
Setelah istirahat untuk beberapa menit, mereka pun memutuskan untuk kembali. Tujuan mereka sudah tercapai. Dengan rasa gembira dan bangga, Evelyn memimpin murid-muridnya keluar dari dungeon. Sungguh pencapaian yang di luar dugaannya.
Tapi sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi. Ketika mereka berpikir kalau semuanya sudah selesai dan para monster sudah sepenuhnya ditangani, entah kenapa mereka kembali muncul.
Tidak ada yang menyangka dengan apa yang akan mereka saksikan di pintu masuk pada lantai itu. Para monster seperti respawn dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Hei, tunggu, bukankah seharusnya mereka belum waktunya untuk muncul? Kenapa jumlah mereka jadi begitu banyak?" Tanya Esther keheranan yang merupakan seorang penyembuh di kelompok mereka.
Tidak hanya dirinya. Murid-murid lainnya juga merasa kalau hal itu sangat aneh. Bahkan Evelyn pun tidak mengira situasi mereka saat ini.
Para murid telah kelelahan dan kemungkinan mereka sudah tidak akan sanggup untuk bertarung lagi. Sekarang tinggal Evelyn seorang yang mampu melindungi mereka.
Tapi untungnya, para instruktur telah memikirkan rencana cadangan jika sesuatu yang tak terduga terjadi.
"Kalian, mendekat lah. Aku akan menggunakan batu kristal teleportasi untuk memindahkan kita keluar. Kami telah menandai pintu masuk gua sebelumnya. Jadi kita pasti akan segera keluar dari dungeon ini. Tidak perlu cemas." Ujar Evelyn mencoba menghilangkan kekhawatiran dalam diri murid-muridnya.
Evelyn mengeluarkan batu kristal yang telah diukir Rune teleportasi yang ada dalam sakunya, ketika para murid telah merapat di sisinya. Ia lalu memecahkan kristal itu.
Cahaya putih yang menyilaukan sekilas melingkupi mereka lalu kemudian lenyap begitu saja.
Tidak ada yang terjadi.
Mereka masih saja berada dalam dungeon itu.
Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah ketika cahaya itu lenyap dan ketika mereka membuka mata, seharusnya mereka sudah berpindah tempat?
Evelyn cemas, ia mulai panik. Keselamatan para murid ada di tangannya. "Kenapa kristalnya tidak bisa digunakan? Apakah kami benar-benar terjebak disini?" Baru kali ini dia mengalami hal ini, dia tidak tahu akan apa yang sedang terjadi.
Evelyn melirik para murid. Mereka mulai ketakutan.
Esther sudah tidak memiliki energi Mana yang cukup untuk memulihkan stamina mereka. Ramuan Mana dan penyembuh tersisa sedikit. Benarkah mereka harus menggunakannya sekarang?
Tidak ada pilihan lain. Evelyn memberikan ramuan Mana miliknya pada Esther. Ketika Esther meminumnya dan memulihkan sedikit energinya. Ia pun mulai merapalkan mantra pemulihan kepada yang lainnya dan penambah stamina juga kecepatan. Dalam sekejap Energi Mana dalam tubuhnya kembali menipis.
"Haaah...haaaah...cuma ini yang bisa ku lakukan." Jawabnya sambil terengah-engah.
"Itu sudah cukup. Terima kasih Esther. Kalian, tetap bersama. Kita akan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi." Seru Evelyn.
Jumlah monster semakin banyak. Dia tidak pernah mendengar kejadian ini sebelumnya. Tidak ada catatan yang menuliskan akan keanehan ini.
Melihat para monster telah sepenuhnya menutup jalur pulang mereka. Evelyn pun memutuskan untuk membawa para murid ke lantai 4.
"Aku dengar disana ada tempat berlindung yang aman yang mana tidak akan didekati oleh para monster." Gumam benaknya.
Evelyn berjalan di depan menuntun para murid. Ia menghalau serangan dari Venomousch dengan sihirnya dan mengalahkan Dark Mushroom juga Stone Warrior.
"Ahk!" Evelyn berdesis menahan perih karena racun Venomousch yang mengenal lengannya.
