
Alice dan Elysia bertarung begitu intens. Ayunan senjata keduanya cukup sulit untuk ditangkap mata. Sangking cepatnya, senjata mereka menjadi tak terlihat dan hanya menimbulkan bunyi yang keras.
Helian merasa gelisah dengan situasi yang terjadi di depannya. Kenapa Elysia tiba-tiba menyerang Alice? Tanya batinnya.
Meskipun sebenarnya ia tidak merasakan adanya rasa permusuhan atau niat membunuh dari Elysia, tapi tetap saja dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi diantara keduanya. Setahu Helian, ini adalah pertemuan pertama mereka.
Hentakan kaki Elysia dan Alice begitu lembut tanpa menyisakan jejak suara. Namun dentuman keras dari senjata mereka yang saling bertabuh seakan memekakkan telinga.
Para pelayan dan prajurit sekitar mulai datang memenuhi sisi taman itu.
Tadinya mereka pikir ada penyusup yang menyerang Sang Ratu. Saat mereka melihatnya, ternyata itu hanyalah adu kemampuan antara pahlawan dan sahabat Ratu.
Mereka terkesima melihat pertarungan tingkat atas itu.
'Woahh'... begitulah kesan yang tergambar dari raut wajah dan tatapan mereka.
Dengan rasa percaya diri Elysia terus mengayunkan sabitnya. Ia yakin, dengan kekuatan yang meluap-luap dalam dirinya, ia mampu melayangkan setidaknya satu atau dua serangan pada Alice.
Sepintas Elysia teringat akan janji yang Alice buat saat ia masih berusia 10 tahun dalam mimpinya itu.
Kala itu ketika mereka sedang berlatih...
"Selama kau bisa melukai ku, bahkan kalaupun itu hanya sehelai rambutku saja. Maka kau pemenangnya."
"Benarkah?"
"Tentu."
"terus...kalau aku menang, aku dapat apa dari ibu?"
"Kau mau hadiah ya? Hmm.... bagaimana kalau aku menuruti satu permintaan mu."
"Sungguh? Ibu janji ya."
"Janji."
Setahun setelah mereka bersama, janji itu bahkan masih jelas di kepalanya hingga sekarang.
Semangat dan antusias Elysia semakin berkobar. Ia mengayunkan sabitnya dengan kuat.
KLANG!
Kedua bilah tajam senjata mereka saling bertemu. Alice dan Elysia bertatap muka.
"fufu, bagaimana? Ibu pasti terkejut kan? Kali ini aku pasti menang." Ucap Elysia.
Ia tersenyum gembira. Sedikit lagi, setidaknya dia hanya perlu memasukkan satu serangan saja.
Alice memejamkan matanya sejenak. "Mungkin tidak. Kau masih perlu latihan lagi." Kemudian Alice menggeser kaki dan tubuhnya ke samping dengan cepat.
Elysia kehilangan keseimbangannya karena Alice yang tiba-tiba berpindah posisi. Namun dia begitu tangkas dan menggunakan sabitnya sebagai tumpuan. Elysia mendorong tubuhnya ke atas, kemudian ia berputar di udara bersama dengan sabitnya. Elysia pun melayangkan serangannya.
Alice menggeser kakinya sedikit, ia mengelak seperti setipis kertas. "Lumayan. Gerakan mu semakin halus dan terarah." Kata Alice. "Kalau begitu, aku akan sedikit serius. Sebaiknya kau menyiapkan dirimu."
Elysia melompat mundur dua kali. Ia mampu merasakan adanya gelombang energi yang meningkat di dari dalam tubuh Alice.
Sedari tadi Alice hanya menggunakan teknik pedang dasar. Setelah melihat kemajuan Elysia dia memutuskan akan menggunakan teknik pedang bunga plum miliknya.
"Aku tidak tahu bagaimana sabit itu masih ada padanya. Tapi aku tidak lagi merasakan adanya energi jahat darinya. Sebaliknya, aku merasakan energi murni seperti milik Yggdrasil. Apakah Sylph melakukan sesuatu pada Elysia?" Gumam Alice dalam benaknya.
Alice berdiri dan memasang kuda-kudanya. Pedangnya bergerak ke sisinya dengan lembut. Saat energi Qi sudah terkumpul dan siap untuk di lepaskan, Alice pun melakukan gerakan pertamanya.
[Plum Blossom Sword Technique, First Style. Whirlwind]
Elysia bisa merasakan sesuatu yang kuat dan padat datang menerjangnya. Ia memejamkan matanya untuk memperkuat indranya sehingga ia bisa merasakan arah serangan Alice.
Seperti kumpulan jarum yang halus yang tak kasat mata berputar-putar di hadapannya. Mereka berputar semakin cepat datang ke arahnya. Semerbak aroma bunga yang manis dan harum juga melintas melewati rongga hidungnya. Tapi Elysia tahu kalau itu hanyalah sebuah ilusi yang tercipta dari gelombang energi dan teknik aneh ibunya.
Elysia tidak gentar, ia mengeratkan genggamannya dan memilih maju. Ia menepis pusaran angin jarum itu dengan sabitnya.
"Hoho... kalau begitu selanjutnya."
[Plum Blossom Sword Technique, Second Style. Three Plum Blossom Sword]
Alice membuka posisi kuda-kuda lainnya. Layaknya peluru, Alice melesat ke arah Elysia dengan pedangnya yang terhunus.
