
Setelah Kevin menceritakan semuanya. Kekesalan dan kekhawatiran Lilia akhirnya mereda. Ia melihat wajah Alice sedikit tidak percaya. Bagaimana mungkin Alicia melakukan semua itu? Apakah dia benar-benar sudah berubah?
Berhubung Alice adalah sahabatnya, Lilia tak ingin terlalu mencurigai dan menanyakan banyak hal yang mungkin akan menyakiti perasaannya. Mungkin dia akan menjelaskannya suatu saat nanti. Pikir Lilia.
"Lilia, Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Tanya Alice kembali membuka percakapan.
"Apa itu?"
"Hmm..." Alice menoleh pada Kevin.
"Apakah kalian butuh ruang?" Tanya Kevin mengerti maksud Alice.
Alice menggelengkan kepalanya "Kurasa tidak perlu. Karena ini ada kaitannya dengan negeri ini. Menurutku Anda juga patut untuk mengetahuinya." Ujar Alice. Setelah ia pikir-pikir. Upaya pembunuhannya yang dulu dan sekarang mungkin memiliki hubungan begitu pula kasus Ratu Elizabeth dan Ibu Kevin.
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Apakah kau tahu tentang sebuah ramalan akan gadis berambut emas?"
Lilia kaget. Darimana Alice mengetahuinya? Ia terdiam sejenak sebelum menarik nafas dalam dan menjawabnya dengan singkat "Aku tahu."
Kevin cukup penasaran. Apakah ramalan yang Alice maksud sama dengan yang pernah Lilia katakan padanya? Mungkinkah mereka saling berhubungan?
"Sebelumnya aku minta maaf pada Pangeran karena masih menyembunyikan sisa ramalan itu." Kata Lilia, membungkukkan kepalanya pada Kevin.
Kevin mengangkat satu tangannya dan berkata "Tidak apa-apa."
"Terima kasih pangeran. Baiklah, karena Pangeran sudah mengetahui sebagiannya maka saya akan mengatakan intinya saja dan melanjutkan bagian mengenai gadis dalam ramalan itu."
Keduanya mengangguk dan mulai mendengarkan Lilia dengan seksama.
Sejauh yang pernah terjadi menurut sejarah tentang perselisihan umat manusia dan ras iblis ribuan tahun lalu. Aria kembali mendapatkan kedamaiannya setelah kematian raja iblis Tifon. Namun, berselang beberapa ratus tahun kemudian, ramalan mengerikan itu tiba-tiba muncul dan menjadi sebuah tanda akan malapetaka yang terus membayangi kejatuhan umat manusia di masa depannya.
Raja iblis yang telah dikalahkan oleh pahlawan misterius itu mungkin hanyalah sebuah pion kecil bagi sosok yang disebut-sebut dalam ramalan. Dewa Jahat yang bernama Erebos. Diramalkan akan memenuhi Aria dengan kegelapan. Tak ada yang tahu kapan ia akan muncul, namun kedatangannya disangkut pautkan dengan kelahiran bayi berambut pirang keemasan yang lahir saat gerhana. Bayi dengan paras cantik dan rambutnya yang mampu mengalihkan pandangan setiap orang yang melihatnya.
Pihak kuil yang masih menyimpan lembaran wahyu itu dan tetua ras iblis yang merasakan akan kejadian langkah itu segera bergerak dengan tujuan mereka masing-masing.
"Ayahmu mungkin pernah kedatangan tamu dari kuil dan ingin merawatmu. Namun, kemungkinan besar Ayahmu menolaknya melihat kau tumbuh besar di kediaman Strongfort."
"Aku tidak tahu itu. Tapi keluarga kami memang memiliki hubungan yang cukup dekat dengan kuil." Balas Alice.
"Kalau begitu bisa dipastikan, mereka akan membiarkan mu tumbuh tapi dengan syarat akan tetap mengawasi mu."
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang ingin membunuhku waktu itu?"
Lilia menghela nafas berat sambil menggelengkan kepalanya. "Itu juga yang membuat ku penasaran. Tapi..." Lidahnya tertahan. Setelah tahu tentang berita penyerangan terhadap Alice. Sungguh perasaannya menjadi gusar tak karuan. Tapi...jika dia memberitahukan Alice tentang hal ini, Lilia takut Alice akan ceroboh dan bertindak sendiri. Lagipula, apa yang ingin ia katakan belum sepenuhnya terbukti benar.
