
Setibanya disana, Alice melihat orang-orang berkumpul di depan pintu masuk dungeon. Dari seragam mereka, ia yakin kalau orang-orang itu berasal dari akademi.
Riuh gaduh suara mereka terdengar makin jelas saat Alice mendekat. Ia mengerutkan keningnya. "Apa yang sedang terjadi? Kenapa mereka semua ada di luar dan kelihatan panik begitu?"
Alice juga tak bisa merasakan keberadaan Elysia diantara mereka. Tanpa pikir panjang, ia langsung turun ke bawah.
Ketika para elf melihat seorang wanita terbang mendekat dan turun di hadapan mereka. Spontan kedua instruktur itu maju lalu menyiapkan penjagaan mereka.
"Siapa wanita ini? Baru saja...apakah dia menggunakan sihir terbang? Aku tidak merasakan energi Mana yang besar darinya. Walau begitu, aura yang ia keluarkan memberikan kesan kalau dia kuat." Pikir salah seorang instruktur.
Kedua instruktur itu berdiri dengan siaga menghadapi Alice. Seorang instruktur lainnya yang menyadari identitas asli wanita itu bertanya dengan geram. "Manusia! Bagaimana bisa kau ada di tanah kami? Apa yang ingin kau lakukan disini?"
Sontak, orang-orang yang mendengarnya terkejut. Mereka mulai saling berbisik sambil menatap sinis Alice dengan kecurigaan dan beberapa diantara mereka ada yang melihatnya dengan ketakutan.
Alice merasa tak punya banyak waktu untuk meladeni mereka. Batinnya semakin gelisah saat ia tak menemukan kehadiran Elysia diantara para murid. "Aku Alice, ibu Elysia. Apa yang terjadi? Dimana putri ku?"
"Putrimu? Elysia? Heh! Bagaimana mungkin kau adalah ibunya. Jangan mencoba membohongi kami dan katakan sejujurnya." Kata Instruktur itu.
Instruktur itu benar-benar membuatnya naik pitam. Alice melirik ke arah pintu masuk dungeon. Namun, lagi-lagi instruktur itu menegurnya saat ia menyadari pandangan Alice. "Jangan harap kami akan membiarkan mu lewat begitu saja. Katakan tujuan mu yang sebenarnya atau aku akan memaksamu dengan kekerasan." Serunya tegas sambil menyiapkan sihir pada tongkatnya.
"Sepertinya kau sendiri tidak tahu apa-apa. Aku tidak punya waktu untukmu. Menyingkir dan jangan membuang waktuku." Alice pun berjalan menghindari instruktur itu.
Tapi instruktur itu cukup keras kepala. Ia segera menyuruh rekannya dengan berkata. "Tahan dia, jangan biarkan dia lewat selangkah pun." Seketika itu juga instruktur lainnya merentangkan salah satu tangannya untuk menahan Alice. "Maaf nyonya, seperti yang rekan saya katakan. Anda tidak bisa masuk begitu saja. Bagaimana kalau anda menjelaskan semuanya sebelum sesuatu terjadi." Ujarnya. Meskipun ucapannya terdengar santun dengan tata bahasa yang sopan, tapi jelas bahwa ada ancaman dan penekanan dari nada bicara dan sorot matanya.
Alice berdecak kesal. Ia menyipitkan matanya melirik kedua instruktur itu secara bergantian. Meskipun tampak tenang, tapi hatinya sebenarnya dipenuhi akan kegelisahan. Jika seandainya bukan karena mereka adalah pembimbing Elysia, sudah sejak tadi Alice menghajar mereka.
Sesaat kemudian, Alice merasakan sebuah goncangan pada Qi miliknya. Sepertinya ada seutas tali yang bergetar pada lautan Qi nya.
"Tadi itu... jimat yang kuberikan pada Elysia. Jimatnya pelindungnya aktif yang berarti dia sedang dalam bahaya." Benaknya.
Jimat yang secara khusus ia buat untuk Elysia adalah sebuah pelindung yang akan aktif ketika nyawa Elysia benar-benar dalam bahaya. Jimat itu sebenarnya bisa tetap melindungi Elysia dari serangan monster lemah secara berkala. Tapi ketika Elysia menghadapi monster yang kuat secara otomatis jimat itu akan menahan serangan mematikannya yang mana akan memberikan gelombang Qi yang bisa Alice rasakan.
Alice mengeratkan kepalan tangannya. Ia menatap tajam kedua instruktur itu, lalu ia melepaskan energi Qi yang membuat mereka berdua itu tersungkur kaku di atas lutut mereka.
"Kuh...!"
"Apa ini?! Darimana datangnya energi yang besar ini?!" Instruktur yang mengetahui identitas Alice mendongak dan melihat tatapan tajam Alice.
Sorot kedua mata hitam itu seolah menenggelamkannya ke dalam lautan yang gelap. Ia tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa terdiam dengan wajah pucat dan keringat dingin mengucur dari sisi wajahnya.
