Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 43



Ketika waktu menjelang siang, Lilia bergegas menuju Menara Penghakiman ditemani oleh Kevin. Jantung Lilia berdegup semakin kencang seiring kakinya melangkah. Rasa tak sabar untuk bertemu Alice perlahan memupuk dalam hatinya.


Sementara itu, Alice baru saja selesai dengan latihan paginya. Dengan sebaskom air yang disediakan oleh pelayan, Ia membersihkan tubuhnya menggunakan sehelai kain. Dalam hatinya ia berharap untuk secepat mungkin merendam tubuhnya itu dalam bak mandi yang hangat. "Mungkin hari ini adalah hari terakhirku disini." Pikirnya sambil mengelap wajahnya.


Setelah itu, Alice menikmati waktunya dengan membaca sebuah buku di dekat jendela. Mungkin hanya jendela itulah yang membuat ruangan yang sepi dan terpencil itu sedikit hidup.


Kembali ke Lilia yang telah berdiri di gerbang depan Menara Penghakiman. Ia mendongak dan melihat ruangan paling atas dari menara itu tempat dimana Alice dikurung, begitulah menurutnya.


Ia sedikit geram karena masih belum mengetahui alasan pasti dibalik Sang Raja mengurung Alice di menara ini.


Diikuti oleh Kevin, Lilia memasuki menara dan menaiki anak tangga yang begitu banyak. "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya Alice menaiki tangga sebanyak ini." Gumamnya cukup kesal.


Kevin yang mendengar itu hanya bisa diam dan menepis pernyataan Lilia dalam kepalanya "Aku sendiri memiliki banyak keraguan padanya."


Setelah lama berjalan akhirnya ia sampai di depan ruangan Alice. Lilia mengetuk pintunya.


"Tunggu sebentar." Jawab suara itu terdengar lembut dari balik pintu.


Ketika gagang pintu itu berbunyi dan bergerak. Pintu dihadapannya terbuka dan menunjukkan sosok gadis yang sangat rupawan.


Kulit putih bak susu dan wajah kecil yang manis dengan bibir merah muda kecil itu membuat Kevin terbelalak. Alice tersenyum hangat dan cukup anggun meski hanya mengenakan gaun polos yang sederhana.


Kevin terkesima melihat gadis remaja dihadapannya. Ia baru melihatnya dengan jelas kalau gadis yang membunuh iblis itu ternyata begitu cantik. "Bagaimana bisa tubuh yang tampak rapuh dan lengan kecil itu mengangkat pedang dan membunuh tiga orang iblis."


Tidak seperti Lilia, ia sangat senang melihat sahabatnya baik-baik saja. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan nafasnya sedikit tertahan karena sangking senangnya. "Alicia...."


Lilia melompat dan memeluk Alice. "Alice.... Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau tidur nyenyak?" Tanya Lilia selepas ia memeluk erat Alice dan memeriksa kondisinya di setiap sisi.


Alice terkekeh dan tersenyum melihat tingkah Lilia yang tidak berubah. Dia tidak jauh berbeda dengan ibuku, benaknya.


"Um, Aku baik-baik saja." Jawab Alice pelan.


Lilia terdiam dan menatap wajah Alice dengan serius. Tidak tahu apa yang ia pikirkan dalam benaknya tapi ia kemudian melepaskan nafas leganya.


"Syukurlah..."


Melihat ada satu orang lagi di balik punggung Lilia. Alice segera menyambut orang itu yang tak lain adalah Kevin.


Lilia mulai memandangi sekeliling ruangan, ia terus-menerus melirik ke setiap sudut. Melihat perabot yang begitu sederhana dan biasa-biasa saja. Dalam benaknya timbul keraguan tentang bagaimana bisa seorang Alicia bertahan di tempat ini dengan tenang selama berhari-hari.


Matanya lalu tertuju pada kursi dan meja yang ada di dekat jendela. Ia melihat sebuah buku yang terbuka yang ada di atas meja itu.


"Apa kau membaca buku tadi?"


"Ya."


Yang menceritakan tentang sejarah, geografis dan beberapa ras lainnya yang hidup di tanah Aria atau yang biasa kita ketahui adalah bumi.


"Hmm...." Lilia memiringkan kepalanya lalu ia berbalik menatap Alice? "Sebenarnya apa terjadi selama ini?" Benaknya heran. "Aku merasa kalau ada sesuatu yang sangat berbeda darinya."


