
Echidna berbalik dan melawan para monster yang ada di sekitar kediaman Strongfort. Sedangkan Liana dan Iris saling berbisik.
"Ee...Iris, Apa kamu yakin dia itu putrinya Alice?" Tanya Liana
"Mustahil! itu tidak mungkin." Iris dengan tegas menolak. "Lihat dia! Gadis kecil itu mungkin sudah berusia sekitar 9 atau 10 tahun, sedangkan kakak baru berusia 16 tahun. Tidak mungkin dia anaknya kakak." Jelasnya.
"Kamu benar tapi...coba perhatikan wajahnya." Iris menoleh sekali lagi dan melihat Echidna dengan seksama. Keraguan dalam hatinya mulai timbul. Dari segi rupa, Echidna memang terlihat mirip Alice ketika masih kecil.
"Bagaimana? Aku seperti melihat Alice kecil sedang berdiri di depanku. Tapi dengan rambut dan mata yang berbeda.
"I-ibu benar." Iris tidak bisa menolak kesamaan itu. Dia mengangguk menyetujui apa yang ibunya katakan.
"Apakah Alice tidak pernah mengatakan sesuatu saat dia menyelamatkanmu."
Iris berpikir sejenak. Ia bergidik ketika mengingat akan sesuatu yang pernah Alice katakan padanya. Iris menoleh kembali pada Echidna. "Apakah orang yang penting baginya itu adalah...dia?" Batin Iris.
"Sebelum kami berpisah, aku sempat mengajak kakak untuk pulang, tapi dia menolak. Dia bilang kalau dia ingin menyelamatkan seseorang yang penting baginya." Ujar Iris lalu kemudian dia teringat akan sesuatu lagi. "Waktu itu... kakak juga sempat menyinggung tentang putrinya yang diculik oleh iblis yang bernama Cecilion. Kakak marah dan meminta putrinya untuk dikembalikan."
Liana dan Iris terdiam, mereka saling memandangi. Kalau benar gadis kecil itu adalah anaknya, lalu sejak kapan dan siapa ayahnya?
Liana memijat salah satu pelipisnya sambil menghela nafas panjang.
Para monster yang ada di sekitar kediaman Strongfort telah dibasmi dengan sihir api Echidna. Pertarungan gagah itu disaksikan oleh para ksatria dan mereka pun terkagum-kagum melihat melihatnya.
Echidna lalu berbalik untuk menghampiri Liana dan Iris. Tidak ada yang menyangka kalau tubuh kecil dan wajah mungil lugu yang rupawan itu ternyata menyimpan kekuatan yang besar.
Para penjaga hanya bisa pelanga-pelango ketika melihat Echidna bertarung. Rapalan sihirnya begitu cepat dan tenaga fisiknya begitu kuat. Melihat bagaimana sisik dari mayat basilisk itu sampai hancur hingga ke dalam daging, mereka merasa tidak berdaya di hadapan gadis kecil itu. Bahkan ia bisa menahan cakar serigala dengan kulitnya.
Liana melihat sekelilingnya. Ia bersyukur karena kedatangan gadis kecil itu bisa mengurangi korban luka dan jiwa. Ia pun memberikan perintah pada kstaria lainnya untuk segera kembali dan merawat teman mereka yang terluka.
"Kiiieekk!" Seekor harpy yang masih hidup melompat dari atap berusaha menyerang Liana.
"Ibu!"
Echidna dengan sigap mengulurkan tangannya dan membuat harpy itu berhenti di udara. Echidna melemparkan tangannya ke samping lalu harpy itu pun terbang menghantam pohon.
"Tidak ku sangka masih ada seekor lalat yang hidup." Ucap Echidna.
"Apa yang baru saja terjadi?" Iris bertanya dalam benaknya setelah melihat Echidna melindungi ibunya.
Sebagai seorang penyihir level 5, ia tidak bisa melihat gerakan Echidna. Apa yang baru saja Echidna gunakan adalah sihir angin tapi baik gelombang mana ataupun lingkaran sihir, Iris tidak bisa merasakan keduanya. Kemampuan Echidna tidak berada dalam nalar manusia.
"Nenek, bibi, tunggu sebentar ya." Echidna berbalik menghadap gerbang rumah kediaman Strongfort. Demi menuntaskan para hama sekaligus hingga bersih, dia berniat menggunakan gerakan baru yang ia pelajari.
