
"Ternyata benar, sistem kerja mereka tidak jauh berbeda dengan serikat pemburu yang ada di benua Arkham." Batinnya. Alice lalu melirik kartu kosong yang ada di atas meja. "Kartu ini terlihat biasa saja. Apakah kartu ini adalah benda yang sama dengan yang dimiliki oleh para petualang?"
Setelah wanita resepsionis itu selesai menjelaskan semuanya, Alice paham. Ia bisa menyimpulkan beberapa poin penting yang setidaknya harus ia ingat.
Dimulai dari sistem peringkat yang tak jauh berbeda dengan sistem peringkat pemburu di Benua Arkham. Hanya saja, para petualang menggunakan abjad untuk menilai peringkat mereka. Dari yang paling rendah adalah peringkat G ke yang paling tinggi yaitu A. Sedangkan, dalam kasus yang spesial. Serikat petualang juga menobatkan atau memberikan peringkat S khusus bagi mereka yang memang memiliki kemampuan yang luar biasa melebihi siapapun.
Berbeda den peringkat lainnya. Peringkat S diberikan secara spesial, juga berdasarkan sepengetahuan atau persetujuan dari keluarga kerajaan atau bangsawan kelas atas.
Misalnya saja, Master dari menara penyihir yang ada di kerajaan Solis, Gandalf. Walaupun dia tidak terikat oleh serikat, namun dia adalah penyihir terkuat yang berada di level 7. Bahkan saat ini tersebar kabar kalau dia baru saja naik ke level 8. Kalau itu benar, maka dia akan menjadi satu-satunya penyihir yang berdiri di atas puncak.
"Aku penasaran bagaimana dengan kekuatan mereka yang berada di level 8. Paling-paling mereka yang ku lawan kemarin itu setidaknya berada di level 6 atau 7. Orang-orang berkata kalau perbedaan level 7 dan 8 itu bagai bumi dan langit. Bukankah itu sama dengan perbedaan tingkat kultivator yang ada di ranah Immortal Realm." Kata Alice dalam benaknya.
Selain itu, wanita itu juga menjelaskan tentang Quest atau permintaan yang terpajang di papan permintaan. Mereka terbagi menjadi beberapa peringkat sesuai dengan tingkat kesulitan mereka. Salah satunya adalah membunuh naga yang mana menduduki peringkat S dan mengkhususkan untuk membawa kelompok. Untuk kategori ringan, ada memetik herbal, menolong warga atau berburu monster kecil.
"Mungkin aku akan melihat-lihat di papan setelah ini. Kami harus segera menaikkan peringkat kami secepat mungkin."
Karena berdasarkan apa yang wanita itu katakan. Semakin tinggi peringkat seorang petualang, maka ia akan mendapatkan banyak keuntungan. Entah itu mereka akan dipermudah ketika keluar masuk kota seperti kelompok Wind Gale atau mereka bisa mendapatkan akses khusus untuk memasuki dan menjelajahi dungeon atau wilayah terlarang lainnya.
Tapi...karena pekerjaan mereka yang tidak memiliki kontrak perjanjian tentang kerugian. Maka baik itu kehilangan nyawa, barang dan sebagainya, semua itu ditanggung oleh pribadi masing-masing. Pihak serikat tidak memiliki kewajiban untuk membayar ganti rugi pada para petualang selain dari biaya pengobatan.
Jujur saja. Alice sendiri merasa kalau sistem operasional mereka hampir terdengar seperti apa yang perusahaan gelap miliki. Namun karena tidak adanya tuntutan yang mewajibkan seorang petualang harus mengambil pekerjaan sekali seminggu atau sebulan, Alice pikir itu wajar-wajar saja. Kendati dengan risiko yang besar seperti itu, orang-orang tetap memilih menjadi petualang dan menikmati pekerjaan mereka sebagai petualang. Hal itu juga kemungkinan karena imbalan yang mereka dapatkan besar tergantung dari Quest yang mereka ambil.
"Jadi, apakah kalian sudah mengerti? Apa kalian yakin masih ingin mendaftar sebagai petualang?"
Alice mengangguk diikuti dengan Elysia.
Wanita itu menatap keduanya dengan ekspresi lemas. Untuk ketiga kalinya ia menghela nafas panjangnya.
"Baiklah. Kalian boleh mengisi formulir ini, lalu meneteskan darah kalian ke atas kartu itu." Ujarnya sambil ia memberikan selembar kertas lalu menunjuk ke gambar lingkaran kecil yang ada di sudut bawah kartu kosong itu.
Alice dan Elysia mengikuti arahannya. Mereka mengisi formulir pendaftaran itu sesuai dengan apa yang tercantum di dalamnya.
"Apakah kami harus menulis tentang profesi keahlian kami?" Tanya Alice.
