Gorgeous Jewel

Gorgeous Jewel
Bab III Chapter 96



Setelah mengantar adiknya pergi melewati portal dengan senyuman. Ia kemudian berbalik melihat para bekas tawanan budak Cecilion.


"Jumlah mereka terlalu banyak, kau tidak akan sanggup membawa mereka semua keluar dengan selamat." Ucap Nyx khawatir.


Melihat dari ekspresi bimbang Alice, Nyx mengerti kalau gadis itu ingin menolong mereka semua. Berdasarkan dari intuisinya, ia tahu kalau kekuatan Alice telah meningkat pesat namun Nyx ragu kalau Alice dapat menahan gejolak distorsi dari tempat itu hingga mereka semua berhasil keluar. Oleh karena itu, Nyx memutuskan kalau ia harus turun tangan dengan menggunakan kekuatannya.


"Kita gunakan celah yang disana." Nyx menunjuk salah lubang kecil dari retakan dimensi yang tak jauh dari posisi mereka berdua. "Aku akan menstabilkannya. Saat aku mulai, segera bawa yang lain pergi." Tambahnya.


Alice menukik alisnya. "Tidak, bagaimana denganmu? Belum lama ini kau baru saja pulih. Kalau kau menggunakan kekuatanmu lagi..." Nada kalimat terakhir Alice mengecil, ia terdengar takut semenjak hari itu. Kala itu Nyx membutuhkan waktu yang lama untuk dia kembali memulihkan kekuatannya setelah memaksakan dirinya membantu Alice melewati distorsi lorong dimensi.


"Tidak perlu cemas. Aku akan mentransfer kalian tidak jauh dari tempat ini. Dengan jarak yang seperti itu, aku tidak membutuhkan banyak energi." Jelas Nyx.


Kehadiran Nyx benar-benar membawa berkah baginya. Musuh kemarin adalah teman hari ini mungkin seperti itulah gambaran mereka berdua. Alice dengan berat hati mengangguk. Jujur Alice sangat tidak setuju dengan ide itu, Namun disisi lain dia tidak bisa terpikirkan cara lain untuk membawa mereka semua. Alice sedikit ragu jika dia bisa menahan tempat itu sampai menunggu para bekas tawanan berhasil keluar dengan selamat.


Alice segera memanggil orang-orang dan mengarahkan mereka untuk bersiap-siap melewati portal yang sedang dibuat Nyx.


"Alice!" Suara telepati lain tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Alice menoleh saat ia mendengar langkah kaki yang samar-samar di telinganya.


"Fee."


Fee berlari menghampiri mereka. "Kau, apakah kau baik-baik saja?"


Setelah mendengar penjelasan monster naaga itu. Fee dengan tergesa-gesa berlari ke tempat Alice. Apa yang ia takutkan adalah kemampuan darah dari ras vampir yang mampu memperbudak siapapun yang ia gigit. Fee tidak bisa membayangkan jika sampai Alice lengah dan jatuh ke tangannya. Tapi melihat gadis itu berdiri dengan tegak dan juga tubuh Cecilion yang tergeletak di tanah membuatnya lega.


"Iya. Bagaimana denganmu?"


"Heh, monster itu hanya keroco kecil dimata ku." Kata Fee dengan bangga sambil ia mendongakkan kepalanya sedikit. "Oh, iya. Aku merasakan energi di tempat ini sangat kacau. Sepertinya tempat ini akan hancur. Kita harus segera pergi dari sini. Naiklah ke punggung ku dan aku akan membawamu keluar."


Alice menggelengkan kepalanya, ia menoleh ke arah para tawanan. Mengikuti sorot pandangan Alice, Fee mengerti ketika melihat jumlah orang yang begitu banyak. 15 orang. Menurut Fee, jika saja lorong tadi cukup untuk ia lewati dengan tubuh besarnya, tentu membawa mereka semua adalah hal yang sangat mudah.


