
Tiga hari kemudian setelah Echidna sampai di kediaman Strongfort. Alice dan keluarganya telah mengobati rasa rindu mereka. Walaupun hanya menggunakan perangkat sihir dan tidak bisa merasakan kehangatan untuk saling memeluk. Setidaknya itu sudah cukup untuk meredam rasa rindu setelah setahun lebih mereka tidak bersama.
Daeron telah memperbaiki alat teleportasi mereka. Berkat bantuannya lah Alice pun bisa kembali ke benua Regnum.
Alat teleportasi yang rusak itu membawa Alice dan Elysia ke negeri terdekat yang sudah para elf tandai sebelumnya, yang mana mereka gunakan sebagai tempat untuk berdagang dengan manusia.
Benteng kecil yang menjadi tempat tukar menukar mereka itu tidak lebih hanyalah sebuah gudang atau tempat pertemuan saja. Karena tidak adanya sistem keamanan atau persenjataan yang memadai, para bandit pun akhirnya mengambil alih tempat itu dan memaksa para elf untuk mundur.
Helian dan Daeron menundukkan kepala mereka sambil memohon agar Alice menyelamatkan saudara-saudarinya yang tidak sempat melarikan diri dari sergapan para bandit.
Sudah hampir setahun lamanya mereka tidak kembali. Helian sangat khawatir tentang nasib rakyatnya.
"Dengan paras yang rupawan dan mempesona, aku ragu kalau mereka akan baik-baik saja." Benak Alice.
Sistem perbudakan masih merajalela di Aria, besar dugaan Alice kalau mereka telah menjadi budak seseorang.
Berdasarkan penjelasan Helian. Para bandit itu menyergap mereka di tengah malam setelah proses transaksi mereka usai. Para elf lengah dan mengira kalau tidak akan ada yang terjadi. Ketika mereka sedang beristirahat, bandit pun mulai menyerbu benteng itu. Delapan atau sembilan dari mereka tidak memiliki kesempatan melarikan diri dan mereka pun berakhir ditangkap.
Sebelum hari semakin terik, Alice bersama Elysia telah berpindah ke hutan terdekat dari benteng tersebut.
"Sepertinya kedatangan kita sudah disambut disini." Kata Alice melirik ke segala arah.
Pilar cahaya dan lingkaran sihir teleportasi itu cukup menarik perhatian. Tidak heran kalau orang-orang akan datang dan mengepung mereka.
Alice menduga kalau mereka adalah para bandit yang sudah lama menduduki benteng itu. Mereka ternyata masih mengawasi tempat dimana para elf tiba.
Alice menambahkan. "Ku serahkan mereka padamu. Mereka hanyalah bandit biasa. Dengan kekuatan mu sekarang, kurasa kau bisa mengalahkan mereka, tapi tetaplah waspada dan jangan lengah."
Elysia mengeluarkan sabitnya. Ia memutar-mutar sabitnya. "Baik bu. Pokoknya ibu tenang saja." Sahutnya.
"Kalau mereka melawan, kau tidak perlu menahan dirimu. Tapi jangan membunuh mereka kalau mereka menyerah. Kita butuh satu atau dua orang yang berguna untuk mendapatkan informasi mengenai keberadaan para elf yang mereka tangkap."
Elysia mengangguk, ia mengangkat jempolnya pada Alice lalu berjalan ke depan.
Elysia mengambil ancang-ancang dan melemparkan sabitnya pada sebatang pohon yang jauh di hadapannya.
Sabit itu berputar, terbang memotong dahan dan ranting lalu merobek batang pohon itu dengan mudah.
Bandit yang bersembunyi di balik pohon itu terkejut. Dia berkeringat dingin karena ujung tajam sabit itu hampir saja memisahkan kepalanya dari badannya.
Dia terjatuh di tanah lalu bernafas lega.
Elysia mengulurkan tangannya ke samping dan sabit itu kembali ke genggamannya melalui celah dimensi.
