Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 71



Alice mengangguk lalu meninggalkan ruangan itu dan kembali ke lantai 1.


"Si Tua Rosalyn pasti akan tertarik untuk bertemu dengan mereka." Benak Ophelia sambil tersenyum menatap punggung Alice yang keluar dari ruangannya.


Sejak hari itu, Alice telah resmi terdaftar sebagai seorang pemburu. Langkahnya dimulai dari menjadi pemburu tingkat perunggu.


Menurut apa yang dijelaskan oleh resepsionis yang melayaninya. Tingkat perunggu adalah kelas awal atau kelas pemula bagi seorang pemburu. Selanjutnya ada tingkat perak, emas, platinum dan adamantium. Adapula tingkatan monster dan misi yang sesuai dengan peringkat pemburu. Untuk mereka yang berada di kelas perunggu, monster dengan kesulitan E atau D adalah pilihan yang cocok, sedangkan untuk mereka yang berada di kelas perak, para pemburu dianjurkan untuk melawan monster dengan kesulitan D atau C dan begitu seterusnya. Alice berjalan melihat-lihat lembaran yang menulis daftar monster berdasarkan peringkatnya.


"Hm~ Berarti Wyvern dan naga tidak termasuk di dalamnya. Yah, membunuh mereka bisa menimbulkan kericuhan antara dua ras."


Tujuan Alice sebenarnya bukan untuk menjadi pemburu terhebat dengan peringkat tinggi melainkan kebijakan yang bisa dia dapatkan ketika ia sudah menjadi pemburu tingkat tinggi. Setelah sebelumnya ia mencoba ke perpustakaan untuk mencari informasi tentang jalan pulang kembali ke benua Regnum. Alice menemui jalan buntu karena informasi-informasi berharga itu hanya bisa diperoleh oleh pemburu tingkat emas ke atas. Maka dari itu, Alice pun memutuskan untuk mendaftarkan dirinya sebagai seorang pemburu.


Selain itu, Alice juga menikmati waktunya saat berburu. Bukan hanya ia bisa mendapatkan kristal mana, tapi ia juga bisa melatih Echidna dan dirinya dengan monster yang ada di tanah para deemon. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitulah menurutnya.


Prestasi Alice dalam dua bulan ini begitu menakjubkan. Meski masih baru mendaftar namun ia dengan cepat telah memenuhi syarat dan kapasitas yang cukup untuk membuatnya naik ke tingkat perak.


Para pemburu yang mendengar resepsionis itu saat memberikan kartu nama dan bros perak pada Alice jadi kaget sekaligus takjub.


Sesuai ekspektasi dari Sang Ratu Es.


Keesokan harinya saat ia sedang berburu di sebuah gurun di luar benteng bersama Echidna, Alice mendengar teriakan dari salah satu telinganya. Ia segera berlari ke arah teriakan itu dan melihat beberapa orang sedang tersudut melawan seekor chimera.


"Buruan yang langka. Setahuku, tempat ini bukanlah wilayahnya. Apakah mereka memprovokasinya?" Gumamnya. Alice mengamati situasi mereka terlebih dahulu sebelum bertindak. Monster chimera itu terlihat lebih menyeramkan dari pada yang ada di gambar. Berbentuk seperti seekor singa dengan dua tanduk di kepalanya. Selain tubuhnya yang besar, bagian kakinya dipenuhi sisik yang terlihat keras ditambah satu hal merepotkan lainnya adalah ekornya yang menyerupai ular.


"Echidna tunggu disini. Perhatikan mama dan pelajari ya."


Echidna mengangguk "Nm, baik mama." Alice lalu melompat dari tempatnya untuk menolong mereka.


"Orthos! Menghindar!" Teriak seorang wanita dari kelompok mereka.


Ekor yang menyerupai ular itu dengan cepat menerjang ke arah deemon yang sedang terluka. Ia baru saja terpental oleh cakar besar dari chimera itu dan tubuhnya sudah lemas. Kakinya yang bergetar sudah tak sanggup untuk berdiri. Wajah pucatnya hanya bisa memandang kepala ular yang membuka lebar rahangnya itu dan siap menerkamnya. Wanita pemburu yang berteriak tadi hanya bisa memasang pelindung meskipun ia ragu apakah pelindungnya bisa menahan serangan chimera itu atau tidak.


