Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab I Chapter 24



"Nona!!!"


"Pelayan bodoh! tidak berguna! Untuk pekerjaan seperti ini saja kalian tidak becus!" Bentak Alice.


Leon terkejut melihat ekspresi wajah Alice yang hampir memerah karena marah. Alice yang biasanya ramah, lembut dan periang bisa sampai semarah ini? entah apa yang dilakukan pelayan-pelayan itu sampai membuatnya marah besar.


Leon mendekatinya dan bertanya "Nona..apa yang terjadi?"


Dari sudut matanya Alice memandang malas ke arah Leon. Ia mendecihkan lidahnya. "Kau! Siapa yang menyuruhmu masuk?! Aku bahkan tidak memanggilmu." Ucapnya dengan nada tinggi.


Leon terkejut dengan perkataan Alice. Untuk yang pertama kalinya, Leon di bentak olehnya, apa mungkin dia tidak mengenalnya setelah 3 tahun berpisah? Benak Leon. Tapi dalam hatinya, menurutnya tak banyak yang berubah darinya selain tinggi badan dan bentuk tubuhnya yang sedikit lebih besar.


"Tapi nona..."


"Ah...sudah! sudah! Karena kau sudah ada disini. Bawa mereka keluar, kalau bisa aku tidak ingin melihat mereka lagi. Hmph!" Tandasnya dengan wajah kesal.


Leon tidak tahu harus berkata apa. Ia segera mematuhi perintah itu dan membawa pelayan-pelayan itu Keluar dari kamar Alice.


"Mungkin, ini karena kami baru bertemu setelah sekian lama." Batinnya.


Keesokan harinya, Leon menyempatkan waktunya untuk menemui Alice di taman yang ada dekat kamarnya. Ia berpikir untuk memperbaiki kesannya dan apa yang sudah terjadi kemarin. Tapi saat Leon berusaha memanggil Alice. Leon melihat sesuatu yang berbeda. Mata mereka sempat bertemu tadi, tapi kenapa Alice tidak menghiraukannya.


Leon menghampirinya dan memanggilnya. "Nona Alicia."


Alice berbalik dan melihat ksatria yang kemarin menerobos masuk ke dalam kamarnya. Ia memutar bola matanya benar-benar jenuh dan kesal untuk meladeni orang yang di depannya itu.


"Nona...apa nona mengingat ku? Ini aku Leon." Ucapnya dengan wajah tersenyum bahagia.


"Hah..! Ada apa denganmu? Kita bahkan baru bertemu kemarin dan kau sudah sok akrab denganku?" Alice mendecihkan lidahnya lalu ia berlalu meninggalkan Leon yang terpaku di belakangnya.


Cukup beberapa menit untuk Leon memikirkan jawaban Alice, tapi ia tak putus asa. "Aku ingat, ibuku pernah mengatakan kalau bayi bahkan bisa melupakan orang tuanya jika mereka tidak bertemu selama 3 tahun lamanya. Hmm...apa mungkin Nona mengalami hal yang sama?" Gumamnya.


Semenjak hari itu Leon mulai melihat dan mengawasi Alice dari jauh. Ia penasaran dengan apa yang terjadi. Beberapa pelayan yang ia tanya bahkan tidak tahu dan seolah-olah sesuatu membuat mereka tutup mulut.


Satu-satunya yang bisa melakukan hal itu di rumah ini tidak lain adalah Duke sendiri. Pikir Leon.


Saat Leon mengawasi Alice dari jauh. Kerap kali Leon melihat Alice memarahi dan membentak beberapa pelayan yang bahkan itu hanya karena kesalahan kecil saja.


Leon terus melihat Alice dan merasa kalau ia benar-benar tak lagi mengenalnya. Aura kehangatan dan senyuman hangat itu seperti sirna begitu saja.


"Lalu bagaimana aku memenuhi janji waktu itu?" Gumamnya kecewa.


Dengan keadaan Alice yang seperti ini, membuat Leon jadi ragu dan bimbang.


Setelah usianya beranjak 15 tahun sebelum Leon meninggalkan Kastil Duke untuk menjaga benteng perbatasan. Leon mengambil sesuatu dari saku celananya. Sebuah pita biru yang waktu itu Alice berikan sebagai hadiah perpisahan. "Ini ikat rambut kesayanganku. Cantik kan? Hehe, Ini untuk Leon. Aku meminjamkannya jadi nanti Leon kembalikan." Ucap gadis kecil penuh senyum yang masih berbekas di ingatan Leon.