"Instruktur! Apakah anda baik-baik saja?!" Tanya para murid prihatin ketika melihat lengan Evelyn membiru seketika.
Evelyn menggelengkan kepalanya. Keselamatan murid-muridnya berada di pundaknya. Pokoknya, bagaimanapun juga dia harus kuat dan melindungi mereka.
"Aku tidak boleh menjadi lemah. Mereka akan ketakutan kalau aku jatuh disini. Bagaimana pun juga aku harus membawa mereka ke tempat itu." Pikirnya.
Evelyn kembali berjalan dan menyeru mereka untuk bergerak lebih cepat. Sebisa mungkin dia menghindari pertarungan agar tidak menarik perhatian monster-monster lainnya.
"Kenapa kita pergi ke lantai 4? Bukankah disana lebih berbahaya?" Bisik Elysia pada Helian sambil mereka berlari.
"Disana ada tempat perlindungan yang sangat aman. Para monster itu tidak berani mendekati tempat itu." Balasnya.
"Hmm...kita kan sudah pernah kesana, tapi kenapa ibu tidak pernah mengatakannya ya?" Pikir Elysia.
Helian menyipitkan matanya menatap Elysia dengan malas. "Kau terlalu asik dengan pertarungan mu. Waktu itu bibi sudah menjelaskannya kok. Katanya ruangan di balik pintu itu memiliki gelombang Mana murni yang cocok untuk dipakai tempat istirahat. Juga ada sebuah segel khusus yang membuat para monster tidak bisa memasukinya." Jelasnya.
Elysia terkekeh sedikit malu. "Maaf, waktu itu aku tidak memperhatikan kalian."
Tekadnya untuk menjadi kuat membuatnya memberanikan diri dan mencoba melawan seekor Nightfiend. Kelelawar gua yang mampu menembakkan bola api dengan kemampuan yang lihai dalam menghindari serangan.
Menyusuri lorong gelap dan lembab dengan banyak lika-liku, Evelyn akhirnya berhasil mencapai tangga menuju lantai 4.
Tempat itu sudah ada di depan mata. Ucap batin Evelyn.
Mereka terus berlari hingga mendapati sebuah pintu yang bercahaya pada setiap sisinya. Evelyn tersenyum lega. Ia menghela nafasnya.
Akhirnya sudah sampai.
Ya, seharusnya seperti itu. Tapi sosok monster mengerikan tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka. Sebuah lingkaran sihir yang besar mengagetkan mereka. Saat mereka berusaha untuk menghiraukan lingkaran itu dan berjalan memutarinya. Evelyn tidak menyangka saat sebuah tangan tiba-tiba muncul dan menjerat salah seorang muridnya.
""Aili!" Semua orang berteriak dengan panik.
~
Setelah kembali meneliti dunia dalam ingatan Elysia dengan kesadaran jiwanya. Alice telah berhasil mendapatkan beberapa hal penting.
Salah satunya adalah tentang inti atau pusat dari formasi sihir yang menyegel mereka. Erebos, si Dewa Jahat itu, ternyata dia sudah mulai menampakkan dirinya. Setelah lama mencarinya, Alice akhirnya menemukan tempat dimana yang menjadi inti dari dunia mimpi buruk itu.
"Sudah waktunya mengakhiri dunia kecil ini." Ucapnya melihat ke arah langit.
Setelah membeli beberapa ramuan Mana dan ramuan pemulihan, serta sebuah pedang. Kini waktunya Alice berangkat menuju dungeon itu. Tempat dimana Elysia dan kawan-kawannya berlatih.
"Aku tidak menyangka ternyata selama ini dia bersembunyi disana. Erebos... bersiaplah." Alice mengeratkan kedua tangannya. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk menghajar sosok Dewa Jahat itu.
Alice kemudian melesat terbang menuju langit. Ia memiliki firasat buruk yang tiba-tiba saja mengganjal di hatinya.
Entah kenapa hatinya seakan berkata untuk secepatnya menggapai Elysia. Rasa gelisah yang tidak jelas menyelimutinya. "Jimatku...masih baik-baik saja. Ku harap Elysia juga begitu."