
Mereka masih tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Claus dan yang lainnya pelanga-pelongo ketika mereka keluar dari Lost Forest dan melihat gerbang kota.
Kita.... berhasil. Pikirnya.
"Hmm... Ratusan tahun yang lalu ternyata kota Moonshade masihlah kota yang kecil. Itu bisa dilihat dari gerbang mereka yang belum begitu tinggi. Itu artinya Helian memimpin mereka dengan sangat baik." Gumam Alice. Mengingat tempramen wanita itu, ia sempat curiga dengan caranya memimpin rakyatnya. Namun, setelah melihat perbandingan antara kota Moonshade di masa lampau dan masa depan, Alice menjadi yakin kalau Helian adalah sosok pemimpin yang baik.
Sembari mereka berjalan menuju gerbang. Orang-orang di belakangnya masih saja bingung dengan kemampuan Alice. Mereka masih tidak henti-hentinya melihat punggung wanita misterius yang entah datang darimana.
"Tidak hanya kuat dalam bertarung, dia bahkan bisa melewati Lost Forest dengan mudah. Apakah mungkin dia sebenarnya adalah salah satu petinggi kerajaan ini atau...dia adalah orang penting yang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan?" Gumam Claus menyipitkan matanya melihat Alice.
Awalnya dia sendiri tidak percaya dan mengira mereka akan menghabiskan waktu yang lama di dalam hutan itu. Tapi setelah lama mereka berjalan mengikutinya, intuisinya ternyata salah.
"Bibi, Jangan bilang kalau dia itu sebenarnya berasal dari keluarga kerajaan." Bisik Leafa pada Claudia.
"Hush! jangan mengatakan hal sembarangan." Tepis Claudia. Dia takut menyinggungnya lebih jauh lagi, apalagi kalau dia benar-benar orang penting dari keluarga kerajaan.
Alice menghela nafasnya. "Aku bisa mendengar kalian.." Benaknya.
Setibanya di depan gerbang. Ternyata orang-orang yang ingin masuk ke dalam kota Moonshade cukup banyak sehingga mereka harus antri untuk melewati pos pemeriksaan.
Dilihat dari penampilan mereka, Alice bisa menilainya kalau mereka juga adalah seorang pengungsi.
"Aku tidak menyangka para monster itu akan menyebabkan banyak bencana bagi desa-desa kecil di luar sana."
Tak lama mereka berdiri di dalam antrean, seseorang tiba-tiba mendatangi dan menegur Elysia.
"Kau! Elysia?! Kenapa kau masih hidup?!"
Alice langsung menangkap maksud janggal dari ucapan wanita elf itu.
"Dasar pembawa bencana. Untuk apa kau kesini? Apakah kau juga ingin masuk ke dalam kota?!" Wanita itu dengan lantang mengajukan pertanyaan dengan niat sengaja memojokkan Elysia.
Elysia terdiam menunduk. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan melihat kerumunan orang yang mulai berbisik.
Tidak ada hal bagus yang mereka bisikkan. Semuanya melihat Elysia dengan pandangan mencurigakan.
Karena wanita itu, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Pergilah! Andai bukan karenamu, kami semua tidak akan berakhir seperti ini! Kaulah yang membawa monster-monster itu ke desa kami." Lanjut wanita itu tetap dengan suara lantang sambil ia menoleh pada orang-orang dibelakangnya.
Orang-orang pun mulai mengumpatnya terutama mereka yang berasal dari desa yang sama dengannya. Mereka mengutuknya, mencelanya. Mereka menolak kehadirannya.
"Itu benar! Pergilah!"
"Pembawa bencana! Pergilah!
"Kami takut kau akan mendatangkan sial pada kami."
"Kota ini bukanlah tempatmu. Kau itu anak yang membawa bencana!"
Wanita itu tersenyum sinis melihat orang-orang mendukungnya dan mengutuk Elysia.
"Dengar kan? Segera pergi atau kami akan mengusirmu dengan paksa."
Elysia yang gemetar tidak bisa membantah. Bibirnya menjadi kaku, mulutnya yang mengatup terbuka dan tertutup tidak bisa mengeluarkan satu katapun. Dia menjadi gagap dan tidak berkutik.
Elysia menggeser kakinya mundur dengan perlahan. Dia takut. Wajah dan tatapan orang-orang di sekitarnya membuatnya ketakutan.
Ibu.... Ibu....Dalam hatinya kecilnya Elysia berharap ibunya kan datang dan mendekapnya.
Alice yang mulai geram dengan cercaan mereka. Kepalan tangannya begitu erat dan ia ingin sekali membungkam mulut mereka satu persatu, tapi ketika dia ingin melangkah maju dan memeluk gadis kecil itu, pemandangan di sekitarnya berubah.
Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Seolah dia terjerat oleh sesuatu, Alice hanya bisa menatap gadis itu gemetar ketakutan sambil menutup kepalanya di bawah kedua lengannya yang kecil.
Perlahan suasana berubah menjadi seperti apa yang ada dalam lautan kenangan itu. Alice melihat Claus dan keluarganya lenyap menjadi bayang-bayang begitupun Leafa.
Dia, Elysia dan orang-orang yang mencercanya, mereka berada dalam kegelapan. Emosi negatif begitu pekat menyelimuti sekitar mereka.
