Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 134



"Apa yang kau lakukan?!!" Tanya Helian dengan tegas.


Walaupun terdengar membentak, tapi dari ekspresi wajahnya, Helian tampak sangat cemas.


Alice terdiam, matanya menatap kosong ke arah Yggdrasil, mulutnya terkatup kaku dengan mata melebar yang bergetar.


Helian mengambil kedua pundak Alice, ia menariknya dan menghadapkan wajahnya hingga mereka saling menatap. Helian mengguncang tubuh Alice yang syok. "Alice! Sadarlah! Alice!"


Alice mengedipkan matanya berkali-kali. Ia tidak menyangka kalau Jiwa Nyx akan terputus darinya.


"Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja." Tanya Helian.


Alice menekan kedua sudut matanya. "Aku baik-baik saja. Terimakasih sebelumnya."


Helian menghela nafas lega. "Syukurlah."


Helian sungguh takut. Baru kali ini ia melihat Alice berekspresi seperti itu. Saat melihat tubuh Alice hampir ditelan masuk ke dalam Yggdrasil, dia sangat panik. Sepintas wajah tentang sahabatnya itu melintas di benaknya. Helian berlari secepat mungkin dan menarik Alice dengan sekuat tenaga.


"Maaf. Sepertinya kondisiku tidak begitu baik saat ini. Aku pamit untuk pulang terlebih dahulu."


"...Um, Beristirahatlah. Apakah kau perlu seseorang untuk mengantar mu?"


Alice berjalan dengan pelan. Ia tidak berbalik dan hanya menggelengkan kepalanya begitu saja. Seandainya dia bukanlah wanita yang kuat, mungkin tubuhnya sudah sempoyongan saat ini.


Helian melihat punggung Alice hilang di balik pohon. Ia kemudian berbalik dan menatap pohon Yggdrasil yang menjulang tinggi itu. "Elysia..." Gumamnya pelan sambil menggenggam kedua tangannya di depan dadanya.


~


Di dalam Yggdrasil.


Ketika ia sadar bahwa jiwanya telah terputus dari Alice, Nyx segera berbalik. Ia berdecak menyadari kecerobohannya. "Terlambat. Ini salahku."


Nyx menyesali perbuatannya namun dia sudah tidak bisa kembali. Saat ia mencoba untuk ke bawah, dia juga terhalang, sama seperti Alice yang terhalang oleh sebuah dinding kokoh tidak terlihat.


Nyx mengeratkan giginya, ia memandang ke atas sambil mengernyit. "Tidak ada jalan lain lagi." Ia pun terbang menuju tempat yang lebih tinggi di dalam pohon itu.


Sesampainya di sana. Nyx menemukan sebuah ruangan aneh. Satu-satunya tempat yang tertutup dengan gelombang energi Mana besar di dalamnya. "Apakah ini bisa disebut jantung pohon Yggdrasil?" Gumamnya sembari mengusap dinding di depannya.


Jiwa Nyx lalu masuk menembus dinding itu.


"Mwaha ha ha ha. Ku kira siapa yang datang, ternyata itu dirimu, Nyx."


Nyx segera berbalik mendengar gelak tawa itu. Ia melirik sekelilingnya, tapi dia tidak menemukan siapapun di dalam ruangan itu. Suara yang membuat batinnya berkecamuk, Nyx mengenali pemilik suara itu.


"Erebos!"


"Lama tidak berjumpa saudariku..." Ucap suara itu. "Ku pikir kau sudah mati di luar sana karena tidak peduli berapa lama dan dimana pun aku mencari mu. Aku sama sekali tidak bisa menemukan mu. Saudariku yang malang, tahukah kau betapa rindu dan khawatirnya aku padamu?"


Suaranya yang terdengar keras dan galak menjadi lembut dan hangat. Amarah Nyx memuncak ketika mengingat perilaku orang itu. Dia dengan begitu mudah merubah ekspresi dan tutur bicaranya semudah membalikkan selembar kertas. Nyx tidak habis pikir bagaimana bisa dirinya menganggap pria gila sepertinya sebagai saudaranya.


"Ayah. Apakah dia sungguh putra yang kau ciptakan?" Tanya Nyx pada dirinya.


~


Alice kembali ke penginapan dengan wajah lemas. Baru kali ini dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan orang terdekatnya. Semenjak ia sadar akan siapa dirinya di dunia ini, dia telah berjanji akan selalu melindungi orang-orang di sekitarnya, yang berharga baginya, yang ia anggap sebagai keluarganya.


Alice membuka dan menutup telapak tangannya. "Nyx..." Gumamnya pelan sambil melihat tangannya.


Dari balik pintu kayu kamarnya, Alice bisa mendengar suara ceria Echidna yang sedang bercengkrama dengan Fee.