"Sampai kapan kalian mau sembunyi terus. Bukankah lebih baik kalau kita menyelesaikan ini lebih cepat. Atau.... bagaimana kalau kalian pergi dari tempat ini saja. Itu lebih baik Daripada harus kehilangan nyawa, bukan?" Jelasnya dengan suara sedikit lantang dan nada provokasi.
Elysia hanya tidak ingin bertele-tele. Ia ingin segera mencoba kemampuannya.
Para bandit yang bersembunyi mulai menunjukkan diri mereka satu persatu.
Tiga pemanah di tiga titik yang berbeda. Tiga pengguna pedang yang membawa perisai dan lima lainnya menggunakan sepasang cakram.
Elysia dengan mudah mengetahui posisi mereka.
Semua laki-laki itu menatapnya dengan ekspresi penuh nafsu layaknya monyet yang kepanasan. Spontan bulu kuduknya berdiri, Elysia melihat mereka dengan jijik.
"Aku dengar kalau kekaisaran Arakhmeia handal dalam penggunaan senjata ketimbang sihir. Selain itu, mereka juga memiliki teknologi aneh yang sedang mereka kembangkan untuk membuat boneka mesin. Aku penasaran seperti apa boneka-boneka mereka itu." Pikir Alice melihat dua buah cakram yang para bandit itu pegang.
Arakhmeia adalah negeri yang jauh dari Kerajaan Solus. Mereka memiliki kekuatan tempur yang kuat dan wilayah yang besar, cukup besar untuk membuat sebuah kekaisaran dengan beberapa kerajaan di bawah pimpinan mereka.
Walaupun kebanyakan wilayah Arakhmeia dipenuhi pasir, debu dan pegunungan batu. Namun mereka memiliki kekayaan alam tersendiri yang cukup melimpah. Salah satunya adalah jumlah batuan mineral yang banyak.
Ibarat tak ada air, batu dan pasir pun tetap bisa menghidupi mereka.
"Masih ada beberapa dari mereka yang bersembunyi. Perhatikan musuhmu baik-baik. Lawanmu adalah manusia, mereka cerdik dan licik. Berbeda dengan para monster yang selama ini kau lawan, mereka hanya bergerak berdasarkan insting mereka." Seru Alice.
Alice memperingati Elysia dari belakang agar ia tidak memandang sebelah mata lawannya.
Sengaja ia tidak turun tangan karena ia ingin melihat perkembangan putrinya. Selama ini mereka hanya berlatih dengan hewan buas atau monster. Alice ingin melihat bagaimana kemampuan Elysia ketika melawan makhluk yang memiliki kecerdasan sama sepertinya.
Elysia dengan lihai mengelak ke kiri dan ke kanan sambil bergerak maju.
Ia mengayunkan sabitnya ke depan saat kedua pengguna pedang itu telah masuk dalam jarak serangannya. Karena mereka mengira lawan mereka hanyalah gadis muda, ketiga pengguna pedang itu meremehkan Elysia.
Elysia tidak menyangka kalau mereka akan terlempar begitu saja. Tadinya ia mengira kalau tameng yang mereka bawa bisa menahan serangannya, tapi para bandit itu ternyata sangatlah lemah.
Pertarungan itu berakhir sangat singkat bahkan tak cukup untuk membuatnya berkeringat.
Pengguna cakram dan pemanah itu juga sama lemahnya.
Elysia melemparkan sabitnya yang berputar ke arah mereka. Saat mereka kehilangan penjagaan mereka, Elysia lalu menembakkan peluru Mana dan berhasil menjatuhkan para pemanah.
Taktik yang sama ia lakukan untuk melawan kelima pengguna cakram itu. Tapi karena mereka telah melihat serangan Elysia sebelumnya, mereka bisa mengantisipasi peluru Mana yang datang ke arah mereka.
Kelima orang itu pun bergerak maju. Mereka menyerang dengan melemparkan cakram. Sambil menjaga jarak aman, mereka juga bergantian melakukan serangkaian serangan jarak dekat.
Mereka tidak mengira kalau Elysia masih memiliki kartu lain dalam sakunya.