Echidna memejamkan matanya untuk sesaat, kemudian seperti sebuah ledakan kuat yang mendadak, Aura dan Mana nya mengelilingi kediaman Strongfort. Tekanan Aura yang mendominasi itu lalu meluas.
Echidna membuka matanya, ia menatap ke depan dengan tajam. "Ini adalah teknik yang mama ajarkan padaku untuk merasakan kehadiran musuh. Dengan menggunakan gelombang Mana yang ku perluas, aku bisa merasakan hawa kehidupan yang ada di sekitar ku. Meskipun kami para naga memiliki insting yang tajam tapi apa yang mama ajarkan jauh lebih baik karena jaraknya yang lebih luas."
Dengan jumlah mana yang begitu besar, Echidna mampu merasakan setidaknya sekitar lima kilo meter jauhnya dari kediaman Strongfort. Puluhan hingga ratusan nyawa terdeteksi olehnya sampai akhirnya ia merasakan adanya sesuatu yang mencurigakan. Gumpalan energi Mana yang cukup besar untuk ukuran seekor hewan atau monster.
"Dapat! Ternyata benar, penyerangan yang terjadi di rumah mama karena para manusia ini."
Echidna tersenyum sinis. Ia mengangkat tangannya lalu menjentikkan jarinya.
Para manusia yang berkumpul cukup jauh dari kediaman Strongfort tidak memiliki kesempatan untuk melarikan diri. Tekanan Aura dari Echidna membuat tubuh terpaku bahkan suara dan lidah mereka menjadi kaku dan senyap. Mereka tidak tahu apa yang terjadi dan siapa sosok yang menekan mereka hingga tak bisa berkutik. Dalam keadaan putus asa, sebuah lingkaran sihir yang amat besar muncul di bawah kaki mereka.
"Aaaakkkh!" Mereka berteriak kesakitan saat api yang begitu panas membakar mereka.
Orang-orang tidak tahu apa yang gadis itu baru saja perbuat. Dari pandangan mereka, dia hanya diam berdiri begitu saja.
Setelah membasmi para monster, Liana dan Iris mengajak Echidna untuk masuk ke dalam rumah. Echidna dengan senang hati berlari kecil mengikuti mereka.
~
Saat sampai di depan gerbang rumahnya, kepanikan Ernard bertambah ketika ia melihat puluhan mayat monster yang berserakan di halamannya. Beberapa ksatria terlihat menyeret mayat-mayat itu dan menumpuknya di salah satu lahan kosong.
Ernard turun dari kudanya dan segera berlari ke dalam. Jantungnya berdetak sangat kencang, ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika sampai istri dan putrinya terluka.
Ruangan dalam dan koridor tampak baik-baik saja, tidak ada bekas pertarungan. Beberapa pelayan terlihat sibuk mondar-mandir namun karena sangking paniknya Ernard tidak menyadari hal-hal itu.
Pikirannya kalang kabut. Ketika melihat seorang pelayan yang mendorong troli ke luar dari sebuah ruangan, Ernard segera menghampirinya, lalu ia bertanya. "Dimana Nyonya dan Iris?"
"Nyonya dan Nona Iris sedang ada di ruang makan Tuan."
Ernard lalu bergegas kesana, hatinya tidak bisa tenang sebelum ia melihat kondisi istri dan anaknya.
"Liana! Iris!" Ernard memanggil keduanya sesaat setelah ia membuka pintu.
"Oh, sayang, kau sudah pulang."
"Ayah."
Keduanya berdiri dari kursi lalu menyapa Ernard.
Ernard mengerutkan keningnya karena heran. Keduanya terlihat baik-baik saja. Padahal di luar banyak mayat monster dan bekas pertarungan yang terlihat sengit.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Ia baru sadar saat mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Betapa anehnya karena tidak ada yang terjadi di dalam rumahnya selain bekas pertarungan di halaman.
Ernard menghampiri mereka. Ia terkejut saat melihat seorang gadis kecil berambut hitam sedang makan dengan lahapnya.
"A-Alice?"
Gadis itu tidak menghiraukan kedatangan Ernard. Makanan di depannya benar-benar membuatnya terlena.
Ernard melihat istri dan anaknya dengan wajah penuh tanya. Liana menghampirinya lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.