Tak jauh beda dengan rekannya yang sama-sama bertekuk lutut. "Ugh! Wanita ini! Pantas saja aku tidak bisa merasakan energi apapun dari dirinya. Ternyata dia menyembunyikan kekuatannya. Kami salah, seharusnya kami tidak mengusiknya dan menghalanginya." Ucap batinnya penuh sesal. "Ku harap dia tak membunuh kami."
Para murid kebingungan dengan apa yang terjadi. Mereka melihat kedua instruktur mereka tiba-tiba terjatuh dan tidak bergerak. Padahal baru saja mereka terlihat baik-baik saja. Tapi kini mereka bertekuk lutut di hadapan wanita itu dengan tubuh yang gemetar. Kedua instruktur yang mereka kira kuat dan hebat itu, terlihat seolah tidak ada apa-apanya di hadapan wanita itu.
Detik demi detik berlalu, perlahan wajah kedua instruktur itu mulai memerah. Urat syaraf pada dahi dan pelipis mereka tampak semakin tegang karena menahan tekanan Aura mengerikan yang Alice berikan pada mereka.
Dengan tatapan dingin dan sikap acuh, Alice melenggang meninggalkan mereka. Kedua instruktur itu baru bisa bernafas lega setelah Alice memasuki dungeon dan menarik kembali tekanan energinya.
Ketika ia baru saja selangkah melewati pintu masuk dungeon itu, Alice bisa merasakan adanya gelombang Mana kuat yang memenuhi seluruh dungeon tersebut.
"Ini persis seperti Mana yang kurasakan saat melawan mereka." Gumamnya.
Apa yang Alice maksud adalah orang-orang yang pernah ia kalahkan sebelumnya. Energi Mana yang menyesakkan dan terasa pahit itu tidak lain hanya berasal dari satu orang yang sama. Dia yang selalu mengganggu ketenangan dan kedamaian keluarga serta orang-orang yang ia sayangi.
"Erebos!"
Alice mengeluarkan pedangnya, ia berlari menembus kumpulan monster yang seolah-olah sengaja menghalangi pintu lantai selanjutnya.
"Tidak hanya jumlahnya saja, bahkan kekuatan mereka ikut meningkat." Ucapnya ketika ia membunuh seekor Ruin Rat.
Alice memadatkan Qi nya sedikit lebih banyak pada pedangnya. Ia tahu kalau serangan biasa akan sulit untuk menembus pertahanan monster-monster itu pada lantai-lantai selanjutnya.
Alice berlari, menebas dan mengayunkan pedangnya ketika monster-monster itu datang dan mencoba menghalangi jalannya.
Dengan cepat ia melewati lika-liku lorong pada lantai 1 dan segera menuruni tangga menuju lantai 2.
~
Jika seandainya bukan karena jimat pelindung yang dibawa Elysia, kelompok Evelyn tidak akan selamat dari amukan monster yang baru saja muncul dari lingkaran sihir itu.
Seekor Minotaur dengan dua pasang tangan dan membawa sebuah palu besar. Meskipun pergerakannya tidak begitu cepat tapi dengan besar tubuhnya yang hampir menutupi seluruh lorong dungeon, mustahil bagi mereka untuk menghindari ayunan palu raksasanya.
Padahal pintu masuk area teraman di dungeon itu sudah ada di depan mata. Namun bagaimana bisa sebuah lingkaran sihir muncul begitu saja dan membawa seekor Minotaur kepada mereka. Bahkan serangan panah dan sihir tidak begitu berefek padanya.
Reiss dan Maya sudah benar-benar tidak bisa menarik busur mereka. Keduanya tidak hanya kehabisan Mana tapi mereka bahkan mengalami luka dan cedera pada kaki mereka sewaktu berusaha menghindari serangan Minotaur itu.
Evelyn berbalik dan melihat murid-muridnya dengan ekspresi pahit. Apakah mereka akan berakhir disini?
Saat ini Elysia sedang melindungi kelompok dengan berdiri di hadapan mereka. Ia menggunakan jimatnya sebagai pelindung untuk menahan serangan monster itu.
Tapi sampai kapan?
Minotaur itu memiliki stamina dan kesabaran yang begitu banyak untuk terus menghantamkan palunya pada Elysia.
"Ibu...kamu dimana?" Harap Elysia dalam batinnya.
Dia tidak bisa bergerak. Bahkan tidak ada yang bisa mereka lakukan. Minotaur itu memiliki kecerdasan yang cukup untuk menahan mereka di satu tempat yang sama terus menerus. Jika ia melihat seseorang akan pergi menjangkau pintu bercahaya itu. Dia akan berhenti kemudian berpindah posisi untuk menghalangi mereka.
[Plum Blossom Sword Technique. Fourth Style, Baihu Raging Fang]