelombang angin dari raungan itu menghempaskan kepulan asap sehingga sosok yang ada di baliknya mulai terlihat.


"Na--Naga?! Seekor Naga?!"


Ratusan pasang mata yang berdiri di atas benteng menyaksikan sosok perkasa itu. Raut wajah masam, ketakutan dan kesedihan terpampang jelas di muka mereka.


Masalah semut api belum selesai dan sekarang seekor naga datang. Bahkan sekalipun dia berada dalam keadaan fitnya, Marianne ragu bisa mengalahkan naga itu mudah.


Marianne tertawa pahit menutupi wajahnya, mereka benar-benar sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mempertahankan kota Blackrock. Bahkan untuk melarikan diri saja itu bisa jadi hal yang mustahil dengan kehadiran sosok naga itu.


Warna merah menyala dengan mata emas yang tajam. Naga itu menatap setiap wajah yang melihatnya. Ia memiliki tiga tanduk di kepalanya dan beberapa duri tajam yang besar di punggung hingga ekornya. Aura yang ia pancarkan begitu kuat membuat orang-orang kehilangan kemampuan mereka untuk tetap berdiri tegak.


~


"Yang Mulia. Apakah arah kita sudah benar?" Kyrant melihat Echidna dengan ekspresi penuh tanya dam cemas.


Sudah terbang begitu jauh melintasi samudra untuk ke benua Regnum, seharusnya mereka telah tiba di kerajaan Solus beberapa jam lebih awal. Tapi, Echidna yang tidak mengenali lingkungan terus saja memberi perintah yang membuat mereka harus berputar-putar di langit.


Kyrant menghela nafasnya. Bukan tubuhnya yang lelah tapi hatinya, melihat sikap keras kepala dan sok tahu Echidna. "Aku tidak tahu, kalau ternyata dia memiliki sikap kekanak-kanakan seperti ini." Keluh batinnya.


"Jangan khawatir, aku yakin kali ini kita pasti berada di arah yang benar." Jawab Echidna dengan sangat yakin.


Di atas awan, di langit yang tinggi. Echidna berdiri di atas kepala Kyrant sambil memantau daratan dengan penglihatannya yang tajam. Setelah melewati penghalang yang pahlawan kuno buat di tengah-tengah samudera, Echidna menuntun Kyrant menuju kerajaan Solus. Tapi yah, dia menggunakan ingatannya yang ribuan tahun silam sebelum banyak negara berdiri dan Aria berubah menjadi seperti saat ini.


Echidna dengan tubuh mungil dan lucu menggemaskan melompat-lompat kegirangan di atas kepala Kyrant. "Kita sampai, kita sampai. Lihat kan! Aku benar! Hmph!" Ia lalu menghentak-hentakkan kakinya di atas kepala Kyrant. Echidna menyalakan Kyrant yang dari tadi cerewet.


Kyrant memasang ekspresi malas, is memutar bola matanya dan tidak menghiraukan Echidna.


"Aku merasakan energi yang sama dengan milik mama di bawah sana. pergilah dan cari tahu apa yang terjadi."


Kyrant heran, ia memiringkan kepalanya sambil bertanya. "Ya-yang Mulia? Lalu Anda bagaimana? Apa yang Anda ingin lakukan?"


Kenapa dia hanya menyuruhnya saja? Kenapa dia tidak ikut?


Echidna meletakkan telunjuknya di bawah dagunya. "Aku... ingin melihat kakek dan nenek. Oh, juga bibi, adik nya mama. Mama bilang mereka tinggal di bagian selatan dan memiliki rumah putih besar dengan atap berwarna biru yang indah." Echidna lalu melompat. Ia melebarkan sayapnya dan melesat menuju tujuannya. "Ingat! Jangan lupa laporkan padaku apa yang kau dapat." Teriaknya penuh semangat.


Bayangan diri Echidna pun menghilang di balik awan. Kyrant mengapung di langit sambil melihat ke bawah. Ia lagi-lagi menghela nafas panjangnya.


"Sepertinya sedang ada pertempuran hebat di bawah. Para manusia lemah itu bahkan tidak bisa mengatasi seekor serangga. Heh, payah."


Kyrant lalu turun dengan cepat, ia melesat hingga menghantam tanah dan menghancurkan puluhan ekor semu api.


"Yang Mulia benar. Disini ada energi yang terasa seperti wanita itu."


Melihat para manusia yang berusaha menahan semut api itu agar tidak masuk ke dalam kota, Kyrant tahu harus bagaimana.


Kyrant lalu meraung dengan kuat untuk menekan para serangga yang ada di dekatnya. Ia mengepakkan sayapnya dengan kuat dan menerbangkan beberapa serangga.


Kyrant berbalik, ia menatap wanita berambut merah dan bermata merah yang berdiri tegak di atas benteng.


"Lumayan. Bahkan setelah aku melepaskan Aura ku, dia masih sanggup berdiri."