
Dalam sebuah menara yang tinggi tak jauh dari Istana Kerajaan. Alicia Lein Strongfort sedang mengisi sorenya dengan menyulam pada sehelai kain.
"Hmm... Sepertinya ini sudah bagus. Nanti akan ku berikan untuk Ibu." Gumamnya ceria sambil membolak-balik kain itu.
Serangkaian bunga berwarna biru dan putih tampak indah menghiasi kain tersebut. Alice tersenyum hangat ketika ia membayangkan wajah ibunya saat menerima sapu tangan yang telah ia sulam sendiri.
"Kalau begitu, sekarang tinggal buat Ayah dan Iris." Lalu ia pun mengambil kain putih selanjutnya untuk disulam. "Oh, aku hampir melupakan Yan Mei, maksudku Marianne."
Begitulah Alice melalui hari-harinya selagi ia ditahan di ketinggian menara dalam satu-satunya ruangan yang ada di sana.
Sebagai kultivator yang telah hidup ratusan tahun. Menyulam merupakan salah satu dari keahliannya selain musik. Yah, semakin lama kau hidup semakin banyak pula pengalaman yang kau dapatkan. Tapi, ketika di kehidupannya yang dulu. Memainkan sebuah alat musik pun sangatlah jarang untuk ia lakukan karena himpitan dari para ahli bela diri yang berusaha untuk membunuhnya.
Meski dalam masa penahanan. Alice tak merasa sedih, depresi atau marah. Ia bahkan tetap gembira dan menikmati dunianya sendiri.
Tangannya berhenti sejenak, ia lalu memandang satu-satunya pintu yang ada di ruangan itu sambil bergumam. "Sedikit lagi....aku akan kedatangan tamu yang sangat penting." Senyum sinis menghiasi wajahnya ketika memikirkan rencana yang ia buat bersama Sang Raja kala itu.
Beberapa hari sebelumnya...
Ketika Alice tersadar, Marianne yang penuh kecemasan segera menghampirinya dan memeluknya erat-erat.
"Kakak...! Kak Nian!" Panggilnya selagi ia menyandarkan kepalanya di dada Alice.
"Oh..." Alice menepuk pelan kepala Marianne lalu melihat-lihat sekeliling ruangan. Ia mengingat hari dimana ia pingsan. "Aku tak menyangka kalau aku akan menggunakan energi Qi-ku lebih banyak sampai-sampai membuatku hilang kesadaran." Benaknya.
"Kak Nian, Syukurlah kamu sudah sadar. Bagaimana keadaanmu, aku sangat cemas." Marianne menengadahkan wajahnya dan menatap wajah Alice yang sedikit pucat.
Alice menundukkan pandangannya dan melihat wajah Marianne. Ia terkekeh dalam benaknya, Jika sampai seseorang melihat tingkah Putri kerajaan ini, entah bagaimana orang-orang akan menanggapinya.
"Marianne."
"Umm? Ya?"
"Kan sudah ku bilang untuk memanggilku Alice. Apa kau sudah lupa?"
Marianne tertawa kecil "Aku lupa. Soalnya aku sangat menghawatirkan kakak tau." Marianne kembali menenggelamkan wajahnya dalam pelukannya.
Alice menyandarkan pipinya di salah satu tangannya dan menghela nafas panjangnya melihat tingkah manja Marianne. Ia tak masalah jika itu adalah Yan Mei adiknya yang dulu karena memang wajahnya sesuai dengan tingkahnya tapi... Bagaimana dengan Putri satu-satunya kerajaan ini? Kemana hilangnya sosok gagah berani dan mengagumkan itu seperti yang orang-orang katakan. Putri berambut merah yang dijuluki sebagai mentari kerajaan, yang dikenal tangguh dan disiplin saat ia melatih orang-orangnya kini bermanja-manja di depannya. Alice menggelengkan kepalanya pasrah melihat tingkah laku Marianne
"Sikapnya dari dulu tidak berubah." Batinnya sedikit senang. Tapi seketika kenangan buruk itu tiba-tiba melintas begitu saja di ingatannya. Kenangan apa? Apalagi kalau bukan ketika ia melihat wajah dingin adiknya itu menusuk tubuhnya begitu saja tanpa rasa bersalah. Padahal ia sudah tahu kebenarannya tapi tatkala kenangan pahit itu telah berbekas, bagaimana caranya ia bisa menghapus memori itu. Ia tak bisa lagi membayangkan jika sosok Marianne yang di depannya melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Marianne menengok Alice yang tiba-tiba diam dan melamun. Ia memanggilnya pelan. "Kakak? Kak Nian?"
Alice tersadar mendengar panggilan Marianne. "Sudahlah. Tapi lakukan hal ini ketika hanya kita berdua saja ya?"
"Ya, baik kak."
