Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab II Chapter 63



Ruangan itu begitu gelap dan senyap. Tidak ada apapun selain kursi rusak dan sebuah batu yang terlilit oleh rantai tua. Keduanya sudah tampak berantakan dimakan usia. Alice berjalan menghampiri kedua objek itu. Ia melihat posisi kursi itu lebih tinggi dan terdapat beberapa anak tangga kecil yang sudah hancur di dekat kakinya.


"Tahta? Apakah tempat ini merupakan bekas singgasana seseorang?"


Alice menaiki anak tangga dan berdiri di sisi kursi itu. Ia mengoles dan melihatnya dengan seksama. Dari pandangan matanya ketika ia berdiri di belakang kursi dan melihat keseluruhan ruangan, Alice yakin kalau tempat ini merupakan sebuah ruangan besar dimana penguasa duduk di atas singgasananya.


Alice berbalik dan mengamati batu yang berbentuk lonjong itu. Bentuknya seperti sebuah telur dan yang anehnya adalah batu itu digantung oleh banyak rantai yang melilitnya. Rantai-rantai pada batu itu terikat pada tiap-tiap dinding di dekatnya dan juga memiliki bentuk yang sama dengan yang ada di pintu. Karena penasaran Alice mencoba mengalirkan Qi nya pada batu itu dan mencoba merasakan apabila ada energi atau hawa kehidupan di dalamnya. Alice mengerutkan bibirnya saat ia tidak merasakan apapun di dalamnya.


Lantas apa yang membuat tempat ini menjadi sebuah gua? Alice tidak bisa menemukan petunjuk apapun saat ia menelusuri seisi ruangan itu.


Tubuhnya sudah lelah, karena ruangan itu tampak lebih aman, Alice mulai memulihkan tenaganya.


Energi alam murni begitu minim di tempat itu. ia bahkan tidak merasakan adanya aliran Mana yang cukup, seolah tempat itu benar-benar terasingkan oleh dunia.


Cerobohnya. Ketika Alice masuk, ia tidak melihat keseluruhan pintu itu. Sebuah segel tersembunyi yaitu susunan lingkaran sihir telah tertutup oleh debu dan bebatuan gua. Lingkaran sihir yang begitu kuat sisa dari seorang pahlawan masih aktif bahkan sampai sekarang. Meski sudah tak sempurna karena termakan usia, setidaknya segel itu bisa menahan sosok yang terkurung di dalam ruangan itu. Namun, tanpa sengaja Alice merusak beberapa bagian dari susunan sihir itu sehingga segelnya melemah.


Alice terus memulihkan dan mengisi kembali energi spiritualnya. Pelan tapi pasti, ia sudah bisa menggunakan 1/4 dari kekuatannya. Dengan kondisinya saat ini, Alice sudah bisa menggunakan kesadarannya untuk menelusuri area di sekitarnya.


Alice memejamkan matanya dan merasakan seluruh lorong yang berada dalam jangkauannya. Pandangannya keluar dari pintu itu, sontak saja ia terkejut ketika monster yang tadi ia hindari berjalan mendekat menuju ruangan dimana ia berada.


Monster itu akhirnya berada di depan pintu. Ia merasakan adanya bau lezat yang datang dari balik pintu. Monster itu dengan paksa mendobrak pintu di depannya.


BANGG!BANGG!!!BANGG!!!


Pintu itu mulai penyok dan akhirnya terhempas. Dari sudut kursi yang rusak, Alice mengintip dan melihat sosok laba-laba besar dengan setengah tubuh wanita di bagian kepalanya.


Arachne, begitulah sebutan monster yang saat ini mengancamnya. Sialnya, Apa yang Alice hadapi bukanlah arachne biasa. Dengan dua kepala miliknya, Arachne itu menyeringai saat ia mulai melirik ke setiap sudut ruangan, ia tidak melihat apapun tapi Insting dan penciumannya menangkap sesuatu.


Arachne yang lapar meneteskan air liur dari sudut mulut nya. Ia mengelus kepala besarnya, lalu memekik tajam.


Hawa mencekam tiba-tiba saja memenuhi ruangan itu. Tekanan dari monster haus darah membuat Alice menelan ludahnya.


Monster yang ada di hadapannya lebih kuat daripada ular raksasa yang pernah ia hadapi.


"Kepalanya ada dua, dia memiliki kaki yang banyak dan pergerakannya cukup gesit. Ini akan sedikit sulit dengan kekuatanku yang sekarang." Benaknya.


Kepala arachne itu terus bergerak mencari asal bau lezat yang ia cium. Beberapa kali ia menoleh dan melirik, akhirnya matanya diam dan melihat kursi yang ada di bawahnya. Arachne menunduk dan mencium bau kursi itu. Tiba-tiba ia mundur, memekik dan mengayunkan kakinya yang runcing.


"Gawat!" Alice dengan cepat berguling ke belakang menghindari ayunan cepat dari kaki besar milik arachne.


"Aku bahkan tidak memilik senjata untuk bertarung."


Monster itu tertawa lebar hingga suaranya memenuhi seluruh ruangan. Ia bergerak dengan cepat dan mengayunkan kaki-kakinya pada Alice. Arachne menyerang Alice bertubi-tubi tapi tidak berhasil mengenainya. Ia pun kesal dan menembakkan jaring lengket ke beberapa tempat di sekitar Alice.


