
Meski naaga telah menyerang Fee dengan sihir atau pun serangan fisik, namun tak satupun dari serangannya yang mampu melukai Fee. Bulu yang tampak lembut itu bagaikan perisai kuat yang tahan terhadap apapun.
"Apa yang terjadi wahai naaga yang perkasa? Apakah kekuatan mu hanya seperti itu saja? Bahkan serigala ini tak merasakan satupun serangan mu." Ujar Fee penuh kesombongan. Fee sungguh menatap naaga dengan pandangan merendahkan seolah monster itu tak begitu berarti untuk menjadi lawannya.
Baik itu meriam air, bola air atau tusukan dari trisulanya. Naaga menjadi makin kesal karena apapun yang ia lakukan, dia tak bisa menjatuhkan sosok yang berdiri dengan angkuh di hadapannya itu.
Fee menyeringai memberikan pandangan sinis. Apa yang ia harapkan tak seperti dengan realita yang terjadi. Padahal kekuatannya belum pulih sepenuhnya akibat luka masa lalunya, meski begitu dengan setengah kekuatannya itu, Fee berharap kalau naaga itu bisa sedikit menghiburnya.
"Yah...kurasa sampai sini saja. Aku harus segera menyusul anak itu." Batinnya sambil ia menghela nafasnya karena mulai merasa bosan.
Fee berlari menerjang Naaga. Ia menggunakan taring dan cakarnya untuk merobek sisik merah keras milik naaga. Naaga memberontak berusaha melepaskan taring Fee dari salah satu pundaknya lalu membuat duri besar di sekelilingnya yang tercipta dari air. Fee melompat mundur. Dia lalu melompat ke udara dan menembakkan bola api berwarna ungu sebanyak tiga kali ke arah naaga. "Rasakan lah panasnya api dari serigala ini." Katanya.
Naaga itu menggulingkan tubuhnya ke belakang sambil membuat perisai air. Tapi sayangnya perisai miliknya pecah setelah menahan dua tembakan bola api milik Fee. Alhasil ia pun menjerit dan meronta kesakitan karena rasa panas yang mampu membakar hingga menembus sisiknya.
Fee kemudian lenyap ke dalam kegelapan. Seolah ia menyelam dalam bayangan, fee bergerak tanpa di ketahui oleh naaga dan siap untuk menerkamnya dari belakang. Dengan taringnya yang tajam dan rahangnya yang besar. Fee menggigit pundak naaga itu lalu mengangkatnya dan melemparnya ke samping dengan sangat kuat. Naaga berguling-guling hingga menghantam dinding gua dengan kerasnya.
Fee meludah, membuang darah monster yang ada di mulutnya. Baginya memakan daging monster atau manusia merupakan hal biasa namun entah mengapa, bahkan dia tidak berselera sedikitpun untuk menelan darah dari naaga. Menurut dugaannya, semenjak ia bersama Alice, banyak hal yang telah berubah darinya tanpa dia sadari.
Fee berjalan sejenak sambil memperhatikan monster yang tak sadarkan diri itu. Ia mendekatinya. Fee membuka mulutnya dan bersiap untuk membakar monster itu hingga menjadi abu. Tapi ia kemudian sadar akan sesuatu. Warna sisik naaga telah kembali menjadi biru dan juga aura serta energi yang menyelimutinya terasa lebih baik dan tidak lagi menyesakkan.
Fee membuka clairvoyance nya untuk melihat apa yang terjadi pada naaga dan memang benar apa yang firasatnya katakan. Energi hitam yang tadinya menyelimuti naaga sudah lenyap. Dia menyipitkan matanya sambil menunggu naaga itu sadarkan diri. Kalaupun monster di hadapannya itu bangun dan kemudian menyerangnya. Fee akan langsung membunuhnya.
Tak berselang lama, naaga pun bangun. Matanya terbuka perlahan dan pandangannya yang kabur perlahan semakin jelas melihat sosok serigala raksasa nan mengerikan yang tiba-tiba ada di depannya. Dirinya kaget dan segera mengambil trisulanya yang tergeletak di sampingnya.
"K-kau siapa? Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya naaga terbata-bata karena rasa takut.
Sontak alis Fee terangkat sebelah karena heran. Apa yang terjadi? Kenapa dia bertingkah seperti itu? Kemana naaga yang tadi ia lawan? Fee menghela nafasnya karena kecewa melihat perubahan 180 derajat itu. Mungkinkah naaga yang sebenarnya dia lawan tadi adalah monster dengan kepribadian yang seperti...ini?
"Apakah kau tidak memiliki ingatan tentang serigala ini?" Tanya Fee masih dengan nada dan tutur bicaranya yang angkuh. "Katakanlah kepadaku wahai naaga tentang apa yang telah terjadi padamu?"
Takut bercampur ragu. Naaga perlahan melepaskan penjagaannya yang bersiaga. Ia mulai menceritakan segalanya tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sehingga ia bisa kehilangan kendali dan menjadi monster mengerikan penghuni tambang tua itu.
Sementara itu, di lain tempat dengan waktu yang sama. Cecilion tersenyum lebar sambil menggoyangkan minuman anggur di gelasnya. Dia berdiri dan sesekali melangkah sambil melihat seluruh ruangan yang di dekorasi indah penuh dengan bunga dan pita berwarna putih.
Tampaknya sebuah pesta besar akan segera berlangsung di ruangan itu.
"Bagaimana dengan mempelai wanita ku? Apakah dia sudah siap?" Tanya Cecilion pada seorang kepala pelayan pria.
"Mempelai wanita sudah siap Tuan. Pernikahan Anda sudah bisa di aksanakan."
"Bagus. Kalau begitu, tanpa membuang waktu lagi. Mari kita mulai acaranya."
Cecilion berjalan menaiki tangga kecil yang sudah disediakan oleh para pelayan yang mana akan menjadi panggung pernikahannya. Para deemon dan budak miliknya dari berbagai ras mulai berkumpul untuk menyaksikan acara penting itu.
Sebuah acara pernikahan yang cukup megah untuk seorang deemon. Alunan merdu alat musik mulai memenuhi ruangan dan terlihat seorang gadis muda berjalan mengenakan gaun panjang berwarna putih dan tudung putih sedikit transparan yang menutupi kepala hingga rambutnya.
Gadis muda yang menjadi mempelai wanita yang sebentar lagi akan menjadi istri dari Cecilion berjalan perlahan sambil diikuti dengan beberapa pelayan wanita hingga ia naik ke atas panggung.
Cecilion terus tersenyum. Ia tak bisa menyembunyikan rasa puas dan senangnya.
"Tidak sia-sia aku menyerang para hyuman bodoh itu. Heh. Saat melihat betapa tangguh dan manisnya gadis manusia ini. Rasanya aku ingin segera memilikinya dan menjadikannya salah satu dari kami." Batinnya.
Cecilion mengulurkan tangannya saat gadis wanita itu telah berdiri di hadapannya. Ia membuka tudungnya dengan perlahan. "Sebentar lagi kita akan menikah dan menjadi satu. Kau, akan menjadi ratu dari suku vampir wahai istriku yang tercinta." Ucapnya pelan dan lembut sambil ia membelai pipi gadis muda itu. Namun anehnya gadis muda itu tidak mengatakan apapun, bahkan dari ekspresinya yang datar, dia seolah tidak mendengar apa yang Cecilion katakan. Gadis muda tidak memberikan reaksi apapun. Dan sesuatu yang lebih mengejutkan lagi adalah betapa marahnya Alice jika seandainya dia melihat siapa sebenarnya yang menjadi mempelai wanita Cecilion.