Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 145



Dalam perjalanan menuju kota Moonshade, sesekali mereka menemui beberapa monster. Hanya saja untuk menghindari dari membuang tenaga yang sia-sia atau agar menghindari kemungkinan Elysia terluka, Alice memutuskan untuk menghiraukan mereka.


Selain itu melihat mimik wajah Elysia yang tiba-tiba ketakutan, Alice sebisa mungkin mencari rute dimana mereka tidak bertemu dengan seekor monster pun.


"Sepertinya mereka juga sudah melewati tempat ini." Ucap Alice ketika mereka tiba pada sebuah desa yang tampak porak-poranda. "Bagaimana kalau kita masuk ke dalam dan beristirahat sejenak?" Tanya Alice pada Elysia.


"Um." Elysia mengangguk.


Mereka menyusuri desa kecil itu dan melihat rumah-rumah yang juga berantakan karena ulah para monster. "Setidaknya disini tidak lebih parah dari apa yang terjadi pada desa Elysia. Selain itu..." Alice melirik ke salah satu rumah yang cukup besar.


"Ada hawa kehidupan disana." Benaknya.


Alice menengok Elysia. Dia melihat ekspresi masam gadis kecil itu. "Mungkinkah dia mengingat apa yang sudah terjadi pada desanya?"


Wajah Elysia terlihat sedikit pucat dan keringat dingin mengucur perlahan dari pelipisnya. "Kita istirahat disana ya." Kata Alice sambil menunjuk salah satu rumah.


Dengan kondisi Elysia yang saat ini, Alice tidak bisa memaksakan perjalanan mereka.


Mereka menuju salah satu rumah yang sedikit rusak. Pada rumah itu terdapat beberapa lubang pada dindingnya, dan lantai serta perabotan yang hancur berantakan di dalamnya. Ada juga bekas perlawanan dan sebuah mayat. "Ternyata mereka belum lama sampai disini." Gumamnya pelan saat melihat jejak darah yang belum kering dengan baik.


Untungnya, Alice segera menutup mata Elysia ketika ia membuka pintu rumah itu. Dia sudah menduga-duga dengan suasana seperti apa yang ada dalam rumah itu ketika dia mencium bau darah yang masih kuat saat mereka berjalan mendekat.


Mereka lalu berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. "Baguslah, tempat ini masih memiliki sebuah ranjang dan atap untuk berlindung." Benak Alice. Setidaknya, pada kamar yang mereka temukan yang ada hanyalah dinding yang retak saja.


Sekali lagi Alice berbalik melihat Elysia. "Apakah kau baik-baik saja?" Dia cemas karena sejak mereka memasuki desa itu, Elysia menjadi diam dan nafasnya terdengar lebih berat. "Jangan khawatir, kamu tidak perlu takut. Sekarang istirahatlah dulu, kita akan melanjutkan perjalanan besok pagi." Ujar Alice sambil mengelus lembut kepala Elysia. "Selama aku ada disini. Kamu tidak perlu takut." Alice pun memberikan isyarat agar Elysia naik ke atas ranjang.


Elysia terdiam menatap kedua bola mata hitam itu. Dia menghembuskan nafas lega. Kalimat Alice seolah-olah menjadi pegangan yang bisa melenyapkan ketakutannya. "Baik bibi." Balasnya sambil tersenyum.


Alice pun merasa lega setelah melihat senyuman Elysia. Dia lalu turun ke dapur untuk memasak makanan sederhana untuk mereka makan.


Setelah menyantap makan malam bersama dan memastikan Elysia sudah tertidur lelap. Alice berjalan keluar dari rumah itu. Dia menoleh ke arah rumah besar yang sebelumnya.


Tak lupa Alice menggunakan Qi untuk melindungi Elysia dan susunan formasi pada sekitar rumah itu.


"Mereka masih disana. Apakah mereka bersembunyi karena mengira monster-monster itu masih ada di luar?"


Dia bisa merasakan hawa kehidupan dari beberapa orang yang berada dalam satu ruangan yang sama.


Alice kemudian berjalan menghampiri rumah itu.


~


"Ka-kakak...aku lapar..." Rengek seorang gadis kecil pada kakaknya.


"Sssttt." Pemuda itu mengisyaratkan pada adiknya untuk diam. "Sabar ya, mungkin mereka masih ada di luar. Kakak akan keluar sebentar untuk melihat-lihat." Ujarnya.


Pemuda itupun berjalan pelan menuju sebuah lubang yang ada pada salah satu dinding. Lubang itu merupakan jalur darurat yang terhubung langsung ke bagian belakang rumah.


Berkat ruangan bawah tanah penyimpanan keluarga mereka, mereka sekeluarga berhasil selamat dari amukan para monster itu.


"Eion! Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya seorang pria elf paruh baya menghentikan tindakan pemuda itu.


"Aku akan memeriksa keadaan diluar." Jawabnya.


Claus adalah seorang pedagang sukses yang tinggal di desa itu. Sebagai seorang ayah, tentu dia khawatir akan tindakan berbahaya putranya. "Hari sudah larut. Para monster itu akan lebih aktif saat malam hari. Lakukan besok saja." Jelasnya.