Wanita itu mengangguk. "Ya. Tentu saja. Itu akan mempermudah bagi kami untuk mempromosikan kalian, juga akan mempermudah orang lain mengetahui keunggulan kalian. Jadi kelak kalian tidak akan kesulitan saat diundang untuk menjalani Quest secara berkelompok."
Dengan suara 'O' Elysia mengangguk-angguk mengerti.
Mereka kembali lanjut menulis hingga selesai dan menyerahkannya pada wanita itu.
Saat wanita itu memberikan arahan pada mereka untuk mengikutinya ke gedung belakang, seorang pria besar dengan wajah bengis menghalau jalan mereka.
Spontan Elysia mengerutkan alisnya. "Ish, bau alkohol dari orang ini sangat tajam." Cibirnya pelan sambil ia menutup hidungnya.
Pria besar itu menyeringai. Dia melirik keduanya dengan pandangan penuh nafsu yang memanas.
"Gardan, apa yang anda lakukan? Tolong segera menyingkir."
Dari suara dan raut kusut wajahnya, terdengar kalau wanita resepsionis itu sepertinya sedikit tidak suka pada pria bernama Gardan itu.
Gardan keras kepala dan tidak menghiraukan perkataan wanita resepsionis. Ia cegukan sekali lalu terkekeh sambil melihat Alice dan Elysia. Bau mulutnya yang begitu kental dengan alkohol sungguh menyengat bagi para elf.
Elysia menarik-narik ujung baju ibunya. Ia ingin sekali menendang pria itu menjauh dari hadapannya.
Alice tersenyum tipis. Dengan menggunakan telepati, ia menyuruh Elysia untuk sedikit bersabar. Mereka tidak bisa bertindak gegabah dihari pertama mereka bukan?
Saat pria itu dengan tidak sopan melirik dua wanita muda yang ada di meja resepsionis, para petualang lainnya hanya melihat mereka. Ada yang mendengus dingin tidak peduli, ada yang kasihan, ada juga yang penasaran tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.
Bagaimanakah kedua wanita muda itu itu akan menyelesaikan masalah ini?
Urat nadi pada pelipis wanita resepsionis itu semakin menegang. Namun Gardan adalah seorang petualang peringkat C sedangkan dia hanyalah seorang wanita biasa.
Dia berdecak kesal lalu menggigit jempolnya. Wanita resepsionis berpikir "Kepala serikat sedang tidak ada. Kalau aku pergi ke belakang dan memanggil pria itu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada keduanya." Ia berbalik melirik mereka dengan perasaan cemas.
Alice hanya diam menatap lurus ke arahnya. Tampak kalau dia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Gardan melangkah semakin dekat. "Hehe~ Cantik, kalian sedang apa disini?" Dia cegukan sekali lagi lalu ia lanjut berkata dengan matanya yang sayup. "Bagaimana kalau kalian ikut dengan ku? Aku akan membayar kalian dengan uang yang banyak. Daripada susah-susah menjadi petualang, lebih baik kalian jadi wanita ku saja." Ujarny
Pria itu maju selangkah lagi. Bahkan saat ia berjalan, kakinya terlihat tidak seimbang dan sempoyongan. Dia bisa saja terjatuh kapan saja.
"Orang ini! Bagaimana bisa dia mabuk berat seperti itu saat hari masih terang." Gerutu Elysia dalam benaknya. "Sungguh menjijikkan!"
Gardan mengulurkan tangannya dengan pelan dan mencoba meraih wajah Elysia. Kulit cerah, rambut perak dan wajah mungil manis sangat memikatnya bagai sebuah nektar bunga.
"Tuan. Sebaiknya anda tidak bertindak lebih jauh." Kata Alice menghentikan tangan Gardan.
Walaupun tampak bibirnya tersenyum, namun pandangan yang dingin dari kedua matanya terlihat begitu mengancam. Resepsionis wanita itu menjadi tambah panik. Sementara Gardan yang mabuk berat tidak peduli.
"Haaah!" Ia jengkel dan menoleh melihat Alice. Saat matanya melihat baik-baik kecantikan Alice. Hatinya lekas kepincut lalu ia berkata dengan nada menggoda. "Kau lumayan juga, tapi tunggu sebentar setelah aku mencoba wanita yang satu ini." Gardan pun bersikukuh mendorong tangannya.
Ia berusaha sekuat mungkin, namun tangan Alice tetap tidak terdorong menjauh dan masih menahan lengannya.
"Wanita Jala**! Apa yang kau lakukan hah?!" Gardan yang dalam kondisi mabuk berat akhirnya tak kuasa membendung amarahnya. Ia menarik lengannya kembali lalu menunjuk tepat ke wajah Alice. "Breng***! Apakah kau tidak tahu siapa aku? Heh! Dengan tubuh seperti itu kau ingin mendaftar menjadi petualang? Akan lebih baik kalau kalian ikut denganku dan menjadi wanita ku."
Alice menutup matanya untuk sesaat. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan.
