
Selain ras hyuman dan ras iblis adapula ras binatang dan ras elf. Karena bentuk mereka yang kadang menyerupai manusia. Maka, mereka juga dapat dikategorikan sebagai demi-human sedangkan yang terlihat seperti monster dengan kecerdasan dan kesadaran disebut sebagai non-humanoid.
Dalam ras iblis sendiri terdapat berbagai macam jenis suku. Misalnya suku oni, ogre, imp, vampir dan beberapa suku lainnya. Kehidupan mereka tidak jauh berbeda dengan manusia yang juga terbentuk dengan banyaknya bangsa dengan warna kulit dan bentuk tubuh yang berbeda-beda. Selain ras iblis yang terdapat banyak suku, begitu juga dengan ras elf dan ras binatang. Namun diantara keempat ras tersebut, kekuatan dan dominasi tertinggi dipegang oleh ras naga.
Jumlah para naga terbilang sedikit, bahkan lebih sedikit daripada penduduk ras elf. Meski begitu mereka sangatlah berbahaya. Selain diberkati dengan kekuatan fisik yang luar biasa kuatnya, mereka juga memiliki kemampuan sihir yang hebat. Ras naga memiliki umur yang lebih panjang daripada ras iblis dan sedikit lebih panjang dari ras elf. Mereka lebih cenderung untuk mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia ini. Yah bisa dibilang mereka lebih angkuh daripada ras elf yang selalu memandang suci diri mereka.
"Oh, ngomong-ngomong, aku dan Salvor termasuk suku oni." Kata Davella. "Suku kami tinggal di negara bagian timur benua Arkham. Kami berdua memutuskan berpergian untuk menikmati dunia ini." Lanjutnya.
"Eh, bukannya kau bilang waktu itu ingin berbulan madu denganku sekalian berdagang juga." Timpal Salvor namun segera Davella melototi nya dengan tajam.
Salvor dengan cepat berbalik. Dengan rasa takut ia mengoreksi ucapannya dan membenarkan pernyataan Davella tadi.
"Lalu, apakah kalian tahu legenda tentang pahlawan?" Tanya Alice.
"Tentu. Biar ku ceritakan. Di dunia ini terdapat beberapa legenda tentang pahlawan dan setiap pahlawan memiliki masanya sendiri. Namun yang paling membekas di hati kami para ras iblis adalah pahlawan yang lahir ribuan tahun silam. Dia adalah sosok yang kami takuti namun kami kagumi juga. Mungkin sebutannya di kalangan ras hyuman tidaklah berubah yaitu pahlawan kuno." Terang Davella. Alice mengangguk mengiyakan nya.
"Raja iblis dan pahlawan itu bagaikan siang dan malam. Setiap raja iblis lahir maka pahlawan pun ikut lahir. Dan sebenarnya raja iblis itu hanyalah sebuah gelar semata bagi ras demi-human yang memiliki kekuatan diatas yang lainnya. Contohnya, sekitar lima ratus tahun yang lalu, beberapa raja iblis terlahir dari tiap-tiap ras yang berbeda. Dua dari ras iblis dan dua lainnya dari ras elf dan ras binatang. Kalau mengenai ras naga... mereka juga memiliki seseorang dengan gelar raja iblis. Tapi kami tidak tahu banyak tentangnya karena wanita yang memegang gelar itu sebenernya bukanlah raja iblis yang baru lahir dimasa itu, tapi dia adalah tangan kanan dari raja iblis pertama di dunia ini."
"Bisakah kau menceritakannya padaku tentang pahlawan dan raja iblis itu?"
Selagi mereka dengan serius bercerita, Echidna sudah menghabiskan makanan yang ada di piringnya. Ia tampak senang dan mulai melirik Alice karena penasaran. Echidna duduk lebih dekat dengan Alice dan mulai ikut mendengarkan.
Davella mengambil segelas minuman dihadapannya lalu meneguknya. "Aku tidak keberatan. Lagipula aku cukup suka dengan cerita-cerita legenda seperti itu."
Ribuan tahun yang lalu saat pertama kali raja iblis terlahir ke dunia ini dan mulai melakukan pergerakannya, yakni untuk menguasai dunia dalam genggamannya, saat itulah dimana manusia kehilangan semangat dan mulai putus asa karena tak sanggup membendung kekuatan dari para ras iblis yang begitu besar.
Raja iblis satu-satunya pada masanya itu sangatlah kuat dan bahkan mampu mempengaruhi para pengikutnya untuk membuat mereka menjadi lebih kuat.
