
"Berhenti disana!" Teriak seorang penjaga dari atas tembok benteng. Penjaga itu lalu turun menghampiri mereka.
"Yang-Ehem. Asiya rupanya. Maaf tidak sopan, kalau boleh tahu siapa gadis ini?" Penjaga itu melirik Alice dengan penuh tanya di wajahnya.
"Dia temanku, Alice. Paman penjaga, apa boleh aku mengajaknya masuk ke dalam kota?"
Tampak ekspresi berat terlukiskan di wajah penjaga itu. Matanya menyiratkan bahwa orang asing seperti Alice tidak seharusnya memasuki kota.
"Tidak boleh?" Tanya Asiya dengan senyum di wajahnya.
Penjaga itu bergidik saat melihat senyuman Asiya. Dari sudut pandangnya Alice tidak melihat jelas mata gadis Elf yang baru saja ia selamatkan itu saat memohon dengan lembut. Penjaga itu berdeham lalu berkata."Eh..ahaha. T-tentu saja boleh. Silakan. Selamat datang di kota Moonshade." Sambutnya yang sedikit terlambat.
"Terima kasih paman." Balas Asiya. Mereka pun berlalu masuk melewati gerbang kota.
Alice berbalik sejenak, iamenyipitkan matanya melihat punggung penjaga itu yang menggaruk belakang kepalanya dan menghela nafas. Alice juga melihat sekitar gerbang yang ketat penuh dengan penjagaan para prajurit elf.
"Bahkan suasana di kota ini terasa aneh." Batinnya. Bahkan gadis di sampingnya memberikannya perasaan janggal.
"Ada apa? Apakah kau sudah menyadarinya?" Tanya Asiya tiba-tiba saat ia melihat Alice terdiam dari sudut matanya. "Kerajaan ini sedang tidak baik-baik saja. Mungkin sekitar enam bulan yang lalu, tiba-tiba saja sesuatu yang mengerikan terjadi pada pohon Yggdrasil."
"Yggdrasil?"
"Pohon besar itu." Asiya menunjuk ke arah batang pohon tinggi yang menjulang ke langit. "Pohon kehidupan dimana semua ras elf bernaung di bawahnya."
Keduanya terus berjalan sambil berbicara. Asiya kemudian menawarkan Alice untuk singgah sejenak pada sebuah kedai untuk melanjutkan percakapan mereka dengan lebih santai.
"Mama...ada sesuatu yang bau dari tempat ini." Kata Echidna yang sejak tadi diam.
Saat keduanya sedang berbicara. Echidna tidak semata-mata diam karena tidak ingin bicara. Melainkan ia merasakan sesuatu yang menyesakkan. Energi tercemar yang cukup kuat mengalir dan seperti membayang-bayangi tempat itu. Apalagi saat ia melihat pohon Yggdrasil yang ditunjuk oleh Asiya. Insting Echidna secara gamblang mengatakan kalau sesuatu yang berbahaya sedang mengintai kerajaan itu.
Asiya tertawa canggung. "Sepertinya putri mu juga bisa merasakannya."
Alice sedikit tidak mengerti. Mungkin karena perbedaan kekuatan mereka atau karena tingkah sensitivitas mereka yang berbeda terhadap Mana.
"Biar ku jelaskan sedikit padamu tentang tanah kami dan apa yang telah terjadi..."
Seperti halnya ras deemon, ras elf juga terdiri dari beberapa suku. Tiap-tiap suku memiliki tempat tinggalnya masing-masing. Diantaranya adalah Suku Moon Elf atau biasa juga disebut sebagai Dark elf. Mereka tinggal di kedalaman hutan yang gelap dan para dark elf lebih aktif jika di malam hari. Kadang-kadang juga mereka bisa di jumpai di kota saat mereka sedang berbisnis atau sekedar berjalan-jalan. Dengan ciri khusus yaitu kulit mereka yang gelap sesuai dengan sebutan suku mereka.
Berikutnya, para pixie atau peri. Berbeda dari elf-elf yang lainnya. Para pixie ada jenis elf yang tinggal di sekitar pohon Yggdrasil. Biasanya mereka membangun rumah-rumah mereka di dahan Yggdrasil atau bunga-bunga yang tumbuh di sekitar pohon itu. Ukuran mereka sangat kecil, sekitar 30 atau 50 cm. Walau begitu, mereka memiliki kapasitas sihir yang lebih besar dari ketiga suku elf lainnya.
