
"Ughhh..." Echidna mengerang jenuh.
Saat malam hari dimana orang-orang seharusnya tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka, sebaliknya Echidna berada dalam tekanan dan pengawasan ketat Alice. Satu jam telah berlalu dan dia masih tetap dalam posisi berdiri dengan menekuk lututnya.
Echidna melirik, melihat Alice yang duduk bersila di atas tempat tidur. Ia tersenyum kecil saat melihat mata Alice terpejam. "Sebentar saja...sebentar saja..." Gumamnya sambil mengangkat tubuhnya perlahan melonggarkan tekukan lututnya.
"Jangan berpikir aku tidak tahu apa yang coba kau lakukan." Kata Alice tiba-tiba membuat Echidna bergidik kaget.
Echidna mengerutkan bibirnya, ia kembali memperbaiki posisinya.
"Luruskan kedua tanganmu ke depan. Tekuk lututmu hampir 90 derajat dan tegakkan punggung mu. Apa kau tahu apa yang sedang ku ajarkan padamu? Ini bukan soal kekuatan ataupun ketahanan."
Echidna diam, ia tidak ingin mengatakan apapun lagi. Takutnya, mama nya akan menghukumnya dengan melakukan sesuatu yang lebih berat. Echidna sudah berpengalaman dengan ketegasan Alice saat melatihnya. Ia tidak bisa berkutik jika Alice benar-benar marah. Bagaimana pun juga ia tetap fokus dengan apa yang Alice katakan dan hanya mendengarkan saja.
"Kesabaran dan kedisiplinan akan melahirkan tekad juga ketekunan yang kuat. Bahkan orang yang hebat pun masih bisa dikalahkan oleh nafsu dan amarahnya."
Alice telah melihat dan melalui begitu banyak pertarungan juga pertempuran. Kehilangan kesabaran akan membuat seseorang gegabah dalam mengambil tindakan dan perlahan nafsu akan mengendalikan mereka.
Rekan ataupun musuh, tidak satu dua orang saja yang pernah ia lihat mati konyol karena hal itu. Alice tahu bahwa putrinya kuat, namun saat pertarungannya melawan Echidna, Alice sadar kalau tidak hanya Echidna kekurangan pengalaman bertarung tapi juga kesombongannya yang terlalu tinggi itulah yang menjadi penyebab utamanya.
"Lakukan posisi ini lagi selama satu jam." Ucap singkat Alice.
Dalam hati, Echidna mengeluh dan ingin sekali bergerak melakukan sesuatu yang lain. Yah, dia adalah seseorang yang aktif dan sulit untuk tenang. Sepertinya kepribadiannya benar-benar berubah saat ia lepas dari segel pahlawan kala itu.
Echidna mengikuti arahan Alice dan selama satu jam ia tetap berdiri dengan posisi yang sama. Nafasnya dan energi yang mengalir pada tubuhnya seimbang. Alice cukup senang melihat kesabaran putrinya.
"Sekarang waktunya memasuki tahap selanjutnya." Pikir Alice. Karena merasa tubuhnya sudah mendingan, Alice beranjak dari ranjang dan mendekati Echidna.
"Sekalipun ras naga memiliki insting yang tinggi dan kekuatan tempur yang tak terkalahkan. Kali ini aku ingin mengajarkan mu sesuatu yang berbeda. Kau boleh melepaskan kuda-kuda mu."
Echidna menghela nafasnya yang panjang seakan ia membuang semua beban berat yang menempel di pundaknya. Ia duduk sejenak kemudian membaringkan tubuhnya. "Semakin lama rasanya semakin berat. Padahal aku yakin dengan kekuatan ku. Latihan yang mama ajarkan benar-benar sulit." Benak Echidna sambil mengatur nafasnya. Kakinya, terutama bagian pahanya mulai terasa kaku dan berat untuk di angkat.
Echidna menarik nafasnya dengan lantang lalu menghembuskannya. Ia kemudian bangkit.
"Kali ini kau berdiri tegak saja. Pejamkan matamu dan rasakan Mana yang ada di sekeliling mu."
"Baik." Echidna segera mengikuti arahan Alice. Tapi...bukankah ini terdengar seperti pelajaran dasar untuk mengenal Mana? Pikirnya heran.
"Pertahankan. Setelah itu perluas. Aku tidak ingin kau menggunakan instingmu tapi rasakan lah melalui Mana yang ada di sekitarmu."
Berbeda dengan dirinya yang menggunakan Qi. Alice mencoba mengajarkan teknik kesadaran jiwa miliknya pada Echidna dengan menggunakan Mana sebagai landasannya.
"Lepaskan energi Mana mu dengan perlahan. Seperti tetesan air pada tengah danau. Riaknya adalah Mana milikmu yang terus meluas. Menyentuh dan merasakan apapun yang dilewatinya."
Kedua alis Echidna terangkat sedikit. Alice tersenyum. "Seperti yang diharapkan dari putriku." Gumamnya pelan. Alice tahu kalau Echidna telah memahami setiap instruksiya dengan sangat cepat.
"Aku bisa merasakan begitu banyak kehidupan di sekitar ku. Apa ini? Berbeda dengan insting kami yang akan merespon ketika merasakan ancaman. Hebat. Teknik mama Benar-benar luar biasa." Benak Echidna penuh kekaguman. "Tapi...apa ini? Ada sesuatu yang aneh di bawah tanah."
"Selanjutnya--"
Suara ledakan dari luar begitu tiba-tiba. Alice menoleh ke arah jendela. "Akhirnya mereka mulai bergerak."
~
Gumpalan lendir, monster humanoid dan beberapa monster lainnya dengan bentuk yang aneh tiba-tiba saja muncul di dalam gerbang kota. Kengerian dan kepanikan memecah kesunyian malam itu. Para warga penasaran untuk melihat keributan di luar dan beberapa lainnya yang sudah tahu bersembunyi dalam ketakutan.
Tidak ada yang menduga kemunculan mereka, namun para prajurit yang bersiaga telah sigap dan segera mengamankan area sekitar.
"Alice! Ini..."
Nyx berteriak memanggil Alice dari dalam kepalanya. Nyx lalu keluar memunculkan bayangan dirinya. "Tidak salah lagi, ini energi Mana yang sama." Kata Alice.
Nyx mengangguk. "Ya. Kau benar."
"Apakah dia Disini?"
Nyx menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa merasakan kehadirannya tapi energi Mana miliknya terasa lebih jelas dan sangat kuat. Ini berbeda dari yang waktu itu."
Apakah Erebos akhirnya menunjukkan dirinya?
"Fee, Echidna. Aku ingin kalian melindungi warga sekitar. Jangan berdiri di garis depan dan menyerang mereka. Lindungi saja orang-orang yang dalam bahaya dan sebisa mungkin jangan terlalu menarik perhatian." Jelas Alice lalu ia keluar dan melompat ke atas atap.
Fee dan Echidna saling mengangguk lalu mereka segera berangkat.
Alice melihat para monster aneh yang menyerang dengan seksama. Mereka bergerak cukup cepat dan satu-satunya persamaan mereka adalah adanya kristal hitam yang menempel di beberapa bagian tubuh mereka.
"Seperti...mereka berada dalam kendali. Apakah kristal hitam hitam itu yang mengontrol mereka."
Alice belum mengenal negeri ini dengan baik. Rumor buruk tentang negara Elf banyak yang beredar di luar sana termasuk salah satunya tentang kesombongan mereka yang selalu memandang rendah ras lain. Tidak tahu fakta atau hanya sebuah kabar burung belaka, Alice memilih untuk bergerak dengan hati-hati.