"Ayah tidak perlu cemas. Aku hanya akan mengintip sebentar." Eion bersikukuh. Sebenarnya dia sendiri tahu dengan apa yang dilakukannya, tapi dia tidak tahan melihat adiknya yang kelaparan sejak pagi.


"Dengarkan kata ayahmu. Di luar masih berbahaya. Sebaiknya kau memeriksanya besok saja." Ucap seorang wanita yang tampaknya adal ibu mereka.


Eion mengerutkan keningnya. Dia kesal karena ketidakberdayaan dirinya. Dalam ruangan kecil itu, ibu dan adiknya berusaha menahan lapar dan dahaga mereka. Keduanya benar-benar terlihat kelelahan.


Dengan mulut yang mengkerut dan wajah murung, Noel menunduk kemudian mengangguk. "Iya."


Mereka kemudian menggunakan beberapa lembar kain yang mereka miliki untuk dijadikan sebagai alas tidur. Noel dan Claudia yang kelelahan memutuskan untuk tidur lebih awal sementara Eion dan Claus memilih untuk berjaga.


"Apa ayah yakin tidak ingin tidur? Ayah istirahat saja, biar aku yang jaga."


"Tidak nak, bagaimana mungkin aku tidur dengan situasi yang seperti ini."


Rasa takut dan was-was menyelimuti hatinya. Monster-monster itu haus darah dan kelaparan, sedikit saja mereka mencium bau darah lezat dari mangsanya, mereka pasti akan mencarinya sampai dapat.


"Bagaimana keadaan Leafa. Apakah dia sudah mendingan?"


Eion menggelengkan kepalanya. "Dia belum sadar."


Gadis muda bernama Leafa adalah seorang putri dari kepala desa tersebut. Keberuntungan menyelamatkan hidupnya dari terkaman monster-monster itu.


Leafa hidup berdua dengan ayahnya setelah ibunya wafat. Ayahnya yang sudah cukup tua adalah mantan prajurit yang pensiun dan memilih untuk kembali ke desanya. Saat seekor monster menyerang rumah mereka. Ayahnya dengan sigap maju dan melindunginya.


Alih-alih menahan monster itu, Ayahnya tidak menduga akan ada serangan kejutan dari monster lainnya yang menerobos rumah mereka.


Lizardman? Kobold? Mereka tampak mengerikan. Hawa nafsu membuat mereka kehilangan pikiran mereka.


Leafa terjatuh karena terkejut.


Ayahnya lalu berteriak menyuruh Leafa untuk segera pergi. Leafa ragu dan takut. Dia tidak ingin pergi sendirian meninggalkan ayahnya. Namun sekali lagi dengan tegas ayahnya berteriak dengan lantang menyuruhnya pergi.


Leafa yang panik berlari keluar mencari tempat persembunyian hingga akhirnya Eion pun muncul dan menariknya tiba-tiba.


Eion mengira kalau mereka sudah aman saat bersembunyi di salah satu sisi rumah, tapi seekor monster lainnya melompat dari atap rumah dan melukai pinggang Leafa. Monster humanoid yang haus darah itu bergerak dengan gesit. Eion bahkan tidak menyadari akan serangan yang datang itu.


Andai kata Claus dan Claudia tidak datang dan menggunakan sihir mereka, kemungkinan besar Eion dan Leafa pasti tewas.


"Aku masih sangat lemah untuk melawan mereka." Benaknya sambil ia mengepalkan kedua tangannya.


Eion masih ingat kejadian memalukan itu ketika sihirnya begitu muda ditepis oleh monster yang menyerupai landak berduri itu.


"Sial. Andai saja aku lebih kuat pasti tidak akan begini." Eion melihat Leafa yang terbaring tak sadarkan diri.


Duri monster landak itu membuat Leafa kehabisan banyak darah.


Dari luar tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki. Suara langkah kaki itu perlahan terdengar lebih jelas. Claus dan Eion menyipitkan mata mereka menatap ke arah pintu gudang.


Mereka saling menatap lalu mengangguk.


Claus dengan pelan membangun Claudia. Sementara Eion siapa untuk memapah Leafa di punggungnya.


Suara langkah kaki yang mendekat itu itu tiba-tiba lenyap. Lorong tangga menuju gudang menjadi senyap. Mereka menatap menelan air liur dari tenggorokan kering mereka sambil menatap pintu gudang.


Claus dan Eion sudah bersiap dengan semua kemungkinan yang terjadi. Mati, melawan atau melarikan diri.


TOK TOK TOK pintu gudang itu berbunyi tiba-tiba membuat mereka kaget seketika.


Jantung mereka serasa ingin melompat keluar dari mulut mereka. Keringat dingin mulai mengucur.


"Apakah kalian baik-baik saja? Tidak perlu takut. Di luar sudah aman."


Suara wanita yang terdengar lembut dari balik pintu itu seolah mengangkat semua kecemasan dan ketakutan mereka.