Alice memejamkan matanya sejenak, menarik nafas dalam dan memeriksa setiap inci bagian dalam tubuhnya. Ia lega karena baik-baik saja setelah melawan makhluk yang keras tubuhnya sebanding dengan tahap Heaven Refining yang dimana dirinya sendiri berada di tahap Qi and Body Transforming. Ia berpikir betapa cerobohnya dirinya saat itu. sudah bagai bumi dan langit apalagi jika melawan makhluk yang berada dua tahap di atasnya. Tapi beruntung serangan ular besar itu tak begitu kuat untuk mengancam nyawanya.
"Oh iya kak. Ngomong-ngomong, Ayahku ingin bertemu denganmu." Marianne melepas pelukannya dan berjalan ke meja yang ada dekat ranjang, ia mengambil segelas air untuk Alice.
"Ya. Katanya dia ingin segera bertemu denganmu. Mungkin ingin memberikan penghargaan gitu." jawabnya sambil mendekat dan menyodorkan segelas air pada Alice. "Tapi karena kakak tiba-tiba pingsan jadi dia menundanya dan berkata kalau sudah sadar nanti, kamu harus segera menemuinya."
" Hmm... Begitu rupanya, memangnya berapa lama aku pingsan?"
"Tidak lama kok, cuma sehari saja."
Sehari ya...? Mungkin aku tidak bisa pergi hari ini, Energi Qi-ku belum sepenuhnya pulih. "Sampaikan padanya kalau aku akan menemuinya dua hari lagi."
"Baik kak. Karena kakak sudah sadar. Aku pergi dulu ya." Alice berbalik berjalan menuju pintu.
"Tunggu! Apakah saat aku pingsan ada seseorang yang datang? Atau paling tidak kau merasakan kehadiran seseorang di sekitar sini?"
"Tidak. Kenapa?"
"Bukan apa-apa."
~
Di hadapan puluhan bangsawan dan kepala keluarga. Alice berlutut menghadap Sang Raja. Raja dan Ratu yang duduk di atas tahtanya menatap Alice. Terutama Raja yang kagum akan kemampuan dari gadis muda di depannya itu.
"Alicia Lein Strongfort." Panggil Raja menyebut namanya dengan nada yang gagah. Raja kemudian berdiri dari kursinya dan mendekati Alice.
"Ya Yang Mulia." Alice mengangkat kepalanya dan melihat sosok pria paruh baya itu. Untuk pertama kalinya ia melihat Sang Raja dari dekat dan merasakan sesuatu yang janggal yang ada Sang Raja.
"Karena tindakan yang berani dan juga keahlianmu dalam mengalahkan ras iblis yang memberi teror pada rakyat dan kerajaan ini. Aku Hendrick Ries Solus Raja di Kerajaan Solus menganugerahkan mu sebuah penghargaan." Sang Raja mengambil sebuah lencana dari kotak kecil yang ia pegang.
"Dengan Lencana ini aku memberikanmu gelar sebagai seorang ksatria terhormat." Sang Raja lalu mengambil pedang dan meletakkannya di kedua pundak Alice secara bergantian.
Tepukan meriah dari para khalayak yang hadir memenuhi suara Aula Tahta itu.
"Nona Alicia apakah kau memiliki sebuah permintaan? Aku akan memenuhi satu keinginanmu." Ucap Raja itu saat ia kembali ke kursinya.
Alice terdiam. ia sedang memikirkan sesuatu untuk memancing sosok yang mencurigakan itu. Bahkan saat inipun ia masih bisa merasakan energi Mana yang menyesakkan itu. Alice tersenyum ketika sebuah ide kecil dan gila datang ke kepalanya. "Saya memang memiliki satu permintaan Yang Mulia."
Raja mengangkat satu Alisnya "Ho..ho... Katakanlah apa itu?"
Alice melirik kiri dan kanan. Dengan ekspresi berat hati dan ragu ia berkata "Maafkan saya Yang Mulia. Tapi, saya harap Yang Mulia bisa memberikan saya kesempatan untuk berbicara secara pribadi."
Sontak perkataan itu membuat banyak orang kaget. Bahkan Marianne pun tak tahu apa yang sedang dipikirkan Alice kali ini.
Sang Raja menyipitkan matanya menatap Alice. "Secara pribadi ya..." Gumamnya.
Melihat sosok gadis di depannya, Raja yakin kalau rumor yang ia dengar tentang putri pertama dari Duke Strongfort hanyalah kepalsuan belaka. Tapi, seperti dugaan lainnya juga, bisa jadi semuanya itu benar dan gadis di depannya hanya bersandiwara dan memang sengaja melakukannya untuk menyembunyikan dirinya selama ini. Tapi apa yang membuatnya harus mengungkapkan dirinya setelah sekian lama berpura-pura? Apakah karena adiknya yang waktu itu hampir terbunuh?
Rasa curiga dan tertarik memenuhi pikiran Sang Raja. Ia memijat salah satu pelipisnya sebelum akhirnya menyetujui permintaan Alice.
Para bangsawan yang hadir bertanya-tanya tentang permohonan seperti apa yang akan di sampaikan oleh Alice kepada Sang Raja. Namun, bagi Alice sendiri itu bukanlah permohonan atau sesuatu yang seperti itu. melainkan itu adalah sebuah kesempatan baginya.