Lilia menepis tangannya dan berkata "Aku juga belum yakin untuk mengatakannya. Tapi kumohon, Alice kau harus berhati-hati kedepannya. Jangan bertindak sembrono lagi." Lilia mengambil tangan Alice dan mendekapnya dalam kedua genggaman tangannya.
Alice memejamkan matanya. "Lilia sepertinya menyembunyikan sesuatu. Tapi kalau dilihat dari ekspresinya. Sepertinya dia masih ragu akan hal itu. Dia juga sangat mengkhawatirkanku. Kurasa untuk saat ini aku hanya bisa meningkatkan kemampuan demi bahaya yang akan datang dan melindungi hal yang berhargaku" Benaknya.
"Kalau memang begitu. Bagaimana dengan ras iblis. Apa yang akan terjadi jika seandainya mereka mendapatkan gadis itu?" Sela Kevin
"Kami juga belum mengetahuinya." Balas Lilia menggelengkan kepalanya perlahan.
Kevin menoleh dan menatap Alice. "Anda bisa yakin, kalau aku tidak akan melakukannya." Balas Alice melihat tatapan khawatir Kevin.
Jika rumor yang beredar akan kekuatan gadis di depannya itu benar. Tentu jika seandainya ia berpaling dari umat manusia dan bergabung dengan ras iblis. Maka peluang menang ketika kedua ras bertarung akan semakin tipis.
"Kurasa sudah waktunya aku pergi. Oh iya Alice, Aku ingin kau tetap merahasiakan hal ini."
Alice mengangguk. Lilia pun bangun dari kursinya. "Senang melihatmu baik-baik saja. Kedepannya ku harap kita bisa lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang."
Diikuti oleh Kevin yang juga bangkit dari kursinya. Keduanya berjalan menuju pintu.
"Tunggu, Aku hanya ingin bertanya tentang satu hal pada anda." Kevin mengehentikan kakinya dan berbalik pada Alice. "Apakah anda ingat dengan seorang pemuda yang mengenakan jubah saat di alun-alun kota Vulture?"
"Pemuda berjubah?" Alice mengingat-ingat kembali saat ia masih berada di wilayah Strongfort. Apakah saat aku pergi bersama Mary? "Kalau tidak salah aku memang pernah bertemu dengan seorang pria berjubah waktu itu."
"Lalu, Apakah anda adalah orang yang bersama gadis berambut coklat waktu itu? Dengan seorang anak kecil." Tegas Kevin berharap kalau apa yang ia sangka adalah benar.
"Ya. Aku memang pernah jalan-jalan ke alun-alun kota Vulture bersama gadis berambut cokelat dan seorang anak kecil."
Melihat keseriusan mereka, Lilia menyipitkan matanya dan menatap curiga keduanya. "Hmm....."
Senyum tipis terukir di wajah Kevin dan membuat Lilia yang dengan jelas melihatnya terkejut. "Eh?Apa? Baru kali ini aku melihat Pangeran Kevin tersenyum seperti itu?" Batinnya.
"Sudah kuduga. Ternyata dugaan ku tidak salah."
"Ehem...Maaf mengganggu waktu kalian. Sepertinya ada sesuatu yang tidak ku ketahui." Lilia menyela keduanya dan seolah masuk diantara mereka. "Alice, bukankah kau harus menjelaskannya padaku?!" Bibirnya memang tersenyum tapi Lilia tidak bisa menyembunyikan tatapan tajam dan kesalnya.
Alice terkekeh. Ia memutar tubuh lilia dan mendorongnya sedikit demi sedikit hingga keluar pintu. "Sudah, sudah, bukannya kau sendiri yang bilang harus pergi tadi."
"Ta-Tapi, hei, tunggu.. Alice! Berhenti! Berhenti kataku! "
Alice tersenyum sambil tertawa kecil dan tetap mendorong Lilia hingga akhirnya ia keluar disusul Kevin yang ada di samping mereka.
"Sampai Jumpa lagi Nona Alicia."