Alice mengusap-usap pipinya, menepuk-nepuknya dengan pelan mencoba untuk memperbaiki ekspresi wajahnya. Dia tidak ingin membuat putrinya dan Fee mengkhawatirkannya.


Alice membuka pintu dan berjalan masuk.


Alice tertawa pelan lalu tersenyum tipis. Ia mengusap kepala Echidna lalu berjalan ke ranjang.


"Aku dan Fee sudah menghancurkan banyak kristal hitam di luar sana seperti yang mama katakan." Ucapnya dengan senyum puas.


"Benarkah? Hebat. Echidna luar biasa." Alice memujinya sambil mengusap kepala Echidna dengan lembut.


Fee menimpali kesenangan Echidna dengan mendengus. "Coba saja kalau aku tidak disana. Kau bahkan tidak akan menemukan satu biji pun. Heh!" Jelasnya sambil tersenyum sinis.


Echidna geram. "K-kau! Humph! Bahkan kalaupun kau tidak ada, aku pasti bisa melakukannya seorang diri."


Fee mengangkat satu alisnya. "Oh iya, lalu siapa tadi yang kebingungan dan berputar-putar di tempatnya karena tidak tahu arah."


Echidna seketika menganga, Fee membuatnya malu. "Anjing bau, anjing bodoh. Gggrrrr" Echidna semakin kesal, dia terlihat seperti ingin melompat dan menerkam mangsanya. Namun Fee sama sekali tidak mundur. Ia terus tersenyum dan memasang wajah sombong di hadapan Echidna. Fee merasa puas sendiri menggoda gadis kecil itu.


Alice tertawa lepas melihat tingkah konyol mereka. Terutama Echidna.


"Nah, mama akhirnya tersenyum."


"Hmm?" Alice bingung tidak mengerti sambil menatap keduanya.


"Terlihat jelas di wajah mu kalau ada sesuatu yang terjadi. Tidak biasanya kau datang tanpa kata seperti tadi. Dan juga, nafas dan langkahmu terasa sedikit lebih berat. Apakah ada yang mengganggu dipikiranmu? Katakanlah pada kami. Bukankah kita ini.... keluarga?" Jelas Fee dengan tulus meskipun ia cukup canggung untuk mengucapkan kata terakhir tadi.


Alice menghela panjang nafasnya. Fee benar. Dia tidak sendirian, dia memiliki orang-orang yang dia sebut keluraga. Dia bisa berbagi cerita dan masalah dengan mereka.


~


Helian dan Asiya saling berhadapan. Dalam kesunyian malam di tengah-tengah koridor, Helian memanggil Asiya.


Asiya berhenti, ia berbalik dan menjumpai kakaknya dengan wajah kusut.


"Kau mau kemana?" Tanya Helian.


"Aku?" Asiya mengalihkan lirikan matanya. "Aku..."


"Jujurlah padaku. Apa yang selama ini kau sembunyikan dariku?" Helian tegas terdengar tidak ingin bertele-tele.


Asiya terkejut. Ia segera melihat tatapan serius milik kakaknya. Sepertinya sudah tidak perlu lagi baginya untuk merahasiakan semua itu. "Sebenarnya.."


"Sebenarnya kau adalah salah satu bagian dari kelompok pemberontak itu, iya kan?"


Asiya semakin terkejut. Rupanya Helian telah mengetahui apa yang selama ini ia sembunyikan.


"Kakak benar." Asiya mengangguk.


Helian mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Dia berharap Asiya menjawab sebaliknya. Namun sayangnya, apa yang Alice duga memang benar.


"Kenapa?! Kenapa kau bergabung dengan mereka?!" Nada Helian kian meninggi.


"Kau harusnya sudah tahu kak alasan ku bergabung dengan mereka. Aku hanya ingin mengubah negeri ini dimana para elf lainnya mendapatkan hak mereka dan tidak diinjak-injak oleh kesombongan para high elf itu."


"Aku mengerti itu dan karena itulah aku sedang berusaha untuk melakukan sesuatu."


"Sesuatu? Kakak terlalu lemah pada mereka. Para elf lainnya sudah ditindas sangat lama oleh mereka dan sampai berapa lama lagi mereka akan terus seperti itu. Nyawa mereka bahkan tidak ada artinya di mata para high elf sombong itu."


Keduanya terus saling berdebat. Mereka tidak bertemu arah, malah suasana di antara mereka menjadi kian memanas.


Asiya memutuskan untuk mengakhiri percakapan itu. Dia lalu berbalik untuk pergi.


"Asiya, apakah kau tahu kalau pemberontakan mu ini akan menjatuhkan banyak korban?"


Langkahnya terhenti. Ia menggigit bibir bawahnya. Tanpa menoleh Asiya berkata "Aku...tahu itu. Jadi, ku harap kakak juga baik-baik saja." Jawabnya pelan lalu iapun pergi dan menghilang dalam keheningan malam.