
Untuk yang kedua kalinya Alice kembali menyelami lautan kesadaran jiwa milik Elysia dan lebih dalam lagi.
Pemandangan yang masih sama, tidak berubah. Tempat yang gelap gulita yang penuh kesuraman.
Alice melirik ke segala arah dan melihat sosok Elysia yang sedang tertidur sambil menekuk punggungnya dan melingkupi lututnya dengan kedua lengannya.
Dalam bola transparan itu ia tampak menutup dirinya jauh dari segala apa yang bisa menyakitinya. Dia pasti sudah tertidur sangat lama di dalam sini. Begitulah pikir Alice.
Bulu kuduk Alice tiba-tiba saja berdiri saat ia ingin menyentuh bola yang mengurung Elysia.
"Aku tidak menyangka kau bahkan bisa masuk hingga ke dalam sini." Sosok bayangan hitam misterius berdiri di belakangnya.
"Hoooh... apakah itu adalah wujud mu yang sesungguhnya?" Tanya Alice dengan dingin tanpa menoleh sedikitpun.
Alice hanya ingin memandangi wajah gadis elf itu untuk lebih lama lagi. Jika Erebos ingin berbasa-basi, dia tidak memiliki waktu untuk meladeninya.
"Bukan. Kalian makhluk fana tidak pantas untuk melihat wujud asli ku yang merupakan seorang Dewa." Balas Erebos dengan nada angkuh.
Sikap congkaknya dan nada bicaranya itu, Alice tersenyum tipis karena ia sudah tahu kalau sosok yang ada di belakangnya itu adalah Erebos yang ia cari-cari selama ini.
"Manusia... Apa yang membuat mu begitu sombong di hadapan Dewa ini? Hanya karena kau memiliki sedikit kemampuan, apakah kau berpikir bahwa dirimu sudah pantas untuk berdiri sejajar dengan Dewa ini?"
Alice memutar bola matanya dengan malas diiringi sebuah ******* nafasnya. Kalimatnya itu... adalah sesuatu yang klise. Alice pernah, bahkan ia sudah seringkali mendengar para immortal di kehidupan sebelumnya berkata seperti itu.
"Walaupun pada akhirnya mereka harus tunduk di bawah lutut ku."
"Dewa ini bisa memberimu dua pilihan. Bijaklah berpikir, tidak ada kerugian yang Dewa ini tawarkan untuk mu." Erebos berhenti sejenak. Ia sedikit kesal karena Alice terlihat acuh padanya yang merupakan entitas tertinggi di dunia. Padahal dia sudah mengeluarkan Aura Dewa miliknya untuk menekan jiwa gadis itu, namun Alice terlihat baik-baik saja.
"Pertama, pergi. Tinggalkan tempat ini dan serahkan gadis elf ini padaku. Kedua, ikutlah denganku. Dewa ini menawarkan tempat bagimu sebagai seorang selir. Kau bisa mendapatkan kekuatan, kekuasaan dan kejayaan. Mudah bukan? Berdiri di atas ribuan orang namun tunduk hanya pada satu orang. Kau hanya perlu tersenyum manja dan menghangatkan ran-"
Senyum angkuh dan kalimatnya itu terputus saat Alice menorehkan luka di pipinya dengan pedang Qi.
Alice berbalik. Ia melototi Erebos dan berkata. "Berhentilah bicara, kau membuat ku jijik. Selama aku hidup, aku sudah sering menemui orang seperti mu, tapi baru kali ini aku melihat orang yang sememalukan dirimu. Apakah saat kau naik ke langit, kau meninggalkan urat malu mu?"
Sindiran kasar itu sangat jelas di telinganya. Alice benar-benar menginjak harga diri Erebos.
Tubuh Erebos bergetar karena marah. Alisnya mengernyit dengan lantang dan matanya seakan memerah karena api amarah yang memuncak.
