
Helian dan Seypherd terdiam kehabisan kata-kata melihat Oswald yang terlempar dan menghantam pilar besar itu dengan sangat kuat.
""Siapa dia?!""
"Hmph!" Echidna mendengus puas setelah menghajar pria elf yang tiba-tiba muncul di hadapannya itu.
Sebelumnya, setelah ia berpisah dari Fee. Echidna memilih untuk terbang di ketinggian langit untuk melihat suasana kota Moonshade. Menurutnya akan lebih mudah menemukan istana dari atas, ketimbang harus melompati atap rumah satu persatu. Lagipula Echidna sedikit bermasalah dalam menentukan arah.
Echidna teringat kembali saat dulu ketika menjadi tangan kanan raja iblis Typhoon, dia memiliki seorang penasehat handal yang juga berasal dari ras naga sama sepertinya. Seorang wanita hebat yang cerewet dan sering membuat kepalanya sakit karena kerap kali melontarkan protes atas setiap tindakannya.
Dari langit, Echidna bisa melihat pertempuran dua kubu yang sengit. "Ras yang bodoh. Mereka berperang satu sama lain." Ucapnya.
Terlintas juga di benaknya bahwa pemandangan di bawahnya itu adalah apa yang sering dilakukan oleh para hyuman. Mulutnya sedikit lagi ingin mengumpat mereka, namun saat ia teringat oleh mamanya yang juga berasal ras hyuman, Echidna menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, tidak. Mama dan para manusia lainnya berbeda. Mama itu spesial, ya, SPESIAL." Echidna menekankan kata terakhirnya. Dia merasa bersalah jika harus menyebut ras hyuman itu bodoh karena namanya yang berasal dari ras yang sama dengan mereka.
Saat dia melihat sebuah istana megah, Echidna segera turun di salah satu halaman istana itu. Lalu ia menggunakan teknik kesadaran jiwa yang pernah Alice ajarkan padanya. Echidna melepaskan sejumlah besar Mana yang menyebar ke seluruh area istana. Ia memejamkan matanya dan mulai merasakan hawa kehidupan dan energi Mana yang ada dalam lingkungan istana.
"Kebanyakan jumlah Mana mereka sedikit, mungkin mereka hanya prajurit biasa." Gumamnya.
Ia terus menelusuri area istana itu hingga pada akhirnya dia menemukan gelombang Mana yang besar dari tiga orang elf.
Ketiganya berada dalam ruangan besar di dalam istana. "Mereka..., Apakah mungkin Ratu elf ada diantara mereka? Kurasa aku akan memeriksanya dulu."
Echidna lalu terbang melesat menuju lantai dua, ia kemudian berlari menyusuri koridor dan melewati persimpangan hingga melihat sebuah pintu besar.
"Di depan sana." Ucapnya sambil tersenyum. Echidna akhirnya bisa menjalankan tugas yang mamanya berikan jika Sang Ratu benar-benar berada di dalam ruangan itu.
Echidna tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Ia mendengar suara pedang yang beradu dengan keras dari balik pintu. Penasaran, Echidna melenyapkan hawa keberadaannya lalu terbang dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana.
"Para elf... mereka saling bertarung. Kalau begitu..." Echidna melirikkan pandangannya pada seorang wanita elf di antara mereka. Pakaiannya terlihat mewah dan aura yang ia pancarkan pun terasa berbeda. Echidna paham kalau ada sesuatu yang mendominasi dari wanita elf itu.
Echidna perlahan membuka jendela di hadapannya. "Mereka terlalu serius disana sampai tidak menyadari kehadiran ku." Ucapnya sembari bergerak perlahan masuk melewati jendela.
Dari atas dia menikmati tontonan dari dua ksatria elf yang sedang bertarung.
Setelah lama kemudian, situasi menjadi sedikit rumit untuk wanita elf itu. Echidna pun memutuskan untuk turun tangan dan melindungi wanita elf itu dengan sihirnya.
Setelah ia berhasil menjauhkan pria bernama Oswald itu dari mereka, Echidna mulai menanyai wanita elf yang bernama Helian. Walaupun dia sudah mendengar sedikit percakapan mereka sebelumnya, namun untuk lebih meyakinkan, dia ingin mendengar jawabannya langsung dari mulut Helian.
Echidna kemudian berjalan menghampiri mereka. Semakin dekat dan Helian merasa kalau dia pernah melihat Echidna. Tapi..., seorang gadis kecil sepertinya dengan kekuatan yang begitu besar. Helian ragu apakah mereka memang pernah bertemu.
"Karena ini tugas dari mama, aku senang bisa menemukanmu lebih awal. Sekarang dengan adanya diriku maka aku jamin kau akan aman." Jelasnya dengan bangga.
Echidna merasa aneh karena Helian terus-menerus meliriknya dengan mata yang penasaran. "Apakah ada sesuatu di wajahku?" Tanya Echidna sambil mengecek setiap sisi wajahnya.
"Eh, tidak tapi... sepertinya... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak." Balasnya gamblang. "Tapi aku yakin mungkin yang kau maksud itu adalah mamaku. Orang-orang sering melihat kami seperti itu." Lanjutnya sambil tersenyum riang.
Echidna sangat senang ketika dia mendengar orang-orang mengatakan kalau dirinya mirip dengan Alice.
"Mama? Siapa mamamu?" Apakah dia adalah salah satu dari anak kenalannya?
