Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab IV Chapter 158



Minotaur itu terus menerus menghantamkan palunya dengan sangat kuat dan membuat susunan formasi pelindung dari jimat Elysia retak.


Dia mulai cemas. Dalam hati, Elysia berharap akan kedatangan Alice. Batinnya dengan lantang memanggil ibunya.


Melihat retakan dari dinding pelindung di hadapannya semakin besar, Elysia tahu kalau Minotaur itu hanya butuh satu lagi hantaman keras untuk menghancurkannya.


Elysia menutup matanya rapat-rapat saat palu Minotaur akan menghantam dinding pelindung miliknya. "Ibu....!!!" Jerit batinnya memanggil Alice.


Semerbak aroma bunga plum yang begitu wangi tiba-tiba memenuhi lorong itu. Sepintas aroma bunga yang harum melewati rongga hidungnya. Elysia membuka matanya dan melihat keanggunan ibunya dari samping.


Rambut hitam panjang yang tergerai halus hampir menyentuh lantai dan tatapan dingin dari kedua bola mata hitamnya. Elysia merasa kalau ibunya tampak keren. Di tambah lagi dengan sebuah pedang yang ada dalam genggamannya, aura heroik terpancarkan darinya. Perasaan yang mendominasi yang membuatnya takjub dan tenang melihat kehadiran Alice.


Minotaur itu tidak sempat bereaksi karena serangan tiba-tiba dari Alice. Ia terlempar dengan penuh luka di sekujur tubuhnya. Sayangnya luka yang ia terima tidak begitu dalam dan fatal. Faktanya kulit Minotaur itu bahkan memiliki kekerasan dan ketebalan yang hampir sebanding dengan sisik seekor naga.


"I..ibu..?" Elysia menatap Alice lega. Air mata penuh kesyukuran mengalir membasahi pipinya.


Selalu saja...ibu.., kamu selalu datang ketika aku benar-benar putus asa...


Elysia tersenyum tipis lalu menyeka air matanya.


Dia ingat dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Saat dia merasa dunia mengabaikannya, saat dia merasa kalau dia tidak memiliki siapapun yang berpihak padanya, saat orang-orang membencinya dan tidak menerimanya, wanita di hadapannya itu selalu ada disisinya dan membuka tangannya lebar-lebar untuk memberikannya pelukan hangat. Berulang kali Alice telah menariknya dari keterpurukan. Berkat Alice yang menjadi sosok ibu baginya, Elysia bisa bangkit dan menjadi seperti sekarang ini.


"Apakah kau tidak apa-apa?" Tanya Alice lembut. Ia segera berlutut menghampiri Elysia dan memeriksa keadaan seluruh tubuhnya. Alice sungguh cemas saat dalam perjalanannya mencapai lantai itu.


Elysia menggelengkan kepalanya "Aku baik-baik saja bu. Tapi..." Ia kemudian menoleh ke arah teman dan gurunya. "Mereka...Bagaimana keadaan kalian?" Tanya Alice pada Evelyn dan murid lainnya.


Evelyn mewakili para murid untuk menjawab. "Seperti yang kau lihat. Tiga orang murid ku mengalami cedera parah dan dua lainnya hanya luka ringan. Kami benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk melawannya. Jika bukan karena pelindung sihir milik Elysia, kami pasti sudah mati sejak tadi." Jelasnya. Evelyn melirik ke arah Minotaur yang terlempar tadi lalu ia kembali melihat Alice. "Maaf, mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi aku ingin tahu, siapa anda?" Lanjutnya bertanya dengan sopan.


"Aku Alice, ibu Elysia. Aku senang kalian selamat. Ini, ambillah. Kuharap ini bisa membantu kalian." Alice mengeluarkan sejumlah ramuan dari cincin dimensinya lalu ia memberikannya pada Evelyn. "Gunakan ini untuk menyembuhkan luka dan Mana kalian."


"Tadi itu, bukannya penyimpanan dimensi? Apakah wanita ini ahli dalam sihir ruang dan waktu? Kalau memang begitu, itu artinya dia adalah seorang ahli sihir yang kuat." Benak Evelyn takjub.


Tak jauh beda dengan Helian. Ia juga terkejut saat melihat Alice mengeluarkan beberapa ramuan dari ruang kosong. "Aku tidak menyangka kalau bibi ternyata memiliki kemampuan sihir ruang dan waktu."


"Aku akan mengalihkan perhatiannya. Sementara itu, kalian pergilah bersembunyi ke ruangan itu." Kata Alice sambil menunjuk pintu bercahaya di depan mereka.


Ia lalu berdiri, menoleh sebentar pada Elysia dan tersenyum. "Tunggulah, ini tidak akan lama. Ibu pasti akan membawamu pulang."


Elysia mengangguk senang. "Um. Baik bu"


Minotaur itu telah bangun. Ia berteriak dengan kencang. Dalam sekejap kekuatannya meningkat. Alice mengeratkan genggamannya, lalu berlari melesat menghadapi monster itu.


Alice melompat dan mengarahkan tebasannya pada leher Minotaur.


TIING!!!


Dentuman suara pedangnya saat serangannya ditahan oleh palu raksasa Minotaur itu.


