Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 163



Pecahan jiwa Erebos yang ada dalam diri Elysia lenyap bersamaan dengan avatar miliknya yang menyandera Nyx.


Tampak kristal hitam yang mencemari Yggdrasil juga ikut hancur dan akhirnya lenyap bagaikan uap air panas di udara.


Ruangan tempat dimana mereka berada juga mulai kembali bersih. Korosi yang ada di dinding mulai pulih secara perlahan kembali seperti sediakala. Energi murni dari Yggdrasil terpencar dan mengalir menuju seluruh penjuru negeri elf.


Monster dan hewan di luar sana juga kembali tenang, walaupun beberapa diantara mereka tetap bersikap buas karena seperti itulah sifat dasar mereka.


Peperangan antara sesama elf akhirnya berhenti dengan terbitnya mentari pagi yang menyilaukan mata.


Akhirnya kekacauan di negeri elf telah usai. Helian menghela nafas leganya sambil ia memandangi batang pohon Yggdrasil yang menjulang tinggi ke langit. Ia yakin kalau Alice telah berhasil menepati janjinya dan menyelamatkan kerajaannya. Dalam hatinya, Helian mengucapkan rasa terima kasih yang amat dalam bagi Alice.


Selain itu, energi jahat dalam tubuh Asiya telah berhasil dimurnikan oleh Echidna. Keadaan adik Sang Ratu itu setidaknya tidak lebih buruk dari Daeron Sang Raja. Walaupun begitu, sebagai seorang pemimpin yang berdiri di garis depan untuk mengerahkan para pemberontak, Asiya tidak bisa menghindari hukumannya.


Para prajurit dari dua kubu menjatuhkan senjata mereka. Energi Yggdrasil yang meledak ke seluruh penjuru negeri, seolah menjernihkan pikiran dan hati mereka.


Para warga berbondong-bondong keluar dari rumah mereka. Banyak juga yang hanya melihat dari jendela sembari melambaikan tangan penuh kebahagiaan.


Kalah? Atau...menang?


Para pemberontak hanya bisa tertunduk menatap kedua kaki mereka yang terpaku ke tanah. Rasa sesal bercampur bingung muncul di benak mereka. Seolah terbesit kalimat. 'Kenapa aku sampai melakukan hal ini?'


Wajar saja, tidak ada yang menyadari kekuatan dari pengaruh kristal hitam itu. Walaupun lambat, namun perasaan negatif yang perlahan menumpuk bagaikan kabut tebal yang menutup kewarasan mereka saat itu. Dengan sedikit bujuk rayu dari Erebos yang kala itu bersemayam dalam tubuh Daeron. Ia bisa meyakinkan orang-orang dan membuat mereka melakukan pemberontakan yang tidak pernah terpikirkan enam bulan sebelumnya.


~


Jauh di dalam pohon Yggdrasil...


Nyx melihat Alice yang perlahan membuka matanya. Ia segera melompat ke arahnya. Andai saja ia memiliki sebuah raga, tentu Nyx akan langsung memeluknya.


"Alice!" Panggilnya dengan antusias.


"Nyx?!"


"Sudah kuduga kau bisa melakukannya." Ucap Nyx sambil mengitari Alice, lalu ia berhenti di hadapannya. "Kau pasti sudah pergi sangat lama bukan? Selamat datang kembali. Alice."


Setelah lama saling mengenal, hubungan mereka semakin akrab walaupun keduanya memiliki perbedaan yang begitu jauh. Seorang Dewi dan manusia.


Sebagai seroang Dewi yang juga merupakan saudari Erebos, Nyx paham akan sihir ilusi yang Erebos gunakan. Terdapat perbedaan waktu antara dunia nyata dan dunia yang ada dalam ilusi tersebut. Hukum selang waktu di antara keduanya tidak jelas. Nyx pernah mencobanya berkali-kali ke beberapa subjek. Tapi sampai sekarang ia sendiri belum mengerti dengan baik tentang apa yang mempengaruhi jarak waktu keduanya. Dari kesimpulannya yang sederhana, ia hanya bisa mengatakan kalau sihir ilusi itu memiliki kaitan erat dengan hati orang yang terkena ilusi tersebut.


Alice tersenyum tipis. Matanya menyipit, ekspresinya menjadi teduh kemudian ia menjawab Nyx dengan lembut. "Um. Aku pulang."


Sejak masuk dalam dunia ingatan Elysia, Alice telah pergi untuk waktu yang sangat lama. Dia merindukan putrinya, seluruh keluarganya, temannya dan semua orang yang ia sayangi.


Alice menghela nafasnya lega. Rasa hangat karena rindu yang menggebu-gebu itu, benar-benar membuatnya ingin segera berlari dan melompat keluar dari Yggdrasil hanya untuk melihat mereka semua.


Alice terdiam sejenak, ia mencari-cari Erebos namun hawa kehadirannya tidak bisa ia rasakan. Ia pun bertanya pada Nyx. "Dimana Erebos? Apa yang terjadi padanya?"


"Dia lenyap. Saat kau menghancurkan sihirnya, dia tidak sanggup mempertahankan avatar dirinya dan akhirnya menghilang."


"Bagaimana dengannya? Kenapa dia belum membuka matanya?" Nyx menunjuk Elysia yang masih tertidur dengan bersandar pada dinding Yggdrasil.


"Sebentar lagi dia akan bangun. Aku yakin dia sedang bermimpi indah saat ini." Alice menjawabnya dengan senyuman lembut. "Ayo pergi, ada seseorang yang ingin ku temui selanjutnya."


