Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab V Chapter 171



"Tetesan embun suci dari Yggdrasil benar-benar sangat manjur. Andai saja aku bisa mendapatkan lebih banyak. Sayangnya, tetesan embun suci Yggdrasil membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terkumpul sebanyak ini." Gumamnya sambil melihat botol ramuan di ditangannya. "Satu tetes elixir ini terbuat dari ekstraksi kepadatan Mana yang telah terkumpul selama 10 tahun. Sedangkan untuk sebotol ini....ku rasa butuh sangat banyak dan waktu yang sangat lama. Belum lagi karena ulah Erebos yang mengacaukan energi Murni Yggdrasil." Alice menghela nafasnya.


Dengan tetesan embun suci miliknya, Alice juga membantu kesembuhan Daeron Mablung. Saat pertama kali ia memberikan setetes embun suci itu pada Daeron, Alice sedikit ragu karena dia tidak melihat adanya tanda-tanda kesembuhan dari Daeron. Dia tidak merasakan energi kehidupannya meningkat. Kemudian Alice sadar kalau tetesan embun suci itu hanya untuk menyembuhkan segala luka fisik bukan luka jiwa.


Alice pun mencoba untuk menggunakan teknik jiwa yang sama yang pernah ia gunakan pada Elysia.


Ia menyelami alam bawah sadar Daeron.


Kekuatan dan kesadaran jiwa Daeron ternyata sangat lemah. Alice merasa kalau perlahan daya hidupnya semakin berkurang.


"Kalau begini terus, cepat atau lambat dia pasti akan mati."


Alice lalu menggunakan kekuatan jiwa miliknya untuk memulihkan jiwa Daeron yang telah rusak karena pengaruh Erebos. Perlahan, layaknya sebuah serpihan kaca yang terpecah belah, jiwa Daeron berkumpul menjadi satu dan menjadi lebih kuat.


Memulihkan jiwa Daeron jauh lebih mudah dari jiwa Elysia karena tidak ada sihir yang menghalanginya. Terlebih lagi tidak ada trauma pada mental Daeron sehingga Alice bisa menggerakkan energi dalam tubuhnya dengan lebih mudah.


Sebagai seorang elf yang memiliki usia yang panjang, Alice percaya kalau kekuatan jiwa Daeron akan kembali normal begitu pula dengan daya hidupnya. Walaupun itu butuh waktu agar jiwa yang sudah rusak itu dapat selaras dengan raganya.


"Terima kasih atas bantuan Anda." Alice membungkuk dengan sopan pada Daeron yang duduk di kursi roda.


Dengan kesembuhan Daeron, Alice lega dan senang karena ia mendapatkan beberapa kristal dengan Rune yang terukir di dalamnya. Alice melihat kristal ungu di tangannya. "Dengan benda ini, akhirnya aku bisa menghubungi keluarga ku." Benaknya.


"Tidak. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau telah melakukan begitu banyak kebaikan untuk kami. Kau adalah pahlawan kami. Sebagai raja, aku sangat bersyukur karena takdir menuntun mu kemari. Kelak, jika kau butuh bantuan, kami pasti akan menolong mu sebisa mungkin."


"Aku menghargai kemurahan hati Anda."


"Kau adalah pahlawan kami. Sahabat para Elf. Kau dan keturunan mu, akan selalu di terima di negeri ini." Daeron tersenyum, kemudian ia membungkukkan kepalanya sedikit sebagai tanda terima kasih dan rasa syukur.


Keesokan harinya...


Masih ada satu tempat yang belum Alice kunjungi. Alice, Echidna dan Elysia. Mereka berangkat menuju Wasteland.


"Kenapa ibu datang kesini?" Tanya Elysia.


"Aku ingin menemui seseorang."


Suara Alice terdengar pelan.


Semenjak mereka melewati hutan dan tiba di Wasteland, Elysia merasakan kalau ibunya sedang memendam sesuatu. Walaupun dia tidak menunjukkan itu di wajahnya. Namun langkah, nafas dan diamnya menyiratkan kalau hatinya menjadi lebih berat.


Elysia menoleh dan mencoba menanyai Echidna. "Kakak..."


Echidna menggelengkan kepalanya dengan pelan sebagai isyarat agar Elysia tidak menanyakan hal apapun lagi.


Keduanya terus mengikuti Alice hingga mereka melihat pohon lebat yang berdiri tak jauh di depan sebuah gua. Di bawah pohon itu ada tumpukan batu aneh.


Setelah Elysia melihatnya lebih jelas lagi, tumpukan batu itu seperti sebuah nisan yang pernah Alice buat di makam ibunya.