Leon mengambil sebuah belati lalu mengikatkan pita itu padanya. Ia berjalan menuju gazebo kecil yang ada di taman dekat kamar Alice.


Leon menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Nona...maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa menepati janji kita." Lalu Leon menancapkan belati di sisi langit-langit gazebo itu. Dadanya terasa berat saat melihat pita yang bergantung itu.


Dengan perasaan kecewa dan sedih bersama pita itu Leon menyimpan rapat-rapat kenangannya 3 tahun yang lalu.


~


"Sebaiknya kau berhenti saja." Dari belakangnya Alice duduk di salah satu dahan pohon menegur Leon yang sedang berlatih mengayunkan pedangnya.


"Aku tidak mengerti kenapa kau latihan untuk membuang-buang waktu dan tenaga." Ucap Alice masih duduk di atas dahan itu. "Kau tidak fokus. Pedangmu tidak stabil dan gerakanmu berantakan."


Leon diam dan sadar kalau ia memang tidak bisa fokus pada latihannya. Keraguan dalam hatinya membuat ia melamun.


Alice mengambil satu ranting dari pohon itu kemudian ia lompat menghampiri Leon.


"Menurutmu...apa itu pendekar pedang dan seperti apa mereka mengayunkan pedangnya?"


"Maaf nona saya...tidak mengerti." Leon menggelengkan kepalanya.


Sambil mengayun-ayunkan ranting pohon di tangannya dan berjalan memutari Leon, Alice menjelaskan beberapa hal padanya.


"Saat kau mengayunkan pedangmu maka rasakanlah tiap otot yang bergerak bersama dengan ayunanmu. Saat kau mengayunkan pedangmu, makan matamu dan mata pedang itu adalah satu. Jika kau buta maka pedangmu akan tumpul. Kau mengerti kan?"


Leon berpikir sejenak lalu ia mengangguk sekali "Saya mengerti Nona."


"Bagus." Alice berhenti di depan Leon "Perhatikan baik-baik agar kau lebih mudah memahaminya."


Tanpa mengambil posisi kuda-kuda, Alice hanya berdiri tegak dengan ranting pohon yang kecil di tangannya. Alice memejamkan matanya sejenak dan memfokuskan pandangannya ke depan tepat dimana ia akan mengayunkan ranting di tangannya itu. Setelah itu, kemudian ia menebas ke depan tidak jauh dari pohon yang ia duduki tadi.


Leon terkesima dengan tebasan Alice. Ia melihat sesuatu yang benar-benar mengagumkan tepat di depan matanya. Bagaimana ranting tipis itu memberikan goresan halus pada batang pohon yang bahkan tak di sentuh olehnya. Apakah Alice adalah seorang ahli pedang? Kalau begitu sejak kapan?


"No...nona..."


"Yah, seperti itulah yang ku maksud." Kata Alice dengan nada santai. "Aku tak mengajari teknik berpedang tapi aku ingin kau memperkuat dasar mu. Jangan lupa sebelum kau terbang dengan sayapmu, kakimu lebih dulu menopang tubuhmu." Lanjutnya.


"Baik. Saya mengerti nona."


"Satu lagi. Coba berikan pedang mu padaku."


"Pedangku? Apa yang ingin Nona lakukan pada pedangku?"


"Nanti kau akan tahu sendiri." Katanya sambil mengulurkan tangannya pada Leon.


Dengan ragu Leon memberikan pedangnya pada Alice. Karena tangannya terlalu lama bergerak Alice langsung merampasnya begitu saja.


Alice berbalik membelakangi Leon. Ia seperti melakukan sesuatu pada pedang itu. setelah beberapa saat kemudian ia mengembalikan pedang itu pada Leon


"Kali ini jangan sampai hilang dan terima kasih karena kau menepati janjimu."


Leon mengernyitkan alisnya berusaha mencerna maksud Alice. Setelah ia melihat pedangnya, ia menemukan sebuah pita biru yang terasa familiar baginya.


"Nona...ini..." Leon menyentuh pita itu perlahan seolah pita itu akan rusak hanya dengan sentuhan saja.


"Aku meminjamkannya padamu. Jadi kau harus mengembalikannya nanti." Balas Alice dengan senyuman.


Seketika wajah dan kata-kata itu membuatnya teringat kembali oleh Alice kecil yang dulu selalu bermain bersamanya.


Kenangan yang tertutup rapat dan hatinya yang bimbang menjadi lebih ringan ringan dan lapang.


"Ternyata anda memang adalah Nona Alicia."


Akhirnya janjiku untuk menjadi ksatria pribadi benar-benar terwujud.