Beberapa waktu lalu, ketika ia mengirimkan surat undangan untuk Alice, Balasan yang ia terima mengatakan kalau Alice sedang sakit dan tak bisa hadir. Lalu seminggu selanjutnya, Lilia kembali mengundangnya dan sekali lagi sebuah surat dengan balasan yang sama yang ia dapat. Lalu ketika ia mengirim surat untuk berkunjung ke kediaman Duke Strongfort, malah dirinya tertahan karena surat yang ia terima kali ini berisi bahwa Kediaman Strongfort sedang tidak bisa menerima tamu.


Mengingat hubungan keluarga mereka dan hubungan dirinya dan Alice. Lilia tentu bisa menerimanya namun, ia tetap merasa aneh. Seolah-olah Kediaman Strongfort sedang menyembunyikan sesuatu dan ia yakin kalau hal itu pasti berkaitan dengan Alice.


Lilia, Kevin dan Alice duduk dalam satu meja. Rasa rindu yang meluap akhirnya bisa tercurahkan.


"Jadi...Kali ini apa yang sudah kau lakukan sampai kau dikurung disini?" Tanya Lilia pada Alice.


Alice lalu melirik ke arah Kevin. Matanya seolah bertanya 'Apa kalian tidak memberitahunya?' Kevin menggelengkan kepalanya perlahan seperti ia mengerti apa maksud dari tatapan Alice.


"Aku hanya melayangkan pedangku pada Sang Ratu, itu saja." Jawabnya santai.


Lilia terdiam karena kaget, ia seperti baru saja mendengar suara petir yang tiba-tiba bergemuruh. "Melayangkan pedangku pada sang Ratu, itu saja. Katanya..."


Kedua tangannya yang bergetar ia letakkan di atas kedua pundak Alice. "Jadi itu benar ha?!" Lilia mengguncang pundak Alice. "Apa kau sudah tidak waras?! Kenapa kau lakukan itu?! Kau tahu kan hukumannya seperti apa?!!" Teriaknya.


"Lilia...Lilia..." Panggil Alice mencoba mengehentikan Lilia yang mengguncang tubuhnya terus menerus.


"Apa?! Kenapa?!" Lilia berhenti mengguncang tubuh Alice tapi suaranya masihlah tinggi. "Kau tahu, bahkan dengan statusku sendiri aku tidak yakin bisa menyelamatkanmu." Kepalanya sakit memikirkan tingkah Alice yang sudah terlampau jauh.


"Statusmu? Apa itu ada hubungannya dengan pakaianmu yang serba putih ini?"


"Oh, aku lupa mengatakannya padamu. Aku ini seorang Saintess." Ucap Liliana terdengar cukup bangga.


"...Ooh...Jadi, sudah berapa lama kau jadi Saintess di kuil?"


Alice baru tahu itu, mengingat posisi Saintess bukanlah sesuatu yang segampang itu didapatkan melainkan melalui wahyu dari Dewa atau pelatihan khusus dan ketat.


"Tidak begitu lama, sebenarnya aku sudah ingin memberitahukannya padamu saat berusaha mengundang mu atau mengunjungi rumahmu waktu itu. Tapi karena sepertinya saat itu kalian sedang ada masalah, makanya aku baru ada kesem patan untuk mengatakannya kali ini." Jelas Lilia.


"Saat itu ya... waktu itu kami memang ada sedikit masalah."


"Memangnya apa yang...Tunggu! Kesampingkan yang itu. Aku ingin tahu bagaimana kau akan menyelesaikan masalahmu saat ini? Lagipula bagaimana bisa kau menyerang sang Ratu. Setahuku kau sendiri tidak pernah mengangkat pedang. 'Itu berat, aku benci berkeringat.' Kau sendiri yang mengatakannya."


"Benarkah?" Alice menutup bibirnya sambil tertawa pelan. Tingkah santainya kali ini membuat Lilia geram. Entah apa yang ada dalam pikirannya sampai ia berani mengacungkan pedang pada Sang Ratu.


Alice menoleh pada Kevin lalu berkata. "Maaf sebelumnya, tapi mungkin Pangeran Kevin bisa menjelaskan semuanya."


Seketika kegeraman Lilia beralih pada Kevin. Dengan mata yang masih melotot ia melirik pada Kevin. Melihat sikap Saintess yang sangat peduli pada Alice dan tingkah Alice yang seperti sengaja menggoda Lilia, Kevin merasa kalau tak ada salahnya mengungkapkan semuanya. Karena itu, Kevin pun menjelaskan semuanya satu persatu pada Lilia.