
Betapa terkejutnya Alice ketika ia melihat wajah di balik kain putih itu. Seseorang yang begitu berarti dan dia sayangi ternyata adalah mempelai dari Cecilion, yang tidak lain adalah adiknya sendiri, Iris Lein Strongfort.
Kenapa bisa hal itu terjadi?
Alice mengamati baik-baik keadaan Iris. Berdasarkan sifat adiknya itu, tidak mungkin dia menerima lamaran dari seorang deemon. Firasatnya mengatakan bahwa Cecilion menggunakan trik liciknya lagi.
Alice diam dan mengamati Iris dengan baik, dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Tubuh yang berdiri tegak dan mata yang memandang lurus namun tak bercahaya itu membuat kemarahan Alice tiba-tiba memuncak. Benar saja, adiknya sedang dalam pengaruh sihir Cecilion. Sorot mata Iris sama seperti milik Ratu Elizabeth saat ia dalam pengaruh sihir pengendali pikiran.
Kemarahan Alice semakin menjadi-jadi. Energi Qi yang dahsyat meledak keluar dari dalam dirinya membuat para deemon yang berdiri dihadapannya ketakutan. Dengan tangan dan jemarinya yang gemetar ia menunjuk Cecilion, memandanginya dengan tajam dan penuh akan aura membunuh.
Kemarahan dan tekanan energi Qi Alice yang begitu kuat mulai mempengaruhi kestabilan struktur ruang dan waktu di tempat itu. Dengan jumlah Mana atau energi alam dari langit dan bumi yang ada dalam dimensi itu, Alice menyerapnya dengan cepat untuk melakukan penerobosan secara paksa. Tidak peduli akan bahaya yang akan datang atau gangguan yang bisa saja menghalanginya. Selagi energinya meluap-luap dan penyerapan tiada batas dalam dirinya, Alice tetap menguatkan tekadnya untuk menerobos. Dia harus menjadi lebih kuat jika ingin menghancurkan tempat itu bersama dengan Cecilion.
Apapun yang terjadi, ku pastikan hari ini dan tempat ini akan menjadi pemakamanmu.
Melihat situasi itu, Cecilion sadar kalau apa yang Alice lakukan tidak hanya merusak pernikahannya tapi juga akan melenyapkan dunianya. "Gawat! Wanita oni sialan ini ingin menghancurkan tempat ini." Ketusnya.
"Apa yang kalian tunggu. Habisi dia sekarang!" Tegas Cecilion memerintahkan bawahannya. Namun para bawahannya itu seperti mematung seolah tubuh mereka ditahan oleh sesuatu. Mereka saling melirik dengan penuh ketakutan dan keraguan.
Siapa yang berani maju duluan?
Oni itu sangat berbahaya. Melawannya sama saja dengan mengantarkan nyawa.
Aku...aku tak berani. Kau saja.
Para deemon bawahan Cecilion menggelengkan kepala dengan pelan mereka sambil menatap Cecilion. Cecilion mendecihkan lidahnya. Dia lalu menoleh ke arah para budaknya kemudian memerintahkan mereka untuk menyerang Alice.
Karena perintah Cecilion adalah mutlak, mau tidak mau kaki dan tangan mereka bergerak di luar keinginan mereka. Para budak mengangkat senjatanya lalu berlari ke arah Alice. Dan sama seperti para deemon yang lainnya, saat mereka makin dekat dengan Alice, terasa seperti ada dinding yang tak kasat mata yang menghalangi mereka.
Sedikit lagi. Tinggal sedikit lagi.
Alice telah cukup lama memejamkan matanya. Lalu saat ia membukanya, saat itu pula masa penerobosannya telah selesai. Setelah sekian lama ia menahan dirinya, akhirnya hari ini Alice berhasil melakukan penerobosannya dan naik dua alam sekaligus.
Mulai dari tahap awal pembentukan tubuhnya yakni Body Refining, lalu pemurnian Qi yaitu Qi Refining. Alice kemudian memasuki tahap pemadatan Qi yang juga disebut Qi Condensation dan penyatuan keduanya yakni tahap Body and Qi Transforming. Keempat tahap itu adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari kefanaan untuk memulai kultivasi di alam Earth Refining yang mana adalah alam dari kultivasi miliknya sebelumnya.
Penerobosan Alice secara paksa membuat ia melewati alam Heaven Refining dan memasuki alam Divine Refining. Di atas kedua alam itu ada alam para Immortal atau disebut juga alam keabadian. Immortal Realm.
Pada alam Immortal Realm terbagi menjadi 3 tahap yaitu Golden Core, Holy Saint Core dan Supreme Core. Di kehidupan sebelumnya, Alice telah berada pada tahap Holy Saint Core dan tinggal dua langkah lagi maka ia bisa menjadi seorang dewa yang sebagaimana selalu diagungkan-agungkan oleh para manusia fana. Sayangnya sebelum ia berhasil menerobos ke alam itu, jauh-jauh hari para ahli telah bersiasat untuk membunuhnya dan pada akhirnya mereka berhasil melakukannya dengan menggunakan bantuan dari sahabat dan murid tercintanya sendiri.