"Lumayan. Walau pun tubuh mu besar tapi kau jeli juga sampai dapat menahan seranganku." Kata Alice lalu ia melayangkan tendangannya pada kepala Minotaur.


Tendangan itu begitu kuat sampai membuat Minotaur itu mundur selangkah. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Rasa nyeri dari kaki kecil Alice masih membekas di wajahnya. Dia tidak menyangka kalau mahkluk kecil di hadapannya itu bisa membuatnya kesakitan.


Dengan cepat ia mengangkat palunya dan mengayunkannya pada Alice. Alice melompat mundur menghindari palu itu. Suara hantamannya begitu keras sampai membuat seluruh lorong di lantai itu bergetar.


Giliran Alice melancarkan serangannya. Ia membuat tiga pedang Qi di langit, lalu menyerang kepala Minotaur. Minotaur itu menggunakan lengannya untuk menghalau serangan Alice. Saat pandangannya terhalangi, Alice lalu melancarkan tebasan lainnya pada pergelangan kaki Minotaur.


"Benar-benar tebal. Sudah ku duga, selain kepalanya otot pada kakinya juga cukup keras." Gumamnya melihat monster itu masih bisa berdiri tegak.


Minotaur terlihat jengkel karena sudah menerima tiga serangan dari makhluk kecil yang ia lewan. Dia menarik palunya lalu mengayunkannya dari samping. Tapi Alice berhasil mengelak.


Sebelum palunya menghantam dinding, ia segera mendorongnya ke atas lalu membaliknya untuk menghantam Alice. Pola serangannya sederhana dan mudah dibaca tapi kekuatan penghancurnya besar. Alice melompat menerjang ujung palu itu sambil meletakkan sisi pedangnya di hadapannya. Saat palu itu di depan matanya, ia mengelak sedikit, menggores pedangnya pada palu itu untuk membelokkan jalur serangannya.


Palu Minotaur itu menghantam tanah. Alice berdiri menggunakan tangan Minotaur itu sebagai pijakan. Ia melompat lalu berputar untuk mengayunkan pedangnya ke arah wajah Minotaur.


Minotaur itu kelabakan, Akibat besarnya tenaga yang ia luncurkan, dia kehilangan keseimbangan ketika mencoba menghindari pedang Alice dan akhirnya terjatuh.


Padahal sedikit lagi, Alice bisa menorehkan luka dalam pada wajahnya.


"Sangat bagus, kau berhasil melihat arah seranganku berkali-kali tapi sayangnya pedangku masih lebih cepat dari gerakan mu." Ucapnya sedikit memuji.


Untuk seukuran monster sepertinya, kecerdasan dan ketangkasannya memang patut dipuji.


Darah mengalir dari pipinya. Minotaur menguak dengan lantang hingga suaranya terdengar sampai ujung lorong. Walaupun goresan itu tidak dalam tapi Alice berhasil melukai satu matanya.


Orang-orang takjub saat melihat kemampuan bertarung Alice. Mereka bahkan hampir lupa kalau mereka seharusnya memanfaatkan kesempatan itu untuk segera berlindung ke ruangan aman yang ada di balik pintu bercahaya di depan mereka.


"Ini kesempatan kita. Helian, Elysia, kalian bantu Maya dan Reiss." Seru Evelyn. Lalu ia merangkul Aila, disusul Yester dan Esther.


Alice merasakan peningkatan kekuatan dari monster di depannya. Dia ragu kalau yang ia lawan hanya sekedar monster biasa.


"Walaupun dia tidak memiliki kemampuan regenerasi tapi daya serang dan ketahanannya cukup merepotkan. Untungnya tempat ini tidak begitu luas, jadi itu cukup membatasi pergerakannya. Melawannya sama saja dengan melawan seekor naga." Pikirnya.


Alice melirik ke belakang dari sudut matanya. Elysia dan yang lainnya selamat, mereka berhasil masuk ke dalam ruangan itu.


Alice menghela nafas lega. Kini tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. "Baiklah. Kurasa dengan kekuatan ku yang seperti ini, aku tidak akan bisa mengalahkan mu. Karena mereka sudah aman. Aku akan mengeluarkan kekuatan ku lebih banyak lagi." Kata Alice.


Kemudian ia menarik nafasnya perlahan-lahan.


Minotaur itu terbelalak ketika ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan makhluk kecil di hadapannya. Instingnya bergetar membuat tubuhnya bergidik. Seolah-olah instingnya berkata kalau wanita itu berbahaya dan dia harus membunuhnya secepat mungkin.


Sekali lagi Minotaur berteriak dengan keras. Ia mengumpulkan tenaga pada kaki dan tangannya. Setelah ia mengambil ancang-ancang, dia lalu berlari kencang dengan membawa palunya untuk menabrak Alice.


Kedua sisi bibir merah muda Alice merekah dengan indah ke samping. "Terlambat." Bisiknya.


Ia menahan kepala palu Minotaur itu dengan ujung pedangnya sambil melompat mundur. Alice menghembuskan nafasnya dengan pelan.


"Cobalah untuk bertahan dari rasa dingin ini yang menusuk hingga ke tulang" Kata Alice sembari melayang mundur di udara.


[Elemental Breath] [Glacial Eternal Slumber]