
"Oi... bukannya itu dia ya?!" Salah seorang pemburu menegur temannya ketika ia melihat Alice berjalan menuju meja resepsionis.
"Ya...Dia pendatang baru yang di juluki ice queen itu." Balas kawannya.
Para pemburu tak bisa memalingkan pandangan mereka untuk melihat sosok Alice yang berjalan perlahan dan melintasi setiap meja hingga ke hadapan resepsionis. Meski mereka terbilang profesional dan sudah lama bekerja sebagai seorang pemburu, ketika Alice menginjakkan kakinya di depan mata mereka, lidah mereka kaku dan mulut mereka terkunci begitu saja.
Dua bulan sebelumnya, pada awal kedatangan Alice yang kala itu ingin mendaftar sebagai seorang pemburu menciptakan sebuah ingatan mengerikan yang masih menghantui di kepala mereka.
Saat itu seorang pemburu yang sedang dalam keadaan mabuk menggoda Alice. Meski Alice sudah meladeninya dengan baik namun pemabuk itu terus bersikeras menggoda dan memintanya untuk menemaninya. Mabuk saat hari masih begitu terang.
Alice mulai naik pitam saat pemabuk itu menarik tudungnya dengan paksa. Pandangannya saat ia melihat kecantikan Alice bagaikan binatang liar kelaparan yang menemukan santapan lezat. Pemabuk itu mengelap liurnya yang sedikit mengalir dari sudut mulutnya. Matanya yang tadinya sayup kini terbelalak akan paras gadis manis di hadapannya.
Alice makin risih dan menegaskan pada orang itu untuk berhenti dan menjauh darinya. Udara tiba-tiba saja menjadi dingin begitu juga dengan suaranya. Resepsionis wanita yang melihat mata tajam bersinar milik Alice dari balik gelapnya tudung itu, mulai mengalirkan keringat dingin dari pelipisnya.
Pemabuk itu tak menggubrisnya lebih tepatnya ia tak menyadari perubahan itu. Kelakuan menjengkelkannya makin menjadi-jadi, ia tidak berhenti sampai disitu saja. Matanya kemudian berpaling pada sosok imut dan menggemaskan yang berdiri di samping Alice. Echidna menatapnya dengan jengkel namun pria pemabuk itu terlihat menikmatinya.
"Wah, wah... Gadis kecil yang manis." Katanya lalu ia terkekeh dengan seringai menjijikan. "Kalian berdua... sayang sekali kalau... wajah cantik kalian disia-siakan disini...kemari lah, kita bersenang-senang bersama." Lanjutnya lalu ia mengulurkan salah satu tangannya dan ingin meraih kepala Echidna.
Sebelum ujung jarinya sempat menyentuh sehelai rambut milik gadis kecil itu. Pemabuk itu terhempas kebelakang. Dengan tubuh yang lebih besar dan kekar daripada Alice, orang-orang melirik mereka dengan mata terbelalak dan tidak percaya. Mulut sebagian orang terbuka lebar karena terkejut. Bagaimana bisa dia terlempar hingga ke depan pintu?
Masih belum reda, amarah Alice masih belum mereda hanya dengan satu serangan. Setelah melayangkan tendangan dengan Qi dingin yang membuat sekujur tubuh pria itu kaku seketika. Alice melepaskan Qi dan amarahnya nya ke seluruh ruangan.
'Jangan pernah mencoba untuk menyentuhnya' Mata dan ekspresinya seolah mengisyaratkan demikian.
Pandangan dan kekuatan yang Alice lepaskan seperti sebuah peringatan bagi siapapun yang melihatnya. Seiring berjalannya waktu dan dengan latihannya, kultivasinya yang telah berada di tahap Earth Refining kini telah mencapai puncaknya. Jangankan penyihir level 5, dengan kekuatannya yang sekarang, Alice telah mampu menghadapi penyihir level 7.
Aura mencekam yang dipenuhi hawa membunuh yang kuat membuat orang-orang yang kekuatannya lebih lemah darinya tak bisa berkutik. Alice tetap berdiri dan sengaja mempertahankan posisinya. Namun, Alice tak begitu kejam untuk serta merta menyiksa semua orang yang ada di dalam gedung itu dengan aura nya. Alice masih bisa menahan diri dan mengecualikan kedua resepsionis yang ada di belakangnya.
Setelah beberapa saat berlalu. Seorang wanita dengan perawakan muda datang dari lantai atas menuruni tangga dan berkata. "Sudah cukup sampai disana nona muda."
Suasana seketika berubah dengan kehadirannya. Alice melihat senyuman dan harapan di balik cerahnya tatapan para pemburu.
Mereka yang masih bisa berdiri dan mengangkat kepalanya, mulai ribut dan berdiskusi.
"Itu ketua serikat."
"Ketua datang menolong kita."
"Syukurlah akhirnya ketua tiba juga."
"Ketua serikat ya?" Benak Alice.
