
Helian melewati gang gang kecil, sebisa mungkin berusaha menghindari pandangan orang-orang. Ia berlari kecil melewati lika liku gang itu dan akhirnya kedai itu sudah mulai terlihat berada di seberang jalan.
"Segelas anggur mungkin bisa menenangkan kepalaku." Gumamnya.
"Eit, kau tampak mencurigakan." Tiba-tiba saja muncul tiga pria elf yang mencegatnya.
Helian menunduk sambil menahan tudungnya. Ia menatap mereka dari gelapnya bayangan tudung itu.
"Aku tahu kalian sejak tadi sudah mengikuti ku. Aku tak mengira kalau kalian membutuhkan sesuatu dariku. "
Salah seorang dari mereka menyeringai dengan lebar sambil menggosok-gosok kedua telapak tangannya dan melangkah maju. "Kami hanya mencurigai mu saja. Angkat tudung mu dan biarkan kami melihat wajahmu. sebentar." Ucapnya.
"Itu benar. Kerajaan elf saat ini sedang tidak begitu baik. Sebagai warga yang peduli. Kami hanya mencoba untuk memantau keadaan sekitar." Tambah pria lainnya sambil mengelap bibirnya dengan lidahnya.
Sementara itu pria ketiga mengangguk dengan antusias. Tangannya yang gemetar itu tampak seolah ia sudah tidak sabar melihat wajah dari sosok itu. Dia tampak begitu gemuk sampai orang-orang mungkin akan mengira kalau dia adalah seekor binatang ternak.
Wangi semerbak yang mampu mengikat lebah. Para pria itu tidak buta untuk mengenali orang bertudung itu kalau dia sebenarnya adalah seorang wanita.
Helian mundur sedikit. "Haruskah aku menggunakan kekuatan ku? Tapi aku tidak ingin seseorang tahu. Apalagi mereka bertiga adalah putra bangsawan high elf." Helian mengepalkan tangannya dengan bimbang.
Kekuatan dari seseorang yang memiliki kehendak dari pohon Yggdrasil memiliki ciri khas yang berbeda.
"Tidak perlu basa basi lagi. Langsung saja. Aku sudah tidak sabar." Ucap pria gemuk itu.
Kedua pria lainnya saling bertatap kemudian mengangguk. Mereka bergerak ke sisi Helian untuk menghalangi pergerakannya.
Pria gemuk itu berjalan mendekat perlahan sambil terkekeh dengan wajah penuh nafsu. Helian menoleh ke kiri dan ke kanan. "Sepertinya tidak ada cara lain. Aku akan mencoba agar mereka tidak melihat apapun yang terjadi."
Saat Helian sudah hampir melepaskan sihirnya, seseorang datang dan menghentikan tangan pria gemuk itu.
"Tiga lawan satu. Apakah para high elf tidak memiliki kebanggaan pada diri mereka sampai melakukan pengeroyokan seperti ini?"
Mereka semua seketika terdiam, pelanga-pelongo menatap gadis muda yang tiba-tiba muncul entah darimana.
"K-Kau! Darimana datangnya wanita kurang ajar ini?!" Pria gemuk itu menunjuk Alice sambil berteriak.
Suaranya tidak begitu enak untuk didengar karena nafasnya yang terengah-engah. Alice sampai melihatnya dengan tatapan jijik. "Bukankah itu tidak sopan untuk mengarahkan telunjuk mu pada orang lain." Kemudian ia meremas tangan pria itu dan mematahkan telunjuknya. "Apakah kau tidak belajar sopan santun. hm?!"
Sepertinya mood Alice belum sepenuhnya membaik karena lendir hitam itu. Apalagi melihat para high elf yang congkak itu berulah di hadapannya.
Lagi-lagi mereka.
Pria gemuk itu menjerit kesakitan menahan pergelangan tangannya."Ja-Jariku..!! Sial! Ja*l*ng sialan!"
Kedua pria elf itu segera menghampiri pria gemuk itu. Mereka lalu memelototi Alice dengan penuh amarah. "Jangan kira kau akan selamat setelah melakukan ini."
"Kami akan membuatmu menyesal." Lanjut pria lainnya.
Alice menatap kedua pria itu dengan tatapan kesal, terutama elf gemuk yang bertingkah seperti bos mereka. Dia melihatnya begitu jijik seperti memandangi seekor hama.
"Habisi dia!" Seru elf gemuk itu.
Kedua pria itu merapal mantra mereka lalu menyerang Alice dengan sihir air dan api. Alice dengan mudah menepisnya membuat mereka terdiam heran.
Pria gemuk itu bangkit berdiri tegak kemudian mengarahkan telapak tangannya pada Alice. [Wahai roh bumi yang perkasa, dengarlah seruan diriku. Da-]
"Mantra yang menarik, tapi terlalu lama." Alice telah berdiri dua kaki di depan matanya sebelum ia menyelesaikan rapalannya.
Sangking terkejutnya pria itu tergagap [Da, da, datang...] Wajahnya memucat.
