Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 22



10 tahun yang lalu ketika para hewan buas memporak-porandakan beberapa desa kecil. Tidak ada yang tahu apa yang menyebabkan mereka menjadi liar. Menurut beberapa saksi yang selamat, hewan buas itu awalnya hanya seekor hewan liar biasa yang kerap mereka buru tapi sebuah ledakan misterius terdengar dari dalam hutan dan setelahnya para hewan itu berubah menjadi buas dan tak terkendali. Mulut dan hidung mereka mengeluarkan hembusan miasma yang beracun dan berbahaya bagi tubuh manusia. Tubuh mereka pun membesar dua sampai tiga kali lipat.


Setelah menghancurkan tiga desa, akhirnya para pasukan kerajaan berhasil mengehentikan mereka. Pertempuran itu memakan waktu tiga hari demi membasmi mereka hingga tak tersisa. Tidak sedikit yang jadi korban dari kekacauan itu.


Setelah para ahli meneliti mereka, usut punya usut yang menyebabkan mereka berubah adalah ledakan tersebut yang mengeluarkan miasma yang mampu menginfeksi dan membuat mereka berevolusi. Miasma itu sangat berbahaya bagi manusia dan tumbuhan. Di temukan tumbuhan di area ledakan mati seluruhnya.


Jika melihat dari catatan sejarah dan wilayah benua ini. Para ahli menyimpulkan bahwa ada campur tangan dari ras lain yang sengaja menimbulkan kejadian itu. Ya. Siapa lagi kalau bukan ras iblis yang memiliki sejarah kelam dengan umat manusia.


Ras iblis di kenal sebagai ras yang unggul baik dalam fisik maupun ilmu sihir. Namun, mereka gagal memperluas wilayah mereka karena kemunculan beberapa orang yang di sebut-sebut sebagai pahlawan.


Tidak banyak catatan yang menceritakan tentang mereka. Bahkan wajah atau pun nama mereka tak begitu dikenang. Para pahlawan tersebut muncul secara tiba-tiba. Mereka sendiri sebenarnya tidak pernah mendeklarasikan diri sebagai tokoh penting yang akan membunuh kaisar iblis. Seperti petualang biasa, hanya saja mereka memang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Peninggalan mereka tak juga tak banyak, hanya segelintir orang yang melihat kejadian menakjubkan itu, ketika pilar cahaya tiba-tiba muncul di beberapa tempat dan seolah membawa sosok misterius itu yang di kenal sebagai pahlawan. Hal itu masih menjadi misteri hingga sekarang.


Leon Forger adalah salah satu anak yang terkena dampak dari dari bencana 10 tahun yang lalu. Kala ia masih 12 tahun. Desa dan keluarganya tewas dalam kejadian itu.


Leon akhirnya sebatang kara. Ia pergi berkelana seorang diri hingga takdir mempertemukannya dengan Ernard Lein Strongfort.


Ernard yang memimpin pasukan untuk bertempur melawan para hewan buas itu menemukan seorang anak laki-laki yang sedang tidur dekat perapian di salah satu reruntuhan. Bocah itu sedang menghangatkan dirinya di tengah dinginnya salju.


"Dingin...." Kata bocah yang tertidur itu sambil ia bersembunyi di balik kain tipis yang menyelimutinya tubuhnya. Wajah merah dan tubuh menggigilnya membuat Ernard merasa iba.


Mungkin saja ia adalah korban yang selamat. Dia tak akan bisa melewati musim ini jika begini terus. Aku akan membawanya. Benak Ernard selagi ia menatap bocah itu.


Bocah itu tersadar mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dengan ranting kayu yang di pertajam ujungnya, ia mengarahkannya pada Ernard dan kelompoknya. Leon kecil kaget. Ia mengira bahwa ada hewan buas yang mendekatinya. Ketika ia melihat mereka hanya manusia yang berbaju besi, ia menghela nafas panjang.


Leon menurunkan senjatanya. "Si-siapa kalian?"


"Aku adalah Ernard dan kami dari pasukan yang ditugaskan untuk membasmi para hewan buas itu."


"K-kalau begitu untuk apa kalian kemari?" Meski ragu dan sedikit takut, Leon tetap tegar bertanya. "Apakah tugas kalian sudah selesai?"


"Tentu. Tempat ini sudah aman...tapi, sayang sekali kami terlambat." Ernard lalu menundukkan kepalanya "Maaf."


"U-Umm."


"Apakah kau sendirian? Bagaimana dengan yang lainnya?"


Bocah malang....


Usianya tak jauh dari Alice, putrinya. Ernard berpikir mungkin ia bisa melatihnya dan membuatnya menjadi ksatria pribadi milik Alice kala ia besar nanti. Lagi pula ia juga bisa menjadi figur kakak laki-laki bagi Alice. Ernard yakin dengan intuisinya.


Ernard mendekati bocah itu lalu ia mengusap kepalanya perlahan. "Kau hebat. Kau tak perlu menangis. Bagaimana kalau ikut denganku? Aku akan menjadikanmu ksatria yang hebat."


Wajah yang meyakinkan dan ucapannya memberikan secercah cahaya bagi Leon. Ia yang beberapa hari ini tak tahu harus apa dan kemana, akhirnya memiliki sesuatu yang ia bisa tuju lagi.


"Apakah aku akan punya tempat tinggal? Apakah aku akan punya sesuatu untuk di makan? Bagaimana dengan tempatku tidur?" Tanya Leon antusias setelah ia mengusap air mata dan hidungnya.


Ernard mengangguk "Tentu."


Leon pun ikut bersama Ernard dan pasukannya.


Ketika ia sampai di Kediaman Strongfort. Leon dengan mulut terbuka lebar berdiri depan gerbang. "Wooaah....Ini istana ya? Apakah kau seorang raja, En.. maksudku apakah tuan seorang raja?"


Ernard tersenyum. "Kau bisa menyebutnya seperti itu tapi aku bukanlah seorang raja."


Keduanya lalu berjalan masuk ke dalam kastil. Leon makin terkesima. Tidak hanya taman yang luas bahkan rumah di dalamnya pun sangat luas dan cantik. Tempat yang baru ia datangi penuh dengan barang-barang yang berkilau dan terlihat mahal.


"Selamat datang Tuan." Sapa Hubert si kepala pelayan sambil membungkuk.


"Ya, Hubert. Aku ingin kau mendidik dan mengajarkan anak ini tentang Duke Strongfort." Ernard merujuk pada bocah yang berdiri disampingnya.


"Baik Tuan."


Leon melirik ke arah Ernard seolah ia meminta penjelasan. "Dia adalah Hubert Barrack, kepala pelayan kami. Kau akan belajar darinya sebelum memulai pelatihan mu. Jelas Ernard. "Dia Leon. Korban yang selamat akibat kekacauan hewan buas. Aku membawanya dan ingin melatihnya menjadi ksatria kelak. Bagaimana menurutmu?"


"Hmm...." Hubert memandang Leon seolah ia sedang menelitinya. "Tidak buruk. Kalau begitu saya undur diri."


"Tolong ya Hubert."


Setelah menerima isyarat Hubert, Leon berjalan mengikutinya dan sesekali menoleh kebelakang melihat Ernard.