Di hadapan manusia yang ia anggap tidak berarti, untuk kesekian kalinya gadis muda itu menginjak-injak dirinya.
Erebos mengeratkan giginya. Dengan mulut yang kaku ia berkata sambil mengangguk. "Baik! Kalau itu memang mau mu!"
Erebos melepaskan energi jiwa miliknya untuk menekan Alice. Kali ini tekanan yang ia keluarkan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tapi siapa sangka, Alice tersenyum sinis dan bersikap santai di hadapan gelombang energi yang kuat itu.
Erebos berdecak jengkel.
"Aku tidak tahu trik seperti apa yang kau pakai. Tapi percuma saja kau berusaha. Aku ini telah menanamkan sebuah stigma pada dirinya. Simbol dari Dewa ini telah melekat padanya. Dengan kata lain, dia adalah seorang utusan dari Dewa Jahat."
"Stigma?" Alice berbalik melihat tubuh Elysia dengan seksama.
Benar kata Erebos, sebuah simbol prisma dan lingkaran juga beberapa tulisan aneh ada pada punggung tangan Elysia.
"Aku bisa merasakan energi jahat yang kuat terpancar dari simbol itu. Tapi kalau hanya seperti itu, kurasa aku bisa memurnikannya. Kekuatan ku yang sekarang tidak cukup untuk melenyapkanya." Gumam benaknya.
Alice kembali berbalik pada Erebos lalu berkata. "Kau benar. Tapi sayang sekali, dengan simbol lemah seperti itu aku bisa mengatasinya."
Erebos menutup wajahnya dengan telapak tangannya sambil tertawa terbahak-bahak. "Menggelikan. Manusia lemah seperti mu ingin menghapus stigma dari Dewa ini? Kau tahu, ada batasnya untuk bersikap sombong. Sebaiknya kau sadari dirimu terlebih dahulu."
Alice mengangkat kedua pundaknya. "Heh, mau percaya atau tidak itu terserah dirimu. Untuk saat ini, aku hanya perlu mengeluarkan mu dari sini."
Alice mengarahkan salah satu telapak tangannya pada Erebos
[Yang Soul Extinction]
Aliran energi Qi yang menyatu dengan kekuatan jiwanya menghantam tubuh Erebos.
"Kuh! Ughh!" Erebos menguatkan kakinya dan menahan gelombang energi yang menerpanya dengan kedua lengannya. Gelombang itu menyeretnya mundur. "Dia benar-benar ingin melempar ku keluar dari tubuh gadis elf ini. Sial! Tidak bisa! Aku adalah seorang Dewa. Kekuatanku lebih besar darinya."
Erebos pun memaksimalkan energi jiwa miliknya agar ia tidak terhempas keluar dari lautan jiwa Elysia. Energi itu ia dapatkan dari tubuh utamanya yang saat ini berada di suatu tempat yang tersembunyi. "Manusia! Jangan! Main-main! dengan Dewa ini!" Erebos berhasil memecahkan gelombang energi yang menghantamnya.
Ia terkekeh dan memasang senyum mengejek.
Namun Alice sudah memperkirakan hal itu.
Dia adalah seseorang yang pernah dipanggil immortal. Dia memiliki ribuan teknik dalam kepalanya dan tentu saja itu termasuk dengan ratusan teknik jiwa.
Alice merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
[Soul Array Formation]
Lingkaran susunan formasi bercahaya tiba-tiba muncul di bawah kaki Erebos.
Erebos tidak tahu sihir jenis apa yang gadis manusia itu lakukan. Namun dia merasakan bahaya yang datang dari lingkaran aneh di bawah kakinya.
Segera ia ingin kabur. Namun tatkala Alice melepaskan teknik selanjutnya, tubuh Erebos terpaku tepat di tengah lingkaran formasi itu
[Soul Restraint Blade]
Sebuah pedang bercahaya muncul dan masing-masing tertancap di delapan sisi lingkaran itu. Erebos meronta ingin membebaskan dirinya tapi ia benar-benar tidak mampu untuk bergerak.