Arachne kembali menyerang Alice dengan kakinya. Hentakan dari ujung kakinya yang runcing tertancap begitu dalam ke tanah. Alice berpikir kalau benda itu mengenainya, ia pasti akan terluka parah.


Alice membentuk Qi nya menjadi sebuah pedang tajam di tangannya. Ia menghindari satu hingga tiga serangan yang datang kepadanya dan mengambil kesempatan lalu memotong sendi kaki monster itu. Serangannya berhasil dan membuat arachne menjerit kesakitan tapi, karena kurangnya energi spiritualnya. Ia tidak bisa membuat pedang yang lebih tajam dan kuat, alhasil kaki laba-laba itu belum terputus.


Setelah menghapal gerak gerik dari serangan arachne. Alice lebih mudah melayangkan serangannya hingga ia berhasil memutus dua kaki monster itu. Tapi, wajah Alice mulai terlihat tidak baik-baik saja. "Aku harus segera mengakhiri ini." Pikirnya. Nafasnya sudah tersengal-sengal.


Arachne itu semakin marah dan mengamuk. Ia menyerang Alice dengan sebuah bola jaring lengket yang diikuti dengan ayunan kaki bagian depannya sehingga membuat Alice sedikit kewalahan. Alice terkejut karena pola serangannya yang berubah. Monster arachne mulai menggunakan racun pada jaring dan kakinya.


Saat Alice berpikir sejenak untuk mencari kelemahannya, monster itu menembakkan bola jaring. Alice tidak memiliki waktu untuk diam di tempatnya.


Monster Arachne yang begitu besar itu memiliki stamina yang sangat banyak. Ia terus-menerus melancarkan serangan dengan jangkauan luas. Alice merasa terpojok karena kondisinya yang belum pulih.


Saat dua bola jaring datang ke arahnya, Alice melompat ke samping namun segera kaki arachne itu berayun menghantamnya.


"Ugh!" Alice terhempas. Pelindung Qi nya hancur namun ia beruntung karena tidak terluka parah. Alice mengerang kesakitan sambil berusaha berdiri.


"Hanya satu serangan tapi aku sudah hampir mati dibuatnya." Ia mengelap noda darah di sudut bibirnya.


Pertarungan Alice melawan arachne terus berlanjut. Teknik-teknik dan serangan esnya tidak begitu mempan dengan jumlah energi spiritual yang sedikit.


Alice mendesis menahan luka dalam di sisi dadanya. Ia sudah menahan kaki laba-laba itu berkali-kali, kemungkinan ada tulang yang patah.


Belum sempat ia memasang kuda-kuda dan melindungi tubuhnya dengan Qi. Arachne itu lagi-lagi menendangnya kebelakang. Alice tersungkur di atas tanah. Ia memuntahkan darah akibat luka dalam yang ia terima.


Pandangannya mulai kabur dan gelap. Ia melihat monster itu mendekatinya perlahan. Wajah puas karena makanan sudah tidak melawan lagi, sungguh arachne akhirnya bisa menyantap hidangan lezat saat ini.


"Tidak...aku... tidak boleh mati sekarang. Pulang, harus... pulang. Mereka menunggu ku... Ayah, ibu..." Alice sudah mulai sulit mengangkat kepalanya, ia hanya bisa melihat kaki monster itu. Dengan pandangan yang mulai menipis, Alice melihat kaki monster itu bergetar dan mundur perlahan. Kenapa? Apa yang terjadi?


Dari belakang telinganya, Alice mendengar sesuatu, Alice melirik ke samping, sekilas ia melihat sepasang kaki kecil mulus melangkah dan berdiri di depannya. "Siapa..?" Tanya suaranya serak dan pelan. Alice ingin sekali menengadahkan wajahnya untuk melihat sosok itu tapi ia sudah tak sanggup lagi untuk membuka matanya dan berakhir pingsan.


~


"Hmm....monster jelek!" Suara imut dari seorang gadis kecil tiba-tiba muncul di ruangan itu. Gadis muda itu baru saja keluar dari batu yang berada di belakang Alice.


Ia berjalan dan menghampiri tubuh Alice yang sudah tidak berdaya. Gadis itu melihat melihat Alice yang tergeletak di tanah dan memandangi laba-laba besar di depannya dengan tajam.


"Monster jelek seperti mu berani melukai mama ku." Gadis itu berdiri di depan Alice seolah melindunginya. Sedangkan arachne tiba-tiba tampak ketakutan dengan kehadirannya. Kakinya bergetar hebat dan melangkah mundur. Ia segera berbalik dan ingin pergi.


"Mau! Kemana! Kau?!" Gadis itu dengan cepat telah melayangkan pukulan keras pada punggung arachne hingga ia terhantam dan memberikan membekas di tanah.


Gadis kecil itu berkacak pinggang. Ia membusungkan dadanya lalu mendengus dan berkata. "Kau sudah melukai mama ku. Tidak akan kubiarkan kau pergi. Aku akan membunuhmu dan membalaskan mama. Hmph! Dasar monster jelek!" Ujarnya.