Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 182



Tanda pengenal? Tentu saja ada.


Mereka berdua telah memilikinya saat mereka pertama kali datang ke kota Amira. Terima kasih kepada seorang penjaga gerbang yang kala itu membuatkan mereka kartu tanda pengenal.


Penjaga gerbang itu juga memberitahu mereka bahwa kartu tanda pengenal itu akan mempermudah mereka berpergian dalam setiap kerajaaan yang ada di bawah naungan Kekaisaran Arakhmeia, selama tidak ada situasi khusus yang terjadi.


Selain itu, kartu itu juga memiliki fungsi tersendiri sesuai dengan status atau pekerjaan si pemilik. Misalnya saja seorang ksatria. Maka disana akan tercantum status, posisi dan beberapa informasi lainnya atau misalnya seorang petualang yang mana akan tercantum di dalamnya mengenai peringkat dan hasil kontribusi mereka.


Alice dan Elysia mengeluarkan kartu tanda pengenal mereka.


"Hmm... Tunggu sebentar, saya akan memeriksanya terlebih dahulu." Pria itu mengambil kartu mereka dan melihatnya sejenak. Ia lalu berjalan masuk ke dalam posnya dan meletakkan kedua kartu itu di atas sebuah piringan besi yang telah diukir sihir kuno di dalamnya.


Karena kartu itu juga dibuat khusus dengan campuran setetes darah dari pemiliknya. Benda itu memiliki fungsi lainnya yaitu sebagai alat yang bisa merekam jejak tindakan kriminal si pemilik.


Alice kagum sekaligus penasaran saat ia mengetahui adanya fungsi menakjubkan dari kartu sekecil itu. Sayangnya rasa kagum yang muncul dalam hatinya itu lenyap saat ia menyadari kalau sebenarnya kartu itu bisa memperburuk situasinya kelak di masa depan. Kartu itu akan menjadi pisau bermata dua yang akan melukainya nantinya.


Saat ia berada dalam penginapan. Alice meneliti kartu itu semalaman. Benda yang bahkan lebih ajaib dari kartu identitas yang ada di zaman modern. Alice bertanya-tanya tentang rahasia seperti apa yang ada di dalamnya.


Ia mulai mencoba mencari tahu sihir seperti apa yang yang di balik kartu itu dengan kekuatan jiwanya. Ia cukup kewalahan untuk mengupas misteri dari kartu itu karena formasi sihir yang ada di dalamnya terasa berbeda. Alice tidak menyerah dan terus menelaah setiap goresan dari formasi sihir yang ada di dalamnya hingga berkali-kali dan akhirnya ia pun berhasil.


Ternyata kartu itu mengandung ukiran Rune yang mirip seperti yang digunakan oleh ras elf. "Mungkinkah mereka juga mempelajari sihir para elf?" Tanya dirinya. Alice bersyukur, untungnya ia sempat belajar sedikit tentang Rune dari Daeron sebelum ia meninggalkan Caelun.


Tak lama kemudian pria itu kembali. "Maaf membuat kalian menunggu. Ini kartu mu." Ucapnya sopan sambil ia mengembalikan kartu mereka.


Pria itu tersenyum dan mempersilahkan keduanya untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Aku telah menghilangkan jejak Mana yang ada di dalam kartu ini. Awalnya aku cukup kesulitan dibuatnya. Kartu ini ternyata akan menyerap sedikit energi Mana yang keluar dari jiwa yang mati sewaktu aku membunuh mereka. Aku harus menggunakan darahku untuk memurnikannya kembali. Prinsipnya sama seperti saat mengganti kepemilikan terhadap pusaka atau artefak suci. Untuk menghilangkan jejak jiwa dari pemilik lama, aku harus menanamkan jejak jiwa yang baru ke dalamnya." Gumam Alice dalam benaknya.


Alice melirik pria itu dengan hati-hati dari sudut matanya sebelum ia berjalan semakin jauh.


"Semoga saja itu hanya firasat ku."


Alice dan Elysia terus berjalan hingga mereka kembali ke penginapan.


~


Di pagi hari, Alice menjual mayat monster hasil buruannya kemarin. Karena dia belum terdaftar sebagai seorang petualang, Alice tidak bisa menjual mereka ke serikat petualang.


"Ini memang cukup murah. Mungkin aku perlu mendaftar sebagai petualang nantinya." Keluhnya sambil melihat tiga keping koin perak di tangannya.


Ia sedikit menyayangkan karena uang yang ia terima tidak sesuai dengan harapannya. "Yah, bukan berarti aku kekurangan uang. Tapi kalau seperti, aku merasa menjual hasil buruanku itu sia-sia." Alice berpikir kalau mengkonsumsi atau menguliti mereka mungkin akan lebih baik.


Bersama Elysia yang datang menyusulnya, mereka berdua berkeliling kota dan menikmati kuliner serta pemandangan kota hingga matahari terbenam.


Keduanya cukup menikmati kedamaian yang mereka dapatkan. Terutama bagi Alice, jarang-jarang baginya bisa mendapatkan waktu santai seperti ini. Kebanyakan kekacauan yang ia dapatkan selama ini selalu saja berkaitan dengan Erebos.