Alice tersenyum pahit lalu tertawa kecil. Kenapa dia harus mengingat kenangan itu lagi? Apa yang penting baginya saat ini adalah Cecilion yang harus ia bunuh.
Cecilion makin jengkel karena para bawahannya dilemparkan oleh Alice dengan begitu mudah, ditambah saat ia melihat tingkah pengecut para bawahannya itu yang sama sekali tidak ingin melakukan perintahnya.
"Wanita! Jangan kira aku akan diam saja. Lihatlah kekuatan ku yang telah dianugerahi oleh orang itu." Cecilion lalu merentangkan kedua tangannya dan perlahan tubuhnya melayang ke udara.
Di daratan para deemon, manusia, elf atau para ras humanoid lainnya, hanya dialah satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk terbang berkat bantuan dari kekuatan yang diberikan oleh Erebos, Sang Dewa Jahat.
Cecilion yang berada di udara memandang Alice dengan rendah seolah ia melihat seekor serangga. "Lihatlah! Bahkan penyihir level 7 pun tidak bisa melakukannya. Kekuatan nyata ini...tunduk lah dihadapannya!" Gema suara Cecilion yang dipenuhi Mana membuat bawahannya tidak sanggup untuk berdiri dan jatuh bertekuk lutut. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Alice.
Alice merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya lalu ia menunjuk ke arah depan, di lantai tepat di bawah Cecilion.
[ Immortal Technique. Tomb of Thousand Sword ]
Seketika pemandangan tempat itu berubah dan membuat Cecilion terheran-heran.
Apa yang terjadi? Apakah ini ilusi? Cecilion melirik ke sekelilingnya dan bertanya-tanya dalam kepalanya. Bagaimana bisa seseorang menggunakan ilusi dalam dimensi miliknya.
Apa yang Alice perlihatkan adalah ilusi akan sebuah tanah tandus yang penuh akan pedang. Pedang-pedang itu tertancap ke tanah dengan kondisi mereka yang berbeda-beda. Ada yang patah, rusak, karatan dan ada juga yang masih cukup baik untuk di katakan sebuah pedang.
"Apa ini? Apakah hanya segini saja? Ilusi seperti ini tidak akan berarti di mataku." Kata Cecilion angkuh.
"Tempat inilah yang akan menjadi makam mu."
"Hahaha..... Wanita yang sombong. Sebelum kau berkata seperti itu ada baiknya kau tahu batasan mu."
Cecilion kemudian mengarahkan salah satu telapak tangannya ke langit.
[ Bloody Rain ] Gumpalan darah seukuran bola kasti mengalir dari jemarinya ke langit lalu terpecah belah hingga ratusan tetes.
"Rasakan ini!" Ucapnya lalu mengarahkan tangannya pada Alice.
Tiap tetesan darah itu berubah bentuk menjadi sekecil dan setajam jarum. Lalu jarum-jarum itu dengan cepat terbang ke arah Alice.
Melihat jarum-jarum itu terbang ke arahnya, Alice tidak begitu peduli seakan serangan itu tidak akan melukainya.
Cecilion mengerutkan keningnya karena deemon wanita dihadapannya itu tampak tidak mencoba untuk melakukan apa-apa. "Apa yang sedang dia rencanakan?" Batinnya heran.
Ketika jarum-jarum itu berjarak sekitar selangkah dari Alice, puluhan bilang pedang tiba-tiba muncul entah darimana dan melindungi Alice dari serangan Cecilion.
"Sial! Darimana datangnya pedang-pedang itu?"
Serangannya yang pertama gagal. Cecilion menyerang kembali dengan kemampuannya yang lain namun hal serupa terjadi, pedang-pedang aneh yang muncul tiba-tiba kembali melindungi Alice.
[ Blood Feast ] [ Dark Sanguine ]
Kali ini Cecilion menggunakan empat tangan raksasa yang muncul dari bawah di sekitar Alice yang bermaksud untuk menenggelamkannya ke tanah dan Dark Sanguine yaitu kemampuannya membuat cakar raksasa yang akan menghantam Alice dari atas.
Cecilion menyeringai saat melihat Alice masih diam di tempatnya. "Kali ini pasti, tamatlah riwayat mu."
Tapi sayang sekali. Cecilion terkejut saat melihat balasan Alice untuk menghentikan serangannya. Alice yang telah berada di alam Divine sudah mampu menggunakan kemampuan terbang. Dia juga melayang di udara dan membuat Cecilion membuka mulutnya dengan lebar karena terkejut.
Saat Alice melayangkan di udara. Alice mengayunkan kedua jarinya itu yang mana menciptakan beberapa bilah pedang dan menghancurkan serangan Cecilion. Setelah itu, Alice mengarahkan ujung kedua jarinya pada Cecilion, sontak sebuah pedang dengan spontan mengarah tepat menusuk perut Cecilion.