Adapula High Elf dan Elf biasa. Keduanya bisa dibilang sama namun yang menjadi perbedaannya adalah masa hidup dan warna rambut. Jika rentan hidup para elf hanya bisa mencapai ratusan tahun atau seribu tahun paling lamanya. High efl sendiri bisa hidup hingga ribuan tahun lamanya.
"Kau lihat rambut biru ku ini. Ciri High elf paling menonjol adalah rambut emas yang berkilau seperti itu." Asiya menunjuk rambut Alice. "Sekilas waktu itu kukira kau adalah bagian dari suku High elf, tapi saat aku perhatikan ternyata kau adalah seorang manusia. Aku sedikit terpesona loh saat melihat wajah dan rambut indah mu itu." Jelas Asiya yang diakhiri dengan sedikit menggoda Alice sambil ia menopang pipinya di atas meja.
"Lalu, Apa yang terjadi dengan ketatnya pemeriksaan di gerbang tadi?" Tanya Alice.
Asiya kembali melanjutkan dengan bencana yang baru saja terjadi...
Enam bulan yang lalu. Tidak ada seorang yang tahu bagaimana awalnya dan darimana asalnya. Seekor burung yang di selimuti oleh kabut hitam jatuh dengan cepat menghantam pohon Yggdrasil.
Awalnya para elf hanya mengira hal itu adalah kejadian biasa. Namun secara berkala seiring hari berlalu, energi Mana yang dimiliki Yggdrasil mulai terasa melemah. Sebagai pewaris darah kerajaan dan sebagai High elf tertua yang memimpin rasnya. Sang Ratu elf merasa janggal lalu memerintahkan seseorang untuk memeriksa apa yang terjadi pada Yggdrasil.
Seorang pejabat pemerintah yang di perintahkan itu kembali ke istana dengan membawa sebuah kristal hitam kecil. Pejabat itu berkata kalau potongan kristal itu berasal dari salah satu sisi batang Yggdrasil. Ratu terbelalak saat ia merasakan energi Mana yang kontradiktif dari kristal hitam itu.
Tidak hanya menghalangi energi Mana alam yang masuk tapi kristal hitam itu bahkan menyerapnya.
Ratu lalu memerintahkan para legion kerajaan untuk segera memasuki siaga satu. 'Pohon Yggdrasil sedang dalam bahaya'. Perintah pemblokiran disekitar pohon pun diturunkan dan kerajaan menutup diri dari dunia luar. Bahkan itu sedikit sulit bagi para elf yang tinggal di luar benteng untuk masuk akibat pemeriksaan yang ketat. Hilangnya pembimbing di hutan berkabut yang mengelilingi tanah para elf menjadi salah bukti kalau kerajaan mereka sedang mengalami sesuatu yang buruk.
4 bulan telah berlalu, Namun para peneliti, ahli sihir dan para cendekiawan dari tiap suku tidak bisa menemukan penyebab juga penyembuh untuk menghilangkan kristal hitam itu. Bahkan parahnya, kristal hitam itu terus menyebar ke setiap sisi pohon. Yggdrasil mulai semakin melemah begitu juga para elf yang hidup di dalam kerajaan. Elf yang hidup berdampingan dengan kekuatan alam menjadi kehilangan daya sihir mereka secara perlahan-lahan.
Sang Ratu tidak bisa tidur nyenyak. Dirinya tenggelam dalam kekhawatiran.
Saat pagi tiba dengan stres yang menumpuk dalam kepalanya, seorang prajurit datang membawa kabar buruk. Prajurit itu menjelaskan kalau kristal hitam juga mulai muncul di luar gerbang di beberapa wilayah
"Apakah kau tahu kenapa saat melewati hutan maple kita tidak melihat seekor binatang pun?" Asiya bertanya dengan raut wajah sedih. "Mereka telah tercemar oleh kristal hitam itu. Para binatang yang biasa kami buru kalau bukan mati karena kehabisan daya hidup, mereka akan bermutasi menjadi monster."
Alice meletakkan punggung telunjuknya di bawah dagunya seraya berpikir. Ia ingat kalau penampilan cockatrice itu memang aneh dan kalau ia ingat-ingat lagi, seekor wyvern yang pernah menyerangnya saat di benua Arkham juga memiliki pemandangan yang sama. "Apakah keduanya memiliki keterkaitan?" Pikir Alice curiga.
Mata yang penuh nafsu membunuh dan rasa lapar. Kedua monster itu bahkan tidak peduli dengan tekanan kuat dari Echidna dan tetap saja maju untuk menyerang mereka.
Tampaknya banyak rahasia yang tersembunyi dare kejadian ini.