
Ketika malam semakin gelap Alice memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah setelah seharian menanti. Ia mengganti gaunnya dengan piyama yang sederhana berbeda dari apa yang biasa ia kenakan.
Sudah tiga hari semenjak kejadian itu. Alice menghela nafas beratnya karena rasa bosan untuk terus menunggu. Setelah mematikan lentera penerangan, ia membaringkan tubuhnya. Alice lalu terpejam dan terlelap dalam tidurnya.
Tak..Tak..Tak...
Begitulah bunyi derap kaki yang perlahan menaiki anak tangga menara itu. Seseorang yang mengenakan jubah dengan postur pria dewasa pada umumnya menyusuri lorong gelap sambil melangkahkan kakinya secara perlahan.
Ia tersenyum seolah-olah bibirnya bisa saja sampai ke telinganya. "Dengan alat anti-sihir ini, aku bisa menggunakan sihir ku di tempat ini." Benaknya.
Menara Pengharapan atau The Wishing Tower, adalah gedung tertinggi di ibukota. Dengan banyaknya pemandangan indah yang bisa dilihat saat berada di puncaknya, termasuk hampir keseluruhan bangunan Istana kerajaan itu sendiri. Namun, karena suatu tragedi, orang-orang mulai memanggilnya dengan sebutan The Judgement Tower atau Menara Penghakiman.
Salah satu yang spesial darinya adalah lingkaran sihir yang tertanam di bawah tanah menara itu yang membuat orang-orang di dalamnya tak mampu menggunakan sihir mereka. Lingkaran sihir itu konon dibuat oleh pendiri dari Menara Penyihir itu sendiri.
Setelah cukup lama menapaki anak tangga, pria berjubah itu akhirnya sampai di lantai atas. Tepat di depan pintu kamar Alice, ia mengambil sebuah belati kecil dari balik jubahnya.
Apakah ia ingin membunuh Alice yang tertidur lelap menggunakan belati itu?
Pria itu membuka pintu dan bergerak dengan pelan berusaha tak ingin membangunkan Alice.
"Bagaimanapun, kejadian ini bukanlah pembunuhan melainkan bunuh diri." Gumam batinnya sambil ia menyeringai.
Ia berjalan hingga akhirnya sampai di sisi ranjang Alice. Ia lalu membungkuk dan mendekatkan mulutnya ke telinga Alice. Pria itu seperti merapalkan sesuatu ke telinga Alice.
Apakah itu sihir?
Mendengar bisikan pria itu, Alice yang tertidur tiba-tiba membuka matanya. Tangannya yang gemetar bergerak mengambil belati yang disodorkan oleh pria berjubah itu.
"Bagus.... Lakukanlah sekarang juga." Bisiknya.
Tangan gemetar Alice memegang belati itu. Ia lalu mengangkat tangan yang lainnya. Seperti orang yang ingin bunuh diri, ternyata pria itu mengendalikan pikiran Alice untuk mengiris urat nadi di pergelangan tangannya sehingga orang-orang akan melihat kematian Alice merupakan tindakan bunuh diri sungguhan.
Pria itu tersenyum saat tangan kanan Alice sedikit lagi mengiris pergelangan tangan yang lainnya.
"Jiwa yang telah terasah selama ratusan tahun lamanya ini bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh sihir rendahan seperti itu." Batin Alice lalu ia dengan cepat menusukkan belati itu ke jantung pria berjubah itu.
Pria berjubah itu berteriak kesakitan. Ia bergerak mundur dan menjauh dari Alice sambil menahan dadanya yang terus mengalirkan darah. Ya. Darah yang berbeda dari seorang manusia.
"K-Kau!!! Bagaimana bisa?!" Kesal pria itu mengarahkan telunjuknya pada Alice.
Alice dengan gelagat santai beranjak dari tempat tidurnya. Wajahnya yang puas menjawab pria itu. "Hawa membunuhmu yang terlalu tajam membuat ku terbangun."
Pria itu mendecihkan lidahnya. Ia menatap kesal Alice sambil menggertakkan giginya. "Aku akui kehebatanmu tapi sayang sekali, bagaimanapun juga kau akan mati disini." Lalu ia menyerang Alice dengan sihir bola api.
Alice menghindarinya dengan mudah. "Ternyata kalian ras iblis masih bisa bertahan, padahal ku rasa aku sudah menusuk jantung mu, dan..Apakah kau memiliki alat yang mampu menangkal efek menara ini?"
Melihat pria berjubah itu baru saja menembakkan bola api tentunya dia memegang alat yang bisa menangkal efek lingkaran sihir di menara ini. Dugaan Alice semakin kuat padanya.
"Tentu. Apa itu pertanyaan terakhirmu?" Pria itu bangkit dan berdiri tegak seolah ia baik-baik saja.
Meski dadanya terus mengalirkan darah tapi pria itu tak menghiraukannya.
"Bukan, tapi sebelum itu. Bisakah kau menunjukkan wajahmu? Aku cukup jenuh melihat orang-orang berjubah yang selalu bertingkah misterius akhir-akhir ini. Bukan begitu Tuan...Berness atau haruskah ku panggil anda Tuan Penasehat."