"Selanjutnya kita akan kemana bu?" Tanya Elysia setelah ia melahap sepotong daging dari sate yang ada di tangannya.


"Kita akan ke kota Ragna." Balas Alice. Ia menatap langit untuk sesaat. Alice bisa merasakan serpihan jiwa dari Erebos yang melewati kota ini dan mengarah ke sana.


Alice melirik Elysia, kemudian ia menggerakkan telunjuknya untuk meminta sate Elysia.


Tidak seperti hubungan seorang ibu dan putrinya. Dua wanita muda yang cantik jelita itu berjalan-jalan di sisi kota. Siapapun yang melihatnya, mereka pasti akan berpikir kalau keduanya pasti bersaudara atau bersahabat.


Jalanan sudah menjadi sedikit sepi ketika malam datang. Lampu-lampu yang ada di sisi jalan sudah mulai menerangi gelapnya malam. Alice dan Elysia sedang dalam perjalanan kembali ke penginapan. Tapi Alice mendadak berhenti menghentikan langkahnya.


"Ibu, ada apa?" Tanya Elysia heran.


Alice melirik ke sekelilingnya dengan tajam.


Tanpa menoleh pada Elysia, ia berbicara menggunakan telepati langsung ke dalam pikiran Elysia. "Kita diikuti. Tetaplah bersikap seperti biasa dan ikuti aku."


Elysia mengangguk pelan. "Baik bu."


Keduanya tetap bersikap santai. Alice berjalan menuntun mereka ke tempat yang lebih sepi.


"Sampai kapan kalian mau bersembunyi?!" Tegasnya dengan suara dingin.


Sebenarnya Alice sudah merasakan kehadiran mereka sejak pagi tadi ketika ia keluar dari penginapan. Ia mengira kalau dengan berpura-pura dan mencoba menikmati waktunya, mereka akan pergi. Tapi dia tidak menyangka kalau ternyata orang-orang yang mengikutinya sangat keras kepala. Kesabaran mereka patut dipuji.


Tiga orang berpakaian serba hitam melompat keluar atap rumah. Selain mata mereka, pakaian hitam yang membalut mereka benar-benar menutupi seluruh tubuh mereka.


Elysia segera mengeluarkan pedangnya, tapi sebelum ia sempat membuka celah dimensi, Alice memegang lengannya. "Tunggu. Jangan keluarkan senjata mu." Kata Alice melalui telepati.


Tanpa bertanya, Elysia mengurungkan niatnya dan mengikuti perkataan Alice.


Ketiga orang itu melangkah dengan pelan dan penuh kehati-hatian mendekati mereka. Pandangan ketiganya tajam dan terus menatap Alice.


Dari langkah dan gerakan mereka, Alice yakin kalau ketiganya adalah seorang profesional. Pakaian hitam menutupi seluruh tubuh mereka sudah jelas menandakan kalau mereka adalah seorang pembunuh.


"Hawa membunuh yang begitu kuat. Tanpa kalian katakan pun aku sudah tahu apa tujuan kalian. Hanya saja...aku ingin tahu, siapa yang menyuruh kalian?"


Tak terdengar tanda keraguan atau gentar dalam suaranya. Entah itu Raja Iblis atau seorang pembunuh profesional, Alice adalah wanita yang telah melewati banyak pertarungan hidup dan mati. Di matanya, ketiga orang itu hanyalah beberapa buah batu kerikil kecil di jalan. Mereka memang kuat tapi tidak sekuat Raja Iblis yang pernah ia lawan.


Ketiga orang itu tidak berkata apapun. Mereka mulai menghunuskan senjata mereka. Sepasang belati kembar keluar dari balik punggung mereka. Dalam sekejap belati yang ada di tangan mereka itu diselimuti oleh Mana yang padat. Rupanya mereka adalah pengguna Aura.


"Seorang ahli ternyata. Kalian benar-benar serius. Aku senang kalian tidak menganggap ku remeh seperti orang-orang sebelumnya."


Meski terdengar ada sedikit sanjungan di dalam kalimatnya, tapi salah satu sudut bibirnya yang terangkat membuatnya terlihat kalau dia memang mengharapkan situasi itu.


Alice mengeluarkan pedangnya. Seperti sebelumnya, pedang itu berkilau sangat indah dalam kegelapan.


"Sebenarnya aku ingin melawan kalian. Hanya saja, putriku masih dalam masa latihannya dan aku ingin melihat perkembangannya." Alice berbalik untuk memberikan pedangnya pada Elysia.


Ia berkata pada Elysia menggunakan telepatinya. "Gunakan pedang ini. Jangan pernah mengeluarkan senjatamu. Aku merasakan sesuatu yang buruk dari energi yang mereka pancarkan." Jelasnya.


Elysia tidak tahu apa yang ibunya maksud. Namun firasat ibunya sangat tajam.


Ia melihat pedang Moonlight di tangannya. Mata Elysia penuh kerlap kerlip karena terpana akan keindahannya. Ia mengeratkan genggamannya dan tersenyum lebar. Berpikir kalau pedang ibunya ada di tangannya, ia jadi bersemangat untuk mencobanya dan melawan ketiga orang itu.


Demi memenuhi ekspektasi ibunya, Elysia akan mengeluarkan seluruh kemampuannya.