Kedua pria disampingnya segera bereaksi untuk memukul Alice tapi mereka segera dihempaskan menghantam tembok dengan sebuah tinju dan tendangan.
Pria gemuk itu gemetar ketakutan. Dia baru tahu kalau gadis itu berbahaya. Matanya terbelalak gemetar melihat Alice.
Alice melayangkan tinju pada ulu hatinya. "Gahhaak!" Pria itu jatuh di atas lututnya. Sakit. Kedua sudut matanya basah menahan sakit sambil terus memegang perutnya.
"Pergilah selagi aku berbaik hati." Kata Alice. Pria gemuk itu masih mengerang kesakitan lalu pelan-pelan mengangkat kepalanya.
"Kali ini aku mengampuni kalian. Tapi ingat, jangan pernah menunjukan wajahmu dihadapan ku lagi." Tandasnya dingin membuat pria gemuk itu bergidik.
Dia kehilangan warna kulitnya seperti baru saja melihat monster mengerikan. Tanpa memikirkan dua kawannya yang pingsan dia berlari pergi begitu saja.
Alice menghela nafasnya. "Baru kali ini aku merasa seperti itu tadi." Dia memeluk kedua lengannya saat mengingat perasaan geli yang ia rasakan tadi. "Aish, sejauh ini ku pikir semua elf itu rupawan ternyata ada juga yang seperti dia." Alice memegang keningnya sambil menggelengkan kepalanya. Selama ini dia tidak pernah bertingkah seperti itu, siapapun yang ia temui.
Mungkin saja itu masih ada hubungannya dengan kebiasaannya sewaktu masih menjadi Alice yang hedonis dan penyuka pria tampan.
"Alice?! Kau...Alice kan?" Suara wanita terdengar memanggilnya dari belakang.
Alice berbalik.
Terdengar familier. Alice bersenandung mencoba mengingat-ingat pemilik suara itu.
Orang yang mengenakan jubah bertudung itu lalu menurunkan tudungnya.
"Helian rupanya." Ucapnya sambil menepuk kedua tangannya.
Helian tersenyum. "Syukurlah kau masih mengingat ku."
"Apa yang sedang kau lakukan di tempat ini? Tunggu, apa jangan-jangan kau kabur lagi dari istana?"
"Kabur? Tidak, aku hanya keluar untuk jalan-jalan sebentar saja."
Alice menengok ke sekitar mereka dan tidak menemukan siapapun selain mereka berdua di tempat itu. "Tanpa pengawal? Hee~~" Alice menatapnya curiga sambil tersenyum sinis.
Tatapan Alice membuat Helian kesulitan untuk mengelak apalagi dengan senyum sinis mengejeknya itu. "Sudahlah, jangan pikirkan itu. Kau benar, aku kabur. Lagipula Aku keluar hanya ingin menenangkan pikiran ku." Jelas Helian.
Alice menutup sedikit mulutnya dengan satu telapak tangannya. "Fufu. Lalu, apa yang ingin kau lakukan dengan berada di tempat seperti ini?"
Benar-benar sial. Helian merasa dia baru saja diejek dengan tawa pelan itu. "Ugh...aku seorang ratu dan baru saja ingin dilecehkan oleh rakyat ku sendiri. Memalukan." Benaknya.
Helian melihat Alice dengan tatapan malas. Gadis di depannya itu terlihat sangat menikmati kesialannya.
"Aku ingin ke kedai itu." ucapnya sambil menunjuk sebuah bar malam yang ada di seberang jalan. "Karena kau terlanjur disini, bagaimana kalau temani aku minum?"
Alice menyilangkan kedua tangannya di hadapannya. "Aku menolak." Balasnya segera.
Helian heran dengan mulut terbuka. Dia sedikit cemberut mendengar penolakan itu.
"Sekalipun aku sudah melewati usia debutku tapi aku masih belum sah menjadi orang dewasa." Tambah Alice.
"Bukannya aku tak ingin minum, ini hanya alasan saja. Sekarang...bukan waktu yang pas." Ucap Alice dalam batinnya.
Helian mengernyitkan kedua alisnya lalu bertanya. "Memangnya berapa usia mu saat ini?"
"16" Balas singkat Alice membuat Helian ragu. Ekspresi tidak percaya dengan jelas terpampang di wajahnya.
"16? Kau?"
Alice mengangguk.
Helian tertawa bodoh. "Apakah kau pikir aku akan percaya itu? Baiklah. Kalau memang kau tidak ingin menemaniku minum." Helian mengibaskan lengannya, ia berbalik untuk meninggalkan Alice.
Alice kemudian menahan pundak Helian. "Siapa bilang aku tidak mau, aku akan memesan jus."
"....Sungguh? Jadi kau akan tetap menemaniku kan?"
"Tentu. Tapi kau yang bayar ya." Alice tersenyum lebar memperlihatkan sedikit gigi depannya.
Helian memutar kedua bola matanya dengan malas. "Iya, iya. Terserah kau saja."
Keduanya bercerita terdengar sangat akrab satu sama lain. Bak teman dekat, dua wanita dari ras yang berbeda berjalan bersama menuju kedai yang ada di seberang jalan.