"Ini...Claus dan yang lainnya...Jadi begitu rupanya." Alice sadar kalau apa yang terjadi merupakan salah satu peristiwa penting yang menjadi penyebab timbulnya gelembung hitam waktu itu.
Claus dan keluarganya yang lenyap menandakan kalau mereka tidak seharusnya ada di tempat ini. Alice yang menyelamatkan mereka tidak akan mengubah atas apa yang pernah terjadi dalam ingatan Elysia.
"Kalau begitu... itu artinya dia kemari seorang diri?" Tanya benaknya.
Membayangkan gadis sekecil itu berjalan seorang diri di dalam gelapnya hutan membuatnya pilu. Ternyata dia selama ini sendirian, menyusuri hutan di tengah-tengah bahaya yang tidak tahu kapan munculnya.
Dadanya semakin berat memikirkan Elysia. Tubuh kecil itu menanggung begitu banyak penderitaan. Dalam kejamnya dunia, dia tidak memiliki tempat untuk bersandar.
Tidak memiliki rumah untuk pulang dan tempat untuk ia tuju.
"Elysia..." Ucap pelan Alice menyebutkan namanya.
Alice mengeratkan giginya. Ia menghembuskan nafas panjang dengan perlahan untuk menenangkan hatinya yang bergejolak karena amarah. "Aku tidak menyangka kalau sihir seperti ini bisa menjebakku. Kalau memang seperti itu, aku hanya perlu menggunakan tenaga ku lebih banyak lagi."
Kakinya, tangannya, Alice perlahan menggerakkan semua tubuhnya untuk lepas dari tali takdir itu. Energi Qi mengalir keluar menyelimuti tubuhnya. Perlahan-lahan, energi Qi nya meluap.
"Elysia...aku akan datang." Ucapnya.
Sedikit demi sedikit dia sudah bisa melangkah. Tubuhnya begitu berat dan kakinya seolah di tarik mundur oleh sesuatu.
"Heh! Mimpi kalau kau ingin menahan ku hanya dengan trik rendahan seperti ini. Mencoba untuk mengekang sosok agung ini. Jangan bercanda! Lepas!"
Bagaikan sebuah kaca yang retak, Alice berhasil melepaskan dirinya. Ia berjalan mendekat dan semakin dekat dengan Elysia.
Mendengar cercaan pahit mereka, Elysia terus mundur perlahan. Ia ingin pergi, ia ingin menjauh, sangat jauh dari mereka.
Takut...Aku takut...huhu...ibu...aku takut... Elysia menangis dalam hatinya. Senyum dan wajah menyeringai para penduduk desa sangat menyeramkan.
BUKK. Tubuhnya menabrak seseorang.
Bulu kuduknya berdiri, wajah kecil dan polos itu kehilangan warnanya. Dia terjebak. Bagaikan dikepung oleh kawanan serigala. Elysia tidak sanggup berdiri tegap.
Elysia perlahan berbalik. Saat ia melihat sebuah tangan mengarah padanya. Ia berlindung di bawah kedua lengannya. "Ti-tidak." Elysia mengira kalau orang itu ingin menangkapnya, tapi tangan itu berhenti di atas kepalanya.
Belaian dan sapuan pelan yang terasa hangat hingga ke dalam hatinya membuat ia terbelalak.
"Eh?"
Elysia mengangkat wajahnya dan mendapati Alice di depan matanya. Alice segera mendekapnya dengan erat.
"Jangan khawatir. Aku ada disini. Kamu tidak perlu takut." Alice mengusap air mata gadis kecil itu. Ia menutup kedua telinganya. Dengan senyuman lembut Alice berkata. "Tidak perlu mendengarkan mereka. Kamu bukanlah apa yang mereka katakan. Elysia adalah Elysia. Kamu bukanlah pembawa sial ataupun pembawa bencana. Kamu adalah gadis cantik jelita yang indah dan rupawan seperti seorang dewi." Alice berbisik dengan pelan ke telinga Elysia. "Kamu adalah seseorang yang berharga bagiku. Jangan takut, aku tidak akan pergi meninggalkan mu."
Kalimat itu menenangkan hatinya yang berkecamuk dalam ketakutan. Layaknya mentari, ungkapan tulus Alice mendatangkan cahaya bagi Elysia. Suara Alice seolah menariknya dari jurang kegelapan.
"Ayo. Kita pergi dari sini." Alice berdiri. Ia mengajak Elysia pergi dari tempat itu.
Elysia mengusap air matanya. Ia tersenyum dan mengangguk. "Um. Baik Bibi."
Keduanya saling menggenggam tangan berjalan beriringan masuk ke dalam kota.
"Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu. Akan ku hapus mimpi buruk mu ini." Batin Alice.
Waktu bagaikan berhenti begitu saja. Salah satu peristiwa yang merantai hati Elysia berhasil ia lenyapkan.
Seiring berjalannya waktu dalam kebersamaan mereka. Gadis kecil itu pun tumbuh menjadi seorang wanita remaja. Tidak tahu berapa puluh tahun telah berlalu. Alice tidak lagi menghitungnya. Baginya, selama mimpi ini belum selesai, maka itu artinya mereka masih terjebak dalam sihir hitam milik Erebos.