Alice mengeluarkan selembar kain yang lebar dan sebuah keranjang kayu yang berisi makanan dari cincin dimensinya.


"Ini. Kalian duduklah dulu." Katanya sambil ia memberikan keranjang dan kain itu pada kedua putrinya.


Elysia tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba menjadi seperti itu. Ini adalah tempat sebelumnya dimana ibunya berlatih.


Kenapa ibu kembali ke sini? Apakah ini adalah makam seseorang yang ibu kenal? Tapi... tempat ini adalah wilayah negeri elf.


Echidna lekas menarik Elysia yang diam dan hanya memperhatikan Alice.


"Kemari. Lebarkan kain itu disini. Mama bilang kalau hari ini kita akan piknik disini. Jujur aku tidak begitu tahu tentang apa itu yang namanya piknik." Ujar Echidna.


Elysia pelanga-pelongo sebelum ia mengangguk dengan ekspresi bingung di wajahnya.


Setelah ia melebarkan kain itu di atas rumput, ia pun mengeluarkan makanan yang ada di dalam keranjang itu.


Pikiran Elysia belum bisa lepas dari Alice. Sesekali ia melirik ibunya duduk di samping tumpukan batu itu.


Echidna paham akan kebingungan Elysia, dia juga ingin menanyakan hal yang sama. Namun ia hanya tidak ingin bertanya. Untuk pertama kalinya, ia melihat raut wajah Alice yang tenggelam dalam kesedihan.


Mama yang dia selalu andalkan adalah seorang wanita yang kuat. Walaupun dia melawan musuh yang jauh lebih kuat darinya, dia tidak akan takut dan gentar. Dia selalu tenang seolah semuanya berada di bawah kendalinya. Sangat jarang untuk melihatnya marah dan bersedih sedalam ini.


Tapi kali ini Echidna melihat punggung mamanya yang membungkuk di samping tumpukan batu itu seperti tertahan oleh bongkahan batu besar dan penuh sayatan luka. Gerakannya nafasnya terlihat melambat dan setiap hembusannya samar-samar terdengar berat.


"Hei...Xiao Yun." Gumam Alice pelan.


Xiao berarti kecil. Begitulah dia biasanya memanggil Lin Zhou Yun dengan akrab penuh kasih sayang.


Alice mengeluarkan sebuah guci kecil berisi minuman dari cincin dimensinya. Minuman itu adalah Ale salah satu minuman beralkohol yang para elf buat.


"Aku telah menepati janjiku. Apakah alasan mu menyuruh gurumu kemari hanya agar aku bisa melihat makam mu dan berkabung?"


Hembusan angin sore di bawah langit senja seperti mendukung suasana kesedihannya.


"Aku bodoh. Waktu itu aku benar-benar tidak menyangka dan mengira kalau kau akan mengkhianati ku. Hatiku sangat sedih saat memikirkannya bahkan setelah aku terbangun di dunia ini. Ditambah lagi dengan Xiao Mei yang juga melakukan hal yang sama denganmu. Ingatan itu adalah mimpi buruk bagiku. Kultivasi ku terhambat. Mereka bagaikan iblis hati yang bisa membuat Qi ku menyimpang kapan saja aku lengah saat mencoba untuk naik ke ranah yang lebih tinggi."


Alice berhenti sejenak lalu ia meneguk minumannya lagi.


".....Tapi saat tahu kalau Xiao Mei sebenarnya dikendalikan oleh rubah betina itu, aku merasa kalau satu rantai yang menjerat hatiku terlepas. Aku merasa lega dan semuanya menjadi lebih ringan. Banyak hal kemudian terjadi. Hei, Xiao Yun. Aku tidak tahu kapan aku bisa datang kemari lagi. Karena itu, biarkan gurumu ini sedikit bercerita tentang pengalamannya. Kau dulu sangat suka mendengarkan cerita ku kan?"


Alice berhenti untuk ketiga kalinya. Ia melirik tumpukan batu di sampingnya lalu ia kembali meneguk minumannya.


Elysia melihat tingkah aneh ibunya yang terus menerus meneguk guci kecil itu. Awalnya ia tidak tahu cairan apa yang ada di dalam guci itu, tapi setelah angin berhembus dan membawa aroma kecut manis minuman alkohol ke dalam hidungnya, Elysia segera berdiri dan ingin berlari untuk menghentikan Alice.


Echidna lekas menarik tangan Elysia untuk menghentikan langkahnya.


"Kakak?! Kenapa?"


"Duduklah. Mama butuh waktunya saat ini."