[Rapid Slash] Gerakan mengayunkan pedangnya dengan cepat berkali-kali seolah si pengguna berniat untuk menusuk lawannya.
Elysia menyeringai. Ia sudah pernah melihat gerakan ini sebelumnya. Dia tahu gerakan ketiga yang selanjutnya.
Elysia berputar ke belakang dan langsung saja mengambil ancang-ancang untuk mengayunkan sabitnya. Saat Alice gagal mengenai Elysia, yang berarti selanjutnya adalah gerakan dimana Alice menembus tubuh musuhnya dengan tusukan penuh energi Qi.
Benar saja sesuai perkiraannya. Alice menusuk dengan cepat ke arahnya. Saat ujung pedang Alice telah sampai pada jarak serangnya, Elysia dengan cepat mengayunkan sabitnya ke atas untuk membelokkan arah serangan Alice.
Keduanya melanjutkannya pertarungan mereka sampai dimana Elysia mampu menahan lima gerakan dari teknik pedang bunga plum Alice.
Elysia akhirnya terengah-engah. Sementara itu Alice masih terlihat dalam kondisi prima.
Ah, sebaliknya dengan Helian. Kegelisahan dan kebingungannya berubah menjadi amarah. Ia benar-benar kesal melihat tingkah laku dua orang di depan matanya.
Kembalikan kecemasan ku tadi! Terlihat dari wajahnya yang memerah karena marah, ia seperti ingin meneriaki mereka.
Raut wajah kedua temannya begitu menjengkelkan. Mereka tersenyum dan terlihat bahagia. Mereka bersenang-senang, sementara ia menderita.
Helian memijat pelipisnya saat ia melirik tamannya menjadi 'sedikit' berantakan karena dua orang temannya yang asik 'bermain'.
Helian meremas kedua tangannya. Urat nadi di kepalanya terlihat jelas menegang.
Helian mengangkat satu tangannya ke depan. Dalam sekejap ia membuat dinding dari sulur berduri di antara Alice dan Elysia.
Alice dan Elysia seketika berhenti. Mereka menoleh melihat raut wajah kesal Helian.
Akhirnya mereka sadar ketika keduanya memperhatikan apa yang sebenarnya sudah mereka perbuat.
Alice segera memasukkan pedangnya ke dalam cincin dimensinya, lalu ia memalingkan wajahnya dan berpura-pura tidak melihat apapun.
Sementara itu, Elysia menepuk kedua tangannya dengan keras. Ia berlari kecil mendekati Helian dengan senyuman lebar di wajahnya. "W-Wa~h~. Helian~" Elysia memeluk Helian. "Selamat ya~. Akhirnya kerajaan ini kembali aman. Dari awal aku yakin kau pasti bisa menyelamatkan negeri ini. Hehe..."
TAK!
Suara saklar dalam kepala Helian terpicu. Elysia yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dan mengalihkan topik malah memperkeruh mood Helian.
Helian terdiam, ia mengeratkan giginya dan....meledak.
"K-Kau! Bilang apa tadi hah?! Katakan sekali lagi!" Dengan suara tinggi Helian membentak menuangkan kekesalannya pada Elysia.
"Uwaa~ ibu~" Elysia pun berlari berlindung di balik punggung Alice.
Alice menggelengkan kepalanya melihat kelakuanku Elysia yang tak henti-hentinya menggoda Helian. Yah, mereka sudah berteman selama ratusan tahun.
"Kemari! Jangan bersembunyi di balik....." Helian yang menunjuk Elysia tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
Otaknya butuh sedikit waktu untuk memproses apa yang baru saja ia dengar. Barusan.... apakah aku salah dengar? Tanya batinnya bingung.
"Tadi kau memanggilnya dengan apa?"
"Ibu." Jawab spontan Elysia.
"Ibu?! Eh? Kok? Dia itu Alice dari ras hyuman. Kenapa kau memanggilnya ibu?" Helian tidak mengerti. Ada apa dengan hubungan ibu dan anak yang baru saja terjalin di hadapannya.
Apakah Elysia masih mengigau?
"Tahu kok. Tapi dia kan ibuku. Ya tentu saja ku panggil ibu." Wajah polos dan terlihat tidak ada yang salah itu membuat Helian makin frustasi.
Sejak kapan sahabatnya begitu dekat sampai dia mengakui Alice sebagai ibunya.
Sekali lagi, ada apa dengan hubungan ibu dan anak yang tiba-tiba ini?! Jerit batinnya.
"Tidak, tidak, tidak. Kau tahu kan. Kalian baru saja bertemu. Lantas kenapa kau bisa memanggil dia ibu?"
Elysia meletakkan telunjuknya di bawah dagunya sambil ia memiringkan kepalanya. "Kenapa...?"
Elysia dan Alice menoleh dan saling menatap satu sama lain. Kemudian mereka tersenyum.
Elysia kembali melihat Helian. Ia meletakkan telapak tangannya di depan bibirnya sambil berkata dengan nada menggoda. "Fufufu, Ra-ha-si-a." Dengan kedipan satu matanya.
Helian hanya bisa terdiam menahan rasa sakit di kepalanya. Dari dulu sampai sekarang, Elysia yang ceria masih saja suka mempermainkannya.
"Ughhh! Sudahlah, terserah kalian saja." Ucapnya.
Ia pun kembali duduk dan meneguknya tehnya untuk menenangkan kepalanya yang nyeri karena bingung.