Saat ekor chimera hampir memangsanya. Dengan langkah bayangan miliknya, Alice telah berada di depan deemon itu dan memotong ekor chimera yang melesat ke arahnya.


Chimera itu mengaung kesakitan. Ia melompat mundur dan menatap Alice dengan kemarahan yang meluap-luap. Chimera itu menggeram dan menunjukkan kedua taring besarnya.


"Regenerasi? Ini akan sedikit memakan waktu." Pikir Alice saat melihat luka di ekor chimera itu tak lagi berdarah bahkan ekornya terlihat memulih kembali secara perlahan.


"Jangan pikir untuk mengulur waktu." Kata Alice lalu ia melayangkan gelombang tebasan Qi untuk mengganggu pemulihan monster itu.


Alice kemudian bergerak sangat cepat mendekati chimera itu. Ia melapisi tombaknya dengan Qi. Kali ini, Alice tak menggunakan sebuah pedang. Menurutnya, sedikit lebih efisien untuk menjaga jarak dengan adanya ekor yang selalu melindungi chimera itu.


[ Dragon Thrust ] Serangan pertama berhasil ia layangkan pada salah satu mata chimera itu.


Gerakan menusuk dengan cepat itu sangatlah tidak terduga untuk monster itu.


Chimera itu kembali mengaung, ia menembakkan bola-bola api dari mulutnya. Alice memutar-mutar tombaknya dengan cepat untuk menangkis bola-bola api yang datang padanya.


"Ba-Bagaimana bisa? Dia menangkisnya dengan mudah." Kata pemburu pria yang melihatnya.


Setelah bola api, chimera itu menyerang Alice dengan ekornya. Alice menepisnya dengan tombak. Chimera itu tidak berhenti dan terus bertubi-tubi menyerang Alice dengan ekornya. Alice menghindari serangan itu dengan lihai. Ia memutar tubuhnya dan juga tombaknya sambil menepis serangan yang datang.


Para pemburu yang melihatnya takjub. Wanita di hadapan mereka terlihat seperti sedang menari. Gerakannya begitu anggun namun mematikan. Pemandangan langka yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Gerakan halus dan tajam Alice sangat berbeda dengan pengguna tombak yang selama ini mereka temui.


Setelah menepis ekor itu dengan kuat, Alice melayangkan serangannya dan terus berulang seperti itu. Dari mata para pemburu yang melihatnya, tampak percikan api saat tombak dan ekor itu saling mengadu.


Chimera itu menghentakkan kakinya dengan kuat ke tanah untuk memaksa Alice mundur. Luka tusukan dan goresan sudah memenuhi tubuhnya. Meski dengan kekuatan regenerasinya, chimera itu sudah terlihat tersengal-sengal. Tinggal sedikit lagi, pikir Alice.


Jika terlalu banyak menggunakan tenaga dan gerakan sia-sia maka hanya akan menjadi pertarungan ketahanan. Tidak akan ada yang kalah atau menang sebelum salah satunya tumbang, namun dengan kemampuan dan pengalamannya, Alice terus memberikan serangan telak ke titik vital lawannya. Meski dangkal, tombaknya berhasil melukai kaki chimera itu dan membuatnya kesulitan bergerak.


Chimera itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menyemburkan api yang besar ke arah Alice.


Kedua sisi mulut Alice terangkat. Bukannya mundur atau menghindar, Alice melapisi tombak dan tubuhnya dengan Qi. Sekali lagi ia memutar-mutar tombaknya di depannya untuk menghadang semburan api yang datang.


Beberapa detik kemudian semburan api itu pun berakhir. "Kali ini giliran ku."


Alice memutar tombak dan tubuhnya ke belakang. Ia menekuk lututnya dan mengumpulkan Qi di ujung tombaknya. Alice menggenggam kuat tombak itu lalu memutarnya sekali dan menebas ke arah chimera yang jauh di hadapannya.