Entah sudah berapa banyak orang bodoh yang berkata seperti itu padanya.
Elysia mengeratkan genggamannya. Ia juga ikut naik pitam melihat tingkah pria itu.
"Berani-beraninya kau mengatakan hal seperti pada ibuku!" Geram batinnya.
Alice melirik ke kedua sisinya. Ia mengerti kalau situasinya semakin keruh dan akan semakin merepotkan jika dibiarkan.
Gardan kembali berkata dengan nada yang lebih tinggi. "Jawab aku sialan!" Ia menarik tangannya ke luar dan mengayunkannya ke arah Alice. Gardan yang makin kesal menjadi tidak tahan karena pandangan wanita muda yang terlihat merendahkannya itu. Dia berniat untuk memberinya sedikit pelajaran. Tapi dalam sekilas ia telah tergeletak di atas tanah.
"Eh? A-Apa yang terjadi?" Gardan bingung kenapa ia bisa terjatuh di tanah. "Tadi itu...Aakhh!" Gardan merintih kesakitan.
Gardan berusaha mengingat-ingat kejadian singkat barusan. Ketika tangannya berayun dan ingin menampar wanita itu, seketika ia melihat kalau dunia berputar dengan cepat. Sangking cepatnya sampai Gardan tidak menyadari kalau dirinya sebenarnya baru saja di banting ke tanah oleh Alice.
Alice berbalik melihat wanita resepsionis itu. Dengan lembut ia berkata. "Nah... sepertinya masalah sudah selesai bukan? Bagaimana kalau kita ke tempat tesnya sekarang?"
Bengong. Wanita itu menatap Alice dengan tatapan kosong. Ia baru sadar setelah mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali. "Eh! Ah, i-iya. Ayo ikuti saya."
Ketiganya pun berlalu meninggalkan Gardan yang tergeletak di tanah dan para penonton yang tercengang. Mereka tidak menyangka kalau wanita muda dengan tubuh kecil seperti itu bisa membanting Gardan dengan mudah hanya dengan satu tangan saja.
Suasana serikat mulai riuh karena para petualang mulai berdiskusi. Mereka puu menjadi penasaran akan hasil tes dari wanita muda itu.
"Kalau tidak salah.... penguji tes hari ini adalah pria itu kan?"
"Siapa?"
"Pria itu loh yang dikenal sebagai perisai terkuat. Meskipun peringkatnya masih B tapi kemampuan pertahanannya bahkan sulit di tembus sekalipun itu petualang peringkat A."
"Ahh...aku jadi penasaran dengan hasil mereka."
"Hehe... wanita muda itu memiliki kemampuan yang cukup. Kira-kira... apakah dia bisa lulus ya?"
Sementara itu. Alice dan Elysia telah sampai di gedung tempat tes pendaftaran diadakan. Disana mereka melihat figur yang tidak asing.
Saat pria itu berbalik dan melihat dua wanita muda yang berjalan ke arahnya. Ia mengangkat tangannya dan tersenyum menyapa mereka. "Ohh...Nona Alice dan putrinya ternyata. Aku baru saja mendapat pemberitahuan kalau ada dua pendatang baru yang akan tes saat ini." Ujarnya senang sambil ia mengangkat kartunya.
"Tidak hanya bisa melacak informasi pemilik tapi mereka bahkan memiliki sistem komunikasi. Aku penasaran saat dia menjelaskannya padaku tadi. Sepertinya fungsi ini memang hanya dimiliki bagi petualang peringkat B ke atas." Gumam Alice dalam kepalanya sambil melirik kartu yang ada di tangan Palu.
"Oh, paman Palu ternyata." Sapa Elysia.
Palu menghampiri mereka lalu bertanya. "Jangan bilang kalau dua pendatang baru itu sebenarnya adalah kalian?"
Alice sedikit memiringkan kepalanya sambil tersenyum lembut.
Elysia dengan riang menjawab. "Fufu, tentu saja itu kami. Apakah kami akan melawan mu paman?"
Resepsionis wanita itu terkejut kehilangan kata-kata. Mereka bertiga terlihat sangat akrab. Apakah mereka saling kenal? Eh?
"Aduh...ini akan sedikit repot." Palu menggaruk-garuk kepalanya. Ia melirik pada resepsionis wanita yang berdiri disampingnya.
"I-itu benar. Mereka adalah dua pendatang yang baru saja mendaftar sebagai petualang."
Palu menunduk lalu menghela nafas beratnya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap keduanya dengan eskpresi yakin. "Baiklah, kalau memang begitu. Ini sudah tugasku sebagai penguji." Ujarnya. Palu lalu mengambil kedua sarung tangan tempurnya yang ada di belakangnya. Ia memakainya lalu membentur-benturkan kedua tinjunya.
"Lagipula aku sedikit penasaran dengan kekuatan kalian. Bagaimana kalau aku sedikit mencobanya." Ucapnya tampak antusias.