Dewi Gaia yang menjaga Aria merasa iba akan penderitaan manusia dan memutuskan untuk memanggil jiwa dari dunia lain yang akan ditunjuknya sebagai seorang pahlawan.
"Maksudmu, Dewi Gaia tidaklah menurunkan berkatnya pada manusia dunia ini melainkan memilih untuk memanggil jiwa dari dunia lain?" Tanya Alice menyela.
"Lalu, bagaimana selanjutnya?"
Davella menunda percakapan mereka dengan mengangkat tangannya ke depan Alice. Ia berdiri lalu berjalan menuju lantai dua. Setelah beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah buku tua di tangannya. Davella kembali duduk di hadapan Alice dan mulai membaca tulisan yang ada dalam buku itu.
Tidak ada yang tahu darimana pahlawan itu datang begitu pula dengan raja iblis Tifon. Mereka berdua seolah diciptakan begitu saja.
Dengan kekuatan dari Sang Dewi, sang pahlawan menembus pertahanan pasukan ras iblis. Pahlawan itu begitu bersinar. Rambut dan mata hitamnya seperti berkilau di bawah cahaya redup. Ia membawa harapan bagi ras hyuman di ujung pedangnya.
Hari demi hari, seperti seorang prajurit tanpa kenal lelah. Sang pahlawan terus saja memukul mundur pasukan iblis yang menguasai berbagai wilayah hingga akhirnya mereka kembali ke benua Arkham.
Dikatakan dalam buku itu, sebelum benua Arkham tersegel. Tempat itu memiliki tebing besar yang begitu panjang membentang di atas samudra dan sebuah ngarai yang menghubungkan kedua benua yaitu benua Regnum dan Arkham. Namun, setelah mengalahkan raja iblis, Sang pahlawan menggunakan kekuatannya untuk memutuskan jembatan besar itu dan menutup ngarai itu juga sehingga keduanya menjadi sebuah lautan luas yang saat ini membatasi kedua wilayah. Lalu dengan sihirnya Sang pahlawan memberikan pembatas antara keduanya. Entah apa motifnya sampai ia menanamkan segel yang begitu kuat.
"Aku belum melihat seluas apa lautan itu sampai-sampai ia sanggup membuat orang-orang tidak bisa melintasinya." Benaknya sambil ia mengingat sisa kesadaran jiwa pahlawan kuno yang saat ini berada dalam dirinya.
"Oh. Disini masih ada sesuatu yang tertulis." Ucap Davella saat ia hampir menutup bukunya.
"Aku pernah melihat sang pahlawan menangis di atas makam besar. Ia menancapkan pedangnya di sekitar makam itu dan melindunginya dengan sihir yang sangat kuat. Dengan kemampuan mataku, aku hanya bisa melihatnya sekilas saja dan saat sihir itu aktif sepenuhnya, maka tempat itu seperti sebuah kurungan baja yang kokoh dari apapun. Aku sempat menyerangnya dengan pedang dan sihir tapi keduanya tidak berefek sama sekali."
"Sepertinya itu adalah catatan terakhir milik kakekku. Selanjutnya hanya ada halaman tua yang hurufnya sudah pudar karena dimakan usia." Lanjut Davella lalu iapun menutup bukunya.
"Apakah tidak ada kelanjutannya lagi?" Tanya Alice masih penasaran. Ia merasa masih banyak celah dan tanda tanya dalam cerita itu.
"Sudah tidak ada. Tapi jika kau masih penasaran, maka kau boleh ke kota untuk mencari tahunya. Pergilah ke kota Ilium. Jaraknya tidak jauh dari tempat ini, disana ada perpustakaan besar. Kau bisa mencari tahu banyak hal disana." Ujar Davella.
"Karena hari sudah malam, kalian boleh menginap. Aku dan istriku adalah seorang pedagang keliling. Meski begitu kami juga adalah mantan pemburu. Untuk sementara kami tinggal di desa ini karena kehabisan pasokan dan juga karena desa ini dekat kota serta dungeon-dungeon kecil lainnya yang bisa menjadi penghasilan kami." Jelas Salvor.
Alice dan Echidna lalu menempati kamar yang telah disiapkan oleh Davella. Dari balik jendela kamar, ia memandangi langit malam. Alice lalu menunduk dan menatap Echidna yang sudah tidur disampingnya. Alice mengulurkan tangannya dan membelai lembut kepala Echidna.
"Aku rindu kalian.. tapi, sepertinya aku akan pulang sedikit lebih lama." Gumamnya.