Diikuti oleh Nyx, Alice berjalan naik menuju puncak Yggdrasil.


"Terima kasih wahai anak manusia. Berkat mu, Yggdrasil dan negeri ini berhasil selamat dari kekacauan yang disebabkan oleh Dewa Jahat." Ucap Sylph sambil membelakangi Alice.


Alice berjalan menghampiri Sylph. Ia berdiri di sampingnya.


Seketika terkesima saat melihat pemandangan kota dan seluruh wilayah hutan di sekitar Moonshade.


Alice menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. "Indahnya..."


Pemandangan indah dari ketinggian itu membuat matanya terbuka. Terasa sejuk hembusan angin segar yang menerpa wajahnya. Lautan pepohonan yang rimbun dan hijau serta sungai dengan air biru yang jernih. Sebelumnya, mereka tidak tampak begitu jelas. Bahkan bisa dibilang mereka menjadi racun bagi banyak hewan di sekitarnya. Semua itu karena kristal hitam yang mempengaruhi lingkungan tanah ini.


"Dengan lenyapnya energi jahat dalam Yggdrasil. Energi murni kembali terpancar ke seluruh negeri ini. Pohon-pohon yang layu kembali tumbuh, sungai yang kering kembali mengalir, kabut miasma yang menutupi langit kota ini juga telah hilang." Ujar Sylph.


Mereka pun berbincang-bincang sejenak di atas sana. Setelah itu Sylph mengajak Alice untuk melihat-lihat bagian dalam Yggdrasil sambil melanjutkan percakapan mereka.


Saat menyusuri bagian dalam Yggdrasil dengan panduan Sylph, Alice melihat banyak hal ajaib di dalam pohon itu. Ia cukup puas karena menemukan bantuan untuk berkultivasi dan menaikkan tingkatan alamnya. Setelah itu, ia kembali ke ruangan sebelumnya untuk mengambil Elysia. Dan akhirnya mereka pun berjalan turun.


Ketika mereka sampai di depan pintu keluar dimana Alice masuk sebelumnya. Sylph berkata. "Biarkan aku mengantar mu keluar." Ucap Sylph.


Sebagai tanda terimakasih, Sylph memberikan sebotol cairan ajaib dari Yggdrasil dan sebuah ranting kecil dari pohon Yggdrasil. Cairan itu bernama Sacred Droplets of Yggdrasil. Memiliki kemampuan layaknya elixir dalam legenda kuno. Hanya setetes untuk menyembuhkan penyakit atau luka apapun. Bahkan konon katanya, sekalipun kau berada di depan pintu kematian, hanya perlu setetes dari Sacred Droplets of Yggdrasil dan kau akan hidup kembali.


Langsung saja tanpa pikir panjang, Alice memutuskan untuk pergi ke istana dam menemui Helian.


Menatap wanita itu menjauh, Sylph sedikit membungkukkan dirinya.


"Kau juga wahai elf muda. Mungkin ini tidak banyak membantu mu tapi izinkan aku memberikan mu sebuah hadiah sebagai rasa terima kasihku. Berkat pengorbananmu jugalah sampai pohon ini bisa bertahan melalui masa-masa kritis." Bisik pelan Sylph sambil menatap Elysia yang digendong di punggung Alice. "Kau telah banyak mengalami penderitaan di negeri ini. Elysia Silvya de Argent. Elf terakhir dari ras superior yang mendekati sosok Dewa. Pergilah bersama wanita itu dengan berkat dari Yggdrasil dan diriku sebagai Raja para spirit. Semoga kelak kau bahagia dengan rumah barumu." Gumam Sylph sambil melambaikan tangannya.


Sylph kemudian mengeluarkan sebuah cahaya keemasan dari telunjuknya. Cahaya itu terbang masuk ke dalam simbol yang Erebos tinggalkan di tangan Elysia.


~


Sesampainya di tempat Helian. Helian menatap Alice yang baru saja tiba dengan mata berkaca-kaca, ia lalu mengusap kedua sisi matanya. Helian tersenyum menganggukkan kepalanya sekali dengan pelan. Bibirnya bergumam dengan suara kecil. "Terima kasih, Alice."


Esok malamnya, Sang Ratu memerintahkan seluruh penduduk Moonshade untuk mengadakan sebuah perayaan kemenangan. Acara itu akan digelar secara besar-besaran. Para warga begitu antusias merayakan kemenangan mereka dan kembalinya ketentraman negeri elf.


Perayaan di hari itu kelak akan dikenang dalam sejarah elf tentang kisah heroik dari seorang pahlawan wanita bernama Alicia dalam menyelamatkan negeri mereka dari kehancuran.


Saat malam di hari perayaan, Istana kerajaan bersinar begitu terang dengan acara jamuan mereka bagi para pejuang, terutama untuk Alice dan Echidna. Mereka adalah pahlawan bagi bangsa elf. Keduanya menjadi bintang utamanya pada malam itu.


Ketika Alice dan Echidna memasuki Aula Dansa istana kerajaan. Ratusan pasang mata menyambut mereka. Orang-orang melirik mereka sambil berbisik-bisik. Bukan dalam artian jelek. Tapi mereka memasang wajah kagum, takjub dan terpukau layaknya seorang penggemar yang bertemu idola mereka atau seperti seorang pemuja yang melihat kedatangan Dewi mereka.


"Wah~ wah~ Saksikan dan sambutlah semuanya, kedatangan pahlawan juga sekaligus Dewi kalian! Hehehe" Ucap Fee dengan nada menggoda. Dirinya saat ini bersembunyi dalam bayangan Alice.