Tapi siapa?
"Hm? Itu aneh, apakah mama belum mengatakannya padamu. Mamaku itu Alice, Alicia Lein Strongfort."
"Hah?!" Helian menganga mendengar pernyataan gadis kecil itu. Sementara Seypherd yang berdiri di sampingnya hanya bisa menggaruk kepala karena tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita keluar. Aku ingin melihat-lihat bagaimana keadaan di luar sana." Echidna lalu berjalan menuju pintu keluar.
Fakta mencengangkan bukan karena ia senang mendapatkan bantuan dari seseorang yang kuat. Tapi karena Alice yang selama ini ia kira hanyalah seorang gadis muda belia ternyata adalah seorang ibu.
Helian merasa tertipu dengan penampilannya.
"Ah, Tidak, bukan begitu." Ia tersadar lalu segera berjalan mengikuti Echidna disusul oleh Seypherd.
Sementara itu Oswald menatap tajam dari sela-sela jemarinya. Tubuhnya sudah mendingan, tenaganya berangsur kembali.
Mereka meninggalkannya di belakang begitu saja.
Apakah setelah kedatangan gadis kecil itu, mereka pikir mereka sudah aman? Pikirnya.
Dadanya menggebu-gebu penuh dengan kekesalan. Oswald tidak sadar kalau perubahan emosionalnya sebenarnya dipengaruhi oleh kristal hitam yang menyatu dengannya.
"Jangan pernah menunjukkan punggung mu pada lawan mu." Teriaknya kemudian ia bangkit. Karena dia tidak bisa mengalahkan gadis kecil itu, Oswald memilih untuk langsung menghabisi Helian. Dia bergerak sangat cepat sampai meninggalkan jejak bayangannya. "Jangan kira kau sudah aman dan bisa pergi begitu saja!" Oswald sudah siap menebas Helian dari samping tapi lagi-lagi gadis kecil itu dengan lihai bergerak menghalanginya.
"Lumayan, kau masih bisa bergerak seperti itu setelah menerima satu pukulan ku." Ucap Echidna. Nada dan perkataannya terdengar seperti sebuah hinaan di telinga Oswald.
Oswald mengeratkan genggaman pedangnya, kemudian mengayunkan pedangnya bertubi-tubi pada Echidna untuk membuka celah agar ia bisa melompat langsung menuju Sang Ratu.
Kenapa? Padahal dia hanya gadis kecil tapi kenapa dia begitu kuat?
Oswald sulit menerima kenyataan pahit akan kegesitan dan kekuatan Echidna.
"Sial! Jangan bercanda dengan ku! Siapa kau sebenarnya?!" Oswald makin kehilangan kesabaran karena semua serangannya ditahan dengan mudah.
"Monster! Dasar Monster! Bagaimana bisa makhluk sepertimu menahan pedang ku dengan tangan kosong hah!"
Echidna terkekeh lalu menyeringai. Serangan Oswald tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan serangan mamanya dulu. Pedang kecil milik mamanya itu bahkan bisa merobek perisai alami milik ras naga yang sangat kokoh.
Oswald mengeratkan giginya. Semenjak tubuhnya menyatu dengan kristal hitam itu dan dipenuhi oleh energi jahat, kontraknya dengan spirit juga berakhir. Sebagai elf, Oswald kini hanya bisa mengandalkan Mana miliknya dan kekuatan fisik yang baru ia dapatkan.
Dia menembakkan peluru sihir hitam, kemudian menciptakan dua bayangan. Mereka berpencar menerjang ke arah Helian. Echidna melirik ke kiri dan ke kanan, ia lalu mengangkat telapak tangannya lalu meremasnya.
Oswald tidak menyangka sebuah tangan dari dalam tanah muncul dan melenyapkan kedua bayangannya. Itu adalah sihir elemen tanah.
"Ketemu." Echidna menyeringai di depan wajah Oswald. Dia lalu melayangkan tinjunya pada wajah Oswald.
Oswald kembali terlempar menghantam tanah. Zirah kristal di tubuhnya retak begitu pun dengan tulang rusuknya. Oswald merintih kesakitan dan menjerit keras dalam kepalanya.
"Sudah cukup sampai disini. Kau tidak pantas untuk melawan ku." Kata Echidna.
Oswald berusaha bangkit tapi sebuah tekanan angin mendorongnya hingga menghantam dinding. "Guhhaak!" Tubuhnya tertanam cukup dalam.
Pandangannya mulai kabur melihat sosok gadis kecil itu. "Apakah ini benar-benar akhirnya?"
Oswald tersenyum kecil. Sangat disayangkan dia gagal melaksanakan tugasnya. "Tuan Putri, aku gagal. Maaf."
Echidna menyipitkan matanya, dia tidak ingin hal ini berakhir begitu saja. Dia mulai mengangkat tangannya dan mengarahkannya pada Oswald.
Cukup jauh di sampingnya, Seypherd melihat gadis kecil itu ingin menggunakan sihir. Dia yakin dengan serangan itu Oswald pasti akan menemui ajalnya, tapi Seypherd tidak tega untuk melihat rekannya berakhir seperti itu. Dia pun berlari menghadang Echidna.
"Seypherd!?" Teriak Helian.
"Apa yang kau lakukan? Jangan coba menghalangi ku atau aku akan membakar mu menjadi abu."