Alice menoleh dan memandang nya dengan sikap acuh. Wanita itu terlihat tidak jauh berbeda darinya. Dari penampilannya, mungkin ia 3 atau 5 lima tahun lebih tua darinya, tapi Alice tidak bisa menganggap enteng wanita itu. Ia tahu kalau wanita itu sangat kuat yang tidak bisa di pandang dari penampilannya saja. Rambut abu-abu dengan mata berwarna merah terang dan taring kecil yang terlihat pada giginya saat ia berbicara menunjukkan jelas kalau dia adalah ras iblis dari suku Vampir.
Alice pernah membacanya. Mahkluk yang memiliki kasta dengan kekuatan hebat, tidak hanya fisik dan sihir tapi mereka juga ahli dalam melakukan regenerasi disaat mereka terluka. Seperti monster ghoul atau arwah, kelemahan vampir juga adalah sinar yang begitu terang atau cahaya matahari dan mereka adalah deemon yang lebih aktif pada malam hari.
"Nona muda, tolong hentikan. Meskipun orang itu telah bersalah tapi aku tidak membenarkan adanya kekerasan terhadap sesama pemburu di serikat ku." Jelasnya sambil ia berjalan mendekati Alice.
Alice menurutinya, ia menarik kekuatannya dan membuat para pemburu merasa lega kembali.
"Maafkan aku selaku ketua. Aku akan mendisiplinkan orang-orang seperti mereka." Wanita itu dengan anggun mengangkat roknya perlahan untuk meminta maaf. Sikapnya mencerminkan layaknya seorang bangsawan yang beretika.
Sungguh nostalgia, sudah lama ia tidak melihat sikap seperti itu. Alice pun ikut meresponnya dengan sopan "Tidak, ini bukan kesalahan anda. Tolong maafkan saya karena sudah lancang."
Keduanya saling menatap sejenak dan melepaskan tawa kecil. Mereka saling menertawakan sikap masing-masing. Terasa sedikit aneh untuk bersikap seperti itu di tempat ini. Orang-orang yang melihatnya menjadi heran karena keduanya bisa akrab begitu cepatnya. Apakah mereka kenalan?
"Namaku Ophelia D'Meridiem. Senang berkenalan denganmu."
"Namaku Alicia Lein Strongfort, aku juga senang berkenalan denganmu."
Ophelia melangkah lebih dekat dan berbisik ke telinga Alice. "Apa yang seorang bangsawan manusia lakukan di tempat ini?"
Mata Alice melebar karena terkejut, alisnya terangkat mendengar fakta kalau wanita itu mengetahui penyamarannya.
Ophelia melirik ke arah para pemburu. Ia tersenyum lembut pada mereka dan melambaikan tangannya lalu berbalik pada Alice. "Naiklah, kau bisa menjelaskannya di atas." Lalu ia berjalan menuju tangga dan disusul oleh Alice beserta putrinya.
Setibanya di ruangan kerja Ophelia, seorang pria menyambut mereka.
"Darius, siapkan minuman untuk tamu kita." Begitulah Ophelia memanggil pria itu. Darius membungkuk sambil melipat satu tangannya di dadanya. "Baik, Nyonya."
Selagi mereka menunggu Darius. Ophelia, Alice dan Echidna sudah duduk berhadapan.
"Umm...Nona muda, tolong jangan menatap ku seperti itu. Aku ini bukan orang jahat." Ophelia tersenyum canggung melihat Echidna yang terus mengekor dirinya dengan tatapan tajam sejak ia menaiki tangga. "Kalau bisa aku tidak ingin berurusan dengannya." Pikirnya saat merasakan sesuatu yang mengancam dari sosok gadis kecil itu.
Ophelia berdeham, ia menoleh pada Alice. "Apa dia adikmu?"
"Dia putriku." Balas singkat Alice
"Hah? Seorang manusia...dan putrinya..." Ophelia berulang kali melihat keduanya. Tidak ada yang aneh, mereka memang terlihat mirip. Ophelia hanya heran karena perbedaan ras mereka. Ia mendesah sambil memegang pelipisnya.
"Banyak hal yang terjadi." Kata Alice. Ia tersenyum tipis dalam hatinya. Alice sengaja tidak menjelaskannya dan membiarkan Ophelia berpendapat sendiri. Lagipula, pada kenyataannya memang banyak hal yang telah terjadi padanya sebelum ia bersama Echidna. Terkadang sesekali untuk iseng bisa mengurangi sedikit beban pikirannya.
"Baiklah. Kembali ke intinya. Aku ingin tahu bagaimana dirimu bisa sampai di tempat ini?" Tanya Ophelia.
Alice mulai menjelaskan situasinya pada Ophelia. Dari penjelasan Alice, Ophelia menarik kesimpulan yang sama dengan apa yang Davella katakan padanya. Para Deemon yang menyerang mereka adalah kelompok aktif. Namun berdasarkan keterangan Ophelia. Organisasi mereka merupakan buronan dari Raja Iblis saat ini, dengan kata lain mereka adalah pemberontak yang tidak mematuhi aturan yang di buat Sang Raja iblis yang sekarang menduduki tahta.
Alice jadi tertarik untuk bertemu dengan sosok Raja iblis itu. Jika benar dia menginginkan perdamaian. Maka ia ingin tahu bagaimana sosok yang Raja iblis yang selalu di ceritakan oleh manusia sebagai momok kejahatan.