"Apakah kau benar-benar ingin menyelamatkan mereka? Kenapa?" Fee heran, ia seolah menentang pemikiran Alice. "Kenapa dia ingin menyelamatkan mereka? Mereka tidak saling mengenal dan bahkan mereka tidak berasal dari ras yang sama." Batinnya.


Fee tidak mengerti jenis manusia seperti Alice. Selama dia hidup, hanya segelintir orang yang pernah ia lihat memiliki sifat sepertinya. Namun, pada akhirnya saat manusia seperti itu dihadapkan pada kematian, mereka bahkan tak ragu untuk mengorbankan orang yang mereka kasihi.


Fee memalingkan wajahnya dan berdecih. "Terserah kau saja, jangan menyesal kalau mereka sampai memperlambat mu."


Dari sisi yang lain, Nyx telah selesai dengan portal yang ia buat.


"Semuanya! Berbaris, berjalan dengan pelan dan ingat untuk saling memegang tangan masing-masing." Kata Alice.


Ekspresi wajah para tawanan budak itu tampak cerah. Mereka sudah memiliki harapan untuk pulang. Setelah mendengar kalimat dari wanita itu, mereka pun berbaris sesuai arahannya.


Tak ada yang tahu selain Nyx seorang. Sebenarnya Alice sedang menggunakan Qi miliknya untuk menahan kacaunya pergerakan ruang dan waktu dalam dimensi itu. Dia baru saja menerobos dengan paksa, energi dalam tubuhnya belum stabil secara sempurna. Walau ia bisa mengalahkan Cecilion dengan mudah, namun itu karena lawannya yang memang terlalu lemah. Tapi kerusakan pada dimensi tempat itu cukup banyak mengkonsumsi tenaga dalamnya agar tetap stabil.


Nyx melihat wajah Alice tampak tidak baik-baik saja.


"Wahai Fenrir Sang Serigala Kematian." Begitulah Nyx pertama kalinya memanggil serigala itu.


Fee menatap dalam Nyx. Baru kali ini ia memanggil dirinya. "Ada apa?"


"Aku ingin meminta bantuanmu."


"Katakan apa itu?" Untuk seorang Dewi meminta bantuannya dan memanggilnya untuk yang pertama kali. Fee tidak perlu membuang waktu untuk basa-basi.


"Alice sedang menggunakan kekuatannya untuk menahan tempat ini. Aku harap kau membantunya."


Mata Fee melebar, ia tidak menyangka akan hal itu. Dia berbalik melihat Alice dengan tatapan tidak percaya dan sedikit kesal. "Gadis bodoh ini." Fee menggertakkan giginya. "Baiklah." Meski kesal karena kebaikan Alice. Fee tetap melepaskan energi Mana miliknya dan membantu Alice.


Alice merasakan adanya aliran Mana yang membantunya dalam menahan ruangan itu. Dia seketika tahu dari mana energi itu berasal.


"Terimakasih Fee."


Tanpa menjawab Fee berlalu meninggalkan Alice dan ikut membantunya mengawasi orang-orang memasuki portal dari baris belakang.


Setelah semua orang masuk, barulah Alice, Fee dan Nyx menyusul. Mereka berjalan hanya beberapa detik saja melalui lorong dimensi itu dan tiba di tempat yang berbeda.


Dari pemandangan yang terlihat tak asing, ketiganya tahu dimana mereka. Tanah yang subur dan hijau, udara yang lebih segar dan angin yang berhembus menerpa tubuh mereka serta barisan pepohonan yang besar menjulang ke langit di sisi mereka.


"Ini bagian luar rawa."


Alice berbalik untuk melihat keadaan para bekas tawanan budak Cecilion. Wajah yang kehilangan warna itu akhirnya menunjukkan kelegaan di setiap hembusan nafas mereka. Ketenangan mengisi hatinya melihat orang-orang itu keluar dengan selamat. Alice pun memutuskan membawa mereka kembali ke kota Demonscar, tidak terkecuali Cecilion yang masih tak sadarkan diri.