[ Rising Dragon Soaring The Sky ]


Seekor naga besar terwujud dari kepadatan Qi miliknya. Naga itu begitu panjang dan melesat ke arah chimera. Mulutnya terbuka lebar seakan ia mengaum dan siap untuk melahap apapun yang ada di hadapannya. Ketika Alice memukul tombaknya ke atas, naga itu pun ikut terbang ke langit membawa tubuh chimera yang ada di dalamnya.


Alice tiba-tiba lenyap dari tempatnya. Dalam sekejap ia sudah berada di langit tepat di atas chimera itu.


[ Chung Ryong Descending ] Teknik yang sama dengan Plum Blossom Sword hanya saja dengan senjata yang berbeda. Alice mendorong tubuh chimera itu ke tanah dengan ujung tombaknya. Monster itu jatuh dengan kerasnya, menghempaskan kepulan debu.


'Wow' Satu kata yang bisa menggambarkan kejadian itu. Seekor chimera yang ada di tingkat B dikalahkan seorang diri olehnya. Biasanya untuk membasmi mereka membutuhkan setidaknya tiga orang peringkat emas.


"Dia mengalahkan monster itu seorang diri. L-luar biasa..."


Alice melangkah keluar dari debu yang menghalangi pandangan mereka.


"Apakah kalian baik-baik saja?" Tanya Alice pada ketiganya.


"U-um. Selain teman kami Orthos yang terluka parah kami berdua hanya menderita luka ringan saja. Berkatmu, kami berhasil selamat. Terima kasih."


Orthos yang berada di rangkulan mereka juga turut mengucapkan terima kasih.


"Kau berhasil membunuhnya seorang diri? Apakah kau adalah pemburu tingkat platinum? Atau jangan-jangan... adamantium?"


"Aku hanyalah tingkat perak."


""T-tingkat perak?!"" Kedua pemburu itu menjadi diam seketika. Mereka menatap Alice seolah tidak percaya.


"Apakah aku boleh mengambilnya?" Tanya Alice sambil menunjuk ke arah mayat chimera di belakangnya.


Para pemburu itu mengangguk sambil tersenyum. "Tentu, tentu saja."


Alice berbalik dan mendekati mayat chimera itu, ia memasukkannya ke dalam cincin dimensinya.


"Dia bahkan memiliki penyimpanan dimensi." Pikir salah seorang pemburu pria diantara mereka.


Setelah mengambil hasil buruannya, Alice memanggil Echidna. Mereka lalu pergi melanjutkan misi mereka. Mata Echidna sejak tadi masih berbinar-binar saat melihat pertarungan Alice. Mama nya sungguh hebat luar biasa.


Para pemburu itu menatap kagum sosok wanita yang baru saja menolong mereka.


Wanita di kelompok mereka mengangkat kedua bahunya. "Ayo, kita kembali ke kota." Dengan keadaan seperti itu, ketiganya sudah tak bisa bertarung lagi.


~


Setelah beberapa bulan berlalu. Keluarga Strongfort sama sekali belum mendapatkan kemajuan tentang keberadaan Alice. Iris sebagai seorang murid dari menara penyihir hanya bisa berharap pada satu orang terakhir yang disebut sebagi penyihir terhebat di kerajaan Solis. Dia adalah Gandalf Castellum, gurunya sekaligus pemilik menara penyihir.


Setelah kembali dari pelatihan dan perjalanannya, Gandalf akhirnya berada di tahap puncak level 7.


Gandalf adalah seorang pria tua yang terobsesi akan pengetahuan dan sesuatu hal baru yang menarik perhatiannya. Dia sedikit kecewa saat ia gagal untuk naik level, karena kurangnya pemahaman dan pencerahan Gandalf harus tetap di level 7.


Saat ini Iris sedang berada dalam ruangan tertinggi di menara penyihir. Ia meminta Gandalf untuk mencari keberadaan kakaknya.


Gandalf merentangkan satu tangannya ke depan. Susunan lingkaran sihir yang kompleks terbentuk seketika. Setelah sekian lama, Iris kembali melihat gurunya menggunakan sihir yang rumit.


Setelah beberapa saat menunggu, Gandalf akhirnya selesai.


"Guru, Bagaimana?"


Gandalf mengusap janggutnya. "Kakakmu... tidak berada benua ini."