Elysia tiba-tiba melancarkan tebasan api.
"Pengguna Aura?!" Ucap salah seorang di antara mereka dengan wajah terkejut.
"Hati-hati, dia adalah seorang pengguna Aura." Seru yang lainnya.
Sayangnya peringatan itu datang terlambat. Elysia Meledakkan tanah di depan kaki mereka dengan peluru puluhan Mana guna untuk menghalangi pandangan mereka.
Mereka terlambat bereaksi. Ketika mereka menyadari bahaya yang datang, Elysia telah lebih dulu menyerang mereka.
Elysia sedikit kecewa. Ia menghela nafasnya.
"Pertarungan mu belum selesai. Jangan menurunkan senjatamu." Seru Alice ketika merasakan ada sesuatu yang bergerak dari dalam tanah.
Elysia menyeringai. Apa yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba.
Sebuah boneka logam berbentuk ular besar dengan dua kepala muncul dan ingin menerkamnya.
Elysia mengayunkan sabitnya pada kepala ular itu, namun sabitnya tidak mampu membelah mereka melainkan hanya mengikisnya saja.
"Kerasnya..., kira-kira tubuh boneka ular itu terbuat dari apa ya..." Gumam Elysia tetap santai walaupun senjatanya tidak bisa menembus tubuh boneka ular itu.
Dengan ekspresi antusias, Elysia mengangkat sabitnya lalu menerjang boneka ular itu. Ia tampak menikmati pertarungannya.
Elysia terus menebasnya berkali-kali, tapi tetap saja sabitnya hanya bisa meninggalkan goresan pada tubuh boneka ular itu.
Alice mengamati pertarungan Elysia dari samping. Dengan ketajaman matanya, ia mempelajari struktur tubuh dan pola energi yang ada dalam boneka itu.
"Energi Mana yang terkandung dalam boneka ular ini tidak begitu banyak. Mereka bergerak sesuai pola serangan dan bertahan mereka. Saat mereka menyerang, suplai energi yang besar tiba-tiba memenuhi bagian tubuh mereka yang melakukan serangan dan ketika bertahan, bagian tubuh mereka tiba-tiba saja tertutup oleh kepadatan energi itu, sehingga membuat mereka menjadi sangat keras. Itu cukup sulit kalau kau tidak tahu celah dalam pola perubahan energinya." Pikirnya.
Alice lalu memberikan instruksi pada Elysia. "Lapisi sabitmu dengan Mana dan tebas dia sekuat mungkin."
Elysia mengangguk. Sangat sederhana dan mudah dilakukan. "Baik bu." Kemudian ia memadatkan Mana pada bilah sabitnya dan dengan sebuah ayunan besar, Elysia berhasil memotong kedua kepala boneka ular itu.
Dari kejauhan, si pengguna boneka berdecak kesal. Ia pun mencoba melarikan diri namun Alice segera melumpuhkan kakinya dengan pedang Qi.
Pengguna boneka itu terjatuh, ia berbalik dan berteriak kesakitan saat melihat salah satu kakinya telah putus.
Alice melirik ke langit. Sekali lagi ia menembakkan pedang Qi ke atas.
Sebuah boneka burung terjatuh dari langit. Ternyata boneka itu sedang mengawasi mereka dan boneka itu jugalah yang telah memberitahukan kedatangan mereka.
Alice tersenyum sinis. Dengan mata menyipit dan tatapan tajam. Ia berbalik dan menatap ke arah benteng itu.
Seorang pria yang berdiri di atas menara benteng itu menggigil. Tiba-tiba saja hawa dingin serasa mencengkram belakang lehernya. Tanpa sebab yang pasti, buluk kuduknya berdiri karena perasaan ngeri.
"A-apa itu tadi? Apa dia melihat ke arah ku? Mustahil! Ti-tidak mungkin dia menyadari ku, bukan?!"
Seketika wajahnya memucat. Pria itu segera memanggil anak buahnya untuk bersiap siaga.