Elysia sedikit kesal dengan ketidaktahuannya. Dengan eskpresi pahit ia menatap Echidna lalu menoleh pada Alice.


Elysia menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya ia kembali duduk.


"Aku tahu perasaan mu. Kita sama-sama dilema karena tidak bisa melakukan apa-apa. Aku juga ingin membantu mama, tapi melihat kondisinya saat ini, aku merasa kalau mama hanya ingin sendirian sekarang. Kita akan kesana jika memang situasinya sudah pas."


Apa yang Echidna katakan benar.


Walaupun dia terlihat seperti seorang gadis kecil dan Elysia selalu menjahilinya dengan mengambil makanannya. Tapi sebenarnya pemikiran Echidna sangatlah dewasa.


Naga yang telah hidup ribuan tahun sudah pasti memiliki banyak pengalaman hidup.


"Begitulah.... Bagaimana? menarik bukan? Akhirnya aku memiliki keluarga ku disini. Mereka menyayangiku sepenuh hati. Aku yakin mereka pasti sangat merindukanku sekarang ini, ya...aku juga sangat merindukan mereka. Tapi ada satu hal yang membuat ku kecewa."


Guci di tangannya telah kosong, namun Alice merasa belum cukup. Ia pun mengambil guci kecil kedua yang ada dalam cincin dimensi dan meneguknya begitu saja hingga minuman di dalam tersisa setengah.


"Aku benci ini. Aku ingin melupakan semuanya. Aku sudah mencoba melupakan semuanya tentang mu. Rasa pedih itu terus menghantuiku bagaikan iblis hati. Aku pun bertahan, aku berusaha melepaskan kebencian ku namun aku tahu, aku tak bisa lari dari masa lalu ku. Dan... saat aku sudah merasa kalau aku bisa mengikhlaskannya, Lagi-lagi kau datang padaku."


Alice meneguk minumannya sekali lagi sampai guci itu benar-benar kosong. Ia mengelap bibirnya dengan pelan. Ia menekuk lututnya ke atas kemudian menyandarkan wajahnya pada lututnya dan menoleh melihat tumpukan batu itu di sampingnya.


Wajahnya yang cemberut mencerminkan seorang gadis muda biasa pada umumnya. "Kau datang dan mengatakan semuanya seenakmu saja. Kau merubah rasa benci itu. Takdir benar-benar kejam dalam mempermainkan hatiku. Sungguh aku wanita gila karena memiliki perasaan pada murid ku sendiri. Heh. Kau pasti kesal kan? Lagi-lagi kau mendengar ku mengeluh dan merengek."


Alice menghela nafas panjangnya. "Saat ini aku benar-benar ingin mabuk dan mencoba untuk melupakan semuanya walaupun hanya sehari saja..., sayangnya dengan tingkat kultivasi ku ini, itu percuma. Menyebalkan."


Sebagai seorang kultivator Immortal Realm, tubuhnya benar-benar kebal terhadap racun ringan. Alkohol biasa tidak akan membuatnya kehilangan kesadaran.


Alice terkekeh menertawakan dirinya.


Rasa sedih menelan dirinya.


Kultivasinya sudah naik hingga ke ranah Immortal Realm tapi dia masih memiliki penyesalan seperti ini, cukup menggelikan. Begitulah menurutnya.


Haruskah aku menghapus ingatan ku?


Alice kembali mengeluarkan guci kecil ketiga dari cincin dimensinya. Dia sudah mempersiapkan banyak minuman meskipun dia tahu kalau sebenarnya dia tidak akan bisa mabuk.


Bagaikan rembulan dan mentari


Yang satu di barat, yang satu di timur


Takdir yang mempertemukan kita


Takdir jua yang memisahkan kita


Benang merah ini sungguh menyayat hati


Rasa hati ingin memutusnya namun takut kehilangannya


Ketika Alice ingin meneguk guci kecil itu, Echidna dan Elysia dengan cepat menghampirinya. Echidna menahan tangannya sementara Elysia memeluknya erat dari belakang.


"Ibu...apa yang terjadi sampai membuat ibu sesedih ini? Bukankah kami ada disini?"


Alice tersentak. Rasa gundah yang menumpuk benar-benar membuatnya lupa diri untuk sesaat.


Alice menatap Echidna yang berdiri di sampingnya dan memanggil lembut dirinya. "Mama...maukah mama menceritakannya pada kami?"


Wajah bersungut putri kecilnya itu membuatnya luluh. Alice meletakkan guci kecil di tangannya ke tanah.


Ia menundukkan kepalanya perlahan untuk menghindari tatapan mereka. "Maaf membuat kalian khawatir."