"Sihir macam apa ini? Aku yang seorang Dewa bahkan tidak bisa melepaskannya." Benaknya. "Apa yang kau lakukan manusia?" Tanya Erebos dengan tegas.
"Sudah ku katakan sebelumnya padamu, aku akan melenyapkan mu dari tempat ini. Sebelumya aku hanya ingin mengusirmu keluar tapi karena kau cukup keras kepala, maka aku memutuskan untuk melenyapkan mu saja."
Alice mendorong kedua jarinya itu ke depan. Dalam waktu yang singkat. Lingkaran itu merapat, berubah menjadi rantai yang melilit tubuh Erebos sepenuhnya.
Tersisa delapan pedang yang masih tertancap ditempat sebelumnya.
Erebos mengeratkan giginya. "Lepaskan aku sekarang juga sebelum kau menyesal nantinya. Kau tidak akan bisa menanggung kemarahan dari Dewa ini!"
Dengan santai dan seolah tidak peduli Alice menjawab "Benarkah? Kalau begitu aku akan menunggumu di lain hari nanti."
Kedua jari Alice semakin rapat begitu pun dengan rantai yang membelit Erebos.
"Ughh! Aaakhh!"
Baru kali ini seorang Dewa sepertinya menjerit kesakitan karena manusia. Erebos telah salah menilai Alice. Sejak awal dia salah mengira dan semua rencananya benar-benar hanyalah sebuah ekspektasi belaka.
"Immortal atau Dewa sekalipun, aku tidak peduli. Selama kau menyakiti orang-orang yang ku sayang, maka tidak peduli sekuat apapun dirimu. Pedang ku tidak akan tumpul hingga aku membunuh mu."
Alice lalu menarik kedua jarinya ke depan dadanya dengan cepat dan begitulah delapan pedang itu terbang menancap ke tubuh Erebos.
"Manusia!" Sosok bayangan hitam itu perlahan terkikis sedikit demi sedikit. "Tunggu saja..... pembalasan ku...." Pecahan jiwa Erebos pun lenyap.
"Fyuh... akhirnya selesai. Sayangnya aku tidak bisa mengorek satu informasi pun darinya. Saat aku menyegelnya dengan Soul Array Formation, diam-diam aku mencari sebuah ingatan dalam jiwanya. Meski hanya sedikit, aku berharap bisa menemukan sesuatu dalam ingatannya. Tapi aku sama sekali tidak mendapatkan apapun. Jiwanya yang tadi hanyalah sebuah pecahan kosong. Apa mungkin dia menyadari tindakan ku dan segera melindungi ingatannya? Hmm..."
Alice lalu menoleh pada Elysia. Kemudian ia menyentuh bola transparan itu dengan telapak tangannya dan menyalurkan energi murni miliknya.
Saat bola itu lenyap, Alice langsung mendekap Elysia. "Akhirnya ibu menemukan mu." Alice tersenyum lega. Rasa cemas dan gelisah yang sebelumnya bersemayam dan menyelimuti hatinya kini sirna.
Dengan menemukan inti dari jiwa dan raga Elysia, dunia ingatan itu pun akan segera menemui ujungnya.
"Stigma ini ya.., Aku akan memurnikannya untuk mu." Ucapnya pelan lalu ia meraih tangan Elysia.
Alice memejamkan matanya, ia menyalurkan energi jiwanya pada Elysia. Sedikit demi sedikit tampak simbol itu mulai pudar dan hawa dari energi hitam yang terpancar darinya juga sudah menghilang.
"Hanya ini yang bisa ibu lakukan untuk mu. Sekarang ibu akan menunggumu di luar sana. Elysia, segera lah bangun dan buka matamu." Alice dengan lembut mengusap pipi Elysia. Ia menyisir rambut di dahi Elysia ke samping dan mengecup keningnya dengan lembut.