Berness terkejut, ternyata identitasnya telah diketahui oleh gadis dihadapannya. Karena tak ada gunanya lagi untuk menyamarkan dirinya, Berness menarik tudung jubahnya. Sosok Pria paruh baya dengan perpaduan sedikit rambut putih di beberapa bagian antara rambut hitamnya dan kumis yang panjang dan sedikit melingkar ke atas pada bagian ujungnya.
Sepertinya yang Alice duga. Energi Mana Kotor itu bukan hanya dari Sang Ratu saja. Ketika ia dibawa ke ke menara. Ia masih bisa merasakan Mana yang kotor itu secara samar dari suatu tempat. Terlebih saat tahu kalau pria di depannya itu memiliki alat anti-sihir yang seharusnya hanya dimiliki oleh Raja dan orang-orang kepercayaannya.
Alice memiringkan kepalanya sembari bertanya "Kesempatan hidup?"
"Ya. Bergabunglah dengan kami ras iblis. Kau bisa menjadi lebih kuat. Tidak peduli apakah kau memiliki Mana Heart atau tidak, tapi saat kau bergabung dengan kami. Kekuatan, kekayaan, atau apapun itu. Kau bisa mendapatkannya dengan mudah."
Berness mengulurkan tangannya dengan isyarat memanggil Alice.
"Aku tidak tertarik." Jawab Alice spontan.
"Sungguh bodoh." Berness terkekeh sejenak "Karena kau tampak begitu arogan, terimalah kematian mu."
[Infer---]
Belum selesai ia melepaskan sihirnya. Alice telah menusuk perut berness dengan pedang Qi-nya.
"K-Kau....!!!" Berness lalu memuntahkan darah dari mulutnya.
Matanya tidak bisa melihat darimana datangnya serangan itu. Berness pun jatuh bertekuk lutut. "Sihir? Tapi bagaimana mungkin....Tidak, ini bukan...sihir."
Berness mendongak. Ia menatap gadis di depannya. Sorot mata tajam dan dingin itu begitu menusuk. Seperti seorang pembunuh yang tak memiliki perasaan saat menebas leher mangsanya. Berness terlalu meremehkan lawannya kali ini.
Berness batuk darah, dengan sisa tenaga yang miliki ia mengucapkan beberapa kalimat ringan. "K-kau menang..." Ia mengangkat kepalanya dan menarik nafas dalam-dalam. "Demi Dia Ya-"
Lagi-lagi Alice bergerak lebih dulu. Alice dengan cepat telah berdiri di hadapan Berness "Jangan kira aku tidak tahu permainan kalian." Ucapnya dengan nada datar sambil ia mencekik keras leher Berness. "Aku tidak tahu mantra apa itu. Tapi jangan harap aku akan melepaskan mu begitu saja setelah semua yang telah kau lakukan."
Berness mengutuk kesialannya. Ia benar-benar dipojokkan. Kartu terakhirnya untuk meledakkan diri telah dihempaskan oleh Alice. Tapi sebagai ras iblis murni, ia tetap bersikap congkak di hadapan kematiannya. "Ma..nusia... renda...han. Sekumpulan hama... apa yang..ingin..kau lakukan?"
"Katakan tujuanmu?" Pertanyaan singkat Alice dengan ekspresi kaku di wajahnya terasa begitu mencekam di telinga Berness. Cengkraman tangan di lehernya semakin kuat namun, Alice tahu dan sengaja menahan tenaganya agar Berness tidak kehilangan kesadarannya.
"Baik...Akan ku... katakan sa...tu hal padamu..." Alice lalu meregangkan cengkeramannya, Dalam keadaan berlutut Berness akhirnya bisa bernafas lega namun itu belum menjamin nyawanya.
"Ada satu ramalan."
"Ramalan?"
"Ya. Kami mendapat ramalan bahwa Dewa kami, Evil God, akan terlahir kembali sekali lagi."
"..... Lanjutkan."
"Aku tidak tahu selebihnya. Hanya itu..Ukkk"
Alice sekali lagi mencengkeram Berness dengan kuat tapi itu tak membuatnya putus asa. Berness memandang Alice dengan lurus begitu sebaliknya. "Aku hanya tahu bahwa kami diperintahkan untuk mencari gadis dengan rambut berkilau layaknya emas."
Seketika Alice melebarkan kedua matanya. "Apakah itu sebabnya aku selalu di incar?" Gumamnya pelan.
Melihat Wajah diam Alice sepertinya Berness tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. "Hahaha....Ya, Alicia gadis itu adalah dirimu. Tapi apa kau tahu." Berness terdiam sejenak sebelum ia menggila dengan gelak tawanya yang memenuhi seluruh ruangan. "Kami hanya butuh gadis berambut keemasan, jika kami gagal mendapatkan mu. Kau pasti tahu siapa selanjutnya."
Alice mengeratkan kedua giginya. Ia sadar setelah memikirkannya sejenak, ia tahu orang yang iblis di depannya itu maksud. Gelombang tekanan dahsyat tiba-tiba memenuhi seluruh menara.
Hawa membunuh yang sangat kuat. Alice mencengkeram erat leher Berness. Ia lalu mengangkatnya.
Setelah mengumpulkan Energi Qi pada telunjuknya Alice menyentuh dahi Berness.
Rasa yang teramat sakit menjalar ke seluruh tubuhnya. Panas dan menusuk. Setiap saraf dan sendinya seolah-olah dikoyak-koyak sedikit demi sedikit.
Berness menggeliat kesakitan di lantai sebelum akhirnya ia mati.